Rubellite Valtia hanyalah seorang "Putri Palsu" yang haus akan kasih sayang Kaisar. Namun, kesetiaannya dibalas dengan hukuman mati di tangan ayahnya sendiri.
Kembali ke masa lalu saat ia masih berusia delapan tahun, Rubellite bersumpah tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Namun, setiap kali ia berusaha menjauh, bayang-bayang masa lalu dan pertanyaan yang belum terjawab terus menghantuinya: Mengapa Ayah begitu membenciku?
Di tengah konspirasi istana dan trauma yang mendalam, Rubellite harus memilih: Benar-benar pergi, atau sekali lagi mencoba menembus hati sang Kaisar yang sedingin es meski risikonya adalah kematian kedua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ChikoGin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28: Benang merah
Di tengah-tengah ketegangan itu, Rubellite dan pasukannya benar-benar terlarut dalam kesedihan yang mendalam. Suasana di dalam ruangan terasa sangat sunyi dan menyedihkan. Rubellite bersimpuh di lantai, memangku kepala Valerius di pahanya. Dengan tangan yang gemetar, ia perlahan membelai rambut Valerius yang sudah terasa dingin dan kaku. Air matanya terus mengalir melihat pria yang dicintainya itu sudah tidak bernyawa lagi.
Setelah semua pertarungan yang melelahkan itu selesai, para ksatria yang sebelumnya terpengaruhi oleh sihir Shiera kini telah sadar sepenuhnya. Mereka tampak bingung dan bersalah melihat kekacauan di sekeliling mereka. Bahkan, sang Kaisar juga sudah sadar kembali dari pengaruh sihir jahat tersebut.
Sang Kaisar melihat Rubellite sedang menangis dan bersedih mendalam atas kematian seseorang. Dengan langkah pelan dan rasa bersalah, ia perlahan mencoba mendekat ke arah Rubellite untuk menenangkannya.
Namun, Rubellite langsung mendongak. Ia memberikan tatapan yang sangat tajam dan penuh kebencian ke arah sang Kaisar. Tatapan dingin dari Rubellite itu seketika membuat langkah kaki sang Kaisar terhenti. Sang Kaisar merasa sangat menyesal atas semua yang terjadi dan menjadi tidak berani untuk mendekat lagi.
"JANGAN MENDEKAT!" teriak Rubellite dengan suara serak karena terlalu banyak menangis.
"Jangan berpikir bahwa kau bisa seenaknya mendekati ku setelah semua ini," lanjut Rubellite dengan nada dingin yang menusuk.
Sang Kaisar hanya bisa terdiam membisu mendengar semua perkataan ketus dari Rubellite. Ia menundukkan kepalanya, tidak bisa membantah sepatah kata pun karena merasa bersalah.
"Tinggalkan kami," ucap suara Rubellite dengan sangat lemah, seolah kehabisan tenaga karena duka yang mendalam.
Sang Kaisar menatap dirinya sendiri dengan tatapan menyedihkan penuh penyesalan. Ia kemudian perlahan berbalik dan menyuruh seluruh pasukan untuk meninggalkan ruangan tersebut agar Rubellite bisa tenang.
Para pasukan pun pergi meninggalkan mereka berdua dalam ruangan besar yang hancur itu.
Didalam ruangan yang sunyi dan kosong itu, Rubellite menangis sekencang-kencangnya, meluapkan segala emosi, kemarahan, dan rasa sakit yang ada di dalam dadanya. Wajahnya yang cantik kini memucat pasi, dan matanya mulai memerah meradang karena air mata yang terus keluar tanpa henti.
Di tengah tangisannya yang menyayat hati itu, tiba-tiba suara bisikan dari kepala Rubellite berdengung keras memanggil namanya.
"Rubellite, apakah kau mendengarku."
"Aku bisa mendengarmu Helios," jawab Rubellite sambil memegangi kepalanya yang terasa pening.
"Apakah kau benar-benar ingin menyelamatkannya?" tanya Helios dari dalam benaknya.
"Jika itu mungkin, apakah bisa Valerius selamat? Tolong lakukan sesuatu, Helios!" pinta Rubellite dengan sangat memohon.
"Hanya ada satu cara," jawab Helios pendek. Ia kemudian menjentikkan jarinya di dalam alam bawah sadar Rubellite.
Tik.
Seketika itu juga, seluruh pandangan Rubellite perlahan kabur dan memudar menjadi putih. Rasa pusing melanda kepalanya, lalu ia kemudian terbangun dalam sebuah kegelapan tak berujung yang sangat dingin dan sepi.
Di tengah kegelapan yang pekat itu, tiba-tiba ada sebuah cahaya terang di sudut ruangan hampa tersebut. Dengan rasa penasaran dan jantung yang berdebar kencang, Rubellite melangkah mendekati ruangan bercahaya tersebut untuk melihat ada apa di sana.
Begitu ia melihat ke dalam cahaya itu, ia sangat terkejut. Rubellite terbawa pada masa lalu, di mana saat itu ia melihat dirinya sendiri masih menjadi seorang putri kekaisaran yang baru berumur 11 tahun.
"Tempat ini, bukannya ini dekat dengan tempat berperangnya Valerius dulu?" gumam Rubellite pelan sambil mengedarkan pandangannya ke memori masa lalu itu.
Tap! Tap! Tap!
Suara langkah kaki yang panik terdengar mendekat. Rubellite menoleh dan matanya membelalak. "Gadis itu, Sh-shiera..."
Namun, Shiera di dalam ingatan ini tampak sangat berbeda dengan Shiera yang kejam di dunia nyata. Anak itu memakai baju yang robek dan wajahnya dipenuhi keringat serta air mata ketakutan.
"Mengapa ia kabur terburu-buru seperti itu, apakah ada sesuatu yang mengejarnya?" tanya Rubellite pada diri sendiri.
‘Apakah ini adalah ingatan asli dari Shiera?’ batin Rubellite mulai menebak dengan perasaan cemas.
Benar saja, dari balik semak-semak memori itu, muncul seorang pria berjubah hitam pekat. Pria berjubah itu dengan gigih mengejar Shiera yang ketakutan. Shiera terus berlari sekencang mungkin dengan kaki kecilnya, hingga ia terdesak dan terjebak masuk ke dalam sebuah bangunan kuno yang sudah tua.
Tanpa ragu dan karena tidak ada jalan lain, Shiera memasuki sebuah ruangan bawah tanah yang gelap, di mana sama sekali tidak tersisa jalan lagi untuk kabur. Ruangan itu buntu.
Di dalam ruangan bawah tanah yang gelap gulita itu, Shiera bersembunyi di balik sebuah tumpukan kayu tua sambil membekap mulutnya sendiri agar suara napasnya tidak terdengar. Tubuhnya gemetar hebat menahan ketakutan yang luar biasa.
Sret... Sret...
Suara jubah hitam yang bergesekan dengan lantai terdengar memasuki ruangan bawah tanah tersebut. Pria itu melangkah masuk dengan sangat tenang. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang gelap, lalu tiba-tiba ia menyeringai licik di balik tudungnya. Pria berjubah itu merasakan aliran mana milik Shiera yang tidak bisa disembunyikan dengan sempurna.
"Aku tahu kau bersembunyi di sini, Tuan Putri," ucap pria berjubah itu dengan nada meremehkan.
Dengan cepat, pria berjubah itu berjalan ke arah tumpukan kayu tua dan langsung menghancurkannya dengan sihir hitam. Shiera yang terkejut langsung menjerit histeris karena tempat persembunyiannya telah ketahuan.
Pria berjubah itu kemudian maju dan berhasil menangkap lengan Shiera dengan kasar. Shiera menjerit ketakutan, lalu ia ditarik keluar dari ruangan bawah tanah tersebut dan dibawa menuju ke suatu tempat.
"Lepaskan aku! Lepaskan!" teriak Shiera kecil sambil meronta-ronta dengan sisa tenaganya.
"Kau seharusnya berbahagia, Bocah. Dengan begini kau akan berguna bagi kami," ucap pria berjubah itu dengan suara parau yang mengerikan.
"Tong aku... siapapun... Tolong!" tangis Shiera pecah memanggil bantuan.
"Berisik," bentak pria itu. Ia kemudian mengacungkan tangan dan memberikan sihir tidur kepada Shiera hingga anak itu langsung pingsan lemas.
Melihat adegan itu, dada Rubellite terasa sangat sesak dan sakit. Air matanya mengalir semakin deras. "Jadi selama ini... Sh-shiera... dia bukan orang jahat? Dia hanya korban?"
Ingatannya kemudian berganti lagi secara paksa. Kali ini terlihat Shiera yang sudah sedikit lebih dewasa terkurung di dalam sebuah penjara besi di tempat terpencil yang tidak diketahui. Tubuhnya dirantai, lalu pria berjubah itu datang menghampirinya.
"Kasihan sekali, melihat putri dari sang kaisar agung bisa sangat menyedihkan seperti ini," ejek pria itu sambil tertawa sinis.
Mendengar kalimat itu, Rubellite tertegun di tempatnya berdiri. Jantungnya seperti berhenti berdetak seketika. Ia tidak menyangka bahwa Shiera sebenarnya adalah adik kandung aslinya sendiri yang selama ini hilang.
"..." Rubellite hanya bisa terdiam dengan wajah yang pucat pasi dan bibir bergetar hebat. Rasa bersalah mulai menggerogoti hatinya.
Ingatan kemudian berganti kembali ke momen yang jauh lebih mengerikan. Terlihat Shiera terikat erat di atas sebuah peti batu kuno. Para pria berjubah hitam itu berkumpul mengelilinginya dan menggumamkan mantra sihir aneh yang sangat pekat. Perlahan-lahan, aura hitam merayap masuk ke tubuh Shiera, dan Shiera mulai berteriak kesakitan yang luar biasa.
"Arghh... Sakit! Hentikan... kumohon hentikan!" jerit Shiera histeris sampai badannya meliuk-liuk menahan sakit yang teramat sangat. Jiwanya sedang dihancurkan oleh sihir itu.
"SHIERA! APA YANG KALIAN LAKUKAN?!" teriak Rubellite yang sudah kehilangan kendali emosinya.
Rubellite berlari sekuat tenaga dan mencoba memukul pria berjubah itu, tetapi kepalan tangannya menembus tubuh pria itu begitu saja. Itu hanyalah sebuah ingatan masa lalu yang tidak bisa diubah.
"Hentikan... sudah kukatakan hentikan! Shiera terlihat sangat kesakitan, kumohon jangan lakukan itu..." tangis Rubellite pecah. Ia berlutut di samping peti itu sambil mencoba memeluk Shiera, tetapi tangannya terus menembus udara kosong. Ia dipaksa menonton adiknya disiksa sampai selesai.
Kemudian, ingatan menyakitkan itu pun berakhir dan meredup.
Didalam kegelapan tak berujung yang kembali sunyi dan dingin itu, Rubellite menangis sekencang-kencangnya, menyesal bahwa ia telah membunuh adiknya yang sesungguhnya. Suara tangisnya yang hancur bergema memenuhi ruangan kosong itu. Hatinya benar-benar hancur berkeping-keping karena menyadari kenyataan pahit bahwa ia telah membunuh adik kandungnya sendiri yang sesungguhnya tidak bersalah.