Raya Lituhayu (25) kecewa karena sang kekasih menikahi sekretaris pribadinya yang sudah hamil duluan. Bayu Agung Gunawan (27), menyimpan cinta untuk tetangga yang berprofesi sebagai pengacara dengan status janda.
Orangtua Raya dan Bayu berniat menjodohkan mereka untuk semakin mendekatkan dua keluarga. Tentu saja ditolak, apalagi hubungan mereka layaknya Tom and Jerry. Satu insiden membuat mereka akhirnya menerima pernikahan tersebut.
Kehidupan rumah tangga yang penuh drama dan canda, menimbulkan cinta. Namun, semua berantakan ketika kerjasama dua keluarga besar terpuruk. Bunda Bayu terluka dan Papi Raya harus mendekam di penjara. Hubungan Raya dan Bayu semakin renggang dan berujung perpisahan. Tidak mudah bagi Raya menjalani hidup setelah keterpurukan keluarga bahkan dalam kondisi hamil.
“Benci dan rindu itu batasnya tipis, sekarang kamu benci bentaran juga rindu sampai bucin. Ayolah, jangan jadikan kebencian ini mendarah sampai anak cucu kita."
===
Jangan menumpuk bab 😘😘😘🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32 ~ Putusan
“Raya, tunggu.” Bayu menahan tangan Raya agar berhenti melangkah.
Tidak ingin menjadi pusat perhatian, apalagi dia berada di koridor dan meja sekretaris pimpinan ada beberapa pegawai menatap ke arah Raya dan Bayu.
Raya menghentikan langkahnya lalu memberanikan diri menatap wajah Bayu. Pria yang sudah membuatnya membuka hati dan mulai mencintai, bahkan saat ini sedang mengandung. Namun, karena masalah keluarga dia diacuhkan begitu saja.
“Bisa kita bicara?”
Raya hanya menganggukan kepala pelan, mulutnya tidak sanggup untuk sekedar menolak apalagi mengiyakan. Berusaha membesarkan hati dan bersiap dengan keputusan Bayu kalau ternyata akan mengakhiri pernikahan mereka.
Bertempat di ruang tamu VIP, masih dalam perusahaan. pasangan itu duduk di sofa berseberangan. Bayu menatap wajah Raya yang agak menunduk dan menunjukan raut wajah datar.
“Ra, aku tahu yang Mbak Mirna lakukan salah, tapi ….”
“Tidak mas, tidak ada yang salah. Memang sudah sepantasnya aku tidak ada di sini. Aku tidak tahu kalau perusahaan ini milik keluarga kalian. Papi dinyatakan bersalah oleh kepolisian, tapi putusan pengadilan belum selesai. Meski maafku ini percuma, tapi aku mewakili papi mohon maaf. Kalian boleh hina aku, tapi jangan Papi. Aku kenal papi, dia tidak mungkin setega itu membuat Tante Erika celaka,” tutur Raya sambil terisak.
Terdengar tarikan nafas, tentu saja dari Bayu.
“Pernikahan kita … gue nggak mau lo sakit karena sikap gue Ra. Setiap melihat lo, emosi dan kebencian itu selalu muncul.”
“Aku paham Mas.” Raya pun berdiri. “Aku tidak ingin membuat mas Bayu emosi, permisi!”
“Ra ….”
Raya meninggalkan ruangan, sudah jelas keputusan Bayu yang tidak ingin bersamanya lagi. menuju ruang kerjanya, Raya membereskan meja dan membawa barang dan kelengkapan pribadi menggunakan goody bag.
“Raya, mau ke mana?” tanya salah satu rekan kerja yang melihat Raya merapikan kubikelnya.
“Aku mengajukan resign mulai hari ini.”
“Hah, serius?”
Raya mengangguk pelan. Beberapa rekan lain menatap ke arahnya.
“Mohon maaf kalau selama ini ada salah, senang bisa bekerja bersama kalian.” Setelah bersalaman dengan semua rekan kerjanya, Raya pun pergi.
Sudah berada di mobil, tangannya mengusap wajah yang basah dengan air mata berkali-kali mengatur nafasnya agar tidak terbawa emosi.
“Sabar Raya, kamu pasti bisa melewati ini semua. Ada papi yang harus diperjuangkan, juga yang disini,” gumam Raya sambil mengusap perutnya yang masih rata.
Sementara di ruangan lain, Bayu langsung menemui Mirna dan mengajak wanita itu bicara.
“Apa hal tadi perlu kita lakukan?”
“Tentu saja, aku tidak ingin keluarga itu terus mengganggu dan merugikan kita. Om Pras sudah merugikan Ayah, tidak sedikit uang yang dikeluarkan untuk bisnis tidak jelas itu dan sekarang Bunda jadi korban. Kamu masih membiarkan ada bagian dari keluarga itu menempel pada keluarga kita, aku tidak rela.”
“Mbak lebih fokus pada kehamilan nya, urusan perusahaan dan Bunda biar aku dan Ayah yang urus.”
“Aku tidak mau kamu terlena, bisa-bisa karena kasihan kamu kembali ke Raya atau melepaskan Raya dan dekat dengan si janda itu.”
“Mbak!”
“Sudahlah, aku mau pulang. perutku sakit,” keluh Mirna.
***
Entah sudah berapa kali sidang, yang jelas bukti dan kesaksian semakin menyudutkan Prasetio, mencari bukti lain pun sulit. Satu-satunya peluang hanya meminta korban atau Erika memberikan kesaksian. Kuasa hukum Pras sudah mengajukan permintaan pada keluarga Bayu, tapi kondisi Erika dinyatakan belum bisa memberikan kesaksian. Apalagi saat ini sedang berada di luar negeri untuk melakukan pengobatan di sana. Rama dan Raya pun hanya pasrah, bersiap menerima keputusan pengadilan
Lebih dari dua bulan pengobatan di luar negri, kondisi Erika ternyata sudah lebih baik. sudah bisa berinteraksi, hanya saja belum bisa beranjak dan berjalan. Bicaranya masih belum jelas, tapi sempat membahas Pras saat ada Mario atau memanggil Raya saat ada Bayu.
“Sudah bun, jangan pikirkan hal lain. Konsen saja dengan kesehatan Bunda. Memang tidak mau pulang ke Jakarta, Mbak Mirna sudah punya anak.”
“Cu-cu, bun-da?”
“Iya. Bunda sudah punya cucu.”
“Ra-ya?”
“Kalau mau bertemu Raya, nanti saja kalau sudah sehat.” Bayu tidak menyampaikan kalau ia dan Raya sudah tidak bersama, bahkan berencana mengurus perceraian setelah kembali ke Jakarta.
Erika tidak tahu kalau Pras dituntut karena sudah mencelakainya. Permintaan Erika menjadi saksi dalam persidangan, diterima oleh Mirna yang langsung menunjukan bukti-bukti kondisi kesehatan saat masih berada di Jakarta bukan kondisinya saat ini. Mario dan Bayu tidak menyalahkan Mirna, karena hanya ingin yang terbaik untuk Erika. Tidak ada yang menduga kalau hal ini akan menjadi penyesalan keluarga itu, mungkin seumur hidup mereka.
Mario pulang ke Jakarta dan bergantian dengan Bayu karena akan menghadiri persidangan yang akan membacakan keputusan terhadap Prasetio, meskipun sudah dapat diprediksi kalau pria itu akan dinyatakan bersalah.
“Sudah siap?” tanya Rama membuka pintu kamar Raya.
Raya memakai cardigan melapisi dress agak longgar untuk menutupi perutnya mulai membuncit. Dari wajahnya yang sembab, Rama tahu kalau adiknya menangis.
“Ra,” ujar Rama menahan tubuh itu dengan memegang kedua bahunya. “Apapun keputusannya, kita percaya Papi tidak bersalah dan kamu jangan menyiksa diri begini. Jangan sampai kesedihanmu berpengaruh pada pertumbuhannya nanti.”
“Aku sudah berusaha, Bang, tapi nggak bisa,” sahut Raya lagi-lagi terisak.
Rama meraih tubuh Raya ke dalam pelukannya.
“Aku takut, perasaanku tidak enak. Aku sayang papi,” tutur Raya dalam pelukan Rama.
Kakak beradik itu akhirnya menuju pengadilan, menyiapkan hati dan perasaan menerima keputusan apapun dan menganggap semua ini adalah cobaan hidup keluarga mereka.
Biasanya Raya dan Rama akan memilih kursi belakang, kali ini kursi deretan depan yang mereka pilih. Sempat melihat Mario dan Mirna datang menggendong bayinya, juga seorang baby sitter. Rama mengusap tangan Raya yang terlihat gugup.
Pras sudah memasuki ruangan, menoleh ke arah kedua anaknya. Raya tersenyum dan melambaikan tangan dibalas dengan senyuman. Saat persidangan dimulai, Raya sudah tidak fokus. Pandanganku hanya tertuju pada Pras yang duduk membelakangi, di tengah forum mendengarkan apa yang dibacakan oleh hakim.
Genggaman erat tangan Rama membuat Raya menoleh.
“ … saudara Prasetio dinyatakan bersalah. Dengan ….”
Pandangan Raya mulai kabur terhalang oleh air mata dan langsung direngkuh oleh Rama.
“Papi.”
Lalu terdengar ketukan palu.
“Papi!” teriak Raya. Prasetio berdiri dan berbalik menatap Rama dan Raya. Tidak lama wajahnya terlihat berbeda seakan menahan sakit dan memegang dadanya lalu terjatuh.
\=\=\=\=
Makin nyesek yesss, sambil tunggu update mampir ke karya rekan author y
kalo hamil gong banget pasti
kunci nya di erika
aset raya kecil, tapi bikin megap2 kan 🤣🤣