Bambang, pengangguran yang jadi bulan-bulanan tetangganya, nekat tanda tangan kontrak satpam di pabrik karet Kalimantan. Gaji lima belas juta. Kamar mewah. Tapi denda lima ratus juta jika berhenti sebelum setahun. Malam pertama ia dengar suara karet diregangkan dari gudang produksi.
Malam kedua ia lihat bayangan tanpa tubuh di dinding pos satpam. Malam ketiga ia sadar: pabrik ini tak pernah menghasilkan karet. Yang keluar dari gerbang setiap subuh adalah sesuatu yang meniru wajah manusia. Dan kontrak yang ia tanda tangan bukan kontrak kerja. Tapi daftar korban berikutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UncleHoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lamaran Terakhir
Bambang tidak langsung pulang setelah dari kafe. Dia memilih duduk sebentar di taman kecil dekat pasar lama. Tangannya masih memegang amplop coklat itu. Lima juta rupiah. Uang sebanyak ini terasa berat di sakunya, padahal berat kertasnya hampir tidak terasa. Dia membuka amplop itu perlahan. Uang pecahan lima puluh ribuan, seratus ribuan, disusun rapi dalam dua ikatan. Dia menghitungnya sekali lagi meskipun sudah tahu jumlahnya. Lima juta persis.
Dia memasukkan kembali uang itu ke amplop. Pikirannya berputar cepat. Beli obat Bapak dulu, itu prioritas utama. Lalu beras, lauk untuk seminggu, mungkin juga minyak tanah baru karena yang di rumah hampir habis. Ibu juga butuh sandal baru karena sandal lamanya sudah putus tali bagian kanan. Dan pisau cukur tadi pagi yang Ibu belikan, Bambang harus mengganti uang Ibu meskipun Ibu pasti menolak.
Dia berdiri dan berjalan ke arah apotek langganan di ujung pasar. Apotek kecil dengan papan kayu bertuliskan Apotek Sehat Farma. Pak Agus, pemiliknya, sudah kenal dengan kondisi Bapak. Setiap kali Bambang datang, Pak Agus langsung mengambil obat yang sama tanpa perlu ditanya.
"Lho, Bang Bambang," sapa Pak Agus dari balik meja. "Biasanya beli dua strip. Kali ini mau berapa?"
"Sepuluh strip, Pak. Sama vitamin untuk stroke juga."
Pak Agus mengangkat alis. "Wah, banyak amat. Ada rezeki lebih?"
"Ada, Pak. Dapat kerja."
"Baguslah. Semoga berkah." Pak Agus membalikkan botol obat satu per satu. Dia menghitung totalnya di kalkulator. "Semuanya tujuh ratus dua puluh ribu, Bang."
Bambang mengeluarkan amplop coklat itu. Pak Agus melongo sebentar melihat tebalnya amplop, tapi tidak bertanya apa-apa. Bambang membayar dengan dua lembar uang seratus ribuan dan sisanya uang lima puluh ribuan. Kembaliannya delapan puluh ribu. Dia masukkan ke kantong celana.
Dari apotek, Bambang pergi ke pasar. Dia membeli beras sepuluh kilo, telur satu papan, ayam potong dua ekor, tempe, tahu, sayuran, dan minyak tanah lima liter. Total belanjaan hampir tiga ratus ribu. Ibu akan marah karena dia boros. Tapi Bambang tidak peduli. Ibu sudah terlalu lama makan sedikit dan bekerja keras.
Dia juga membeli sandal baru untuk Ibu. Sandal jepit hitam dengan sol tebal. Harganya dua puluh lima ribu. Untuk Bapak, dia membeli bantal leher karena Bapak sering mengeluh pegal-pegal. Untuk dirinya sendiri, Bambang tidak membeli apa-apa.
Perjalanan pulang dengan angkutan kota terasa berat karena banyak bawaan. Bambang harus turun di ujung gang dan berjalan kaki seratus meter sambil memikul beras sepuluh kilo di satu tangan dan belanjaan lain di tangan satunya. Keringatnya bercucuran. Kemeja putih yang tadi dia setrika rapi sekarang basah di bagian ketiak dan punggung.
Mamat sedang duduk di teras rumahnya ketika Bambang lewat. Rokok masih setia di bibirnya. Matanya mengikuti Bambang dari ujung gang sampai mendekati pagar.
"Wah, belanja banyak banget, Bang. Padahal tadi pagi bilang mau wawancara kerja. Malah jadi belanja bulanan."
Bambang tidak menjawab. Dia terus berjalan menuju pintu rumahnya.
"Kok diam? Atau memang wawancaranya gagal?" Mamat tertawa. "Maklum lah, pengangguran kayak gitu susah naik daun."
Bambang berhenti. Dia meletakkan semua belanjaannya di depan pagar. Dia menoleh ke arah Mamat. "Aku dapat kerja, Mat. Gaji lima belas juta sebulan. Berangkat besok ke Kalimantan."
Mamat tersedak asap rokoknya. Dia batuk-batuk beberapa kali. "Lima belas juta? Jangan becanda, Bang."
"Becanda atau tidak, terserah kamu. Aku sudah tanda tangan kontrak."
Bambang mengangkat kembali belanjaannya dan masuk ke dalam rumah. Dia tidak menunggu jawaban Mamat. Pintu kayu rumahnya dia tutup agak keras. Ibu yang sedang menjahit di ruang tamu terkejut.
"Bambang, kenapa? Kok pintunya dibanting?"
"Maaf, Bu. Tadi ketemu Mamat."
Ibu menghela napas. "Biarin orang kayak gitu. Jadi, wawancaranya gimana?"
Bambang meletakkan semua belanjaan di lantai. Ibu membelalakkan mata melihat beras sepuluh kilo, ayam potong, telur, dan semua barang lainnya. "Ini semua dari mana, Nak?"
"Uang muka dari perusahaan, Bu. Lima juta. Aku udah beli obat Bapak sepuluh strip juga. Itu di tas."
Ibu berdiri. Tangannya yang sedang memegang jarum jahit turun perlahan. Matanya berkaca-kaca. "Kamu... kamu beli obat Bapak sepuluh strip?"
"Iya, Bu. Dan sandal baru buat Ibu. Itu."
Bambang mengeluarkan sandal jepit hitam dari kantung plastik belanjaan. Ibu mengambilnya dengan tangan gemetar. Dia memegang sandal itu lama sekali, seperti benda paling berharga di dunia.
"Bambang, kamu ini..." Ibu tidak melanjutkan kalimat. Air matanya jatuh. Dia buru-buru menyeka pipinya dengan ujung kain jahitannya.
"Jangan nangis, Bu. Nanti Bapak lihat."
Bapak memang sudah melihat dari kursi bambunya. Matanya tidak lepas dari Bambang. Tidak ada senyum. Tapi tidak ada sedih juga. Hanya tatapan yang sulit diartikan.
"Bapak, ini bantal leher biar enak tidurnya," kata Bambang sambil mengulurkan bantal leher yang baru dibeli.
Bapak menerimanya dengan tangan kiri. Tangan kanannya tidak bisa digerakkan dengan baik. Dia mengangguk pelan. "Kamu berangkat besok?"
"Iya, Pak. Pesawat jam sepuluh pagi."
"Jangan lupa salat dulu sebelum berangkat."
"Siap, Pak."
Malam harinya, Ibu memasak ayam gulai. Pertama kalinya dalam berbulan-bulan mereka makan lauk yang layak. Bau gulai memenuhi seluruh rumah kontrakan. Aroma santan, kunyit, dan serai menembus sampai ke teras. Bambang mendengar Mamat batuk-batuk lagi di seberang. Kali ini dia tidak peduli.
Mereka makan bertiga di meja kecil. Tidak banyak bicara. Hanya suara sendok dan sesekali Bapak yang tersedak karena makan terlalu cepat. Ibu mengambil potongan ayam terbesar dan meletakkannya di piring Bambang.
"Makan banyak-banyak, Nak. Besok kamu pergi jauh."
"Bu, aku ambil sendiri. Ibu makan juga."
"Ibu sudah ambil tadi."
Bohong. Ibu hanya makan tempe dan sayur. Ayam di piringnya masih utuh. Tapi Bambang tidak mau memperdebatkannya. Dia terlalu lelah secara mental dan fisik.
Setelah makan, Bambang membereskan pakaian yang akan dibawa. Hanya satu tas ransel kecil. Isinya tiga kaos oblong, satu celana jeans, satu jaket tipis, dan pakaian dalam secukupnya. Dia juga memasukkan map berisi fotokopi kontrak kerja dan identitas. Tas itu tidak penuh. Masih ada ruang kosong di mana-mana.
Ibu mengetuk pintu kamarnya. "Bambang, Ibu mau bicara."
"Masuk aja, Bu."
Ibu duduk di ujung kasur Bambang. Tangannya memegang sesuatu yang dibungkus plastik bening. Sebuah baju koko putih. "Ini punya Bapak dulu. Belum pernah dipakai. Ibu sudah jahit sedikit biar muat di badanmu. Pakai ini kalau ada acara resmi di sana."
Bambang menerima baju itu. Kainnya halus. Jahitan Ibu rapi seperti biasa. "Makasih, Bu."
"Ibu juga mau bilang... jaga diri baik-baik. Kalau ada apa-apa, telepon Ibu. Ibu tidak punya banyak uang buat beli pulsa, tapi Ibu akan usahakan."
"Bu, nanti gajian aku kirim setiap bulan. Kita gak bakal susah lagi."
Ibu tersenyum. Senyum yang sama seperti kemarin malam. Senyum yang membuat kerutan di wajahnya semakin dalam. Tapi kali ini ada kelegaan di sana. Beban yang sedikit terangkat meskipun belum sepenuhnya hilang.
"Mudah-mudahan, Nak. Mudah-mudahan."
Ibu keluar dari kamar. Bambang berbaring di kasurnya. Dia mendengar suara jahitan mesin dari ruang tamu. Ibu bekerja lagi meskipun sudah malam. Mungkin dia ingin menyelesaikan orderan sebelum Bambang berangkat.
Jam menunjukkan pukul sebelas malam ketika Bambang hampir terlelap. Tiba-tiba ponselnya bergetar. SMS masuk dari nomor yang sama kemarin. Nomor Pak Toni.
"Tiket pesawat sudah dikirim ke email Bapak. Berangkat jam 10.00 dari bandara. Sampai di Kalimantan, akan ada jemputan. Bawa tas secukupnya. Jangan lupa kontrak asli. Sampai jumpa."
Bambang tidak punya email. Dia tidak punya smartphone. Dia hanya punya ponsel jadul yang tidak bisa mengakses internet. Dia panik sejenak. Bagaimana dia bisa melihat tiket pesawat kalau dikirim ke email?
Dia memutuskan untuk tidak panik. Besok pagi dia akan ke bandara lebih awal dan menjelaskan situasinya. Atau mungkin Pak Toni sudah mengatur semuanya. Pak Toni terlihat seperti orang yang mengatur semuanya dengan rapi.
Malam semakin larut. Bambang masih terjaga. Pikirannya melayang ke Kalimantan. Dia belum pernah ke sana. Belum pernah ke luar pulau sekalipun. Yang dia tahu tentang Kalimantan hanya dari berita di televisi Mamat. Hutan. Sungai. Dan sekarang, pabrik karet.
Dia membayangkan pabrik itu. Bangunan besar dengan cerobong asap. Mesin-mesin yang berisik. Pekerja yang sibuk. Ruang satpam yang nyaman dengan kursi empuk dan pendingin ruangan. Dia tersenyum sendiri membayangkannya.
Bambang tidak tahu bahwa pabrik karet itu tidak seperti yang dia bayangkan.
Bambang tidak tahu bahwa kursi empuk dan pendingin ruangan tidak akan pernah dia temukan di sana.
Bambang tidak tahu bahwa pabrik itu menyimpan sesuatu yang tidak pernah dia lihat dalam mimpi buruk sekalipun.
Tapi itu semua akan dia ketahui. Dalam waktu yang tidak lama lagi.