NovelToon NovelToon
Guru BK Itu Ternyata Jodohku

Guru BK Itu Ternyata Jodohku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Dijodohkan Orang Tua / Perjodohan
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: dira.aza07

Nafisha merasa hidupnya baik-baik saja.

Meski sering terlambat, sering dihukum guru BK, dan kerap terlibat masalah karena membela teman-temannya, setidaknya ia masih bisa menjalani hari-harinya bersama Rendi—sahabat yang selalu ada untuknya.

Sampai suatu hari semuanya berubah.

Sebuah kesalahpahaman membuat nama Nafisha menjadi bahan pembicaraan banyak orang. Dan tanpa sepengetahuannya, kedua orang tuanya telah menyiapkan keputusan yang akan mengubah seluruh hidupnya.

Perjodohan.

Lebih buruk lagi, pria yang dijodohkan dengannya adalah Andrea—guru BK yang paling sering menghukumnya di sekolah.

Nafisha tidak pernah membayangkan harus hidup berdampingan dengan pria menyebalkan itu.

Namun semakin keras ia berusaha menjauh, semakin sering takdir mempertemukan mereka.

Mampukah Nafisha menerima takdir yang telah ditentukan untuknya? Saat guru BK yang selalu membuatnya kesal itu ternyata adalah pria yang harus bersanding dengannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dira.aza07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

"Kamu tidak percaya kepadaku, Nafisha?" ucap Andrea tegas.

"Apa yang harus aku percaya?" tanya Nafisha tidak kalah nyolot.

"Begini Nafisha, pulang lebih dulu dengan buahku, saya pastikan tidak lama kamu tiba, saya akan lebih dulu tiba."

Nafisha melihat ke arah Andrea tanpa berkedip. Ia mempertimbangkan semua ucapan Andrea.

Akhirnya, Nafisha setuju. Dan anak buah Andrea telah berada di depan sekolah. Nafisha berdiri di bantu Andrea dan Anita yang tidak lama setelah Nafisha setuju. Andrea memanggilnya kembali.

Saat telah berada di depan gerbang, satpam melirik Andrea dari kejauhan. Setelah sebuah kode disampaikan diterima dengan baik. Akhirnya satpam itu tiba-tiba bergerak untuk membukakan gerbang.

Nafisha pun berjalan menuju pria berjaket tebal yang menggunakan helm full facenya. Tanpa tanya, Nafisha menaiki motor itu dengan memegang perutnya.

Selama di perjalanan itu, jantung Nafisha berdetak tidak karuan. Ia mulai membayangkan wajah Bapaknya yang kaget dan berakhir emosi.

Nafisha menggeleng cepat dengan mengangkat bahunya.

Semoga itu tidak pernah terjadi, pikir Nafisha yang setengah mati ketakutan.

Sesampainya di depan rumahnya. Ia turun dari motor itu, ia melirik-lirik ke arah lain, di mana gang yang cukup besar itu melintas beberapa motor.

Nafisha menekan-nekankan kakinya, ia kecewa pada pria itu. Saat tiba mana ada pria itu datang barengan, pikir Nafisha dengan menahan napas.

Ia memasuki rumah dengan langkah pelan sambil memegangi perutnya yang belum sembuh.

Saat ia mulai melangkah memasuki kamarnya, suatu deheman menyapanya. Nafisha meremang dan cukup tersentak.

"Kenapa sudah pulang?" tanya Abas.

Tangannya menyilang di depan dada. Tatapan matanya tajam bagai silet.

"Naf—" ucap Nafisha terjeda. Napasnya berembus kasar.

Suara ketekunan pintu menghentikannya untuk berbicara. Saat suara Abas menggema menyuruhnya masuk, pintu itu terbuka lebar. Andrea terlihat berdiri di depan pintu.

Meski terlambat tapi cukup membuat Nafisha bernapas lega. Ia tahu apa pun yang akan Nafisha ucapkan tidak akan membuat Abas tenang ataupun percaya kepadanya. Apalagi Nafisha pulang sebelum jam bubar kelas.

Andrea melanggeng masuk dengan begitu tegap, dengan takjim menyalami kedua orang tua Nafisha.

"Kenapa Nafisha bisa pulang lebih cepat? Ada yang salah dengan anak ini?" tanya Abas.

Andrea tersenyum sambil melihat ke arah Nafisha.

"Tidak seperti itu, Pak. Ia ceroboh telah menumpahkan air bakso, sehingga membuatnya harus beristirahat, dan itu sudah terkena kulit di perutnya."

Nandini berdiri bergegas menarik putrinya itu ke dalam kamar. Kali ini suara Nandini memecah keheningan di dalam ruangan itu. Suara itu panik dan dengan cepat membuka pakaian Nafisha.

Dan kali ini yang menyelamatkan Nafisha bukanlah Andrea melainkan Ibunya sendiri.

"Naf. Hati-hati jika mau apa pun, jangan ceroboh jadinya begini kan?"

Nafisha hanya tersenyum, suara Ibunya itu baginya bukan amarah melainkan kasih sayang yang begitu membuat hati Nafisha senang. Lain dengan ayahnya, Nafisha hanya merasakan sesak di dada yang begitu menekan.

"Iya, maafkan Nafisha."

Nafisha hanya mampu berkata seperti itu. Jujur ia seolah yang salah, padahal ini semua ulah Tina. Dan mungkin setelah ini, ia akan cari tahu bukti apa yang telah terjadi sebenarnya? Apa Tina benar tidak sengaja atau berkomplot dengan Sahabatnya dan Bagus.

Nafisha tidak akan diam, setidaknya dengan mengetahui kebenarannya. Ia akan tenang. Tapi jika sebaliknya, maka ia akan membalas semua itu.

Bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!