NovelToon NovelToon
My Beloved Bastard

My Beloved Bastard

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Perjodohan / Tamat
Popularitas:216.4k
Nilai: 4.8
Nama Author: Freya Kara Alaika

Melati, seorang gadis berumur 15 tahun yang menjalani hari-harinya sebagai anak homeschooling dan murid Starlight Bimbel. Hidup berdua bersama sang ayah tak membuatnya merasa kekurangan kasih sayang. Dia juga memiliki sahabat bernama Tita.

Suatu malam, Melati terpaksa harus mendatangi tempat terkutuk yang sering disebut club untuk menghadiri acara ulang tahun sahabatnya. Namun, sesuatu yang tak terduga terjadi. Melati bertemu seorang pria dewasa yang membuat hidupnya berubah drastis.

Rupanya, malam itu menjadi awal mula dari kejutan-kejutan yang menghampirinya di kemudian hari. Puncaknya adalah, saat Melati terpaksa bersedia menjadi calon istri dari seseorang yang ia beri julukan 'Om-om Bastard'.

Problema hidup yang dialami seorang Putri Ayla Melati tidak cukup sampai di sana. Begitu banyak rintangan yang terus-menerus mendatanginya.

Bagaimana kelanjutan cerita Melati? Siapa 'Om-om Bastard' ini sebenarnya? Cari tahu kisah lengkapnya di novel "My Beloved Bastard".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Freya Kara Alaika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31

-GLENN-

"Astaga, Pak Glenn!" pekik Sera begitu aku memasuki ruanganku.

Aku meliriknya sekilas. "Ngapain kamu di ruangan saya?" Kulangkahkan kaki menuju kursi kebesaranku, lalu mengempaskan tubuh dengan sekali sentakan sembari memejamkan mata. Sayang sekali, hanya ragaku yang terempas, sedangkan rasa penat dalam jiwaku tetap setia menggerogoti otot-otot syaraf.

Ya. Aku memutuskan untuk langsung ke kantor setelah pergi dari rumah Melati dan tidak menghasilkan apa-apa. Jangan tanya mengapa aku tidak menjelaskan alasanku menerima Sera sebagai sekretaris pribadi, sebab aku tidak bisa mengatakannya.

Terbuai dalam tenangnya kegelapan yang kuciptakan sendiri, hampir saja aku melupakan Sera yang masih berdiri di depan mejaku. Saat aku membuka mata, indra pengelihatanku memergoki Sera yang tengah menatapku dengan sarat sejuta makna. Aku tahu—sangat tahu—apa yang sedang berputar dalam otaknya.

"Apa jadwal saya hari ini?" tanyaku, membuatnya tersadar dan bergegas mengalihkan pandangan.

"Meeting jam satu siang, Pak."

"Itu saja?"

"Ada beberapa dokumen yang harus Bapak periksa. Sudah saya siapkan di atas meja."

"Ada lagi?"

"Tidak ada, Pak."

"Oke."

Demi menyingkirkan sejenak masalah Melati yang membuatku hampir gila, aku menenggelamkan diri dalam berkas-berkas di atas meja sembari menyalakan laptop. Dari ekor mata, aku masih menangkap sosok Sera belum beranjak sedikitpun.

Aku menatapnya gamang. "Ngapain kamu masih di sini?"

Sera mendekat, membuat keningku berkerut heran. "Kamu habis mabuk, ya?"

"Sera, ini di area kantor. Saya ini bos kamu!" tegasku.

"Glenn ...."

"Keluar dari ruangan saya sekarang."

"Please, Glenn ... kasih aku satu kesempatan lagi."

"Keluar, Sera."

"Glenn—"

"KELUAR!"

"Fine! Aku bakal keluar. Bukan cuma itu, aku juga bakal ngeluarin Melati dari hati kamu, dan menggantikan posisinya. Dan—"

"KELUAR!"

Napasku memburu. Tanganku terkepal kuat. Cih! Memangnya dia siapa? Tidak akan ada yang bisa menggantikan posisi Melati di hatiku. Lagipula, Sera tidak akan berstatus lebih dari sekretaris pribadiku. Tidak akan.

Lebih baik, aku membersihkan diri sekarang. Menghilangkan aroma alkohol yang menguar di setiap inci tubuhku.

***

-MELATI-

"Hallo, Kak Aldi? Ada apa?"

"Kamu di rumah?"

"Iya."

"Bisa keluar sebentar?"

Tiga kata itu lantas membuatku beranjak dari kasur dan melihat ke luar jendela. "Tunggu sebentar," ucapku yang kemudian bergegas menuju ke luar rumah.

Sebuah motor matic warna hitam dengan seorang lelaki jangkung yang mengenakan hoodie polos warna hijau lumut menyambut kedatanganku begitu aku membuka pagar.

"Kak Aldi?" sapaku.

Si pemilik nama membuka kaca helm full face yang melekat di kepalanya. "Hai, Mel," balasnya sembari tersenyum ramah.

"Kakak tahu rumahku dari mana?"

"Tita."

"Tita?"

Kak Aldi mengangguk. "Tadi aku ketemu mereka di Starlight. Jadi, sekalian nanya alamat rumah kamu."

Satu kata yang membuat kedua alisku kontan bertaut heran. "'Mereka' itu siapa, Kak?"

"Tita dan Bagas."

"Oh. Ada apa Kakak ke sini?"

"Mau nawarin kamu sesuatu."

"Apa itu?"

"Kita ngobrol di kafe dekat sini, yuk? Aku traktir."

"Hah?" Aku sedikit cengo, takut indra pendengaranku salah menangkap suara.

Sementara itu, Aldi terkekeh pelan. "Kita ngobrolnya di kafe dekat sini aja. Aku yang traktir. Mau, nggak?"

Ternyata, tidak salah. Lelaki ini memang sedang mengajakku keluar rumah. "Oke." Tidak ada salahnya, kan? Lagipula, tidak ada kerjaan penting yang harus kulakukan di rumah. "Aku ganti baju dulu. Kakak mau masuk?"

Aldi menggeleng. "Aku tunggu di sini aja."

"Kalau gitu, aku ganti baju dulu," pamitku yang dibalas dengan anggukan singkat.

Aku bergegas masuk ke rumah, menaiki anak tangga, memasuki kamar, menyambar kaos putih dengan tulisan 'QUEEN' warna emas di bagian dada, lengkap dengan celana jeans warna biru dongker, lalu membawanya ke kamar mandi. Cukup lima menit, aku selesai mengganti pakaian.

Kemudian, aku duduk di meja rias, meraih pita warna putih untuk mengikat semua rambutku menjadi seperti buntut kuda. Begitu selesai, aku mematut diriku di depan cermin. Saat itulah, udara sekitar seolah melumpuhkan otot-ototku. Aku menyadari sesuatu. Pak Glenn pasti marah jika mengetahui gaya rambutku seperti ini saat berada di luar rumah. Ah! Mengapa nama si om-om bastard itu terlintas dalam benakku?

Sebagai finishing, aku memakai jaket jeans warna biru dongker dan sepatu putih polos. Terakhir, aku meraih sling bag hitam milikku, lalu memasukkan ponsel dan dompet ke dalamnya. Sebelum berangkat, tak lupa aku berpamitan dengan Mbak Ning.

"Yuk, Kak!" ajakku pada Aldi yang tak sibuk dengan ponselnya di atas jok motor.

"A ... yo!" Manik matanya menatapku kaget.

"Kenapa, Kak?"

Aldi diam. Bola matanya masih tidak beralih dari wajahku.

"Kak?"

Saat kulambaikan tangan tepat di depan wajahnya, barulah Aldi tersadar.

"Ayo, berangkat!" kataku.

"Oh, o-oke!"

Hm. Sebenarnya, ada apa dengan diriku? Atau ... wajahku? Heran. Mengapa ekspresi Aldi tampak sangat terkejut?

***

"Nih!" Aldi mengulurkan selembar kertas brosur padaku. Aku menerimanya dengan bingung. Pandanganku menatap wajah Aldi dan brosur di tangan kananku secara bergantian.

"Apa ini?" tanyaku.

"Baca dong," balasnya sembari menyeruput jus alpukat miliknya.

"Olimpiade matematika tingkat nasional." Aku mendongak, menatap Aldi dengan alis bertaut. "Maksudnya Kakak ngasih ini ke aku apa?"

Manik mata Aldi menatap lurus ke arah bola mataku dengan serius. "Kamu, kan, jago matematika, ikut aja."

"Ikut olimpiade ini?" tanyaku—memastikan maksud dari kalimat Aldi—yang dijawab anggukan olehnya. "Serius?"

Aldi terkekeh. "Aku kelihatan bercanda?"

"Nggak, sih."

"Olimpiade itu terbuka untuk umum. Kalau kamu mau, kita bisa jadi satu tim," jelas Aldi.

Aku membaca lebih detil brosur itu. Batas akhir pendaftarannya besok, sedangkan kompetisinya dimulai dua minggu dari sekarang. Usai membaca semua informasi yang tertera, aku kembali mendongak, menatap Aldi yang ternyata tak mengalihkan tatapannya dariku.

"Gimana?" tanya Aldi, menagih keputusanku.

"Aku pikir-pikir dulu, ya?"

Seulas senyum terlukis di bibir Aldi. "Oke, tapi jangan lama-lama."

"Of course!" timpalku seraya terkekeh pelan.

"Ngomong-ngomong, kenapa nggak ke Starlight hari ini?" tanya Aldi.

Aku meneguk milkshake strawberry di hadapanku sebelum menjawab. "Lagi nggak enak badan."

"Oh, sakit? Kenapa nggak ngomong, sih? Tahu gitu, kita ngobrol di rumah kamu aja tadi."

"Udah mendingan, kok," timpalku sembari mengulas senyum.

"Aku juga nggk lihat Pak Glenn belakangan ini. Kamu tahu kenapa?"

Nama yang Aldi sebut, membuatku teringat kembali pada adegan memuakkan di lift apartemen itu. Wajah Pak Glenn, wajah Sera, saat Pak Glenn tidak memberiku alasan yang jelas tentang tante-tante itu. Semuanya membuatku muak.

"Mel ...?"

"Ya?"

"Kamu tahu Pak Glenn di mana?"

"Nggak," jawabku bohong.

"Ehem!" Tepat saat itu, sebuah dehaman membuatku dan Aldi sontak menoleh ke sumber suara.

"Kak Glenn?!"

"Ngapain kamu di sini?"

***

1
Jaenah Susanti
mdh²n Mawar yg jadi pendonor nya..
Syamsimar Burhan
Assalamualaikum,...
Kpn lanjutannya..???
Di tunggu lho....😊😊
💋🅲🅷🆈💋
jadi senyum2 sendiri😊😊😊
💋🅲🅷🆈💋: semangat othor💪
total 2 replies
💋🅲🅷🆈💋
visualnya uwwu banget😍😍😍
💋🅲🅷🆈💋
sempat degdegan🙄🙄🙄
Yanti Yulianti
cigogoy
Yanti Yulianti
bubigo
Akifah Naila
lanjuttttt
Susi Lanita
lanjut..
Susi Lanita
antara O'on dan berhati tulus sepertinya beda tipis, kan ada keamanan bandara, atau dilaporkan ke informasi, gmn klu dituduh penculikan anak adeh.. melati melati..
Shanum Azkadina
lanjut donk seru loe
Susi Lanita
pipi melati yg disayat, tdk berbekas kah?
ngilu bayang kan nya..
Woro Aji W
pas bgt visualnya tor
Rahmi Miraie
bolehlah
Way-naviza
lanjut... 👍
pecinta time travel
boleh s2 nya
Alifia C.T: Ditunggu ya. :b
total 1 replies
Rahmi Miraie
happy ending dong ?
pecinta time travel
isssh author masa sad ending
Hissiz
Thor jngan dibikin sad ending😭 Up thor semangat💪
Alickha Senja
nex thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!