NovelToon NovelToon
Mengejar Cinta Dokter Amber

Mengejar Cinta Dokter Amber

Status: tamat
Genre:Teen / Romantis / Tamat
Popularitas:2.7M
Nilai: 4.9
Nama Author: Mama Mima

Mutasi kerja yang seharusnya menjadi babak baru yang lebih baik dalam hidup seorang dokter umum seperti Amber Zea Letisha ternyata ibarat mimpi di siang bolong. Bagaimana tidak? Dia justru mengetahui kenyataan bahwa kepindahannya merupakan campur tangan dari mantan suaminya yang tidak lain adalah direktur utama dari Cakrawala Hospital, tempat kerjanya yang baru.

"Dimana anak kita, Amber?"

"Anak apa maksudmu?"

"Katakan yang sebenarnya, sebelum aku yang mengatakannya."

Mata Amber membola. Apakah Chris sudah tau kalau ternyata mereka punya anak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Permintaan.

Mata Amber berkedip beberapa kali untuk menetralisir gugup yang kini melanda dirinya. Bisa-bisanya dia yang terbawa suasana sekarang. Apa ciuman Chris sebegitu memabukkan sampai-sampai dia ikut terhanyut dalam buaian pria itu?

"Bu...bukannya kita sudah bersama?!" Amber menjauhkan tubuhnya dari Chris. Tangan kekar pria itu pun sedikit melonggar dibuatnya.

"Tapi kau tidak mencintaiku, kan?"

"Aku menyukaimu kok, tapi sebagai papanya anakku."

"Tidak bisakah kau mencintaiku lagi?"

Amber menghela napas pelan. Tadi pagi dia sudah meminta maaf karena perkataannya yang menyinggung perasaan Chris. Sekarang dia tidak ingin melakukannya lagi. Dia harus memilih kata-kata yang baik meskipun jawaban atas pertanyaan Chris barusan adalah : belum tau.

"Kita kan masih punya banyak waktu, Chris. Kau sedang memburu apa?"

"Aku..." Chris menahan kata-katanya. Matanya menatap lurus ke dalam mata indah berwarna cokelat dihadapannya. "Aku takut jika kau pergi lagi. Aku tidak bisa, Amber. Segala usaha yang ku lakukan untuk membawamu kembali ke tengah-tengah kami akan menjadi sia-sia jika kau masih berniat pergi lagi, entah kapan."

Amber sedikit berdebar. Chris seperti bisa membaca dirinya. Bagaimana bisa? Dia jadi sedikit tidak enak.

"Chris... jujur, aku tidak pernah memikirkan soal cinta lagi. Aku di sisimu hanya karena Brandon, Chris. Kau lupa alasanmu membawaku ke tengah-tengah kalian?"

Sorot mata Chris berubah sendu lagi. "Kau memelukku seharian ini karena apa? Kukira aku bisa berharap," tembak Chris tanpa berpikir panjang. Dia tidak mau mati penasaran akan sikap Amber yang manis sepanjang mereka kencan.

Amber menelan ludahnya kasar. Dia juga tidak paham mengapa dia merasa nyaman dengan Chris sejak tadi. Bahkan tangannya sendiri tahu jika pinggang Chris itu adalah tempat bertengger yang nyaman, sehingga dia tidak terpikir untuk melepaskan diri dari pria itu.

"Entahlah. Aku nyaman denganmu, tapi..."

Chris memotong kalimat Amber dengan satu kecupan. "Beri aku kesempatan, please?" katanya melanjutkan. Kali ini tangan kekar Chris sudah meraba pipi wanita itu lagi.

"Aku mengerti apa yang kau rasakan sekarang. Kau merasa harus mengabdi pada masa lalu kita yang kelam. Kau tidak ingin berkhianat dengan kembali mencintaiku. Tapi ingatlah, kita tidak tinggal di masa lalu, Amber. Kita sudah di titik ini. Bertiga dengan Brandon. Kau dan aku sudah sama-sama mengetahui kebenaran tentang masa lalu kita." Chris menjeda lagi. Napasnya sedikit tak beraturan seiring dengan emosi yang mulai naik turun. "Tidak bisakah ada sedikit kesempatan untukku? Sedikit saja. Aku akan membuat hati ini kembali bergetar untukku." Chris menutup dengan menyentuh dada Amber dengan jari telunjuknya.

Amber terpaku mendengar kalimat menyentuh yang barusan terucap dari bibir Chris. Mata mereka saling terpaut seperti mencoba berkomunikasi. Karena katanya mata lebih jujur dibandingkan kata-kata bukan? Dan Amber mendapati kejujuran dan ketulusan dari sorot mata Chris di hadapannya.

Bola mata indah milik wanita itu perlahan menggenang. Sinar matahari yang masuk melalui sela-sela papan saung terpantul kembali menghasilkan efek kristal berkilauan. Melihat Chris yang mengiba benar-benar menggoncang pendiriannya. Atau mungkin bisa dikatakan membuka mata hatinya. Apa sudah waktunya dia 'kembali'?

"Jangan menangis. Aku tidak tau itu artinya ya atau tidak," canda Chris seraya menyapu sudut mata Amber secara bergantian. Kini senyum sedikit terukir di wajah pria itu. Entah kenapa air mata Amber saat ini mengisyaratkan hal baik untuk mereka.

"Kita kan memang sudah bersama. Kau mau memastikan apa lagi?"

"Karna ada hal yang tidak mungkin kulakukan jika kau tidak mencintaiku, Sayang..."

"Apa itu?" tanya Amber tanpa curiga.

"Aktivitas yang setiap kali kitak selesai melakukanya, akan saling mengutarakan cinta dengan napas yang terengah-engah."

Amber masih berpikir dengan serius, hingga senyum licik Chris menyadarkannya.

"Astaga!!!!" dia tiba-tiba memukul lengan Chris yang kekar. Dia tidak menyangka pria itu akan berpikir jauh ke sana.

Chris langsung tertawa terpingkal-pingkal lagi melihat wajah Amber yang memerah.

"Kau ini! Ck!!"

"Sudah, nggak usah dipikirkan. Aku tau kau butuh waktu." Pria itu memang begitu pengertian. Dia tidak ingin Amber merasa terdesak dengan permintaannya. Dia dan Brandon membutuhkan Amber yang seutuhnya. Baik jiwa dan raganya. Tidak setengah-setengah lantaran paksaan.

"Sekarang suapi aku es krim! Aku haus karena berciuman denganmu!"

"Eh, iya..." Amber sampai melupakan es krim yang ada di sebelah mereka. Bisa-bisanya aku lupa, rutuk Amber pada dirinya sendiri.

Akhirnya Amber mengalah. Akhirnya dia menyuapi Chris. Padahal akar dari ciuman mereka tadi adalah lantaran dia menolak ingin menyuapi pria itu mengingat mereka akan berbagi sendok. Sepertinya pria licik itu memang sudah sengaja cuma meminta satu sendok.

"Sepertinya Brandon sudah selesai. Gita sudah mengirim pesan..." ujar Chris ditengah acara makan es krim mereka.

"Dia mengirim pesan padamu?"

"Hm-m..." jawab Chris santai.

"Padamu?" Amber kembali mempertegas. Berani sekali wanita itu mengirim pesan pada suaminya.

"Coba kulihat." Amber mengulurkan tangannya, meminta ponsel canggih suaminya itu dengan wajah penasaran.

Chris menyerahkan benda pipih itu dengan santai, dengan senyum lucu di wajahnya. "Ck. Begini saja kau cemburu."

Tanpa sadar ketegangan di wajah Amber menghilang saat melihat Gita mengirim pesan di grup orangtua siswa, bukan chat pribadi pada Chris.

"Kau sepertinya lega sekali, Nyonya Chris."

"Siapa? Aku? Perasaanmu saja. Ini!" Amber mengembalikan ponsel Chris ke telapak tangan pria itu. Namun Chris mengisenginya dengan sengaja menahan tangan Amber sekitar lima detik. Lagi-lagi Amber salah tingkah dibuatnya.

"Tenang saja, nomor pribadiku hanya kau dan orangtuaku yang tau. Selebihnya aku berikan nomor bisnis. Artinya jika tidak ingin membahas hal penting, aku tidak akan meladeni mereka. Termasuk wanita-wanita yang kau khawatirkan akan menggoda suamimu ini."

"Lantas kalau Gita ingin memberitahu sesuatu yang urgent tentang Brandon?"

"Urgent means hal penting kan? Ya sudah, aku ladeni. Setelah urusan tentang Brandon selesai, aku tidak akan membalas apapun yang ia tanyakan."

"Ooh..." Amber mengangguk-angguk berpura-pura mengerti. Sebenarnya jika dia tidak gengsi pada Chris, dia sangat penasaran isi chat pribadi pria itu dengan Gita. Ah, dengan Steffy juga.

"Kau sudah selesai makan es krim? Mereka sudah menunggu kita di arum jeram."

"Sudah. Ayo."

*****

Saat Chris dan Amber mendapati grup dimana Brandon dan teman-temannya berada, mereka tidak melihat Steffy dan Janice. Hal itu pun membuat Amber cukup penasaran.

"Janice mana, Nak?" tanyanya pada puteranya, Brandon.

"Sudah pulang, Ma. Tadi Janice jatuh dan lututnya terluka."

Mata Amber membesar. Apa Steffy tidak menjaga keponakannya itu dengan baik?

"Oh... begitu. Ya sudah..." Amber menggenggam jemari Brandon dengan erat. Namun setelahnya sesuatu terdengar di telinganya.

"Miss Gita sengaja mendorong Janice."

Amber menoleh. Ibu yang tadi. Lirikan mata Amber seakan tidak percaya dengan informasi yang diberikan ibu tersebut.

"Supaya Steffy pulang dan dia yang menjaga Brandon."

"Serius?" lagi-lagi Amber tidak percaya. Jika itu benar, tega sekali Gita mencelakai anak kecil.

"Brandon, kamu nggak apa-apa kan, Nak?" tiba-tiba Amber berlutut untuk memeriksa keadaan tubuh Brandon. Langkah Chris dan yang lain pun mendadak berhenti.

"Brandon baik-baik saja, Ma." Anak kecil itu menjawab dengan polos. Kebingungan kenapa mamanya mendadak bersikap demikian.

"Memangnya kenapa, Sayang?" tanya Chris heran.

"Aku khawatir saja. Tadi Janice kenapa bisa jatuh? Apa Brandon nggak jagain dia, Nak?"

"Ehm, tadi Janice tidak sengaja tersungkur, Bu. Itu saja. Hanya luka kecil." Tiba-tiba Gita menimpali.

"Tidak ada kata hanya untuk luka seorang anak kecil, Bu. Apa ibu tidak keberatan jika saya melukai Hosea?"

Gita mendadak gelagapan. Bagaimana Amber bisa melontarkan pertanyaan telak seperti itu kepadanya?

"Maksudmu apa, Mama Brandon?" Chris mengelus punggung Amber yang dilihatnya tiba-tiba sedikit marah.

"Lain kali jangan menitipkan anakku pada wanita yang belum pernah merasakan sakitnya melahirkan. Dia hanya akan bisa melukai." Tandas Amber sambil menatap Gita dengan tajam.

"Maksud Ibu apa? Ibu menuduh saya sudah melukai Janice?" tantang Gita seolah-olah marah karena tidak terima. Dia ingin melihat sejauh apa Amber bisa membuktikannya. Jika dia tidak bisa, Chris pasti akan malu dibuatnya.

"Coba bilang tidak. Saya akan melihat jawabannya dari mata Miss Gita."

"Ibu jangan sembarangan menuduh! Sa...saya bisa melaporkan ibu!" Gita berteriak kecil untuk menutupi kegugupannya. Namun seperti yang dikatakan Amber, mata memang tidak bisa berbohong. Mata Gita berkeliaran kemana-mana untuk menghindari tatapan tajam para orangtua di sekelilingnya. Terutama Chris.

"Apa benar, Miss Gita yang menjatuhkan Janice?" tanya orangtua yang satunya.

"Iya, Miss. Sepertinya pun tadi Janice cukup berhati-hati bermain dengan anak saya, Chelsea. Namun tiba-tiba dia terjatuh dengan posisi Miss Gita ada di belakangnya."

"Jangan menuduh sembarangan, kalau tidak ada bukti, Bu?!"

"Tadi Janice jatuh dimana? Kita tinggal cek cctv saja," lanjut Amber semakin berani.

"Jadi kalian tahu di tempat ini dilengkapi cctv? Tapi kenapa kalian berdua bisa berciuman seperti orang yang tidak tahu diri?!!"

"Bu Gita!! Anda sudah keterlaluan!!" Chris tiba-tiba memekik. Wanita muda itu sudah memasuki area privasi mereka. Memangnya Gita melihat mereka berciuman tadi?

"Sekarang juga anda berhenti jadi guru di yayasan saya. Besok pagi surat pengunduran diri anda harus sudah sampai di meja kepala sekolah."

Mata Gita terbelalak. Dia menutup mulutnya dengan salah satu tangan dan menggeleng-geleng kasar. "Tidak! Bagaimana mungkin Bapak memecat saya hanya karena tuduhan istri Bapak yang tidak terbukti ini??!"

"Sikap anda yang berani lancang mencampuri urusan pribadi saya sudah menjawab semuanya! Pergi dari sini!!!" amarah Chris yang bercampur malu membuat wajahnya memerah. Berani-beraninya wanita itu memojokkan istri yang selalu dia agung-agungkan.

"Ayo, Hose!" Gita pun sudah tidak bisa terlalu lama menanggung malu. Bukan hanya anggota timnya yang menonon mereka. Pengunjung yang ada di sekeliling merekapun tidak sedikit yang memperlambat jalan karena melihat ada pertikaian.

"Papa, sudah, jangan marah..." Brandon meraih satu tangan Chris untuk dia remat dan mengembalikan kesadaran pria itu saat itu juga.

"Maafin Papa, Boy!" Chris pun membelai puncak kepala Brandon dengan tersenyum.

"Bapak-bapak, ibu-ibu, kita berkumpul di tempat yang tadi. Saya akan umumkan di grup."

Akhirnya Chris mengambil alih peranan Gita di grup chat orangtua murid. Hal ini dilakukannya karena tidak ada orang lain lagi yang mungkin untuk melakukannya selain dia si pemilik yayasan. Tentu saja dia harus bertanggungjawab atas keselamatan murid dan orangtua sekolahnya bukan? Tentu saja setelah dia menendang Gita keluar dari grup chat tersebut.

*****

Jangan lupa like komen dan vote-nya ya gaissss 🥰🥰🥰🥰

1
chan
Luar biasa
Boa Hancock
betuulll,, makanya pinter2 milih suami.
kalo untuk pacaran mgkn oke hanya mengandalkan cinta.
tp untuk hidup bersama ga hanya butuh cinta walaupun sebenernya cinta itu luas dan mencakup banyak hal.
komitmen + komunikasi + saling terbuka + berbagi kasih + menekan ego
yg punya itu semua aja masih ttp bida lewatin ujian. tp asalkan bs berusaha mengimbangi, ujian bs terlewati 🤤
Boa Hancock
pantas rada rada mesyum si cha 🤣
Boa Hancock
makasih ya kak, aku salut bgt 🤗
Boa Hancock
gimana ga jd devil waktu ketemu dom pertama kali 🤣 tp asli sih karakter chris ini kayanya bahan halu semua wanita.
romantis, suami setia, bertanggungjawab pd keluarga, family man, tegas tp bijak dalam waktu bersamaan, ga kolot aaaahhh chris 🤤
Boa Hancock
Crist jg memendam luka dalam cukup lama 😭 krn blom pernah ngrasain momment ini sama wanita yg dicintai.
tau2 idungku ikut perih
Boa Hancock
terimakasih akak, sudah mengingatkan aku untuk bersyukur, dan kembali berterimakasih jg pd indonesia 😍
Boa Hancock
aku penasaran muka crish evan kalo marah.. mukanya adem bgt 🤤
Boa Hancock
takut kena serangan mental captain 🤌🏼
Boa Hancock
seruuuu
Boa Hancock
udah kak, langsung berasa pengen nyosor 🤤
Boa Hancock
trus kenapa ada aurakasih segala 🤣
Boa Hancock
suami cha aja remuk ama chris 🤣
Boa Hancock
captain america dilawan 🤌🏼
Boa Hancock
dasar lemah 🤣🤌🏼
Boa Hancock
aku menyukainya 🤣
Boa Hancock
🤣
L A
Luar biasa
vit
Bagus bgt ceritanya kk author 😍😍
vit
bagus bgt 😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!