NovelToon NovelToon
Sekolah Hantu

Sekolah Hantu

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Hantu / Sistem
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: I'ts Roomie

SMA Nusantara bukan sekadar tempat menuntut ilmu. Ia adalah mesin raksasa yang memangsa jiwa. Di balik kemegahan arsitekturnya, tersimpan eksperimen gelap "Proyek Nusantara" yang telah mengorbankan ribuan siswa sejak tahun 1985. Setiap detak lonceng adalah tanda maut dan setiap koridor adalah penjara bagi mereka yang tak pernah kembali ke rumah.

Arga, seorang remaja dengan kemampuan Indigo yang ekstrem, terpaksa memasuki neraka ini demi mencari kakaknya yang hilang. Berbekal tangan perak yang menjadi kunci sekaligus kutukannya, Arga bersama Lintang dan Rian harus mengungkap konspirasi berdarah Sang Kepala Sekolah, Bramantyo.

Di dunia di mana batas antara realitas dan alam Barzakh kian menipis, mampukah Arga mematahkan sumpah hitam pendiri sekolah sebelum fajar terakhir ditelan kegelapan abadi?

Since: 10-04-2026

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I'ts Roomie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Arsipis dan Pengorbanan

Ketegangan di koridor Sayap Timur telah mencapai titik puncaknya. Realitas di sekitar mereka seolah mulai retak dan bergeser. Udara yang dihirup tidak lagi terasa seperti oksigen segar, melainkan berat dan pekat berbau logam berkarat yang menyesakkan dada.

Di hadapan Arga dan Lintang, Reno berdiri dengan wibawa yang dingin dan menakutkan. Lencana Osis Malam di dadanya yang dulu menjadi simbol perlindungan, kini berdenyut memancarkan cahaya hitam pekat yang justru menghisap segala sumber cahaya di sekitarnya hingga area itu terasa semakin gelap.

Di belakang punggung Reno, tiga sosok Penjaga Ketertiban berdiri kaku membeku. Tubuh mereka jangkung luar biasa, hampir menyentuh langit-langit tinggi koridor. Mereka dibalut jubah hitam tebal yang tampak seperti kumpulan asap padat yang hidup. Wajah mereka tidak terlihat, hanya kegelapan pekat di balik tudung yang memancarkan aura kehampaan mencekam. Sabit panjang yang digenggam tangan tangan tak kasat mata mereka mengeluarkan suara berdenging halus, sebuah frekuensi getar yang membuat gigi Arga terasa ngilu dan tulang tulangnya terasa getar.

"Kau tahu prosedurnya, Arga," suara Reno terdengar sangat jernih dan datar tanpa emosi sedikitpun. "Sekolah ini adalah organisme hidup yang terus berkembang. Setiap sel yang mencoba memberontak dan merusak sistem harus diamputasi. Serahkan inti memori Raka sekarang juga, dan mungkin aku bisa menegosiasikan agar kematianmu tidak terlalu menyakitkan."

Arga mengepalkan tangannya kuat kuat. Di telapak tangannya, bola cahaya hangat berisi ingatan Raka terasa berdenyut kencang seolah ikut merasakan ketakutan yang mendalam.

"Kau bicara soal prosedur seolah olah kita ini mesin belaka, Reno!" seru Arga dengan suara meninggi penuh amarah. "Lihat dirimu sendiri! Kau mengorbankan kemanusiaanmu dan nuranimu hanya untuk menjadi pesuruh di penjara neraka ini!"

"Kemanusiaan hanyalah variabel pengganggu yang tidak relevan di sini," jawab Reno dingin tanpa ragu.

Ia perlahan mengangkat tangannya kanannya ke udara. Seketika itu juga, salah satu Penjaga Ketertiban bergerak. Gerakannya bukan lari, melainkan seperti sebuah teleportasi atau perpindahan ruang yang instan. Dalam sekejap mata, sosok itu sudah berada tepat di depan Arga dan sabit perak raksasanya sudah terangkat tinggi tinggi siap menebas.

Lintang mencoba menghunus belati peraknya untuk membantu, namun tekanan energi gelap yang dipancarkan Reno begitu dahsyat hingga membuat lututnya lemas dan ia terpaksa berlutut di lantai, tak berdaya di bawah pengaruh gravitasi gaib yang mendadak meningkat berat.

SREEEET!

Tepat saat bilah sabit itu hendak membelah leher Arga, tiba tiba sebuah ledakan besar terjadi. Dinding di balik deretan loker loker berkarat meledak dan keluarlah tumpukan tumpukan buku buku tebal tua yang berterbangan. Buku buku itu dengan cepat menyusun dan menyatukan diri membentuk sebuah tembok perisai yang kokoh di depan tubuh Arga.

Benturan keras antara mata sabit dan dinding buku itu menghasilkan suara dentuman menggelegar yang membuat lantai keramik di bawah kaki mereka retak memanjang.

Dari balik celah celah tumpukan buku yang masih berantakan itu, merangkak keluar sesosok makhluk aneh yang membuat napas Arga seketika tertahan di kerongkongan.

Makhluk itu memiliki postur tubuh manusia namun sangat bungkuk. Namun kulitnya bukan lagi terbuat dari daging dan darah. Permukaannya terlihat seperti lembaran lembaran perkamen kuno yang kaku dan dijahit kasar menggunakan benang benang merah yang masih tampak basah oleh noda cairan merah.

Di sepanjang tulang punggungnya yang melengkung, tumbuh rak rak kayu kecil yang menembus keluar dari kulit kertasnya. Di rak rak itu terselip gulungan gulungan kertas yang terus bergetar pelan seolah memiliki kehidupan sendiri. Wajahnya hanya memiliki satu mata besar tepat di tengah dahi. Bola matanya berwarna kuning pucat dan memancarkan tatapan penuh penderitaan yang mendalam.

"Bima?" desis Lintang dengan suara parau dan gemetar.

Makhluk itu mengeluarkan suara geraman rendah yang terdengar persis seperti kertas kering yang diremas remas kasar.

"Arga... cepat pergi... bawa dia... ke Ruang Guru..." suaranya serak dan putus putus.

Itu adalah Bima! Teman sebangku Raka yang menghilang secara misterius setahun yang lalu. Kabar yang beredar di kalangan murid mengatakan dia pindah sekolah ke luar kota, namun kenyataannya jauh lebih mengerikan dari itu semua. Bima telah diubah dan dimutasi menjadi The Archivist atau Sang Pencatat. Tugasnya adalah mengumpulkan setiap tetes air mata dan kesedihan para murid lalu mengubahnya menjadi tinta untuk menulis sejarah gelap SMA Nusantara.

"Bima... apa yang sudah mereka lakukan padamu?" Arga terpaku mematung melihat kondisi temannya yang mengenaskan.

"Tidak ada waktu untuk bertanya!" raung Bima. Suaranya tiba tiba pecah menjadi ribuan bisikan bisikan kecil yang keluar dari setiap pori pori kulit kertasnya. "Sang Arsitek... tidak akan membiarkan memori itu lepas... Jika kau gagal di sini... aku akan dipaksa... menulis namamu... di daftar tumbal selanjutnya..."

Reno menyipitkan matanya sedikit. Wajahnya tampak tidak suka melihat gangguan ini. "Sebuah anomali. Budak perpustakaan rendahan yang nekat memberontak. Penjaga, hapus dia dari sistem sekarang juga."

Dua Penjaga Ketertiban lainnya segera bergerak serentak. Mereka menyerang Bima dengan kombinasi serangan sabit yang mematikan dan cepat bagaikan kilat.

Namun Bima bukanlah makhluk biasa. Sebagai seorang pencatat, ia memiliki kendali khusus atas "cerita" dan realitas di area tersebut. Dengan mata berbinar tegar, ia merobek kulit perkamen di lengannya sendiri. Tindakan menyakiti diri sendiri itu membuatnya mengerang kesakitan luar biasa, namun ia melemparkan robekan robekan kulit kertas itu ke udara.

WUSSS!

Kertas kertas itu seketika berubah menjadi ribuan belati belati tajam yang terbang berputar kencang, menciptakan badai kertas yang menyayat dan melukai jubah para penjaga.

Di tengah kekacauan dan badai itu, Bima menggunakan tangannya yang panjang dan kurus untuk mencengkeram tubuh Arga dan Lintang. Dengan kekuatan luar biasa ia melempar mereka berdua meluncur jauh menuju arah pintu tangga yang menuju ke gedung utama.

"LARI SEKARANG!" teriak Bima melengking.

Arga sempat menoleh ke belakang. Ia melihat Bima yang kini sedang dikepung dan dikeroyok habis habisan. Salah satu sabit milik penjaga berhasil menembus menembus punggung kertas Bima, merobek rak kayu di sana hingga buku buku yang tersimpan berjatuhan berserakan ke lantai.

Setiap buku yang jatuh mengeluarkan jeritan jeritan pilu dari murid murid yang jiwanya tersimpan di dalamnya. Bima tersungkur jatuh berlutut, namun dengan sisa tenaga yang ada ia masih berusaha menggigit dan menahan kuat kuat kaki salah satu penjaga agar tidak bisa bergerak maju mengejar Arga.

"Jangan menoleh ke belakang, Arga!" Lintang menarik lengan Arga dengan kasar dan beringas. "Dia sudah memberikan kita waktu berharga! Jika kita tidak sampai ke Ruang Guru sebelum waktu habis, maka pengorbanan Bima akan menjadi sia sia belaka!"

Mereka berlari sekencang kencangnya menembus koridor yang kini tampak seperti lorong waktu yang tidak stabil dan terus berubah bentuk. Dinding dinding di sekeliling mereka mulai menampilkan coretan coretan tinta hitam yang bergerak gerak sendiri, menggambarkan adegan adegan kematian mengerikan yang pernah terjadi di tempat itu.

Arga merasa kakinya semakin berat dan berat seolah tertanam di lantai. Tinta tinta hitam itu seolah hidup dan mencoba merambat naik ke sepatunya untuk menahan dan mengurungnya di sana selamanya.

Sepanjang pelarian itu, bayangan mata kuning penuh kesedihan milik Bima terus menghantui pikiran Arga. Mata yang memohon agar Arga bisa menyelesaikan apa yang tidak mampu ia lakukan. Arga kini sadar sepenuhnya. Di sekolah terkutuk ini, setiap "monster" yang mereka temui sebenarnya memiliki cerita dan hati manusia yang terkubur dalam di bawah lapisan kutukan yang menimpa mereka.

Saat mereka akhirnya berhasil mencapai pintu besar utama gedung guru, suara pertempuran dan benturan di koridor timur perlahan perlahan menghilang, digantikan oleh keheningan total yang justru jauh lebih menakutkan dan mencekam daripada teriakan sekalipun.

Arga tahu, Bima mungkin telah kalah telak, atau mungkin nasibnya jauh lebih buruk dari itu. Dia mungkin telah diformat ulang dan kehilangan kesadarannya sepenuhnya oleh Reno.

"Kita hampir sampai," napas Lintang tersengal sengal kehabisan tenaga. Ia menyandarkan tubuhnya yang lelah di pintu kayu jati besar Ruang Guru. "Ingat baik baik Arga. Begitu kita masuk ke dalam sana, jangan pernah sekalipun melepaskan inti memori itu dari genggamanmu. Ruang Guru adalah tempat di mana semua kebohongan dan tipu daya sekolah ini disahkan dan diubah menjadi sebuah kebenaran mutlak."

Arga menunduk menatap bola cahaya di telapak tangannya yang kini tampak meredup redup, seolah ikut berduka cita atas apa yang baru saja menimpa Bima. Ia menarik napas panjang dalam dalam, menguatkan kembali mental dan hatinya untuk menghadapi para "pengajar" yang sudah lama tidak lagi memiliki nurani dan perasaan.

Dengan tangan gemetar namun tegas, Arga memasukkan kunci peraknya ke dalam lubang kunci pintu besar itu. Pintu berat itu terbuka perlahan dengan suara derit panjang yang terdengar persis seperti tawa ejekan menyeramkan dari masa lalu yang kelam.

1
cintanya ningning
jadi tu jahat atau baik ya?
papi junkyung: yg mana ka?
total 1 replies
Xiao Juan
lanjutt lagi
rimaa~~~°
lanjut lagi thor
Cleo
masi harus berjuang lagi di pintu berikutnya wkwk, semangat arga💪
Cleo
lanjut lagi dong, up 2 tor sehari hehe, maap ngelunjak🤭🙏
papi junkyung
keren mom ceritanya
Sartika Monik
mana lagi lanjutannya,,duh padahal lagi penasaran banget bun haha🤭
cintanya ningning
lanjuttt
yeol
lagi dungg tor, tadi update di fb langsung ke sini haha
Fimela Angelia
duh masi gantung banget ni
Koo Eun Tak
next thor
Cleo
lanjut💪
Cleo
widih kata katanya bagus, resonansi indigo mutlak/Drool/
Fimela Angelia
cepetan update huhu/Sob//Sob/
Fimela Angelia
ini ya tangan perak yang dimaksud di blurb nya
Xiao Juan
lanjutinn author semangat kutunggu crazy up mu
Xiao Juan
fantasi banget hahaha keren keren tor🤭
Koo Eun Tak
lanjut lanjut
Cleo
gantung banget tor/Frown/
papi junkyung
mana lagi ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!