Yun Bàntiān adalah pendekar pedang terkuat di dunia kultivasi. Terkenal, tampan, dan ditakuti... namun memilih hidup damai bersama istri dan anaknya, jauh dari hiruk-pikuk dunia.
Tapi kedamaian itu hancur ketika dua dewa turun dari langit—berniat membunuhnya demi menghentikan sebuah ramalan kuno.
Dalam pertempuran yang mengguncang dunia, Yun Bàntiān mengorbankan seluruh tubuh dan jiwanya… dan membunuh dua dewa sekaligus..
Namun kematian bukan akhir.
Ia terbangun di masa lalu—sebagai bayi!
Sayangnya, ingatannya telah hilang, tercerai-berai bagaikan bintang di langit.
Siapa dia sebenarnya?
Kenapa para dewa takut padanya?
Apa isi ramalan yang bahkan surga ingin lenyapkan?
Ini adalah kisah sang pendekar yang hidup kembali untuk mengubah takdir... dan menantang surga itu sendiri.
_____________________________________
Judul Yang Berbeda
Sword Against The Divine
S.A.T.D
Penjahat Surgawi Tanpa Nama
Unnamed Calamity of the Heavens
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Ru Ze, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31–Penantian yang Hanya Tinggal Bayangan
Luo Qīngméi terjatuh kaku, tubuhnya gemetar melihat kematian klon Yun Bàntiān yang ia kira sebagai Yun Bàntiān asli. Air matanya mengalir deras, tak mampu ia hentikan. Ingatan tentang permintaan maaf Yun Bàntiān terngiang jelas—semua karena ia telah memilih untuk mengorbankan diri.
Dengan suara parau, Luo Qīngméi berbisik, “Maafkan aku, Tiān’er… kenapa aku tidak pernah berpikir kalau kau akan mengorbankan nyawamu demi aku…”
Di sisi lain, Luo Língxiāo hanya mampu menangis dalam hati, “Kenapa aku tidak bisa melindungi muridku…”
Luo Qīngméi berdiri terpaku, menyaksikan kekasihnya terenggut tepat di hadapannya. Dalam sekejap, duka merambat ke setiap helai rambutnya—hingga memutih bagai salju pertama yang jatuh di musim duka. Kedua matanya retak, lalu berubah menjadi pupil ganda Yin dan Yang, seolah semesta sendiri menorehkan keseimbangan pahit ke dalam jiwanya.
Cahaya Yin-Yang meledak dari tubuhnya, menyelubungi dunia dengan kilau yang menutupi segalanya. Dan ketika sinar itu mereda, ia telah menjadi sosok lain. Jubah kelamnya berkibar, melebur dalam bayangan, namun di ujung-ujungnya menjalar garis putih halus—seperti cahaya yang berani bertahan dalam jurang kegelapan.
Tatapannya dingin, membeku tanpa air mata. Bagaikan es purba yang telah kehilangan hangatnya hati, ia menjelma keheningan abadi, seorang wanita yang cintanya terkubur bersama lelaki yang takkan kembali.
Dengan suara bergetar namun penuh amarah, ia berteriak, “Kalian, Sekte Iblis! Kalian telah merenggut nyawa calon suamiku. Aku, Luo Qīngméi, bersumpah akan membalas ribuan kali lipat!”
Ia melangkah maju, melayang di kehampaan, meraih Pedang Naga Kembar milik Yun Bàntiān. Dengan tatapan membunuh, ia langsung menghadapi sisa-sisa Sekte Iblis. Targetnya: pria tua pembawa bendera kematian.
Dua pedang berkelebat. Tubuh pria tua itu ditebas bertubi-tubi tanpa jeda, setiap detik Luo Qīngméi kembali dan memotong bagian lain. Hingga tersisa kepala saja, ia membanting tubuhnya ke tanah lalu menginjak kepalanya sampai hancur berantakan.
Seluruh anggota Sekte Iblis gemetar ketakutan. Wanita yang dulu lemah kini menjelma monster haus darah. Mereka berlarian tanpa arah, tapi Luo Qīngméi selalu muncul di hadapan mereka. Wajahnya pucat, tatapannya dingin, bagai hantu pembalas dendam.
Dia langsung menebas setiap sekte Iblis yang mencoba melarikan diri tanpa mengarahkan titik vital yang langsung membuat mereka mati tapi, kebenciannya benar-benar memuncak dia hanya menebas bagian yang hanya membuat penderitaan tidak berkesudahan.
Ia menebas mereka tanpa mengincar titik vital, melainkan bagian tubuh yang membuat penderitaan berkepanjangan. Jeritan kesakitan menggema, darah mengalir memenuhi tanah.
“Mohon ampuni kami!” teriak mereka.
Luo Qīngméi tertawa dingin. “Ampuni kalian?! Aku bertanya, apakah kalian memberi kesempatan pada calon suamiku? Hari ini setelah kami pulang, kami akan menikah. Tapi kalian… membuatnya meledak di hadapanku! Bagaimana aku membalas kebaikan ini? Membiarkan kalian cacat, atau membunuh kalian perlahan?”
Ia melanjutkan dengan datar "Kamu tahu kata pepatah kuno.Gigi ganti gigi, mata ganti mata, darah ganti darah, nyawa ganti nyawa."
Ia mengangkat pedang tinggi. “Naga Penyeimbang Penghancur Langit!”
Lingkaran Yin-Yang raksasa muncul di belakangnya, siluet naga ganda muncul dari dalamnya. Namun ketika hendak melepaskan serangan, tubuhnya mendadak lemah. Ia batuk darah. Serangan meleset, menghantam tanah es hingga retak berkeping-keping, membentuk kawah besar.
Sekte Iblis segera melarikan diri. Luo Língxiāo berlari, memeluk tubuh Luo Qīngméi. Dengan suara lembut namun tegas, ia berkata, “Mei’er, kau sedang mengandung anak Yun Bàntiān. Jika kau terus memaksakan kekuatan, anak itu akan gugur!”
Luo Qīngméi pingsan di pelukannya. Luo Haotian dan Luo Jianhong yang masih bertarung dengan kaisar serta permaisuri iblis segera mundur. Mereka semua sadar, keselamatan Luo Qīngméi dan janin dalam kandungannya lebih penting dari segalanya.
Beberapa hari kemudian, mereka tiba di Sekte Pedang Embun Pagi. Pernikahan megah yang sudah dipersiapkan tetap berlangsung, tamu undangan telah hadir, namun pengantin pria tiada.
Luo Xiaoyun mendekat dengan cemas, menatap Luo Qīngméi yang terbaring lemah. “Apa yang terjadi? Di mana Yun Bàntiān?”
Luo Jianhong berkata dengan tergesa-gesa “Kami tidak tahu pasti, tapi kita harus segera bertindak. Jika terlambat, anak dalam kandungan cicitku bisa mati.”
Dengan kepanikan yang menyesakkan dada, keluarga Luo segera mengangkat tubuh Luo Qīngméi ke kediaman mereka. Nafas tercekat saat nadi pergelangan tangannya diperiksa, wajah pucat nya membuat hati mereka gentar. Semua alkemis muda di sekte pun dipanggil tanpa kecuali, dipaksa berjibaku meramu pil seolah waktu tak memberi kesempatan
Luo Jianhong dan Luo Haotian terus-menerus menyalurkan kekuatan mereka ke tubuh Luo Qīngméi. Baru ketika wajah pucatnya perlahan memulih dan napasnya kembali teratur, barulah keduanya menarik napas lega.
Luo Xiaoyun bertanya dengan serius "Apa yang terjadi?"
Luo Língxiāo menjawab dengan tenang "Yun Bàntiān mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan Luo Qīngméi dari sekte iblis."
Luo Língxiāo menceritakan kejadian dari awal: Luo Língxiāo menceritakan semuanya dari awal. Bagaimana mereka dikepung oleh ribuan orang, hingga pertarungan dahsyat yang mengguncang bumi. Lalu muncullah pria tua pembawa bendera kematian, yang membuat segalanya semakin sulit—karena setiap orang yang terbunuh, hidup kembali sebagai jiwa-jiwa haus darah.
Yun Bàntiān sempat melarikan diri, namun kembali untuk bertarung habis-habisan. Pada akhirnya, dia meledakkan tubuhnya sendiri demi melindungi semua orang.
Amarah Luo Qīngméi pun memuncak. Dalam kegilaan, ia membantai siapa pun yang berdiri di hadapannya, hingga akhirnya melepaskan sebuah teknik terkuat yang bahkan Luo Língxiāo sendiri tak tahu dari mana asalnya.
Namun, seketika darah segar mengalir dari bibirnya—karena saat itu Luo Qīngméi tengah mengandung.
Dengan mata membelalak dan suara bergetar, Luo Xiaoyun menatap penuh cemas. “Bagaimana mungkin Mei’er bisa hamil? Kau sendiri, sebagai bibinya, yang selalu melarangnya sebelum ia menikah. Lalu… bagaimana ini bisa terjadi?”
Luo Língxiāo menggelengkan kepalanya "aku tidak tahu."
Luo Língxiāo melanjutkan dengan nada serius, “Aku juga melihat sesuatu yang tak pernah diajarkan oleh siapa pun—bahkan aku, bibinya yang selalu menjaganya siang dan malam. Dia sendiri menyebut teknik itu Naga Penyeimbang Penghancur Langit.”
"Naga Penyeimbang...?" ucap Luo Jianhong dengan bingung
Luo Qīngméi akhirnya bangun dan mengelus perutnya,dan ia masih merasakan kehidupan di dalamnya tanpa mempedulikan sekitar.
Luo Xiaoyun langsung memeluk Luo Qīngméi dan bertanya dengan sedih "apa kamu baik-baik saja Mei'er?"
Luo Qīngméi tetap diam. Dengan langkah gontai, ia meninggalkan kediaman, satu tangan memeluk perutnya. Keluarga Luo membiarkannya sendiri, menyadari bahwa hatinya sedang hancur dan pikirannya terbelenggu oleh kesedihan atas kematian calon suaminya.
Ia berjalan perlahan, melewati murid-murid sekte yang memberi hormat, namun tak membalasnya. Langkahnya membawanya ke kediaman Yun Bàntiān. Di sana, ia seakan melihat bayangan lelaki itu tersenyum memanggilnya “kakak senior”. Tangannya terulur kosong, hatinya sesak.
Ia masuk ke kamar penuh kenangan—tawa, makan bersama, tidur berdampingan—yang kini hanya tinggal bayangan. Lututnya melemah, tubuhnya jatuh berlutut. Ia menangis sambil memeluk dirinya sendiri, lalu meratap, “Tiān’er… kenapa kau mengorbankan dirimu? Aku mengandung anakmu, dan hari ini seharusnya hari pernikahan kita. Kenapa kau memilih mati hanya demi aku…”
Tangisnya menggema di kediaman yang hampa. Luo Qīngméi kini hanyalah seorang wanita yang kehilangan separuh jiwanya, namun tetap harus hidup—demi anak yang sedang ia kandung.
jangan lupa mampir yaa