Ashana Keyra Zerrin dan Kafka Acacio Narendra adalah teman masa kecil, namun Ashana tiba-tiba tidak menepati janjinya untuk datang ke ulang tahun Kafka. Sejak saat itu Kafka memutuskan untuk melupakan Asha.
Kemana sebenarnya Asha? Bagaimana jika mereka bertemu kembali?
Asha, bukankah sudah kukatakan jangan kesini lagi. Kamu selalu bertindak sesuka hati tanpa memikirkan orang lain. Aku butuh privasi, tidak selamanya apa yang kamu mau harus dituruti.” Ucapakan Kafka membuat Asha bingung, pasalnya tujuannya kali ini ke Stanford benar-benar bukan sengaja menemui Kafka.
“Tapi kak, Asha ke sini bukan sengaja mau menemui kak Kafka. Asha ada urusan penting mau ke …” belum selesai Asha bicara namun Kafka sudah lebih dulu memotong.
“Asha, aku butuh waktu untuk menerima semua ini. Walaupun untuk saat ini sebenarnya tidak ada kamu dalam rencanaku, semua terjadi begitu cepat tanpa aku bisa berkata tidak.” Asha semakin tidak mengerti dengan yang diucapkan Kafka.
“Maksud kak Kafka apa? Sha tidak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Anfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31. Rion si overprotektif
Rion sudah duduk di meja makan, dia terlihat sudah rapi dan wangi dalam balutan kaos hitam di tambah hodie over size yang di padu celana jins warna senada.
“Ade?” Maira terkejut melihat si bungsu sudah rapi dan duduk di meja makan, bi Ana ikut terkejut sampai tersandung kaki meja saat menaruh lauk. Seorang Rion yang tidak pernah bangun pagi tiba-tiba setengah tujuh pagi hari ini sudah siap.
“Yaaa … lagi kesambet apa bun ni bocah?” Cia langsung menggoda Rion saat melihat adiknya sudah ada siap di meja makan.
“Brisik ah kak,” Rion sedang mengoleskan selai coklat ke roti panggangnya.
“Biasanya kamu kan kebo. Bumi bergetar seorang Rion bangun sepagi ini,” Cia berjalan menuju meja makan sambil terkekeh. Rion sedikit mendorong Cia saat lewat di belakangnya, membuat Cia sedikit limbung. Tak kalah ingin kalah dari adiknya, Cia menarik hodie Rion sampai membuat kursi Rion bergerak mengikuti tubuhnya yang tercekik akibat ulah kakak ke duanya.
Key baru saja keluar dari kamarnya saat melihat tingkah ke dua adiknya, hatinya menghangat. Dia sadar sudah melewatkan banyak hal selama sembilan tahun ini, melihat keluarganya saat ini tersenyum membuat semua rasa pahit yang dia lalui sejenak terlupakan. Key menuju meja makan bersiap untuk sarapan pagi sebelum ke rumah sakit, seperti biasa dia hanya akan sarapan salad sayur atau buah dengan segelas coklat dingin atau susu coklat.
“Emang lu kenyang kak sarapan itu doang?” Rion terlihat kepo melihat Key yang hanya menyantap sayuran dan buah sedikit, sementara dia saja tak cukup hanya makan roti panggang dan masih harus menyantap makanan berat setelah itu.
“Bukan kenyang atau tidaknya de. Makan berat sebelum ke rumah sakit membuatku tidak bisa bergerak leluasa karena kenyang, nanti setelah visit jam pertama biasanya ada jeda istirahat sebentar. diwaktu-waktu itu biasanya kakak makan berat,” Key menjelaskan pada adik bungsung yang diikuti anggukan mengerti darinya.
“Sayang, mau dibawain bekal apa?” Maira sudah dengan kotak bekal di tangannya.
“Apa saja bun. Ayam asam manis pedasnya banyakin bun, Oora sama Argan suka banget masakan bunda. Masakan bunda selalu enak,” Key tersenyum manis pada Maira. Masakan bundanya memang tidak ada duanya.
“Ajak mereka makan ke rumah. Bunda sama bi Ana masakin kesukaan mereka nanti,” Maira sudah menganggap Argan dan Amoora seperti anaknya sendiri. Mereka berdualah yang membantunya saat Key masih dalam masa pemulihan dan yang selalu ada untuk putrinya sampai saat ini.
“Nanti Key bilang mereka bun,” semua mulai menyantap makanannya dengan tenang.
Key dan Cia sudah selesai sarapan, mereka kembali ke kamar untuk bersiap-siap sebelum berangkat. Cia harus ke cafe pagi itu karena banyak pesanan kue hari itu jadi dia bergegas turun kembali dan berpamitan pada bundanya, mobilnya sudah lebih dulu di panasi oleh pak Maman. Key juga sudah ada di ruang depan sedang mencari-cari sepatunya sambil melihat arlojinya.
“Cia lihat sepatuku?” Key tidak salah ingat, dia menaruh sepatu di tempatnya.
“Emang gak ada di situ kak?” Key menggelengkan kepalanya. Cia sebenarnya buru-buru tapi masih sempat untuk membantu kakaknya mencari sepatu.
“Ketemu gak de?” tanyanya pada Cia. Key juga sedang mencari-cari tapi belum ketemu, sampai mereka melihat si bungsu yang duduk sambil melihat ke dua kakaknya sedang mengobrak abrik laci sepatu.
Rion duduk dengan santainya terkekeh sambil memegang sepasang sepatu yang di cari dua kakaknya, dengan muka tengilnya dia menaikkan tanganya memperlihatkan sepatu pada yang sedang di cari Key. Cia mendekat dan memukul kepala Rion karena kesal di permainkan adik bungsunya itu.
“Sssh … ah sakit tahu,” protes Rion pada Cia sambil memegangi kepalanya yang sakit karena di pukul kakak ke duanya.
“Rasain. Sudah tahu kakaknya lagi buru-buru masih saja di kerjain,” Rion terkekeh berhasil membuat dia kakaknya tantrum. Kemudian dia bangkit dari duduknya mendekat pada Key untuk memberikan sepatu sembari menyambar tas key dan membawanya ke luar.
“Gue tunggu di mobil,” Rion melangkah menuju mobil, sementara dua kakak perempuannya hanya bisa menggelengkan kepala dengan tingkah Rion.
Cia tersenyum puas, meskipun tingkah Rion sering membuatnya kesal tapi dia adalah copy paste ayah Malvin. Perhatiannya, tanggung jawabnya, caranya memperlakukan bunda dan kakak-kakaknya benar-benar sama dengan Malvin. Hari ini Key berangkat ke rumah sakit diantar Rion dengan mobilnya, mana bisa Key menolak adik bungsunya itu jika sudah ada kemauan.
Semua orang di keluarganya tentu tahu sampai saat ini Key masih trauma untuk menyetir sendiri, setelah kecelakaan itu Key tidak pernah menyetir lagi. Kalau dulu dia penyuka hujan karena aroma hujan itu menenangkan, melihat hujan saja saat ini sudah membuatnya gemetar hebat karena teringat kecelakaan yang dia alami.
“Mulai sekarang gue yang anter jemput lu kak,” Rion mengatakan pada kakaknya dengan lembut tapi penuh penekanan.
“Emang gak kuliah?” Key memasang sabuk pengamannya, sebenarnya tidak hanya menyetir. Kadang duduk di samping kemudi seperti saat ini juga bisa memicu rasa takutnya. Namun masih bisa diatasi selama tidak berada di belakang kemudi langsung dan kondisi hujan.
“Semester akhir kak gue … semester akhir,” Rion menekankan lagi ucapannya pada kakak pertamanya itu.
“Ah syukurlah tidak jadi mahasiswa abadi akhirnya,” Key menggoda Rion sambil terkekeh.
“Enak aja. Gini-gini gue mewarisi gen seorang Althan Malvin Zerrano,” Rion mendengus sebal pada kakaknya.
Key tertawa mendengar ucapan adik bungsunya, walaupun pada kenyataannya memang benar. Rion adalah copy paste Malvin, Key seolah melihat sosok ayahnya ada pada Rion.
“Ah … rindu sekali pada ayah,” gumamnya lirih tanpa terdengar Rion.
Bukan tanpa alasan Rion ingin mengantar jemput Key, semenjak malam itu dia melihat Kafka menemui kakaknya. Rion masih marah dan kecewa terhadap Kafka, dia kehilangan sosok kakaknya sembilan tahun ini. Dia kehilangan sosok Ashana ceria dan pemberani yang berubah menjadi Key yang dalam benaknya hanya ada trauma.
“Rion!” pekik Key dengan tubuh yang sudah mulai bergetar.
“Kak sorry. Gue benar-benar tidak sengaja,” Rion menancap gasnya dengan kecepatan lebih tinggi hendak mengejar pengendara lain yang dengan sembrono menyalipnya dengan keceppatan tinggi. Dia sejenak lupa dengan trauma kakaknya, dia merasa sangat bersalah melihat tubuh kakaknya yang bergetar karena takut.
“Eumm …” Key mengatur napasnya yang sudah mulai sesak karena ulah adiknya tadi, Rion mencari tempat untuk sejenak menghentikan mobilnya. Memastikan kakaknya baik-baik saja.
“Kak? Minum dulu,” Rion mengambil air mineral, di berikannya pada kakaknya. Rion merasa sangat bersalah melihat kakaknya saat ini, baru sepersekian menit dia memacu kecepatan tapi sudah membuat trauma kakaknya bereaksi. Semenakutkan apa kejadian yang dialami kakaknya kala itu, sedalam apa Kafka menorehkan luka pada kakaknya. Semua pertanyaan-pertanyaan yang selalu ada dalam kepalanya namun tak berani ia tanyakan pada kakaknya, bahkan Cia pun juga tak berani mengungkit apapun tentang Kafka di hadapan Key.
“Kakak baik-baik saja de, ayo jalan lagi. Takut kakak telat nanti,” Rion menatap Key, memastikan kakaknya sudah benar baik-baik saja barulah dia menjalankan mobilnya.
Mereka sudah sampai di rumah sakit, Rion tidak mengantar kakaknya sampai masuk karena dia akan langsung ke kampus untuk mengurus skripsinya.
“Hati-hati, jangan ngebut.” Key melambaikan tangan pada adiknya yang berlalu pergi dengan mobilnya.
Key berjalan menuju lift yang akan membawanya menuju lantai tempatnya bekerja, lift yang di sediakan khusus untuk dokter, nakes maupun karyawan agar tidak menganggau aktifitas lift untuk pasien-pasien. Dia melihat jam ditangannya, karena terlambat lima menit dari biasanya jadi dia tidak melihat Amoora atau Argan.
Key merasa ada seseorang yang berdiri di belakangnya saat menanti lift terbuka untuk naik, tanpa harus menoleh ke belakang dari aroma parfum yang tercium tentu dia tahu siapa orang tersebut. Kafka tepat ada di belakangnya, dia selalu berangkat tepat waktu dan akan langsung naik ke lantai tempatnya bekerja. Namun akhir-akhir ini semenjak ada Key, dia berangkat lebih awal agar bisa masuk lift bersama dengan Key.
“Selamat pagi sayang,” Key dibuat merinding sebadan-badan mendengar Kafka lirih berbisik dari belakang padanya.
“Dokter Kafka ini rumah sakit kalau kamu lupa,” Key menoleh ke kanan dan ke kiri memastikan tidak ada satu orangpun mendengar dan melihat apa yang Kafka lakukan.
“Aku tidak lupa. Hanya ingin menyapa istriku,” Kafka mendekat nyaris menempelkan tubuhnya pada punggung Key. Key menoleh ke belakang hingga netra mereka sama-sama bertemu, dia menatap tajam menyiratkan tidak suka dengan panggilan Kafka barusan padanya.
Entahlah meskipun ada sedikit rasa hangat tapi rasa sakit mendengar perkataan itu menutupi semua hangat dalam hatinya, mungkin akan berbeda rasa jika itu dia dengar sembilan tahun lalu saat Key datang ke Stanford dan sebelum kecelakaan yang dialaminya.
“Istri? Seingatku bukankah dokter bilang tidak ada aku dalam rencanamu?” Key teringat lagi kata-kata yang diucapkan Kafka padanya kala itu.
“Maaf, tapi aku tidak akan …” belum selesai Kafka menuntaskan ucapannya, tiba-tiba ada seseorang yang menariknya ke belakang dan sedikit mendorong ke samping menjauh dari Key.
“Rion?” Kafka dan Key ucapa mereka bersamaan. Key terkejut karena dia tadi sudah melihat adiknya itu pergi dengan mobil, namunt tiba-tiba dia sudah ada di sini lagi.
“Sudah gue bilang kak, jangan ganggu kakak gue. Lu gak paham apa bagaimana sih?” Rion sedikit menarik kerah kemeja Kafka.
“Maaf Rion tapi kakak tidak bisa. Kakak adalah suaminya,” Kafka mencoba setenang mungkin menanggapi Rion, menghadapi Rion yang emosi tidak akan bisa dengan emosi juga.
“Suami? Di mana lu kak saat dia mengalami kec …” Key memotong ucapan Rion sebelum dia berkata lebih jauh.
“Rion, ini rumah sakit. Jangan buat ke gaduhan, kakak tidak mau jadi bahan omongan.” Key dengan tenang mengusap sisi lengan yang lain adiknya, karena satu sisi lagi dia gunakan mencengeram kerah baju Kafka. Rion paham dengan ucapan kakaknya, akhirnya dia melepaskan tangannya dari kerah Kafka dan beralih pada kakaknya.
“Bekal kakak ketinggal di mobil. Gue balik mau ngasih ini,” Rion memberikan bekal kakaknya yang tertinggal dan Key menerimannya.
“Sudah sana, kamu mau ke kampus kan?” Rion mengangguk dan pamit pergi pada kakaknya.
“Gue masih menghargai lu karena usia lu jauh diatas gue kak. Tapi gue gak akan biarin lu nyakitin kak Key lagi, camkan itu!!” Rion berlalu pergi dengan tatapan tajam penuh penekanan pada Kafka, menyiratkan bahwa dia serius dengan ucapannya.
Kafka hanya diam tak lagi menyahut, karena percuma meladeni Rion saat ini. Kafka tahu dialah yang bersalah, tapi kali ini dia tidak akan melewatkan kesempatan sekecil apapun untuk mendapatkan maaf dari Key.
Lift sudah terbuka, Key berjalan masuk tanpa menghiraukan Kafka yang masih diam. Kemudian Kafka sedikit berlari menuju lift, ada persaan canggung di sana. Beruntunglah ada nakes lain yang juga ikut masuk lift di lantai berikutnya, Kafka dan Key sedikit mundur ke belakang karena mereka akan keluar paling terakhir. Mereka hanya diam tanpa sepatah katapun terucap sampai lift terbuka dan mereka keluar bersama. Kafka menarik tangan Key membawanya menuju lorong yang sepi, memastikan tidak ada siapapun atau cctv yang dapat melihat mereka.
“Dokter Kafka lepas,” Key sedikit tertatih karena jalan Kafka terlampau cepat. Kafka yang melihat itu langsung memelankan jalannya.
“Sebentar saja,” Kafka mendorong dengan pelan tubuh Key hingga menempel pada dinding lorong rumah sakit.
“Dokter, ini rumah sakit. Aku tidak ingin mendapat masalah apapun, statusku adalah dokter SGH bukan dokter rumah sakit harapan” Key berusaha mengingatkan Kafka, semenjak kapan seorang Kafka menjadi seperti ini. Pikiran Key menjadi sedikit gamang melihat sikap dan tingkah Kafka akhir-akhir ini, dia takut semua itu hanya semu belaka.
“Aku tahu. Aku hanya ingin mengisi energiku,” Kafka mengecup lembut kening Key tanpa aba-aba.
“Dasar dokter gila,” Key yang terkejut reflek mendorong tubuh Kafka dengan keras dan menendang kaki Kafka dan pergi meninggalkan Kafka di sana.
“Sssh … ah tendangannya lumayan juga, aku tidak akan menyerah Ashana Keyra Zerrin” Kafka meringis sakit karena tendangan Key. Namun dia juga tersenyum simpul teringat apa yang dia lakukan pada Key barusan, meskipun Key terlihat marah tapi Kafka tahu ada sedikit rona memerah di pipi Key. Bukankah itu pertanda masih mungkin ada kesempatan untuknya meluluhkan Key meskipun entah hal apa yang harus dia hadapi ke depan.
kadang cerita yg g masuk aka dan terlalu halu malah banyak yg baca dan like 😂😂😂
koq bisa selama 9th keluarga key tdk mngurus perceraian anknya..pdhl udh tau anknya skit hati