Nicky Ferdian Nanda adalah sosok pria yang kini mengalami trauma berat, karena kematian kekasihnya yang sangat mengenaskan di hadapan matanya. Nicky bagai kehilangan dunianya, gairah hidupnya seolah lenyap terkubur bersama kekasihnya. Nicky memutuskan tak lagi hadir kesekolah selama setahun lamanya setelah kejadian na'as menimpa sang kekasih. Sampai waktu yang di nanti tiba juga, sosok gadis yang Nicky anggap kekasihnya yang terlahir kembali ada di hadapannya. Dia Vanka Natalia Lubis, gadis yang menolongkan saat hampir di tabrak pengendara mobil yang Nicky halangi jalannya.
Kisah cinta lama berubah menjadi awal yang baru. Nicky yang akhirnya sadar bahwa Vanka bukanlah kekasihnya, tetap menginginkan Vanka menjadi pendamping hidupnya. Berbagai upaya Nicky lakukan untuk merebut hati Vanka. Tak perduli gadis itu memiliki seorang kekasih, Nicky tetap memperjuangkan cintanya yang baru. Sampai akhirnya Vanka menjadi miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Monacim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
You Are Mine | Tiga Puluh Dua
Vanka mengendap mendekati rumah putih itu. Terlihat 2 orang pria berjaga di depan sebuah pintu. Vanka memilih berdiri di belakang tembok untuk berpikir sesuatu.
Kayaknya di kamar itu Nicky di sekap, gue gak boleh gegabah. Jangan sampai gue ketahuan dan Nicky di pindahkan ke tempat lain. Ini satu-satunya kesempatan emas buat gue.
Vanka berjalan ke belakang rumah untuk mencari sesuatu. Senyumnya mengembang ketika menemukan sebuah jendela dari kamar Nicky.
"Tuh dia jendela. Tapi tinggi banget, gimana mau masuk coba" desah Vanka.
Vanka mengedarkan pandangannya ke segala arah sampai ia menemukan sebuah pohon mangga yang di sampingnya ada sebuah tangga yang lumayan kecil. Vanka langsung mengambilnya.
Vanka mengeluarkan sesuatu dari ranselnya, ia menggunakan obeng untuk membuka jendela. Dengan sangat pelan, Vanka berhasil masuk dalm kamar Nicky.
"Akhirnya" Vanka tersenyum senang, tapi sedetik kemudian senyum itu hilang ketika ia menemukan sosok pria yang sedang terbaring lemah di sebuah kasur berwarna putih.
"Nicky....gue berhasil" lirihnya dengan mata berkaca-kaca.
Vanka mendekati Nicky perlahan. Vanka tak kuasa menahan air matanya, ia mengusap pipi Nicky. Perlahan, pria itu mulai membuka matanya. Raut tak percaya terlukis di wajah pria itu ketika mendapati Vanka di hadapannya.
"V-Vanka?" gumam Nicky.
"Iya Nick, gue Vanka. Gue mau bawa lo pergi dari sini. Gue gak mau lo jauh dari gue" isak Vanka menunduk.
"Saya akan ikut bersama kamu. Tapi hentikan dulu tangis itu, saya tak sanggup melihatnya" ucap Nicky tersenyum.
Dengan cepat Vanka menghapus air matanya, ia berusaha mengukir sebuah senyuman.
"Gue akan bantu lo bangun. Kita pergi sekarang sebelum ketahuan. Ini kesempatan terakhir buat gue bawa elo keluar Nicky".
Nicky mengangguk. Vanka membantu Nicky bangun dari kasur. Tali infus dan alat bantu pernafasan Nicky lepas begitu saja. Vanka terlihat khawatir, namun Nicky selalu menyakinkannya. Vanka membantu Nicky naik ke atas jendela dan menuruni tangga. Hampir saja Nicky terjatuh, namun Vanka berhasil menahannya.
" Lo masih kuat kan Nick?" tanya Vanka ketika keduanya sudah berada di bawah.
"Jangan meragukan saya. Saya cukup kuat kalau ada kamu. Kita pergi sekarang" ajak Nicky.
"Iya"
Untung Dokter Ferry sudah memberiku alat bantu dengar. Aku tak bisa membayangkan betapa sedihnya Vanka mengetahui keadaanku yang sebenarnya.
Mereka berdua sudah berada di sebuah taksi online. Vanka memperhatikan Nicky yang terlihat lelah di sampingnya.
"Nick, lo gapapa? Lo kecapean yah?" tanya Vanka cemas.
"Saya baik-baik saja. Sedikit lelah" jawabnya tersenyum.
"Waktu itu, gue liat telinga lo berdarah banyak banget. Apa terjadi sesuatu? Kok sampai di perban tebal gitu?".
" Tidak ada yang perlu di cemaskan. Semua baik, cuma lukanya belum terlalu kering. Jadi, harus terus di perban" sahut Nicky.
"Lo ikut ke rumah gue lagi yah. Lo bakal di rawat oleh Dokter pribadi keluarga gue. Jadi gue gak khawatir lagi"
"Apa mau kamu, saya turuti" sahut Nicky tersenyum.
Vanka terlihat senang, ia menyandarkan kepalanya pada bahu Nicky.
*****
Vanka membantu Nicky berbaring di kasur, Brahma memperhatikan perlakuan anaknya dengan seksama.
"Perhatian banget" komentar Brahma.
"Haruslah, kan dia lagi sakit" sahut Vanka sewot.
"Kamu jangan sering-sering masuk kamar sini. Jangan cari untung kamu" celoteh Brahma.
"Apaan sih Pah. Cari untung apanya, orang sudah untung banyak" sahut Vanka, lalu tersenyum.
"Om, maaf saya selalu merepotkan" ucap Nicky tak enak hati.
"Iya. Lagian saya senang kamu disini, seperti mempunyai anak laki-laki" sahut Brahma.
"Jangan anggap Nicky anak" ucap Vanka sewot.
"Emang kenapa?"
Vanka mendekat pada Papahnya.
"Anggap calon menantu" bisik Vanka yang langsung dapat jeweran Brahma.
"Mulai nakal kamu ya. Sini ikut Papah keluar, kamu pasti belum mandi seharian" ucap Brahma menarik Vanka keluar kamar.
"Aduuuh Pahhh, kok keluar sih" keluh Vanka
Nicky menyunggingkan sebuah senyuman melihat aksi keduanya.
Aku harap, kalian berdua akan menjadi bangian dari keluargaku kelak.
Nicky teringat pesan Dokter Ferry agar selalu melepas alat bantu pendengaran ketika mau tidur. Nicky menyelipkan tangannya pada perban dan melepaskan alat itu.
Di sisi lain, Ferdian berteriak keras ketika membuka pintu kamar Nicky.
"PENJAGAAAAA!"
"Iya Tuan"
"Dimana Nicky?" tanya Ferdian menahan amarahnya.
"Ta-tadi masih di dalam Tuan. Den Nicky sama sekali tidak ada lewat dari pintu ini" sahut pria di hadapan Ferdian dengan takut.
"Bodoh kalian semua! Apa kalian tidaj berpikir dengan jendela itu? Kenapa tidak di gembok? Kenapa di biarkan tak berkunci? Gegabah kalian!" geram Ferdian.
"Cari Nicky sampai ketemu. Bawa kebandara dan hubungi saya setelah itu" suruh Ferdian.
"Baik Tuan".
*****
Nicky merasa ada sesuatu yang mengelus pipinya. Nicky membuka mata dan mendapati Vanka tersenyum di hadapannya.
" Lo makan dulu yah, gue suapin" ucap Vanka antusias.
Nicky teringat sesuatu, ia menoleh nakas tempay ia meletakkan alat bantu dengar.
"Lo kok diam sih, gak mau ya gue suapin?" sedih Vanka.
"A-apa?" tanya Nicky gugup.
"Ishh malah tanya apa. Lo kenapa gak jawab pertanyaan gue?"
"Apa?" ucap Nicky lagi.
"Ck, lo mau ngajak becanda belum saatnya. Tertawa saat perut kosong itu gak baik," omel Vanka "bisa tambah lapar" lanjutnya.
"Iya" sahut Nicky.
"Iya apaan?" tanya Vanka bingung.
"Saya mau makan" sahut Nicky cepat. Apapun yang Vanka katakan tak dapat ia dengar.
"Lah tadi gue nawarin, kenapa sekarang baru jawab sih" keluh Vanka.
Vanka menyuapi Nicky bubur yang ia bawa. Tak sengaja Vanka menoleh pada alat bantu dengar di atas nakas. Vanka meraih alat itu, Nicky terlihat takut.
"Apaan nih?" tanya Vanka.
"I-itu..."
"Heandset lo lepas ya? Udah rusak?" tanya Vanka.
Nicky memperhatikan gerak mulut Vanka untuk mengetahui perkataannya. Nicky menghela napas lega.
"Iya, itu heandset saya yang rusak. Karena sayang, saya selalu menyimpannya" ucap Nicky tersenyum miris.
"Lo kan bisa beli yang baru, kenapa malah simpan yang rusak sih. Gue beliin yang baru yah? Yang ini buang aja" ucap Vanka lalu melempar alat itu ke keranjang sampah di samping nakas. Nicky ingin mencegahnya, tapi takut Vanka curiga.
Usai meyuapi Nicky, Vanka keluar dari kamar. Nicky segera bangkit dan mengambil alat bantu itu kembali. Ia segera memasangnya lagi sebelum Vanka kembali.
Vanka menuju dapur untuk menaruh mangkuk di wastafel. Ia tiba-tiba teringat dengan figura di gudang Nicky. Vanka menoleh Mamahnya yang sedang mencuci piring.
"Mahh" panggip Vanka.
"Iya?" sahut Marisa.
"Mamah punya hubungan apa dengan Ibu tiri Nicky?" tanya Vanka dingin.
Prangg...
Gelas yang di tangan Marisa jatuh kelantai. Tampak raut terkejut Vanka ketika melihat kebawah, matanya beralih pada Marisa yang mendadak pucat.
"Mamah tau sesuatu? Apa ada sesuatu tentang keluarga Nicky yang mamah ketahui?" tanya Vanka berjongkok dan menatap Marisa penuh tanya.