Seorang Kaisar Abadi yang sedang melewati rangkaian Ujian Langit, mengalami kegagalan karena diserang oleh Pasukan Berjubah. Dirinya yang mengalami luka cukup parah sebab gagal melewati Ujian Langit, serta merasa geram terhadap Pasukan Berjubah. Menggunakan sebuah Teknik Terlarang untuk melawan Pasukan Berjubah hingga menyebabkan tubuh dan jiwanya hancur.
Lima Ribu Tahun kemudian, Ia terlahir kembali sebagai seorang Tuan Muda dari Klan Xiao. Namun sayangnya, Ia terlahir dengan kondisi lautan energi yang tersegel sehingga membuat dirinya tidak bisa berkultivasi.
Tetapi, kondisi yang kurang baik tersebut tidak membuat dirinya menyerah. Ia akan berusaha keras untuk mendapatkan kembali seluruh kekuatannya seperti di masa lalu, demi membalaskan dendamnya serta melindungi orang yang ia cintai!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnginBiru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 32 - Ketenangan Sebelum Pertarungan
Selepas memutuskan untuk melatih Tebasan Pembunuh Darah, Xiao Yun langsung bangkit dari tempat duduknya dengan gerakan yang tegas. Langkah kakinya segera berjalan ke area kosong dari bagian dalam Gua seraya mengeluarkan sebilah pedang melalui cincin ruangnya. Bermodal ingatannya yang telah menyimpan secara baik setiap detail penjelasan di dalam gulungan Teknik tersebut.
Xiao Yun mulai melakukan gerakan-gerakan Teknik Pedang yang serupa dengan siluet tubuh peraga pada Teknik Tebasan Pembunuh Darah. Tubuhnya tampak bergerak sangat mahir, meski baru mempelajari penjelasan tentang Tebasan Pembunuh Darah dalam sekali pandang.
Setiap gerakan yang ditunjukkannya terlihat saling mengalir dengan ritme selaras layaknya seorang penari. Namun, pertunjukan indah itu seketika berubah menjadi pemandangan menakutkan ketika tubuh Xiao Yun secara natural melepaskan aura membunuhnya. Beberapa detik kemudian, sorot mata Xiao Yun tiba-tiba terasa dingin dan intens.
Postur tangannya yang menggenggam pedang langsung mengambil posisi terukur untuk melancarkan satu serangan mematikan. Lalu, di saat-saat terakhir ketika gerakan Xiao Yun telah mencapai bagian penghujung dari Teknik Tebasan Pembunuh Darah.
Yan bergegas menghampiri Xiao Yun, bereaksi cepat untuk menghentikan tindakan ceroboh yang akan membahayakan keselamatan mereka semua. "Cukup sampai di situ, dasar bodoh!!"
PLAK!
Pukulan telak tangan api yang terbentuk dari kumpulan energi Yan, seketika mendarat dengan keras di kepala belakang Xiao Yun. Tujuan pukulan itu datang ke arah Xiao Yun bukan karena ingin menyakitinya, tetapi menarik kembali kesadaran Xiao Yun yang sempat tenggelam sebab keinginan membunuhnya. Ini merupakan pengaruh besar dari Teknik Tebasan Pembunuh Darah. "Kenapa kau memukulku, Yan?!" tanya Xiao Yun seraya mengusap-usap bagian kepalanya yang terasa sakit
"Seharusnya aku yang bertanya kepadamu, dasar payah!" bentak Yan. "Bukankah tadi kau berkata, hanya ingin melatih Teknik Tebasan Pembunuh Darah saja. Tetapi kenapa kau tiba-tiba mengambil sikap untuk menyerang?! Apa kau berniat menghancurkan bagian dalam Gua ini?!" Yan terus mendesak Xiao Yun agar dapat mengeluarkan sebuah penjelasan masuk akal mengenai tindakan cerobohnya tadi
Alih-alih merasa marah ketika menerima pukulan keras serta beberapa pertanyaan tajam dari Yan. Senyum lebar yang menjadi bentuk sikap tenang justru merekah di sudut bibir Xiao Yun. Lubuk hatinya tidak terpengaruh oleh perlakuan tegas yang baru saja ia dapatkan. "Ma, maaf. Sepertinya, aku terlalu terbawa suasana." jelasnya sambil mengeluarkan suara tawa canggung
Melihat Xiao Yun yang bersikap dengan ungkapan andalannya setiap kali melakukan tindakan ceroboh. Sontak mendorong keluar amarah Yan melalui embusan napas panjang. "Haah.. Kau ini. Masih saja melakukan hal bodoh dan konyol meski telah menjalani kehidupan kedua." keluh Yan, kelopak matanya terasa berat karena terus-menerus menyaksikan kecerobohan Xiao Yun.
"Sampai kapan gerak tubuhmu bertindak lebih dahulu daripada kerja otakmu?" nada suara Yan terdengar berubah sedikit pelan, tetapi pertanyaan tajam masih keluar dari rongga mulutnya
Kedua tangan Xiao Yun pun langsung terbuka lebar bersama dengan posisi bahunya yang turun perlahan. "Ayolah, Yan. Jangan mengucapkan kata-kata menyakitkan seperti itu. Lagipula, tebasan pedangku belum sepenuhnya terlepas, bukan?" Xiao Yun tampak bersikap santai walau latihannya dalam mempelajari Tebasan Pembunuh Darah, hampir meruntuhkan dinding Gua jika berhasil dilepaskan
Yan seketika mendengus pelan. Ekspresinya kini semakin datar setelah mendengar ucapan Xiao Yun. Kebaikan hatinya sudah merasa muak karena teguran keras yang ia keluarkan, tidak memberi dampak nyata kepada sikap santai Xiao Yun. "Lupakanlah. Kau boleh melakukan apapun yang kau suka." ujarnya seraya pergi meninggalkan Xiao Yun seorang diri
"Hei, jangan pergi! Kita belum selesai bicara, Yan." langkah kaki Xiao Yun segera beranjak dari tempatnya berpijak untuk mengikuti kepergian Yan, menuju kembali ke tempat Xiao Zi beristirahat. Ia terpaksa menghentikan sejenak latihannya karena terguran keras Yan serta terdapat kemungkinan berbahaya dalam melatih Teknik Tebasan Pembunuh Darah.
Meskipun sikap Xiao Yun terlihat acuh tak acuh, namun sebenarnya ia tetap sadar terhadap setiap resiko dari perbuatannya. Alasan utama di balik sikapnya yang tampak santai ketika melakukan hal ceroboh ialah, sebab dirinya merasa sangat senang atau terhibur saat melihat Yan memarahinya. Bagi Xiao Yun, momen seperti ini cukup langka untuk ia dapatkan.
"Jadi, apa yang kau rasakan setelah melatih Tebasan Pembunuh Darah pada percobaan pertama?" Yan kembali bertanya setelah dirinya berhasil hinggap di atas kepala Xiao Zi
"Kurasa, Teknik ini memiliki potensi yang sangat bagus dan kuat walau belum bisa kulepaskan dengan kekuatan penuh." jawab Xiao Yun sembari mengambil sikap duduk bersila. "Yah, bagaimanapun. Tebasan Pembunuh Darah merupakan Teknik Bertarung tingkat Emas tahap Menengah. Jadi, wajar saja jika Teknik ini mempunyai kekuatan daya serang yang cukup hebat." jelasnya
"Itu adalah hal baik yang ingin kudengar." Kini Yan dapat bernapas dengan lebih tenang kembali, setelah beberapa saat lalu dirinya merasa tegang karena melihat kecerobohan Xiao Yun. "Tetapi sebaiknya, kau tidak melanjutkan lagi latihanmu itu. Terlalu berbahaya melatih Teknik Bertarung di dalam ruang kecil seperti Gua Ungu ini." tegas Yan
"Baiklah, aku mengerti." ucap Xiao Yun sambil mengangkat telapak tangannya hingga setinggi bahu, sebagai bentuk patuh terhadap perintah Yan. "Karena kau tidak mengizinkanku untuk lanjut berlatih. Maka aku akan beralih meningkatkan kultivasiku, menggunakan kumpulan material murni yang berada di dalam ketiga cincin ruang ini." beberapa batu bercahaya dengan warna beragam langsung keluar dari tiga cincin ruang pada tangan Xiao Yun
Kumpulan batu bercahaya tersebut merupakan material murni yang mempunyai fungsi serupa seperti Kristal Ungu Abadi, yakni membantu meningkatkan kultivasi seorang kultivator. Hanya saja, kandungan energi murni yang terdapat di dalam batu-batu itu tidak cukup sebanding dengan energi murni milik Kristal Ungu Abadi. Kuantitas serta harganya juga mampu dijangkau oleh masyarakat kalangan rendah hingga tinggi.
Secara kasatmata, penampilan pada batu yang sering disebut oleh para kultivator sebagai Batu Energi Langit. Memiliki kemiripan yang nyaris sempurna jika disandingkan dengan Kristal Ungu Abadi. Namun di balik keindahannya tersebut, tersembunyi perbedaan nyata yang sangat menonjol perihal kualitas energi murni.
Meskipun kualitas Batu Energi Langit belum bisa menyaingi Kristal Ungu Abadi, Xiao Yun tetap ingin menggunakan kumpulan batu tersebut. Sebab dirinya, tak ingin terus-menerus memakai material murni yang sangat berharga nan langka seperti Kristal Ungu Abadi untuk dirinya sendiri. Selepas mengeluarkan beberapa Batu Energi Langit, pikiran Xiao Yun langsung memasuki kondisi hening total.
Dirinya mulai berkonsentrasi penuh untuk menyerap kandungan energi murni yang terkumpul pada belasan Batu Energi Langit. Dengan bantuan ketajaman indra dan nalurinya, aliran energi murni yang terlihat layaknya benang-benang halus berwarna biru. Segera keluar dari bagian dalam setiap Batu Energi Langit, lalu perlahan bergerak masuk ke lautan energi Xiao Yun melalui titik pusarnya.
Rasa segar dan tercerahkan dari aliran energi murni yang telah menyatu dengan lautan energinya. Seketika menjalar deras kepada setiap inci tubuh Xiao Yun, hingga membentuk sebuah senyum kecil di sudut bibirnya. "Kualitas ini.. Tidak terlalu buruk." gumamnya sebab merasa puas
_______
Proses penyerapan energi murni yang dilakukan oleh Xiao Yun terus berlanjut, hingga kesunyian di Hutan Spirit Beast mulai mengelilingi Gua Ungu. Selepas menyerap energi murni dalam jumlah yang cukup besar selama beberapa jam, sekarang tingkat kultivasi Xiao Yun telah mencapai tahap Master Energi Lapisan Pertama. Laju perkembangan tingkat kultivasinya ini, benar-benar mengagumkan.
Padahal, baru genap satu bulan dirinya mulai berkultivasi kembali. Akan tetapi, tingkat perkembangannya sudah menyamai kultivasi Xiao Lin ketika melakukan Latihan Bertarung dengan dirinya saat itu. Bukanlah suatu keberuntungan jika pada kehidupan sebelumnya, Xiao Yun menjadi eksistensi yang layak berdiri di puncak dunia bela diri. Walaupun dirinya telah menjalani kehidupan kedua bersama kondisi yang sangat berbeda jauh.
Namun bakatnya dalam memahami jalan bela diri, tetap melekat kuat meski masih ada beberapa hal hebat lainnya yang belum dapat ia gunakan kembali. "Batu Energi Langit ini cukup menakjubkan. Kualitas energi murni yang tersimpan, tidak kalah jauh dengan kandungan energi murni milik Kristal Ungu Abadi." seru Xiao Yun seraya membuka lebar kedua matanya
Kemudian, tangan kanannya segera meraih salah satu Batu Energi Langit yang telah berubah warna menjadi hitam legam. "Batu ini mungkin akan menjadi pilihan yang bagus untuk pengganti sementara penggunaan Kristal Ungu Abadi."
"Memang hal yang sangat bagus." Yan langsung menanggapi pernyataan Xiao Yun tentang Batu Energi Langit. "Tetapi kau, tidak mungkin kembali ke Kediaman Klan Xiao dengan perkembangan kultivasi yang terlalu mencolok itu." kata-kata bijak mulai terdengar kembali dari rongga mulut Yan
"Seluruh anggota Klan Xiao, termasuk ayahmu. Akan terkena serangan jantung jika mengetahui bahwa seseorang yang baru mulai berkultivasi. Telah mencapai tingkat Master Energi Lapisan Pertama dalam kurun waktu satu bulan." lanjutnya
Tubuh Xiao Yun seketika membungkuk jatuh, suara embusan napasnya yang keluar terasa seperti dipenuhi oleh frustasi setelah mendengar nasihat tajam dari Yan. Seolah-olah, nasihat tajam tersebut tidak membiarkan kebahagiaan Xiao Yun tinggal lebih lama di lubuk hatinya. "Aku tahu itu. Aku sudah berencana untuk menekan tingkat kultivasiku ketika kembali ke Kediaman Klan Xiao nanti." jelas Xiao Yun dengan alis yang bertaut rapat serta tatapan tak senang
Rongga mulut Yan pun sontak tertutup rapat. Dirinya memutuskan untuk berhenti berbicara setelah mengetahui rencana Xiao Yun mengenai tingkat kultivasinya. Lalu, tubuhnya langsung kembali masuk ke dalam lautan energi Xiao Yun untuk beristirahat. Hal yang serupa juga dilakukan oleh Xiao Yun, dirinya tidak lagi melanjutkan proses penyerapan energi murni selepas berhasil mengalami kenaikan tingkat.
Dan kini, pikirannya mulai memberi perintah mutlak kepada seluruh anggota tubuhnya untuk segera beristirahat dari rasa lelah yang menyelimutinya. Namun, kerja keras Xiao Yun dalam meningkatkan kekuatan serta kemampuan bertarungnya tetap berlanjut. Xiao Yun akan segera terbangun dari tidurnya ketika sinar matahari mulai menembus masuk melalui mulut Gua Ungu.
Segala aktivitas rutinnya pun langsung ia lakukan, setelah mengisi kembali energi tubuhnya dengan beberapa makanan dari persediaan yang dirinya simpan. Berlatih Teknik Pedang, meningkatkan kultivasi dan mengganti kain kasa yang membalut luka Xiao Zi. Xiao Yun terus melakukan ketiga aktivitas tersebut selama tiga hari penuh di Gua Ungu.
Dan saat persediaan makanannya mulai menipis, Xiao Yun memutuskan untuk keluar dari tempat persembunyiannya bersama Xiao Zi yang telah pulih total. Untuk mencari kembali persediaan makanan serta air, sembari berjalan-jalan sejenak. Ketika tubuhnya telah berada di bagian luar Gua Ungu, langkah kaki Xiao Yun langsung terhenti oleh dua hal di hadapannya.
Sinar matahari yang menyinari wajahnya, merupakan hal pertama yang menyambut dirinya setelah mengurung diri di dalam Gua Ungu selama beberapa hari. Kemudian, hal kedua yang menghentikan langkah kakinya adalah, tubuh tegap milik Xie Yuanwu.