NovelToon NovelToon
Sensasi Duda Seksi

Sensasi Duda Seksi

Status: tamat
Genre:One Night Stand / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Beda Usia / Tamat
Popularitas:86.2k
Nilai: 5
Nama Author: Lyaliaa

Seorang wanita mandiri yang baru saja di selingkuhi oleh kekasihnya yang selama ini dia cintai dan satu-satunya orang yang dia andalkan sejak neneknya meninggal, namanya Jade.
Dia memutuskan untuk mencari pria kaya raya yang akan sudah siap untuk menikah, dia ingin mengakhiri hidupnya dengan tenang. Dan seorang teman nya di bar menjodohkan dia dengan seorang pria yang berusia delapan tahun lebih tua darinya. Tapi dia tidak menolak, dia akan mencoba.
Siapa sangka jika pria itu adalah kakak dari temannya, duda kaya raya tanpa anak. Namun ternyata pria itu bermasalah, dia impoten. Dan Jade harus bisa menyembuhkan nya jika dia ingin menjadi istri pria itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lyaliaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Langit malam bersinar terang seakan ikut merayakan pesta pernikahan ku. Cahaya bulan dan gemerlapan bintang-bintang mendukung sinarnya. Aku seakan merasakan kegembiraan semesta malam ini saat keluar dari Villa.

Rhine membukakan pintu mobil dan menyuguhkan ku untuk masuk, sosok yang biasanya tampak dingin berubah menjadi lebih hangat dan bersemangat. Rhine melajukan mobil nya dengan kecepatan normal menuju bar Vios miliknya, tempat di mana pesta akan digelar.

Aku merasakan detak jantungku bersaing dengan bunyi mesin mobilnya yang halus, aku masih merasa gugup.

"Jadi, kapan kau akan mulai belajar bawa mobil ini?" tanya Rhine, dengan nada yang penuh perhatian dan sedikit canda.

Aku tersenyum, menoleh ke arahnya. "Kau yakin mobil secantik ini untukku? Sayang sekali, para wanita di pantai itu akan kecewa."

Rhine tertawa lembut, matanya bersinar di bawah lampu jalan. "Haha, aku sudah bilang kalau kau adalah istriku. Kau juga melirik padaku saat aku mengatakan itu pada mereka. Lagipula, aku mempercayaimu lebih dari apa pun."

Aku merasakan hangatnya kata-kata Rhine meresap ke dalam hati, memberikanku keberanian sekaligus ketenangan yang ingin aku rasakan sedari tadi. "Terimakasih... tapi aku tidak ingin berkendara. Aku hanya akan di Villa dan pergi keluar untuk bekerja, aku tak mungkin pergi dengan mobil. Apalagi mobil ini, sangat menarik perhatian. Seorang kasir Cafe punya Lamborghini, aku tak bisa membayangkannya."

Rhine tertawa kecil, senyumnya semakin lebar. "Aku dengan senang hati ingin mendengarnya. Tak ada salahnya, yang penting wanita cantik yang membawanya."

Aku tersipu malu saat dia memujiku, dia juga mengedipkan matanya padaku saat aku melirik padanya. Kami melanjutkan perjalanan dalam keheningan yang nyaman, setiap detik yang terlewati terasa lebih berarti karena kami menuju ke tempat yang sama.

Aku memandang keluar jendela, menyaksikan dunia yang berlalu begitu cepat. Rasanya baru kemaren aku tinggal dengan Rhine, tapi nyatanya sudah hampir satu bulan berlalu. Aku tersenyum tipis mengingatnya.

Di sepanjang perjalanan, kami terlibat dalam percakapan ringan—cerita-cerita kecil yang sering kali tidak memiliki makna besar dalam kehidupan masing-masing. Aku dan Rhine hanya sebatas membicarakan hal-hal sehari-hari dengan cara yang berbeda.

"Apa kau pernah membayangkan menikah dengan pria yang lebih tua darimu?" tanya Rhine tiba-tiba, suaranya hampir terdengar seperti sebuah bisikan. Dia seolah sedang berhati-hati agar tidak menyinggung ku.

Aku menatap ke arah lampu-lampu jalan yang berlalu dengan cepat. "Entahlah, aku bahkan tak pernah berpikir untuk menikah," jawabku pelan.

Rhine mengangguk, matanya menatap lurus ke depan, seolah-olah ada jawaban dari pertanyaan lain dalam benaknya di ujung jalan yang gelap di depan sana. "Aku yakin kau pasti memikirkan bagaimana caranya untuk hidup tenang hingga akhir hidupmu, kan?"

Aku menunduk dan tersenyum tipis, rasanya aneh orang lain menyebutkan keinginanku. "Ya, kau benar." balasku, berharap bahwa kejujuran yang keluar dari mulutku sesuai dengan pikirannya.

"Aku tak punya impian yang ingin ku capai, dan aku tidak punya seseorang yang ingin aku bahagiakan. Tak ada salahnya menghabiskan sisa hidupku dengan tenang."

Hening sejenak, aku hanya mendengar suara mesin mobil yang berdengung lembut. Rhine tersenyum lagi, senyuman yang membuat hatiku berdegup lebih cepat.

"Maaf, aku tidak bermaksud memanfaatkan mu," lanjut ku lagi.

Rhine mengernyit, aku dapat melihat dia merasa tak nyaman dengan hal yang baru saja ku katakan. "Aku tak pernah merasa di manfaatkan, aku akan senang kalau kau lebih mengandalkan ku ke depannya. Begini saja, anggap tujuanku dan tujuanmu sudah tercapai. Tak ada salahnya kita memutuskan untuk tujuan yang baru, tujuan yang sama."

Aku menatapnya, untuk sejenak aku menganggap apapun yang ada di sekitarku tak lagi penting. Kecuali untuk satu orang yang sekarang sedang mengemudi di sampingku. "Ya, kau benar. Tapi aku tak bisa memikirkan tujuan lain yang mungkin akan sama denganmu," jawabku dengan lembut.

Rhine melepas tangannya dari stir, dia meraih tanganku dan menggenggamnya, matanya berkilat menatapku. "Apapun tujuanmu, itu adalah tujuanku juga."

Aku menunduk dan tersenyum, rasanya sesuatu yang hangat mengalir di tubuhku. Tiap kata yang dia ucapkan selalu membuatku terkesima.

Mobil terus melaju semakin jauh dari Villa, dan dekat menuju bar Vios. "Jangan coba-coba untuk meminum alkohol disana, apa pun situasi nya,"ucap Rhine tegas seakan menyuarakan sebuah ancaman meskipun matanya masih memandang lurus ke depan, memperhatikan jalan.

Aku mengangguk perlahan. Aku menoleh untuk bisa melihat wajahnya. "Ya. Lagi pula aku akan melakukannya tanpa kau minta."

"Ck, kau tak pernah ingin kalah dariku."

"Tentu saja, yang tua lah yang harusnya mengalah." Aku tersenyum senang melihat ekspresi di wajahnya yang tampak menahan egonya. Dia sungguh tak ingin berdebat denganku. Mungkin untuk saat ini.

"Oke, aku akan mengalah, tapi sekali ini saja," ucap Rhine saat membuka sabuk pengamannya, mobilnya sudah berhenti. "Kita sampai," ucapnya sambil membuka pintu.

Aku melihat sekeliling, tapi ini pertama kalinya aku disini. Saat aku datang waktu itu, aku tak melewati jalan ini untuk masuk.

Aku melirik dari balik kaca mobil pada dua orang yang berdiri di kanan dan kiri sebuah pintu. Tapi tak lama, Rhine mengejutkanku saat dia membuka pintu mobil. Dia mengulurkan tangannya padaku agar segera ku raih, aku turun dari mobil sambil menggenggam tangannya.

Kedua pria yang ada disana menunduk hormat pada Rhine, salah satu dari mereka masuk ke dalam mobil yang baru saja ku turuni, kupikir dia ingin memarkirkan mobil itu.

Aku dan Rhine melangkah masuk begitu pintunya otomatis terbuka, bergeser ke kanan dan ke kiri. Aku menyelipkan tanganku di siku Rhine dan kami berjalan beriringan. Aku tak melihat siapapun disana selain kami berdua. Ada lift.

"Aku tidak tahu ada jalan masuk lain," ucapku setelah Rhine menekan tombol ke lantai dua.

"Tentu saja kau tak tahu, hanya orang tertentu yang bisa lewat sini." Rhine tersenyum bangga.

"Karena kau pemiliknya?"

"Ya, itu juga bisa menjadi alasan kita lewat sini."

Suasana malam yang tenang seolah menyatu dengan alunan musik lembut dan cahaya redup yang menari di dinding-dinding bar. Aku dapat melihat meja dan kursi yang tersusun rapi begitu liftnya terbuka.

Aku melihat banyak wajah asing, aku tak mengenal siapapun. Semua orang tampak melihat ke arah ku dan Rhine begitu kami berjalan melintasi karpet merah. Aku hanya bisa memberikan senyuman terbaikku pada semuanya. Aku menjadi gugup lagi karena semua mata tertuju padaku.

Rhine menyentuh tanganku, dia mengelusnya lembut seakan jemarinya menyampaikan pesan padaku agar aku tetap tenang. Dia menenangkan ku.

Aku menatap Rhine, mencoba menangkap kilau di matanya yang selalu memancarkan aura kepemimpinan nya. "Rhine, kau tak bilang pestanya dihadiri oleh orang sebanyak ini," kataku pelan, hampir berbisik.

Rhine tersenyum bangga dengan dagunya yang terangkat ke atas sebelum dia sedikit menunduk dan menebar senyumannya dimana-mana. "Tentu saja, ini bahkan belum seberapa. Kalau bisa aku ingin seluruh dunia tahu jika aku punya istri secantik dirimu."

Aku tertegun begitu mendengar pengakuannya. Aku sungguh tak bisa berkata-kata lagi, sepertinya rona merah di pipiku akan mencolok untuk bisa dilihat semua orang.

Kami terus berjalan maju hingga dua anak tangga membuat Rhine melangkah lebih dulu dariku. Dia menggeser tangannya agar bisa menggenggam tangan ku, dia membantuku menaiki tangga untuk berada di atas panggung.

...----------------...

1
ros
ceritanya menarik 👍
Aik Unique
Luar biasa
Naurasky
ceritanya luar biasa bagus, dan alurnya juga keren/Casual//Casual/
Isna mansur
ceritanya singkat...tapi keren..../Good//Good//Good/
Lina Yulianti
cerita yg cukup singkat thor. tetap semangat untuk berkarya
julia
Bagus
dita18
yahhh thoorrr kok udh END aja sih😭😭rasanya sebentar bngt cerita kisah cinta mereka thoorrr
gk rela sebenarnya klo hrus pisah sm mereka.. 😢😢
dita18: smngt trusss ya thoorrr,,, ditunggu karya2 othoorrr selanjutnya /Smile/
total 2 replies
dita18
gk berasa udh gede aja anak nya Rhine&Jad😁
kira2 Ryan&Hana udh ada anak jg blm ya🙈😅
dita18
akhirnya Ryan&Hana sah jg selamat ya😊😊
dita18
kan bener dy ,,,,krn dy gak terima Rhine nikah lagi dg Jade & nolak dy berkali2
dita18
pasti Zarra pelaku nya atas kecelakaan yg di alami Rhine
dita18
penasaran Zarra ini ada hubungan apa dg Rhine & Hana ya?
dita18
ihhh thoorrr kok Rhine gtu sih sm Jade😕 jgn buat Jade sedih & patah hati thoorrr kasian
klo emg Rhine bkn jodoh nya,,, kasih Kade jodoh yg lebih baik lagi thoorrr
dita18
Jade pingsan krn Rhine abis minum alkohol kadar tinggi jd Jade kena efek nya
dita18
Luar biasa
dita18
akhirnya udh sah jg ya Jade😅
dita18
thoorrr knp msh bnyk bngt teka-teki nya🙈aku capek berpikir nya 😂😂
dita18
apakah Ryan pacaran sama Hana?
dita18
adik kakak kyk nya misterius bngt yah..
dita18
sbnrnya crta nya bagus thoorrr😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!