Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata dari narasumber (Nisa dan Gendis).
.
.
.
SERIES KE LIMA DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"
Kini... Gendis sudah menjadi anak angkatku, dengan nama baru yaitu "Harum" yang kuberikan untuknya...
Harum menjalani kehidupan barunya bersamaku, setelah tragedi yang hampir merenggut sukma jiwanya di pondok pesantren daerah Kediri itu...
Aku menjalani kehidupan yang bahagia bersama Harum, tapi juga dengan segala bahaya yang mengintai jiwaku dan jiwanya...
DISCLAIMER!
Jika terdapat kesamaan detail nama tokoh, latar tempat, seni, budaya, agama, dan jenis laku tirakat tertentu dengan para pembaca, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30 "AJARKAN DIA TIRAKATMU..."
"Sudah-sudah... Jangan begini, dong!" kataku.
Dan, tiga sosok perewangan (penjaga ghoib) itu menatapku bersamaan.
Sekar Mayang, masih terlihat sedikit kesal karena ucapan Sekar Arum. Tubuhnya yang berbalut kebaya merah, bermahkota dominan warna merah, kedua matanya pun merah terang, berdiri di tiang teras kiri dengan aura dan gestur yang sudah kukenal.
Begitu juga Dayang Putri. Ia berdiri diam di tiang teras kanan, dengan tubuhnya berbalut kebaya hijau, bermahkota dominan warna hijau, dan kedua matanya yang hijau terang. Tapi dengan aura dan gestur tubuh yang terlihat lebih tenang.
Sementara Sekar Arum, duduk di sampingku. Menatapku dengan kedua matanya yang berwarna emas terang, dengan tubuhnya berbalut kebaya hitam, dan bermahkota hitam.
Dan juga, mereka bertiga memakai selendang kuning keemasan yang sama, di pundak mereka.
Seakan-akan, aku menjadi pusat pertemuan tiga energi ghoib besar mereka semua malam ini.
Lantas, di tengah suasana astral yang terasa canggung ini, aku pun bertanya.
"Aku mau tanya, kalian muncul bersamaan begini, buat apa? Padahal, aku tak memanggil kalian sekarang."
Mereka bertiga masih diam saja, sambil terus menatapku.
"Apa ada yang ingin kalian sampaikan?" tambahku.
Lalu, Dayang Putri akhirnya menjawab dengan tenang, "Iya..."
"Apa?" tanyaku pada Dayang Putri.
Malah Sekar Mayang yang menjawabku sekarang, "Ajarkan dia TIRAKAT-mu, Nisa..."
Kualihkan pandanganku pada Sekar Mayang, dan bertanya padanya, "Dia? Siapa?"
Dan, malah Sekar Arum yang kini menjawabku, "Anakmu..."
Entah, dari jawaban mereka bertiga yang bergantian itu, aku bisa merasakan bahwa ini adalah sebuah pertanda ghoib, yang memang tak bisa kuabaikan begitu saja.
Lalu, aku bertanya lagi, "Kenapa kalian memintaku buat ajarkan TIRAKAT itu pada Haruma?"
"Karena jiwanya sangat menarik bangsa lain, Nisa." jawab Sekar Arum.
Aku pun sedikit terkejut mendengar jawaban Sekar Arum itu. Meskipun aku langsung memahami apa maksudnya.
"Kenapa? Aku merasa kalau Harumaku belum siap." kataku.
"Karena inilah saatnya untuk anakmu bersiap-siap, Nisa." jawab Sekar Arum.
"Bersiap-siap? Dari apa? Ada apa memangnya?" tanyaku lagi.
Dan, kali ini, Dayang Putri yang menjawabku, "Sebentar lagi, anakmu itu akan memulai perjalanan hidupnya yang lebih berat darimu, Nisa."
Aku pun menatap wajah Dayang Putri yang terlihat seserius itu.
Meskipun aku tahu, kemampuan Dayang Putri adalah "membaca" masa depan, tapi aku tak langsung menerima ucapannya itu mentah-mentah.
Aku malah bertanya pada Dayang Putri, "Maksudmu? Gimana? Kehidupan yang lebih berat dariku? Apa? Ada apa?"
Dan, seolah melengkapi Dayang Putri, Sekar Mayang yang kali ini menjawabku, "Iya, Nisa. Karena masa lalu anakmu itu sudah membuat mata batinnya terbuka."
Kini, aku paham maksudnya. Karena Sekar Mayang punya kemampuan untuk "membaca" masa lalu. Sehingga itulah sebabnya, Sekar Mayang memberikan jawaban begitu.
"Tapi... Aku yang belum siap." kataku.
"Kamu sudah siap, Nisa." jawab Sekar Arum kali ini.
Kutatap kedua matanya yang keemasan terang itu, dan kukatakan sekali padanya, "Enggak, aku belum siap! Aku tak mau anakku menjalani TIRAKAT seberat itu!"
Dan...
"Wuuussshhh!!"
Hembusan angin malam ini terasa lebih kencang dari sebelumnya.
Dengan aroma bunga kantil merah dan putih yang semakin kuat di hidungku.
Dan juga energi mereka bertiga yang jauh lebih kuat.
"Jika kamu belum siap, maka aku yang akan mengajarkannya." kata Sekar Arum.
"Hah?!" terkejut aku mendengarnya.
"Jangan! Akulah Ibunya sekarang. Bukan kamu!" kataku pada Sekar Arum.
Tiba-tiba, Sekar Arum pun berdiri.
Ia berjalan pelan.
Dan kini berdiri tepat di depanku, tepat di antara Dayang Putri dan Sekar Mayang.
"Baiklah, jika begitu. Tapi, aku ingin katakan sesuatu padamu, Nisa." ucap Sekar Arum.
Dia kini menatapku dengan tatapan mata keemasannya yang jauh lebih besar energinya.
"Apa?" tanyaku.
"Energiku tak bisa bersatu secara penuh dengan energi anakmu itu, jika kau tak mengajarkan TIRAKAT-mu padanya." jawab Sekar Arum.
Karena aku juga sudah tahu tentang itu, maka kujawab saja dengan tegas, "Iya, aku juga sudah tahu soal itu. Tapi, tetap aku belum siap melihat Harumaku menjalani TIRAKAT seberat itu."
Lalu, Sekar Arum pun tersenyum, sambil kedua matanya yang keemasan menyala itu tak berpaling dariku.
"Baiklah... Kan kutunggu kesiapanmu..." respon Sekar Arum kemudian.
Dan...
Sosok Sekar Arum pun, menghilang perlahan.
Menghilang bersamaan dengan hembusan angin malam yang amat terasa astral ini.
Kini, hanya ada aku bersama dua perewanganku, Dayang Putri dan Sekar Mayang.
.....
.....
🌔🌔🌔🌔🌔🌔🌔
Beberapa saat, aku dan dua perewanganku itu saling diam saja.
Entah apa yang mereka berdua pikirkan sekarang.
Yang pasti, isi pikiranku sekarang adalah tentang ucapan Sekar Arum barusan. Dan tetap saja, dalam batinku masih menolak untuk mengikuti ucapannya.
"Dayang Putri..." panggilku.
"Ya, Nisa?"
"Kenapa tadi kamu bilang bahwa masa depan Harumku itu, lebih berat perjalanannya? Memangnya, ada apa di masa depannya itu?" tanyaku sedikit penasaran.
Terlihat sedetik kemudian, Sekar Mayang yang ingin memberikan jawaban. Tapi, dengan cepat juga kuarahkan telapak tangan kananku padaku. Sebuah kode supaya Sekar Mayang tak menjawab.
Kembali kutatap wajah Dayang Putri yang terkena sinar bulan hampir purnama di atas langit terasku ini.
Menunggu jawabannya.
Dayang Putri memalingkan wajahnya, kini ia tatap bulan di atas sana.
"Nisa..." panggilnya.
"Apa jawabannya, Dayang Putri?" desakku.
"Bukankah kamu sudah tahu, aku memang bisa membaca masa depanmu?"
"Iya, terus?"
"Maka aku juga bisa membaca masa depan anakmu itu. Karena sudah lama ia bersamamu."
"Iya, terus? Apalagi?" desakku lagi, karena aku merasa Dayang Putri terlalu bertele-tele.
"Aku tahu kau ingin mendengar jawabanku, tapi... Aku tak bisa memberi tahumu sekarang, Nisa."
Mendengar jawabannya, aku malah merasa sedikit kesal.
"Hmph!" aku mendengus, sambil mengalihkan pandanganku ke atas langit. Menatap bulan yang sama.
"Nisa... Boleh aku menjawab?" tanya Sekar Mayang.
Kulirik saja wajah Sekar Mayangku itu. Hanya melirik, tanpa menjawabnya.
"Cih! Jangan begitu... Apa kau juga ingin meniru diriku, Nisa? Hihihi..."
"Terserah aku, lah!" jawabku.
"Hihihihi... Dasar!" balas Sekar Mayang.
Sekar Mayang pun melangkah pelan, dan ia duduk di bangku tepat di sebelahku. Dimana barusan Sekar Arum duduk.
"Nisa..." panggilnya.
"Hey! Nisa..." panggilnya lagi, karena masih diam saja.
Aku pun menarik napas dalam-dalam. Mencoba menenangkan batinku sendiri.
"Apaaa? Mau jawab apa kamu, Sekar Mayang?" tanyaku dengan lebih tenang.
"Naaah... Seperti ini seharusnya Nisaku, hihihi..." candanya, dan terlihat centil seperti biasa.
"Nisa... Anakmu memiliki kemampuan istimewa." kata Sekar Mayang.
"Tapi, kemampuan itu sudah mulai aktif tanpa keinginannya sendiri. Dan aku yakin, kau sudah paham itu." tambahnya.
Aku pun diam. Dan batinku sama sekali tak membantah ucapan Sekar Mayang itu. Karena memang benar semua itu.
"Nisa... Anakmu, pun memiliki Sekar Arum sekarang." kata Sekar Mayang lagi.
"Iya..." jawabku singkat.
"TIRAKAT-mu itu bisa menguatkan energi mereka berdua, Nisa." ucap lagi Sekar Mayang.
"Tapi..." kataku, tertahan sejenak.
"Aku belum siap mengajarkannya, Sekar Mayang. Dia masih terlalu muda, aku takut jiwanya belum siap." jelasku.
"Ahahahaha..." Sekar Mayang malah tertawa padaku.
"Nisa, apakah kau lupa bagaimana dahulu bisa menyatu dengannya?" tanya Sekar Mayang, sambil menatap ke arah Dayang Putri.
Dayang Putri pun tersenyum padaku.
Kemudian, Sekar Mayang menambahkan, "Dan apakah kau lupa? Bagaimana aku bisa menyatu juga denganmu?"
Aku seperti seorang manusia yang sedang diingatkan kembali oleh dua sosok perewangan ghoibku sendiri. Mengingatkan semua perjalanan TIRAKAT-ku selama ini.
Dan, entah ada energi apa yang merasuk ke dalam batinku.
Bisa kurasakan batinku mulai menerima itu semua.
Malah, aku mulai bisa memahami bahwa Harumaku, akan bisa mengikuti TIRAKAT-ku. Dengan adanya aku di hidupnya sekarang, aku pasti tak akan melepasnya sendirian menjalani TIRAKAT itu.
Akan tetapi, seketika muncul sebuah pertanyaan dalam kepalaku.
"Tapi, kalian kan sudah tahu, Haruma itu bukan anak kandungku. Bagaimana dia akan---"
Belum sempat kuselesaikan pertanyaan itu, Dayang Putri langsung menjawab.
"Jangan ragu, Nisa. Memang dia bukan anak kandungmu, tak ada ikatan darah antara dirimu dengannya. Tapi, energi dan batinmu dengan anakmu itu sangatlah kuat."
Lalu, Dayang Putri melangkah, mendekat padaku yang masih duduk sedari tadi.
Dayang Putri menyentuh pipi kananku, sambil ia berdiri dan menatapku dengan kedua mata hijau terangnya.
"Ingatlah, Nisa... Jika kau memang sayang pada anakmu itu, maka lindungilah ia dengan TIRAKAT-mu."
Dan...
Terasa hembusan angin malam yang semilir.
Dingin.
Tapi menenangkan batinku.
Lalu, perlahan, Dayang Putri dan Sekar Mayang pun menghilang dari pandanganku.
Hanya menyisakan diriku, duduk sendirian di teras rumah.
Sejenak aku masih terduduk saja, sambil pandanganku menatap lurus ke halamanku yang sangat sepi.
Beberapa saat kemudian, aku bangun.
Melangkah kedua kakiku, dan berdiri di tepi lantai terasku.
Wajahku, menatap ke atas. Kupandangi langit cerah malam ini.
Mataku fokus ke arah bulan yang hampir purnama sempurna di atas sana.
Dan...
Terucap dalam batinku sendiri...
"Ya Alloh, jika memang keyakinan ini baik untukku dan Haruma, maka mudahkan lah semuanya..."
Beberapa menit, setelah aku berdiri diam menatap langit, terasa kantuk pun datang.
"Hoooaaammm..." aku menguap sambil menutup mulutku.
Dan, akhirnya, aku pun tak jadi menghabiskan kopi hitam pahit itu. Kubawa masuk saja gelasnya ke dalam, sambil mengunci pintu depan rumah.
Kutaruh gelas kopi itu di dapur, dan segera kuambil wudhu di kamar mandi.
Setelahnya, aku hendak masuk ke kamarku, yang kini sudah ada Haruma-Harumi, tertidur pulas mereka.
Tapi, sejenak kulirik kamar Bapakku. Terbuka sedikit celah pintunya. Dan lampu kamarnya sudah dimatikan. Gelap.
Aku pun masuk pelan-pelan, dan ternyata kudapati Bapak malah tertidur sangat pulas di atas sajadahnya.
Aku tak berani untuk membangunkannya, sekedar memintanya untuk pindah ke kasur.
Akhirnya, kuambil saja kain selimutnya di atas kasur, lalu kuselimuti tubuh Bapakku. Supaya ia tak kedinginan.
Kembali kututup pintu kamar Bapak, pelan-pelan. Dan segera melangkah masuk ke dalam kamarku.
Dan...
Apa yang kulihat dari Haruma-Harumi, sedikit membuatku tersenyum.
Haruma terlihat memeluk Harumi di sampingnya.
Suara napas mereka terdengar sangat tenang.
Wajah mereka terlihat sangat pulas.
Entah Haruma-Harumi sedang bermimpi apa sekarang di alam tidurnya.
Aku pun duduk di tepi kasur.
Kubelai lembut rambut Harumaku. Sedikit menggeliat ia, merasakan sentuhan lembutku. Tapi tak sampai terbangun. Dan masih memeluk Harumi di sebelahnya.
Aku pun, jadi ingin membelai kepala Harumi.
Sambil kubelai kepala Harumi, aku pun bergumam sendiri dalam hati.
"Nak, takdir apa yang akan kamu hadapi di masa depan nanti? Sampai-sampai kamu dipertemukan dengan Haruma..."
Beberapa saat, aku pun kembali menguap merasakan kantuk yang semakin berat.
Dan, karena kasurku ini hanya cukup untuk dua orang, aku pun ingin tidur saja di lantai seperti kakek mereka.
Ku ambil sajadah, kulapisi juga dengan kain sarung milik bapakku.
Mulai kubaringkan pelan tubuhku. Dan kepalaku beralaskan dua tanganku.
Sejenak, kembali kupandangi sinar bulan yang tipis menembus jendela dan gorden kamarku itu.
Kembali kubergumam dalam hati...
"Baiklah, aku akan ajarkan TIRAKAT-ku pada Haruma. Di waktu yang tepat."
Lalu, kubaca doa sebelum tidur, kulengkapi dengan rapalan TIRAKAT yang sudah biasa kubaca sebelum tidur.
Kupejamkan mataku...
Tak butuh waktu lama...
Aku pun menyusul tidur pulasnya Haruma-Harumi.
.....
.....
☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️
Keesokan paginya, begitu cerah awal hari Minggu ini.
Aku yang sedang mencuci baju di kamar mandi, bisa mendengar suara Haruma-Harumi sedang bermain bersama anak-anak lainnya di halaman rumah.
Terdengar sangat ceria mereka semua.
Bapakku yang menemani mereka di teras, sesekali juga terdengar meminta supaya Haruma tak berlarian terlalu cepat. Khawatir cucunya itu terjatuh.
Setelah semua cucian bersih, kuletakkan di dalam ember agak besar Aku pun hendak menjemurnya di halaman.
Kuangkat ember agak besar itu, dan memang terasa cukup berat.
Aku membawanya dengan hati-hati.
"Aduh!" suaraku, meringis sedikit ketika sampai di teras.
"Bruk!!" suara ember itu kutaruh di teras.
"Aduuuh..." aku berdiri, memegangi pinggangku sendiri.
"Ahahahaha... Udah tua kamu, Nis!" ledek Bapakku.
"Yeeeh... Sembarangan!" jawabku.
"Hahahaha... Makanya, buruan nikah!" kata Bapakku.
"Enak banget kalo ngomong ya, Pak? Dikira cari jodoh gampang kayak beli jajan!" balasku sambil mengerutkan dahi, menatap wajah bapak yang cengengesan.
"Hahahaha..." masih saja cengengesan bapakku itu.
Lalu, ia menyalakan rokoknya, dan menghisapnya.
"Pak!" kataku.
"Hem? Apa?"
"Jangan ngerokok mulu kenapa, sih! Udah punya cucu, loh!"
"Iya..."
"Iya-iya terus, tapi tetep aja ngerokoknya gak berhenti." kataku sedikit kesal.
Akhirnya, kutinggalkan saja bapak di teras. Kembali kuangkat ember cucian. Melangkah ke halaman untuk menjemurnya.
Terlihat sangat jelas, Haruma-Harumi sedang bermain petak jongkok bersama anak-anak lain. Sangat ceria mereka.
Aku mulai menjemur baju satu persatu.
Akan tetapi, tiba-tiba...
"Happp!! Kenaaa!!" Haruma menyentuh tubuhku.
Dia pikir aku adalah temannya.
"Hahahaha... Haruma! Itu Ibu kamu!" kata Harumi.
"Loh?! Iya kah?! Ahahaha... Salah dong, aku!!"
Aku pun jadi tertawa melihatnya. Sambil kuarahkan tubuh Haruma, supaya tepat ke arah temannya yang lain.
"Disana tuh, temen kamu, Nak! Kejar!" kataku.
Dan Haruma pun kembali berlari pelan, tangannya berusaha meraba-raba. Sambil terus-terusan tertawa ceria.
😊😊😊😊😊😊