NovelToon NovelToon
Kisah Nyata- Suamiku Berubah Setelah Kaya

Kisah Nyata- Suamiku Berubah Setelah Kaya

Status: tamat
Genre:Pihak Ketiga / Pelakor jahat / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:27.6k
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Ia dulu berdoa agar suaminya kaya.
Ia tak pernah membayangkan doa itu justru menjadi awal kehancuran rumah tangganya.

Naura menikah dengan Zidan saat mereka hanya punya cinta, iman, dan sepiring nasi sederhana. Mereka menangis bersama di sajadah lusuh, bermimpi tentang hidup yang lebih layak. Ketika Allah mengabulkan, Zidan berubah. Kekayaan menjadikannya asing. Ibadah ditinggalkan, wanita lain berdatangan, tangan yang dulu melindungi kini menyakiti.

Naura dibuang. Dihina. Dilupakan.

Bertahun-tahun kemudian, Naura bangkit sebagai wanita kuat. Sementara Zidan kehilangan segalanya.

Saat Zidan kembali dengan penyesalan dan permohonan, satu pertanyaan menggantung:

Masih adakah pintu yang terbuka…
atau semua telah tertutup selamanya?

Dan ini adalah kisah nyata.

(±120 kata)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31: Naura Mencoba Bertahan

#

Dua minggu setelah kejadian Zidan pulang mabuk pertama kali, Naura udah nggak kuat lagi. Setiap malam dia nangis sendirian. Setiap pagi dia bangun dengan mata sembab. Setiap hari dia harus pura pura kuat di depan Faris.

Zidan makin sering pulang malem. Makin sering bau alkohol. Makin jarang sholat. Bahkan Jumat pun kadang dia skip dengan alasan ada meeting penting.

Sore itu, Naura nggak tahan lagi. Dia butuh tempat curhat. Butuh orang yang bisa dengerin. Dia telepon Bu Mariam.

"Bu, boleh aku main ke rumah Ibu sebentar? Aku... aku butuh ngobrol."

"Boleh Nak. Kapan mau kesini?"

"Sekarang boleh Bu? Aku bawa Faris."

"Boleh banget. Ibu tunggu."

Naura gendong Faris terus jalan kaki ke rumah Bu Mariam yang nggak jauh dari rumahnya sekarang. Meski dia punya mobil di garasi, tapi dia nggak bisa nyetir. Zidan nggak pernah ajarin. Katanya nggak perlu. Kalau mau kemana mana tinggal bilang, dia yang anterin. Tapi kenyataannya Zidan selalu sibuk. Nggak ada waktu.

Sampe di rumah Bu Mariam yang kecil dan sederhana, Naura langsung disambut hangat.

"Naura Nak! Sini masuk! Wah Faris udah gede banget! Udah bisa jalan juga!"

Faris langsung turun dari gendongan Naura terus lari lari kecil di ruang tamu Bu Mariam.

Mereka duduk di kursi kayu tua. Bu Mariam bikinin teh manis pake gula aren. Wanginya harum.

"Cerita Nak. Ada apa? Ibu lihat wajahmu pucat. Mata sembab. Kamu nangis ya?"

Naura langsung pecah. Nangis keras sambil tutupin wajah pake tangan.

Bu Mariam langsung peluk Naura. "Nangis aja dulu. Nangis sampe puas. Nanti cerita pelan pelan."

Naura nangis lama. Sampai dadanya sesak. Sampai napasnya susah. Bu Mariam cuma usap usap punggungnya sambil kasih tissue.

Setelah agak tenang, Naura mulai cerita. Cerita semua. Dari awal Zidan dapat uang banyak, mulai berubah, jarang sholat, sombong, bentak bentak dia, sampai yang terakhir minum alkohol dan pulang mabuk.

Bu Mariam dengerin dengan serius. Sesekali geleng geleng kepala. Sesekali napas berat.

"Kemarin... kemarin Mas pulang mabuk lagi Bu. Udah tiga kali minggu ini. Terus dia... dia paksa aku. Dengan kasar. Nggak ada kelembutan kayak dulu. Rasanya kayak... kayak aku bukan istrinya. Cuma... cuma pemuas nafsu dia aja."

Naura nangis lagi.

"Aku nggak tau harus gimana Bu. Aku udah coba ngingetin. Tapi dia marah. Aku coba ngomong baik baik. Tapi dia bilang aku cerewet. Aku coba diem aja. Tapi dia malah makin menjadi jadi. Aku bingung Bu. Aku lelah."

Bu Mariam pegang tangan Naura erat. "Naura Nak, dengerin Ibu. Suamimu sekarang lagi tersesat. Dia lagi ditelan dunia. Uang, harta, kemewahan, semua itu bikin dia lupa siapa dia. Lupa dari mana dia berasal. Lupa sama Allah."

"Aku tau Bu. Tapi aku nggak tau harus gimana."

"Kamu harus sabar Nak. Sabar yang sangat sangat panjang. Ingatkan dia pelan pelan. Jangan frontal. Jangan langsung bilang 'kamu salah' atau 'kamu dosa'. Karena orang yang udah tersesat kayak dia akan marah kalau dikasih tau langsung."

"Terus gimana Bu?"

"Coba kamu ingatkan dengan cara lain. Misalnya waktu dia lagi seneng, kamu bilang, 'Mas, ayo kita sholat bareng kayak dulu.' Jangan bilang, 'Mas kenapa nggak sholat sih.' Bedanya tipis tapi efeknya beda."

Naura ngangguk pelan sambil lap air mata.

"Terus kalau dia pulang malem, jangan langsung marah atau ngomel. Sambut dia dengan senyum. Tanya dia udah makan belum. Udah cape nggak. Bikin dia ngerasa dihargai. Nanti pelan pelan dia akan inget kalau rumah itu tempat yang nyaman. Bukan tempat yang penuh omelan."

"Tapi Bu... dia minum alkohol. Dia pulang mabuk. Aku harus diem aja?"

"Bukan diem. Tapi ingatkan dengan cara yang lembut. Waktu dia udah sadar, kamu bilang, 'Mas, tadi malem Mas pulang dengan bau aneh. Ibu khawatir. Mas baik baik aja kan?' Jangan bilang, 'Mas minum alkohol! Itu haram!' Dia akan lebih dengerin kalau kamu ngomongnya lembut."

Naura mikir sebentar. "Tapi Bu... aku udah lelah. Aku nggak tau aku masih sanggup atau nggak."

Bu Mariam pegang pipi Naura dengan dua tangan. Tatap matanya dalam.

"Naura, kamu istri dia. Kamu ibu dari anaknya. Kamu satu satunya orang yang bisa nyelamatin dia sekarang. Kalau kamu menyerah, siapa lagi yang akan ingetin dia? Siapa lagi yang akan doa in dia? Nggak ada. Cuma kamu."

"Tapi Bu... aku lelah. Aku nggak kuat."

"Ibu tau kamu lelah. Ibu tau kamu sakit hati. Tapi inget Nak, kamu punya Faris. Kamu harus kuat buat dia. Kamu nggak boleh menyerah. Belum waktunya menyerah."

Air mata Naura jatuh lagi. "Aku takut Bu. Takut dia makin jauh. Takut dia nggak bisa balik lagi."

"Makanya kamu harus banyak banyak doa. Sholat tahajud setiap malam. Baca Quran. Sedekah atas nama dia. Minta Allah kembalikan hati suamimu. Allah Maha Kuasa Nak. Allah bisa ubah hati manusia dalam sekejap."

"Aku udah doa Bu. Setiap malam. Tapi kayaknya nggak dikabulin."

"Jangan gitu Nak. Allah pasti dengerin. Cuma waktunya belum tiba. Kamu harus sabar. Terus berdoa. Terus berusaha. Jangan pernah berhenti."

Naura peluk Bu Mariam sambil nangis. "Terima kasih Bu. Terima kasih udah dengerin aku. Terima kasih udah kasih aku semangat."

"Sama sama Nak. Kapan aja kamu butuh ngobrol, dateng aja. Ibu selalu ada buat kamu."

Sore itu Naura pulang dengan hati yang sedikit lebih ringan. Dia putuskan akan coba saran Bu Mariam. Akan lebih sabar. Akan ingatkan Zidan dengan cara yang lebih lembut.

Malam harinya, setelah Faris tidur, Naura sholat tahajud. Dia sholat delapan rakaat. Setiap sujud dia nangis sambil berdoa panjang.

"Ya Allah... kembalikan Zidanku yang dulu. Kembalikan suamiku yang lembut. Yang sayang sama aku. Yang takut sama Engkau. Ya Allah... aku tau dia sekarang jauh dari Engkau. Tapi aku percaya Engkau bisa kembalikan dia. Engkau Maha Kuasa. Engkau bisa ubah hati manusia."

Dia sujud sangat lama. Sajadahnya basah kuyup air mata.

"Ya Allah... aku nggak kuat liat dia kayak gini terus. Tapi aku nggak mau menyerah. Aku masih cinta sama dia. Aku masih mau pertahankan keluarga ini. Tolong kasih aku kekuatan. Tolong kasih aku kesabaran. Tolong kembalikan suamiku. Aamiin ya Rabbal alamin."

Setelah sholat, dia baca Quran. Baca surah Al Insyirah berkali kali.

"Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan."

Dia ulang ulang ayat itu sambil nangis.

"Ya Allah, Engkau janjiin dalam Quran kalau bersama kesulitan pasti ada kemudahan. Sekarang aku lagi di kesulitan yang sangat berat. Tolong kirimkan kemudahannya ya Allah. Aku mohon."

Jam dua belas malam, Zidan pulang. Bau alkohol lagi. Mata merah lagi. Jalan sempoyongan lagi.

Naura langsung inget saran Bu Mariam. Jangan frontal. Jangan marah marah.

Dia sambut Zidan di pintu dengan senyum tipis. "Mas udah pulang? Mas udah makan belum?"

Zidan kaget liat istrinya sambut dia dengan senyum. Biasanya langsung marah atau ngomel.

"Eh... udah. Gue makan di luar."

"Mas cape ya? Ayo masuk. Aku buatin teh hangat."

Zidan masuk sambil bingung. Ada apa ini? Kenapa Naura tiba tiba baik banget?

Naura bikinin teh manis hangat. Kasih ke Zidan yang udah duduk di sofa.

"Ini Mas. Minum dulu. Biar seger."

Zidan terima sambil masih curiga. Tapi dia minum juga.

"Mas... tadi malam Mas pulang dengan bau aneh. Aku khawatir. Mas baik baik aja kan? Mas nggak sakit kan?"

Zidan diem sebentar. Ini cara Naura ngingetin dia soal minum alkohol. Tapi nggak frontal. Nggak langsung nyerang.

"Gue... gue baik baik aja. Cuma capek."

"Alhamdulillah kalau Mas baik baik aja. Aku cuma khawatir. Takut Mas kenapa kenapa."

Zidan nggak ngomong apa apa lagi. Dia minum tehnya sampai habis. Terus masuk kamar.

Naura duduk di sofa sambil napas lega. Ini langkah pertama. Langkah kecil. Tapi setidaknya dia nggak dibentak. Nggak dimarahin.

"Ya Allah, terima kasih. Terima kasih udah kasih aku kesabaran tadi. Tolong terus kuatkan aku. Aamiin."

Besoknya pagi, Zidan bangun dengan kepala pusing kayak biasa. Dia keluar kamar. Naura lagi masak di dapur.

"Mas mau sarapan? Aku masakin nasi goreng."

Zidan agak kaget lagi. Biasanya Naura diem aja pagi pagi kalau dia habis pulang malem. Sekarang malah nawarin sarapan.

"Eh... iya. Gue mau."

Naura buatin nasi goreng dengan telur mata sapi di atasnya. Tata di piring dengan rapi. Kasih sambal di samping. Kerupuk. Acar timun.

"Ini Mas. Makan yang banyak. Biar Mas kuat kerja."

Zidan duduk di meja makan sambil ngeliatin istrinya yang sibuk beresin dapur. Ada yang beda dari Naura. Tapi dia nggak tau apa.

Dia makan dengan lahap. Enak. Naura emang jago masak.

"Enak."

Naura senyum. "Alhamdulillah kalau Mas suka."

Setelah makan, Zidan mau berangkat kerja. Naura anterin sampe pintu.

"Mas hati hati di jalan ya. Jangan ngebut. Kalau udah sampe kantor kabarin Ibu ya."

"Iya."

Zidan keluar sambil masih bingung. Kenapa Naura tiba tiba jadi perhatian banget?

Di mobil, dia mikir sebentar.

"Naura... kenapa dia berubah? Biasanya dia ngomel ngomel. Sekarang malah perhatian. Ada apa ini?"

Tapi dia nggak mikir panjang. Dia gas mobilnya terus pergi.

Yang dia nggak tau, perhatian Naura itu bukan karena dia udah nggak sakit hati. Tapi karena dia masih cinta. Masih mau berjuang. Masih mau selamatin suaminya dari kehancuran.

Dan dia akan terus berjuang.

Sendirian.

Dengan doa.

Dengan sabar.

Dengan air mata yang mengalir setiap malam.

Berharap suatu hari...

Zidan akan sadar.

Akan balik.

Akan jadi suami yang dia cintai lagi.

Tapi perjalanannya masih panjang.

Masih berliku.

Dan dia harus siap.

Siap dengan semua sakitnya.

Semua air matanya.

Semua kesabarannya yang diuji.

Demi keluarga.

Demi Faris.

Demi cintanya yang masih tersisa.

1
checangel_
Hakmu Zidan?! Istrimu juga punya hak untuk menolak
aa ge _ Andri Author Geje: begitulah orang yang tidak mengetahui aturan tentang poligami yang ia ketahui hanya lah nafsu semata
total 1 replies
checangel_
Istighfar dulu yuk kalian berdua/Smile/
aa ge _ Andri Author Geje: astaghfirullah🙏
total 1 replies
Siti Yatmi
cerita yg bagus . terimakasih Thor.... semangat terus yah dlm berkarya...💪
Paradina
Terima kasih kak, semangat terus utk menulis
Siti Yatmi
ya Tuhan ...ko kasian amat yah sm mereka ber 2, Zidan , Naura....emang Zidan bersalah, tp dia udh berusaha menjadi lebih baik,ko ..JD sedih bacanya, sampe keluar air mata ..
Siti Yatmi
sedih deh baca kisah mereka... ya Allah.. sesungguhnya zidan tanpa Naura itu kaya langit tanpa bintang... mendung....
Paradina
Mantap kak, semangat terus utk menulis.
checangel_
Sabar ya Naura
checangel_
No! Gini loh Zidan, seorang wanita (istri) itu, tidak butuh hanya sekadar materi dari pasangannya, dia juga butuh perhatian dan rasa saling menghormati juga menghargai, walaupun banyak alasan di sana, karena kalian berdua disandingkan itu untuk saling melengkapi, bukan menghakimi
aa ge _ Andri Author Geje: mode ankuh nya itu
total 1 replies
checangel_
Berarti imanmu yang ... 🤧
aa ge _ Andri Author Geje: itulah keimanan, gampang hancur dengan
3 hal
harta, tahta dan wanita
total 1 replies
Susilawati Arum
Sampai bab 153 masih muter - muter di situ aja nih ceritanya...to the poin lebih baik thor daripada muter-muter nggak jelas dan nggak ada hasil...
aa ge _ Andri Author Geje: kalau to the point gak seru karena masih ada cerita yang lebih seru lagi
total 1 replies
Susilawati Arum
habis ini apa lagi cobaan hidup apa lagi thor yg harus di lalui Naura dan Faris untuk meraih kebahagiaan dan kesuksesan hidup
Susilawati Arum
nggak habis - habis apes hidupnya Naura dan Faris..
aa ge _ Andri Author Geje: seperti itulah gambar kehidupan
total 1 replies
Paradina
masih berharap zidan dan Naura. tapi semua kembali kepada author.

semangat 🙏
aa ge _ Andri Author Geje: dan semua akan terjawab di bab bab berikut nya akan banyak kejutannya
total 1 replies
Siti Yatmi
tapi paling tidak Zidan sudah bertobat...
Susilawati Arum
apakah Zidan meninggal thor
aa ge _ Andri Author Geje: belum
total 1 replies
Susilawati Arum
Tp dulu Zidan udah terlalu jahat banget sama Naura dan Faris..dan sekarang saat karma menghampiri Zidan .. rasanya nggak ada simpati sama Zidan
Siti Yatmi
Allah maha mengampuni hamba nya...JD jgn takut utk kembali Zidan..meski tanpa Naura...
Paradina
semoga ada kesempatan kedua utk zidan.
walau kelakuan zidan sdh keterlaluan

semangat kakak
Siti Yatmi
gpp Naura.....kamu berhak bahagia...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!