8 Tahun pernikahan dan di karuniai seorang putri cantik,nyatanya tak mampu meluluhkan hati aldric pada Eveline sang istri.
Pernikahan mereka terjadi karena perjodohan keluarga, Aldric yang mencintai wanita lain namun tak mendapatkan restu dari orang tuanya,dan di desak untuk menerima perjodohan itu akhirnya menerima,namun tak pernah menganggap ada sang istri.
Selama bertahun tahun juga Eveline mengejar cinta Aldric, karena memang dia mencintai laki laki itu sedari lama. Segala cara dia lakukan,bahkan dengan memberikan keturunan bagi Aldric yang dia kira akan membuat laki laki itu menatap ke arah nya.
Namun nyatanya tidak, Aldric tetap sama bahkan setelah ada buah hati di antara mereka. Hingga akhirnya Eveline menyerah mengejar cinta sang suami dan hanya bertahan demi putri mereka mendapatkan figur seorang ayah, walaupun nyatanya tidak Aldric berikan pada putri mereka.
Akankah Eveline benar benar menyerah dan pergi meninggalkan Aldric? atau Aldric akan luluh dan mulai menerima Eve?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon h.alwiah putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 32. Akibat hujan hujanan
Sore itu, langit di atas kediaman Lucien seolah tumpah. Awan abu-abu yang menggantung sejak siang akhirnya pecah menjadi ribuan tetesan air yang menghantam aspal dan dedaunan dengan suara riuh. Di dalam mobil, suasana terasa hangat setelah seharian penuh mereka menghabiskan waktu dengan berbelanja dan makan bersama.
Sera menempelkan wajahnya ke kaca mobil yang mulai berembun. Matanya berbinar melihat air yang mengalir di taman samping rumah mereka. "Wah... hujannya deras banget! Kalau main disana pasti seru!"
Aldric yang sedang mematikan mesin mobil melirik putrinya. "Mas mau keluar duluan, tunggu ya. Mas ambil payung besar di bagasi supaya kalian tidak basah saat masuk ke rumah."
Namun, saat Aldric hendak membuka pintu, tangan kecil Sera menarik ujung kemejanya. "Daddy, jangan pakai payung! Sera mau main hujan-hujanan!"
Eveline yang duduk di kursi penumpang depan langsung menoleh dengan raut wajah tegas. "Tidak boleh, Sera. Lihat itu, hujannya terlalu deras. Tidak baik main hujan-hujanan, nanti kamu sakit. Kita langsung masuk ke rumah saja."
Bibir Sera langsung mengerucut. Wajah cerianya padam seketika, digantikan oleh gurat kecewa yang mendalam. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi dengan lesu. "Tapi Sera mau sekali, Mommy. Sekali saja..."
Melihat putrinya bersedih, hati Aldric bergetar. Ia menoleh ke arah Eveline yang masih menatap tajam ke arah luar. "Eve, biarkan saja. Kenapa tidak boleh?"
Eveline membelalakkan matanya ke arah Aldric. "Mas, kamu dengar tidak? Hujannya deras sekali. Kalau Sera demam bagaimana?"
Aldric justru memberikan senyum tenang, mencoba mencairkan ketegangan. "Air hujan itu tidak membawa penyakit, Eve. Selama ini kita saja yang terlalu khawatir. Lagipula, sepertinya memang seru kalau sekali-sekali kita gila-gilaan di taman samping rumah. Bukankah itu kenangan masa kecil yang paling indah?"
"Aldric!" Eveline mendesis. "Jangan ajarkan dia hal yang aneh-aneh."
"Tidak apa-apa, tidak akan sakit kok. Mas yang jamin. Asalkan jangan kelamaan saja, ya?" Aldric mengedipkan sebelah matanya pada Sera melalui spion tengah.
"Bagaimana, Sera? Mau main sama Daddy?"
"Mau! Mau!" teriak Sera girang, kesedihannya menguap dalam sekejap.
"Ayo!" Aldric langsung membuka pintu mobil dan keluar, membiarkan tubuhnya seketika basah kuyup. Ia membuka pintu belakang dan menyambut Sera yang melompat keluar dengan tawa renyah.
Eveline hanya bisa menghela napas panjang, merasa kalah suara. "Kalian berdua benar-benar keras kepala!"
Eveline akhirnya keluar dari mobil, namun ia berlari cepat menuju teras rumah agar tidak terlalu basah. Dari teras yang kering, ia memperhatikan suami dan anaknya yang sudah berlarian di atas rumput hijau taman samping.
"Mommy! Ayo ke sini! Airnya segar!" teriak Sera sambil menengadahkan wajahnya ke langit, membiarkan air hujan membasahi pipinya.
"Tidak, Sera! Mommy lihat dari sini saja! Nanti baju Mommy basah!" sahut Eveline sambil melipat tangan di dada.
Aldric menyeka wajahnya yang basah, lalu menatap Eveline dengan tatapan jahil. Ia membisikkan sesuatu ke telinga Sera, dan anak itu mengangguk dengan semangat.
Mereka berdua kemudian berjalan perlahan mendekati teras dengan langkah yang mencurigakan.
"Jangan berani-berani ya, Aldric! Mas, jangan!" Eveline mulai mundur, namun ia terpojok di pilar teras.
"Satu... dua... tiga! Tangkap Mommy!" seru Aldric.
Aldric menyambar pinggang Eveline, sementara Sera menarik tangan ibunya. Dalam sekejap, Eveline terseret ke tengah taman. "Aldric! Mas! Berhenti! Hahaha... ya ampun, ini dingin sekali!"
Awalnya Eveline kesal, namun saat ia melihat tawa lepas suaminya dan kebahagiaan murni di wajah Sera, benteng pertahanannya runtuh. Ia ikut tertawa. Ia mulai membalas dengan mencipratkan air ke arah Aldric.
"Oh, berani ya? Kejar Sera kalau bisa!" tantang Aldric.
Mereka pun saling kejar-kejaran di bawah guyuran hujan yang semakin menderu. Suara tawa mereka bersahutan dengan bunyi petir yang sesekali terdengar di kejauhan. Eveline berhasil menangkap Sera dan memeluknya erat dalam keadaan basah kuyup.
"Kena kamu, Sayang!" seru Eveline.
"Dan Mommy kena Daddy!" Aldric tiba-tiba memeluk Eveline dari belakang, melingkarkan lengannya yang kuat di sekeliling istri dan anaknya.
Tanpa aba-aba, Aldric mengangkat tubuh Eveline dan Sera sekaligus. "Mas! Turunkan! Hahaha!" teriak Eveline panik namun bahagia. Aldric membawa mereka berputar-putar di tengah taman, membuat mereka semua pusing namun tertawa terbahak-bahak. Di bawah hujan itu, untuk sesaat, semua luka dan kedinginan hubungan mereka seolah tersapu bersih.
Sekitar satu jam lebih mereka bermain, hingga akhirnya Eveline memaksa mereka berhenti karena bibir Sera mulai terlihat membiru. Setelah membersihkan diri masing-masing dan berganti pakaian hangat, mereka berkumpul di meja makan untuk makan malam.
Eveline meletakkan semangkuk sup hangat di depan Aldric dan Sera dengan wajah yang dibuat-buat ketus. "Nah, makan yang banyak. Awas ya kalau besok pada sakit, Mommy tidak tanggung jawab. Sudah dibilangin malah ngeyel."
Aldric melirik Sera, lalu mereka saling berpandangan dan tersenyum nakal.
"Tenang saja, Mom. Kita berdua ini tim hebat. Imun tubuh kita kuat, kan Sera?" ucap Aldric sambil menyuap supnya.
"Betul, Daddy! Kita kan pahlawan hujan!" sahut Sera dengan bangga.
Eveline hanya mengangkat bahunya acuh sambil menyembunyikan senyumnya.
"Terserah kalian pahlawan apa. Yang jelas, kalau ada yang bersin besok pagi, jangan cari Mommy."
Malam semakin larut. Setelah memastikan Sera tertidur, Eveline dan Aldric pun masuk ke kamar mereka. Kelelahan setelah seharian beraktivitas membuat mereka tertidur dengan cepat.
Namun, tepat tengah malam, Eveline terbangun karena merasakan hawa panas yang tidak wajar di sampingnya. Ia menyentuh lengan Aldric yang berada di atas selimut.
"Mas... Mas Aldric?"
Tubuh Aldric gemetar pelan. Saat Eveline menyentuh kening suaminya, ia tersentak. Panas sekali. Aldric menggumam tidak jelas dalam tidurnya, tampak gelisah dengan napas yang memburu.
"Astaga, Mas! Kamu demam," bisik Eveline panik. "Ini nih, akibatnya kalau merasa paling kuat."
Eveline hendak beranjak ke dapur untuk mengambil kompres, namun langkahnya terhenti. Ia teringat Sera. "Kalau Mas Aldric saja sampai begini, bagaimana dengan Sera?"
Dengan perasaan was-was, Eveline berlari kecil menuju kamar Sera. Benar saja, saat ia membuka pintu, ia mendengar suara rintihan kecil. Ia mendekat dan meraba kening Sera. Sama panasnya. Sera juga menggigil di bawah selimut tebalnya.
"Mommy... dingin..." gumam Sera lirih dengan mata terpejam.
Eveline mendadak bingung. Ia harus merawat siapa dulu? Keduanya sama-sama butuh perhatian. Akhirnya, dengan sisa tenaganya, ia memutuskan untuk menyatukan mereka agar lebih mudah dipantau.
"Sera, Sayang, bangun sebentar ya. Kita ke kamar Daddy," Eveline menggendong putrinya yang terasa sangat panas itu ke kamar utama.
Ia membaringkan Sera di tengah-tengah ranjang, tepat di samping Aldric yang masih panas dingin. Eveline kemudian bergegas ke dapur, menyiapkan baskom berisi air hangat dan dua buah handuk kecil.
Malam itu, kamar utama berubah menjadi ruang perawatan. Eveline duduk di tepi ranjang, bergantian memeras handuk dan meletakkannya di kening Aldric serta Sera.
"Mas, minum air putihnya dulu sedikit," bisik Eveline sambil mengangkat sedikit kepala Aldric agar bisa minum.
Aldric membuka matanya sedikit, menatap Eveline dengan pandangan sayu. "Eve... maaf... sepertinya imun pahlawannya sedang cuti..."
Eveline mendengus meski matanya berkaca-kaca karena cemas. "Sudah, jangan banyak bicara. Tidur lagi saja."
"Sera... bagaimana?" tanya Aldric dengan suara serak.
"Sama sepertimu. Demam tinggi. Makanya, lain kali dengarkan kata istri," omel Eveline pelan, namun tangannya begitu lembut mengusap rambut Aldric yang lembap karena keringat dingin.
Eveline menghabiskan malamnya tanpa tidur. Ia terus memantau suhu tubuh mereka, mengganti kompres setiap kali handuk itu mulai mengering, dan menyelimuti mereka kembali saat mereka menggigil. Meski lelah, ada rasa syukur yang aneh di hati Eveline. Melihat suami dan anaknya terbaring di depannya, ia menyadari betapa ia sangat mencintai mereka berdua, melampaui segala egonya yang pernah terluka. Malam yang panjang itu menjadi saksi bisu pengabdian Eveline untuk dua pahlawan hujan yang akhirnya tumbang itu.
smoga segera launching adikmu