"Setiap orang memiliki alasannya sendiri mengenai bagaimana ia harus bersikap. Jadi, tugas kita bukanlah untuk membenci ataupun bertanya mengapa? tapi kita wajib menghargainya"
.
Aisyah Raina Abdullah, gadis cantik yang memilih menutup dirinya, demi untuk menjaga marwah pribadinya juga keluarganya.
Semakin jauh ia melangkah, semakin banyak ia mengenal sifat. Ada yang murah senyum, ada pula yang dingin layaknya es.
Saat itu juga, Raina menemukan sosok pria yang sangat berbeda baginya, namanya Malik Fajar Admajaya. Akrab di sapa Fajar, ia adalah laki-laki yang memiliki sifat sedingin es.
Ia juga sangat membenci sosok wanita, kecuali sang Ibunda. Selama ini ia tak mau perduli dan tersenyum pada wanita manapun, kalaupun ia memiliki seorang 'wanita' itu hanyalah permainan baginya.
.
Kemudian, dua anak manusia yang berbeda karakter itu dipersatukan dalam mahligai cinta yang halal.
Walaupun pasti banyak rintangan yang akan menghadang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tris riyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa Sebenarnya?
Author Pov
Setelah berkutat mencari Raina, bahkan Fajar sampai berlari entah kemana tujuannya, namun tak ada juga tanda-tanda keberadaan Raina.
“Raina!! Kamu dimana?!” pekikan tajam yang Fajar hujamkan, yang mampu memecah heningnya malam itu.
Tentu saja tak akan ada seorangpun yang menjawab, karena saat ini Fajar sudah berada sangat jauh dari pemukiman. Kakinya sudah mulai lunglai, dan badannya tak sanggup lagi untuk berdiri. Ditambah lagi ketika ia berlari ia sempat terjatuh dan kepalanya terpentuk batu.
Fajar berteriak, terus berteriak memanggil nama Raina sambil meringis menahan sakit yang amat di bagian kepalanya. Kini, Fajar terlihat seperti lelaki yang benar-benar lemah. Tidak seperti Fajar yang gagah, dan terkesan arrogant seperti sebelumnya.
Ia terus saja meruntuki dirinya, yang merasa bersalah karena telah meninggalkan Raina jalan seorang diri dibelakang. Seketika pandangannya buram, dan kemudian ia tak sadarkan diri.
...*****...
Raina yang baru saja tersadar akibat efek obat bius yang diberikan padanya, kemudian dengan amat perlahan ia membuka mata dan melihat sekelilingnya, hanya ada tumpukan kardus dan jerami saja.
Gadis baru sadar bahwa semalam, ia merasa seperti ada yang membawanya. Belum sempat ia berteriak untuk minta tolong, Raina langsung tidak sadarkan diri.
Beberapa menit kemudian, kumandang azan telah menggema diponsel miliknya namun langsung mati, mungkin karena baterai ponselnya sudah low.
Raina yang masih dalam posisi tangan dan kaki terikat disebuah kursi serta mulut yang dibekap oleh kain, terus saja berusaha untuk menghentakkan kursinya. Raina berharap ada seseorang yang bisa membantunya, untuk melepaskan diri dan menjalankan kewajibannya.
Dugaannya benar, sepersekian detik kemudian ada sosok wanita dengan penampilan anehnya sebagai seorang wanita. Bertubuh tinggi besar, dengan rambut cepak dan baju yang terkesan seperti preman menghampirinya. Dengan nada bicara seorang algojo, wanita itu membuka suaranya.
“Mau apa loh?! Bos gue perintahin lo supaya tetap dengan posisi lo," katanya dengan mata yang melotot, pada gadis yang masih tidak mengenalinya itu.
Bagaimana mungkin Raina bisa menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh wanita itu, mulutnya saja tertutup. Menyadari hal itu kemudian wanita itu membuka penutup mulut yang membekap Raina.
“Saya tidak mengenali anda, dan saya juga tidak mengerti apa urusan saya dengan bos anda. Tapi.. saya hanya ingin melaksanakan shalat. Jika anda tidak mengizinkan saya, maka saya siap melakukan apapun itu pada anda.” Raina dengan pelan dan hati-hatinya berkata pada wanita itu.
Raina bukan bermaksud menggertak, tetapi dalam keadaan apapun itu dan dengan cara apapun, ia tidak ingin kewajibannya tertinggalkan.
“Heh.. gadis angkuh. Tubuh lo aja lebih kecil daripada tangan gue, segala mau lakuin apapun pula.”
Tubuh Raina memang lebih kecil dari pada tubuh wanita preman itu, tapi masalah kekuatan dan juga ketangkasannya dalam bela diri, itu bisa saja ia tunjukkan. Hanya saja, kali ini gadis yang masih setia dengan niqabnya itu tidak ingin bermain kasar dan memilih jalan kelembutan saja.
"Gue jadi pengen lihat, gimana kamampuan lo kalau gue gak izinin lo solat," ucap wanita itu sambil melintingkan lengan tangannya.
“Jadi.. Mbak, saya mau shalat subuh. Dan kalau Mbak gak izinkan saya akan tetap paksa," kali ini Raina mulai memasang kuda-kuda, untuk menunjukkan kemampuannya yang sempat diragukan oleh wanita itu.
Melihat kuda-juda Raina, wanita itu agaknya tidak ingin adu jotos terjadi. Nosnya juga berpesan, jangan sampai Raina terluka.
“Ok.. gue izinin. Tapi ingat.. kalau lo kabur, lo akan dapat masalah dan gue nggak akan segan-segan buat remukin tubuh lo," katanya lagi masih dengan nada gertakan, yang sama sekali tidak membuat Raina takut ataupun tertekan.
“Ok Mbak.. saya jamin, dan saya tidak akan membahayakan pekerjaan Mbak,” ucap Raina yang kemudian berlalu, dan mencari dimana tempat untuknya berwudhu’. Raina sampai terlupa bertanya pada wanita itu.
Tapi mana mungkin, di tempat bersemak ini akan ada tempat untuk bersuci. Sepanjang matanya menggeliat benar-benar tidak ada tempat baginya untuk berwudhu’. Akhirnya gadis itu memutuskan untuk bertayyamum, dan memilih kembali lagi ke tempat dimana dirinya disekap tadi.
“Nemu tempatnya? Lo terlalu fanatik sih, tinggalin aja kalau memang nggak ada air," kata wanita itu yang sedikit membuat kesabaran Raina teruji.
Bahkan gadis ini menjawab perkataan wanita itu dengan pelan dan tetap mengembangkan senyumannya, dibalik niqab yang ia kenakan.
“Islam tidak pernah mengajarkan kita untuk fanatik kok, Mbak. Saya lakuin ini untuk menunaikan kewajiban saya sebagai seorang Muslim Mbak. Dan Islam juga bukanlah agama yang sulit, ketika tidak ada air kita bisa bertayyamum menggunakan debu. Hanya saja, kadang kita sebagai manusia yang terlalu mempersulit diri kita sendiri.”
Ucap Raina sambil didalam hatinya ia mendo’akan wanita sangar didepannya, dengan harapan wanita ini mau menjemput hidayah yang sejatinya sudah Allah berikan.
“Ya udah, udah udah.. nggak usah banyak ceramah.”
*
Setelah berdiri dengan sempurna dan menjalankan 2 raka’at kewajibannya. Raina kini sangat khusyu’ dalam zikir dan do’anya. Bahkan gadis itu juga tampak sendu dengan air mata yang mulai menetes, ia masih bingung apakah yang menyebabkan dirinya berada ditempat seperti ini.
Ia teringat dengan Fajar, bagaimana keadaannya? Apakah saat ini Fajar mencari dirinya atau apakah Fajar juga merasakan yang Raina rasakan.
...*****...
Di tempat yang berbeda, Fajar yang baru saja tersadar merasa bingung.Ia bukan lagi di tempat semalam melainkan kini ia sudah berada di ruangan dengan look yang elegan. Tampaknya ini adalah sebuah kamar milik seseorang, tapi siapakah orang itu?
Fajar kemudian teringat bahwa Raina sedang tidak baik-baik saja, dan keberadaannya pun belum juga ia ketahui. Segera ia mengambil benda pipih di atas nakas kamar itu. Dengan matanya yang nanar, Fajar menghubungi nomor Raina. Namun lagi-lagi gagal dan tak dapat tersambung.
Ting..
Sebuah pesan masuk untuknya, “Pagi Fajar yang malang. Pasti lo lagi bingung dan pengen tahu kan, keadaan Raina gimana? Tenang, gue akan kirim video buat lo.”
Dengan perasaan yang dipenuhi rasa takut dan juga khawatir, segera Fajar membuka video yang sudah orang itu kirimkan padanya. Dilihatnya, Raina yang tengah tertidur lengkap dengan tangan, kaki dan mulut yang terikat.
Seketika air bening nan hangat mengalir deras dipipi tegas seorang Fajar.
“Raina..” Mungkin jika Fajar adalah seorang wanita, patilah ia sudah menangis terisak. Bagaimana tidak, ia harus menyaksikan istri yang ia cintai harus menanggung derita, entah karena apa sebabnya.
Dengan rahang yng mengeras, Fajar membalas pesan misterius itu, “Gue akan lakuin apapun itu. Asal lo bebasin Raina.”
Ting..
Beberapa detik kemudian ada pesan masuk lagi diponselnya, “Lo yakin? Dan mungkin.. syaratnya itu akan sulit untuk lo lakuin. Gue nggak maksa, lo boleh nolak ataupun nerima syarat gue. Itu hak lo tuan Admajaya.”
Dengan yakin dan demi keselamatan Raina, Fajar menyetujui pemintaan orang itu. Fajar bahkan tidak menanyakan terlebih dahulu apa syarat yang akan diajukan oleh orang itu. Yang ia fikirkan saat ini adalah bagaimana Raina bisa selamat, kalaupun itu harus mengorbankan nyawanya.
“Gue akan pegang omongan lo, dan tunggu aja kabar dari gue.”
Tanpa bermaksud lancang, Fajar langsung menuju kamar mandi kamar ini. Ia ingin menjalankan kewajibannya, dan meminta perlindungan untuk Raina, tentu saja pada sang Maha Melindungi. Dengan air matanya yang terus menetes, Fajar juga berdo’a.
Walaupun berjauhan, Fajar dan Raina masih terikat dalam do’a.
Janji Allah memang selalu benar, siapa saja yang meminta kepadanya dan berharap serta menyerahkan segalanya pada Allah. Maka kegelisahan dan kesedihan apapun itu seketika akan sirna. Begitupun yang dirasakan oleh Fajar. Karena orang itu mengiriminya foto Raina yang tengah khusyu’ dalam do’anya dan tampak baik-baik saja.
Dirabanya foto gadis yang sedang menadahkan tangannya itu, kemudian dengan pelan Fajar berucap, “Abang bahagia kamu baik-baik saja Raina.”
Tok.. tok.. tok..
Agaknya di luar sana ada seseorang yang mengetuk pintu, mungkin saja itu adalah sang empu kamar dan rumah ini. Fajar kemudian langsung bangkit dan berjalan sambil menyeka matanya, menuju pintu itu dan perlahan ia membukanya.
Dilihatnya ada wanita paruh baya, mungkin seumuran dengan mbok Asih ARTnya. Dengan senyuman yang ramah, wanita itu menyapa Fajar, “Den Fajar sepertinya sudah baik-baik saja. Dan.. Tuan muda meminta mbok jemput Aden karena Tuan ingin bertemu dengan Den Fajar.”
Apakah aku mengenal orang yang menolongku? Jika tidak, bagaimana mungkin Bibik ini mengetahui namaku? – batin Fajar yang masih bingung tentang siapa yang sudah menolongnya.
“Mari Den, ikuti Mbok..” titah wanita itu sambil berjalan lebih dulu.
“Oh.. iya Mbok.”
Perlahan namun pasti, langkah Fajar dan wanita paruh didepannya itu akhirnya terhenti di sebuah ruangan yang syarat akan keIslamannya. Disana Fajar melihat ada seorang laki-laki yang sedang sibuk dengan Al-Qur’an ditangannya.
Fajar masih belum mengenali siapa pria itu. Sampai ketika, sang Asisten Rumah Tangga menyapa Tuan mudanya. Dan dengan senyuman ramahnya, pria itu membalikkan badannya.
Mengetahui siapa orang itu membuat Fajar heran dan terkejut. Bagaimana mungkin ini terjadi?
Bersambung...
...-----♡●♡-----...
Alhamdulillah bisa Up lagi😁
Hemm.. ada yang menduga-duga tidak?🤔
Terimakasih buat teman-teman dan kakak-kakak yang sudi meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini yah.😍😘
Yuk terus support cerita ini dengan cara tekan jempolnya❤berikan kritik dan saran😄 serta rate dan votenya ya✔
Jazakillah Khair💖
semangat terus ya thor...
tetap semangat untuk karya selanjutnya .... love you full....😍😍😍
semangat ya....
aku udah baca sampai sini....
lanjut terooos....💪💪💪💪💪💪
di tunggu kelanjutan nya 👍👍❤❤❤
salam hangat dari Zahra Anak Yang Tak Berdosa