Inara dipaksa untuk menjadi istri ketiga dari pria berusia 45 tahun. Untuk menghindari pernikahan itu, Inara terpaksa menikah dengan pria asing yang sempat ia selamatkan beberapa hari yang lalu.
Tidak ada cinta di dalam pernikahan mereka. Pria tersebut bahkan tidak mengingat siapa dirinya yang tiba-tiba saja terbangun di tempat asing usai mengalami kecelakaan tragis. Meskipun Inara terlepas dari jeratan pria tua yang memaksanya menjadi istri ketiga, tapi wanita itu dihadapkan pada masalah besar yang tengah menantinya di depan.
Siapakah pria asing tersebut sebenarnya? Benarkah ia amnesia atau hanya berpura-pura bodoh demi menghindari masalah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni t, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Inara tidak berhenti mendesaah, kedua matanya nampak tertutup rapat, tapi tidak dengan mulutnya yang dibuka lebar seolah tanpa sadar saat suaminya memberi kenikmataan demi kenikmataan yang membuatnya benar-benar melayang ke awang-awang. Sensasi bercinta di kamar mandi memang luar biasa, terlebih kamar mandi mereka bersifat pribadi karena berada di dalam kamar membuat suara apapun yang ditimbulkan di dalam sana tidak akan terdengar oleh orang lain.
Sampai akhirnya, tubuh keduanya mengejang secara bersamaan saat puncak itu berhasil mereka dapatkan dengan amat sempurna. Nikmatnya surga dunia memang tidak ada tandingannya. Jiwa mereka seakan melayang ke angkasa lepas. Keduanya mengakhiri pendakian dengan mandi bersama, saling membasuh, menggosok bahkan tidak segan bersenda gurau.
Sampai akhirnya, suara ketukan di pintu kamar mandi seketika mengejutkan mereka membuat keduanya sontak menatap ke arah pintu dengan kedua mata membulat.
"Dave, Inara, kalian lagi ngapain? Jangan lupa, ya. Hari ini kita akan pergi ke boutique buat feeting baju pengantin!'' seru Angelina seraya mengetuk pintu.
Baik Dave maupun Inara sama-sama bergeming. Keduanya tidak berani mengeluarkan suara karena merasa malu. Hanya kedua mata mereka saja yang saling menatap wajah satu sama lain seraya tersenyum cengengesan.
"Astaga, kalian!" decak Angelina menggelengkan kepala merasa tidak habis pikir. "Mentang-mentang pengantin baru. Ck! Ck! Ck! Bikin iri yang tua-tua aja.''
Inara dan Dave masih bergeming sampai suara sang ibu tidak lagi terdengar. Sepertinya Angelina sudah meninggalkan kamar. Keduanya pun menghela napas panjang secara bersamaan.
"Emangnya pintu kamar kita gak dikunci? Ko Mommy bisa masuk?" tanya Dave.
"Kan kamu yang terakhir masuk tadi malam, Mas. Kamu kunci nggak?" tanya Inara segera mengakhiri aktivitas yang sebenarnya begitu menyenangkan itu.
Dave memutar bola matanya ke kiri dan ke kanan, sepertinya semalam ia lupa mengunci pintu karena sudah tidak tahan dengan rasa kantuknya. Pria itu melakukan hal yang sama seperti sang istri dengan sangat terpaksa mengakhiri aktivitas yang menyenangkan itu. Ini adalah kali pertama mereka mandi bersama dan sepertinya akan sering melakukan hal tersebut ke depannya.
***
Dave dan Inara menuruni satu-persatu anak tangga menuju lantai satu. Wajah Dave terlihat ceria dan segar begitu pun dengan wajah istrinya. Keduanya nampak bergandengan tangan layaknya sepasang pengantin baru. Angelina yang tengah duduk di ruang santai seketika menoleh ke arang tangga sesaat setelah keduanya menginjakan kaki di lantai satu.
Angelina menatap Inara dari ujung kaki hingga ujung rambut seraya berdiri tegak lalu berjalan menghampiri. "Kamu mau ke boutique dengan berpakaian seperti ini?" tanya Angelina mengerutkan kening.
Dress berwarna hitam yang dikenakan oleh Inara terlihat seperti orang yang hendak datang ke pemakaman. Dress tersebut terlalu sederhana menurutnya dan terlihat sangat kampungan di mata seorang Angelina.
"I-iya, Mom. Cuma dress ini yang aku punya, hehehehe!" jawab Inara seraya menggaruk kepalanya sendiri juga tersenyum cengengesan.
"Kenapa? Inara cantik ko pake dress ini,'' seru Dave seraya melingkarkan telapak tangannya di pinggang langsing Inara.
"Kita itu mau ke boutique, Dave. Bukan mau ngelayat, astaga!" decak Angelina sinis. "Lagian kamu ini, bawa istri kamu belanja baju dong, kalau perlu kamu borong semua pakaian bagus yang ada di toko. Mommy tau dia emang dari kampung, tapi jangan kampungan-kampungan amat dong."
"Ya udah, kamu pinjamkan baju kamu, Angelina," sahut Sebastian berjalan menghampiri. "Noh, baju kamu yang satu lemari itu jarang dipake 'kan? Pinjamkan satu sama Inara."
"Nah, saya setuju sama Daddy," sahut Dave tersenyum lebar.
Angelina menghela napas panjang. "Ikut sama Mommy," pintanya kepada Inara lalu berjalan ke arah kamar dengan diikuti olehnya yang tiba-tiba saja merasa canggung.
Keduanya memasuki kamar yang ukurannya dua kali lipat lebih luas dari ukuran kamar Dave dan Inara. Angelina melanjutkan langkahnya memasuki ruangan yang lebih mirip seperti toko pakaian di mana dress-dress mewah tergantung rapi di dalam etalase. Bukan hanya itu saja, satu buah etalase berisi tas-tas branded berjejer rapi membuat kedua mata Inara seketika membulat merasa terkesima.
"Waaaw, dressnya bagus-bagus, Mom. Tasnya juga," decak Inara seraya menyentuh kaca di mana pakaian dan tas milik mertuanya berada.
"Semua ini mahal-mahal lho, apa lagi koleksi tas Mommy," ujar Angelina seraya membuka etalase berisi tas lalu meraih tas berwarna merah bermerek Hermes. "Kamu tau berapa harga tas ini?"
Inara menggelengkan kepalanya dengan wajah polos.
"Harganya 125 juta, limited edition."
Kedua mata Inara semakin membuat dengan mulut terbuka lebar. "Se-seratus dua pu-luh lima juta?" ujarnya, harga tas itu seharga satu rumah membuatnya menggelengkan kepala merasa tidak hanis pikir.
"Iya, 125 juta. Kamu pakai tas ini, Mommy gak mau kalau teman-teman Mommy ngomongin Mommy dibelakang karena punya menantu udik kayak kamu.''
Inara menerima tas tersebut dengan tangan gemetar, bagaimana tidak, harga tas tersebut seharga satu buah rumah, melihat dan memegang uang sebanyak itu saja ia tidak pernah. Rasanya seperti memegang uang gepokan dalam bentuk lain.
"Tunggu, biar Mommy pilihkan satu pakaian buat kamu," pinta Angelina seraya menatap deretan dress mahal yang terpajang tepat di hadapannya. "Rasa-rasanya Mommy punya dress yang gak pernah Mommy pake karena terlalu seksi. Mana, ya?"
Inara hanya terdiam seraya menatap tas mahal yang berada di telapak tangannya, sampai akhirnya Angelina mengukurkan dress seksi berwarna merah ditubuhnya. Inara lagi-lagi bergeming dengan wajah polos.
"Nah, kayaknya cocok. Coba pake," pinta Angelina menyerahkan dress tersebut.
"Hah? A-aku pake dress ini, Mom?'' tanya Inara meraih lalu menatap dress di atas lutut dengan bagian dada yang sedikit terbuka. "Tapi dress ini terlalu seksi, Mom. Aku gak pernah pake baju terbuka kayak gini.''
''Seksi apaan, ini gak seksi-seksi banget, Inara. Segini tuh masih tertutup,'' jawab Angelina. "Udah jangan banyak protes, cepat pake. Kita udah kesiangan tau."
Inara menganggukkan kepala dengan sangat terpaksa lalu hendak keluar dari sana karena ia tidak mungkin berganti pakaian di depan orang lain.
"Kamu mau ke mana?" tanya Angelina kesal.
"Mau ganti baju, Mom,'' jawab Inara sontak menahan langkahnya.
"Pake di sini aja gak usah malu, kita 'kan sama-sama perempuan. Lagian, masa ganti baju di depan Ibu sendiri aja malu sih?"
Inara tersenyum ringan, nada suara Angelina memang terdengar ketus, tapi kalimat yang dia ucapkan begitu menyentuh hati seorang Inara. Sepertinya, ia benar-benar sudah dianggap sebagai menantu dan putrinya sendiri. Meski merasa canggung, Inara akhirnya berganti pakaian di depan mertuanya. Wanita paruh baya itu bahkan tidak segan membantunya membuat Inara merasa tersanjung.
***
"Astaga, mereka lama banget sih?" decak Dave yang sedari tadi menunggu di luar kamar. Sudah lebih dari 30 menit istrinya dan sang ibu memasuki kamar.
Tidak lama kemudian, pintu kamar pun dibuka dari dalam. Baik Dave maupun Sebastian sontak menatap ke arah pintu di mana Inara dengan wajah memerah berjalan keluar. Pakaian yang ia kenakan pun terlihat seksi di mana belahan dada juga kedua kakinya benar-benar terekspos sempurna.
Bukannya senang melihat penampilan cantik sang istri, kedua mata Dave seketika membulat kesal. "Astaga, baju apaan ini, Inara?" decaknya seraya menatap tubuh Inara dari ujung kaki hingga ujung rambut. "Cepat ganti baju kamu sekarang juga, Mas gak suka ngeliat kamu pake baju ini. Astaga, itu dada kamu bakalan dilihatin orang-orang."
Bersambung
berharap semoga ada kisah Johan Sebastian keturunan mas Dave 🙏😁