Berhenti menjadi seorang mata-mata ilegal karena suatu insiden. Akira Nakano memutuskan bekerja sebagai bodyguard pribadi Koji Rodriguez— pemilik perusahaan tambang emas terbesar dan tersukses se-Asia sekaligus seorang mafia. Namun siapa sangka bahwa perusahaan tersebut adalah tempat yang pernah dia bobol sebelumnya saat menjalankan misinya sebagai seorang mata-mata ilegal.
Keadaan menjadi terguncang saat Koji menawarkan lamaran pernikahan kepada Akira selaku status mereka antara seorang bos dan bodyguard nya.
Dan apa jadinya jika sebuah rahasia berhasil mengejutkan mereka berdua disaat semuanya sudah terjadi!!!
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon Dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AITOFU — BAB 32
MASIH MENGINGATNYA
Akira yang mendapatkan izin setelah dia mengumpulkan keberaniannya untuk meminta izin dari bos dinginnya itu, kini ia bisa bertemu langsung dengan Ryuu di jam makan siang. Tepat berada di luar perusahaan, Akira dan Ryuu memutuskan bertemu di sebuah cafe kecil yang memang ada di dekat perusahaan.
“Apa kau tahu orang-orang itu suruhan siapa?” tanya Akira ketika ia menyimak semua cerita dari teman prianya itu.
“Aku tidak pasti tapi aku menebak kalau mereka suruhan dari... ” Pria itu menghentikan ucapannya sendiri sembari beradu pandang dengan Akira yang seakan sudah menebaknya.
Tentu saja Akira mendesis kesal jika tebakan itu benar. “Apa dia hanya menyerang mu saja?” tanya Akira.
Ryuu mengangkat kedua bahunya. “Sepertinya begitu.” Jawabnya seakan-akan sangat yakin.
“Aku akan menyelesaikannya, aku juga khawatir dengan keadaan Ino yang bekerja dengan Shi— pria itu sangat licik seperti Koji.” Ujar Akira menyeruput minumannya.
Ryuu seketika menyadari akan ucapan temannya yang barusan membawa nama bosnya.
“Ngomong-ngomong soal Koji... Kau terlihat keren memakai setelan itu Akira!” puji Ryuu tersenyum penuh godaan kepada temannya, itu sudah hal biasa yang Ryuu lakukan. Memuji teman-temannya.
Namun itu dianggap lain oleh seorang pria yang baru saja keluar dari perusahaan bersama asisten terpercayanya yang saat ini menyambut sendiri akan kedatangan tamu terhormatnya itu.
Tatapan Koji mengarah ke arah cafe terbuka yang berada tepat di sebrang jalan.
-‘Dia bersama siapa?’ batinnya yang penasaran akan sang bodyguardnya saat ini.
Akira dna Ryuu begitu asik sendiri tanpa memperdulikan sekitarnya. Sementara Tomi yang menyadari akan bosnya itu, pria berambut kuncir nanas tadi memanggilnya kecil. “Tuan Koji.”
Seketika Koji kembali menoleh hingga mengerjapkan matanya berulang kali. “Iya. Emm.. Mari!” ucapnya kepada tamunya yang hanya tersenyum ramah.
Berbeda dengannya yang terus menyorot dengan tatapan tegas tanpa senyuman.
.
.
.
Selang beberapa jam berlalu. Menjelang larut malam, para pegawai mulai berkemas pulang karena jam kerja sudah selesai, namun di sinilah Akira masih bekerja ketika sang bos malah lembur.
Akira berdiri seharian di depan ruangan Koji_ bayangkan sendiri, bagaimana rasanya berdiri seharian di sana. Cklek! Pintu ruangan baru saja dibuka, memperlihatkan Tomi yang baru saja keluar dengan menggosok telapak tangannya yang dingin ke leher belakang.
“Tuan Koji memanggilmu.” Pintanya kepada wanita tadi.
Tak ada jawaban, Akira hanya mengangguk pelan dengan senyuman tipis. Gaya yang baru, mencoba bersikap ramah!
“Apa ada hubungan spesial antara bos dan bodyguard? CK, hhffuuu.... Cuaca yang sangat dingin, lebih baik aku menghangatkan diri bersama kekasihku tercinta!” gumam Tomi melangkah pergi dengan senyum nakalnya.
Sementara di dalam ruangan. Akira sudah berdiri tepat di depan meja Koji. Ya! Pria itu tak ada di mejanya. Dengan kerutan di alisnya, Akira mencoba menatap keseluruhan tempat itu sampai Koji baru saja keluar dari kamar mandi.
Akira memperhatikan kedua tangan bosnya yang nampak merah akibat cuaca dingin beserta siraman air yang sudah mengering.
“Duduklah di sofa.” Pintanya bernada cuek tanpa menatap lekat wanita itu, melainkan hanya kilasan saja.
“Apa ada sesuatu yang ingin Anda katakan Tuan?” tanya Akira saat melihat Koji hendak menuju ke kursinya kembali.
Pria itu menghentikan langkahnya dan menoleh, menatap lekat dengan safir birunya. “Nothing.” Jawabnya singkat dan kembali duduk.
Akira tak mengeluarkan kata-kata lagi, dia hanya bisa duduk di sofa, menunggu Koji membuka pembicaraan meski nyatanya tidak. 3 jam berlalu, kini sudah menunjukkan pukul 08:27 pm.
Koji baru saja menyelesaikan pekerjaannya, dia tersadar kembali akan keberadaan Akira yang sama sekali tidak ada obrolan diantara mereka selama 3 jam setengah.
Koji menoleh dan menatap lekat ke arah wanita yang tengah duduk sambil melipat kedua tangannya di depan perut namun kedua matanya terpejam rapat. “Cih, apa dia tertular Tomi?” gumamnya heran saat melihat Akira mudah sekali tertidur dalam posisi apapun dan di manapun.
Tidak, wanita itu hanya bosan karena tak melakukan apa-apa sehingga terbawa suasana tidur.
Bukannya membangunkan, Koji malah berpindah duduk di atas meja, saling berhadapan dengan Akira yang masih dalam posisi yang sama. Dari jarak dekat Koji memperhatikan detail wajah bodyguardnya saat ini, sementara Akira sendiri masih tak sadar akan hal tersebut.
Cukup lama memandanginya, Koji teringat kembali akan semuanya— kesalahan yang tak akan pernah bisa dia lupakan.
“Jika kau tidak bangun, maja aku akan meninggalkanmu di sini.” Lirih Koji begitu menusuk hingga ke gendang telinga Akira. Tentu saja wanita itu langsung terbangun saat ia mendengar suara serak berat mik bosnya yang berhasil menembus ke alam bawah sadarnya.
Kedua mata mereka saling bertemu dengan jarak lumayan dekat.
“Aku akan memotong gajimu, hukuman karena seorang pekerja tidur disaat bosnya bekerja.” Pria itu beranjak dari duduknya, diikuti oleh Akira yang terus menatapnya tanpa memperdulikan potongan gaji.
Wajah tenang dan datar itulah yang membuat seorang Koji tertarik.
“Kau tidak suka uang?” pria itu kembali melontarkan kata-katanya sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
“Aku bahkan rela bekerja tanpa digaji!” jawab Akira jujur seraya tersenyum tipis.
Mendengar pengakuan itu, Koji mengangkat satu alisnya. Sungguh! Masih ada wanita yang tidak menyukai uang? Koji rasanya tak percaya. Pria itu berjalan mendekatinya, pesonanya yang berkarisma sungguh membuat siapapun akan minder berada di dekatnya.
Pria pirang itu berdiri tepat di depan Akira, menatap ke dalam mata indah wanita itu.
Akira yang mendapat tatapan tegas seperti itu membuatnya gelagapan hingga berdegup kencang. Oh, ayolah! sudah berapa kali ia selalu gugup saat dekat dengan Koji.
Tiba-tiba tangan kiri Koji bergerak dari leher hingga seketika ia berhasil meraih Earpiece yang Akira pakai di telinga kanannya. Tentu wanita itu terkejut sedang Koji mengamati benda hitam itu cukup curiga. “Ini tidak seperti yang dipakai para bodyguard.” Ujar Koji melirik ke arah Akira yang masih diam.
“Bisa kau jelaskan?” lanjutnya.
“Saya biasa mendengarkan musik tuan Koji.” Jawab Akira yang sama sekali tidak menunjukkan kebohongan di wajahnya. Tentu saja Koji tak ingin percaya begitu saja sebelum dia membuktikannya sendiri.
Ya! pria itu memakai earphone tadi dan benar, ada sebuah musik mengalun indah dan tenang. Mata birunya tak bisa lepas dari sosok wanita di depannya saat ini.
Tanpa pikir panjang pria itu melepaskan kembali earphone tadi, meraih tangan kanan Akira dan memberikannya tanpa melepas tangannya hingga menggenggam erat. Tak cuman menggenggam biasa, Koji sedikit menariknya maju dan hampir saja tubuh depan Akira terbentur dada bidang bosnya.
“Anda... Ingin menanyakan sesuatu lagi?” tanya Akira dengan gugup. Dan kali ini sangat terlihat jelas sekali mimik wajahnya.
“Hm.”
Koji mendekatkan wajahnya lebih dekat ke sisi kanan Akira sehingga dia dapat mencium aroma jeruk di rambut wanita itu.
“Aku menunggu jawabanmu.” Ucap Koji to the poin hingga pria itu menatapnya sekilas lalu pergi keluar dari ruangannya terlebih dahulu, meninggalkan Akira yang hanya bisa tertegun tak bersuara.
kaya salah satu Karya author....
udh seru baca tiap bab nya eh malah sad ending...
mau intip ending ny dl baru lanjut...
btw Thor aku g suka novel yg on going ..jd aku lebih milih baca novel yg Tamat
thx ya thor