Kabur dari rumah demi menghindari perjodohan gila yang direncanakan oleh pamannya membawa Kelaya sampai disebuah desa yang sangat jauh dari rumahnya, hingga ia berakhir pingsan di sebuah rumah di tengah hutan yang ternyata adalah milik seorang lelaki.
Ide gila muncul saat mengetahui lelaki itu masih melajang dengan wajah yang cukup menarik sebagai seorang peternak juga pengrajin kayu, dan minim bicara, membuat Kelaya mengajaknya menikah dan nekat menjebak lelaki itu agar mereka dinikahkan secara paksa oleh masyarakat setempat.
Ide itu muncul sebagai upaya mencegah pamannya untuk menjodohkannya kembali dan lagi pula Kelaya menyukai lelaki itu.
Masalahnya, lelaki itu bagaikan musim dingin yang panjang dan terlalu misterius. Rasanya Kelaya ingin menyerah saja untuk meluluhkan hati dingin lelaki itu.
Apakah Kelaya akan benar-benar menyerah apa lagi setelah mengetahui sebuah rahasia yang disembunyikan lelaki itu? Atau bertahan sekali lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiky Mungil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32. Tamu Yang Sangat Tidak Diundang
Kelaya duduk di atas kursi dengan mengenakan kaus milik Elkan yang membuatnya nyaris tenggelam sekujur tubuh membuatnya terlihat sungguh imut dimata laki-laki yang baru saja selesai menyalakan api di dalam perapian.
"Lapar?" tanya lelaki itu dengan tatapan hangatnya yang lembut. Tatapan yang pernah dianggap mustahil oleh Kelaya, tapi nyatanya tatapan itu muncul dari kemustahilan.
Kelaya menggeleng, bibirnya menyunggingkan senyuman manis seperti anak kecil yang malu-malu. Bagaimana tidak, Elkan hanya mengenakan celana olahraga saja, membuat pantulan cahaya api menyinari setiap otot yang melekat pada tubuhnya di tempat-tempat yang pas.
"Mau kumasakkan apa?" Elkan berlutut di depan Kelaya, kepalanya mendongak untuk melihat wajah Kelaya yang cantik dibingkai dengan rambut panjangnya yang agak bergelombang.
"Apa saja."
"Katanya tidak lapar." Goda Elkan.
"Ya sudah tidak jadi." Kelaya memberengut, pura-pura merajuk tapi tangannya malah ditarik dan dikecup.
"Tunggu disini, ya, aku akan masak agar energimu kembali pulih." katanya sambil mengedipkan sebelah matanya.
Astaga! Astaga! Jantungku!
Matanya mengikuti kemana punggung itu menjauh dan masuk ke dalam dapur. Senyumnya merekah sempurna. Dirabanya cincin emas yang dulu dikeluarkan Elkan dari dalam dompet sebagai mas kawin mereka, siapa yang akan menyangka, cincin itu masih bertahan hingga sekarang. Lagi, Kelaya menatap pintu yang mengarah ke dapur, dimana punggung besar dan penuh luka ikut menghilang di sana.
Kenapa punggung Elkan begitu banyak luka? Luka bekas apa? Batin Kelaya terus bertanya-tanya. Dia tidak berani bertanya, ada perasaan takut jika pertanyaannya mendapatkan respon dingin dari Elkan. Karena bekas luka biasanya menyimpan banyak cerita.
Beberapa menit kemudian, lelaki itu kembali dengan sebuah nampan di atas tangannya. Di atas nampan itu berisi semangkuk sup, sepiring nasi dan segelas air.
"Kenapa hanya satu porsi? Kau tidak makan?" tanya Kelaya.
"Aku tidak bisa makan di atas jam sembilan malam."
Mata Kelaya menyipit, menatap Elkan dengan tatapan curiga, "Jangan bilang karena kau diet untuk menjaga bentuk tubuhmu itu."
Sontak kalimat itu membuat Elkan terkekeh.
Jantung bisa tenang tidak?!
"Aku tidak perlu diet untuk tetap punya tubuh seperti ini, aku hanya perlu menggarap sawah dan mengurus kambing-kambing itu."
Kelaya berdecih, "Lalu bagaimana denganku? Kalau aku makan di atas jam sembilan seperti ini, lalu aku jadi gendut, bagaimana?"
"Memang kenapa?"
"Kalau aku gendut nanti kau tidak suka aku lagi."
"Siapa yang bilang aku menyukaimu?"
Ekspresi Kelaya menegang seketika, kedua bola matanya mulai berkaca-kaca. tangannya meremas ujung kaus Elkan yang dikenakannya.
"Aku tidak menyukaimu." tegas Elkan sekali lagi. "Tapi aku akan sekarat jika kau tidak ada di sini." Ia menunjuk dadanya, dimana jantungnya yang berdebar ada di dalam sana.
"Dasar menyebalkan! Kau membuatku takut!" Kelaya memukul lengan Elkan dengan sebal.
"Lagi pula, memang kenapa kalau gendut? Kau akan semakin lucu. Aku akan semakin puas untuk memelukmu."
"Memangnya kalau sekarang tidak puas?"
"Kurang. Aku takut meremukkan tulangmu kalau pelukanku terlalu erat."
Alih-alih marah, Kelaya malah terkekeh. Bagaimana bisa marah ketika orang yang telah menyelamatkannya berkali-kali, orang yang telah membuatnya jatuh cinta dengan berkali-kali jatuh, orang yang tadinya selalu menghunusnya dengan tatapan tajam dan dingin, kini telah berubah seperti orang yang sama sekali berbeda. Lelaki itu memperlakukannya dengan sangat lembut, menatapnya dengan sangat hangat, senyuman hampir tak lepas dari wajah yang biasanya hanya menampilkan ekspresi datar yang dingin, dan kini menjadi seseorang yang ternyata bisa bicara banyak, tidak lagi pelit kosakata.
"Kau tidak bisa pakai baju dulu?" tanya Kelaya seraya menyuap makanannya.
"Kenapa?" tanya Elkan dengan nadanya yang lugu. "Apa kau takut tergoda untuk merasakannya lagi?"
"Ih! Mesum!"
Lagi-lagi Elkan terkekeh. Dan jantung Kelaya harus berjumpalitan setiap kali mendengar suara renyah tawa pria itu.
"Dengar," Tiba-tiba Kelaya meletakkan sendok dan menatap Elkan dengan sangat serius. "Pokoknya aku tidak mau kau tertawa, tersenyum, mengedip kecuali di dalam rumah dan hanya bersamaku."
"Tidak tertawa dan tersenyum ke orang lain bukan hal yang sulit. Tapi tidak mengedip? Bagaimana jika aku kelilipan?"
"Ah, benar juga. Kalau begitu kau pakai kaca mata renang saja, jadi tidak akan kelilipan."
"Ternyata kau sangat pecemburu, ya?"
"Sangat! Jadi jangan salahkan aku kalau aku ingin terus menempel seperti lem beton kepadamu, karena kau yang melarangku pergi."
"Baiklah, aku akan menjadi lem yang kokoh untuk kau tempeli."
Pembicaraan manis dan random mereka terus berlanjut hingga semangkuk sup, sepiring nasi yang dibawa Elkan tandas dan masuk memenuhi lambung Kelaya.
"Mau kemana?" tanya Elkan begitu kembali dari dapur setelah mencuci piring.
"Kamar mandi. Mau sikat gigi dan pipis."
"Ayo."
"Eh, mau apa?" Kelaya menahan dada Elkan yang sudah siap untuk meraih tubuh Kelaya.
"Menggendongmu."
"Tapi aku mau pipis juga."
"Lalu?"
"Ya, aku...malu."
"Malu?" Kedua alis tebal Elkan bergerak naik ke atas. "Hei, aku sudah melihat seluruh tubuhmu, depan, belakang, atas bawah, bahkan aku sudah memasukinya."
"Astaga! Kenapa kata-katamu vulgar sekali." Kelaya melotot.
"Karena itu, apa yang membuatmu harus malu padaku. Ayo, aku gendong, aku tahu kau masih sakit untuk berjalan, kan?"
"Iya sih, tapi tidak perlu sampai kau ikut ke dalam kamar mandi segala!"
"Baiklah," Pria besar itu mengalah. "Aku akan menunggu di depan pintu.
Kelaya setuju dan membiarkan dirinya diangkat menempel pada dada Elkan. Tangannya melingkar pada bahunya, hingga tak sengaja jemarinya menyentuh bekas luka yang dijahit panjang yang ada tepat di bawah bahu.
"Panggil aku kalau sudah selesai, oke?"
Kelaya mengangguk dan akhirnya bisa menuntaskan panggilan alamnya.
Elkan hendak kembali ke dapur untuk memeriksa ulang pintu yang sudah dikunci, tepat ketika kakinya melangkah, pintu depan diketuk dengan suara yang tak beraturan dan cepat.
"Kelaya, tetap di dalam, jangan keluar kalau aku belum memanggilmu. Ingat kodenya, Peri Hutan." Ujar Elkan dari luar pintu kamar mandi yang disahut dengan suara gugup dari dalam.
Astaga! Apa lagi ini?
Baru saja dirinya merasakan kebahagiaan yang membuatnya seperti melayang-layang.
Suara ketukan di pintu depan kini diiringi suara seorang pria yang terasa tak asing.
"Aya! Aya! Tolong aku." Suara itu terdengar lirih.
Bajingan itu!
Elkan mengepalkan kedua tangannya. Dia membuka pintu dan tentu saja langsung mendapati wajah pria yang belum ada dua puluh empat jam dia pukuli di tempat sepi siang tadi. Elkan mendorongnya dan menutup pintu pondok di belakangnya.
"Mau apa kau?!" Bentak Elkan dengan suaranya yang tertahan, namun kedua matanya menyorot tajam menusuk.
"Ah, tolong aku! Tolong aku!" Dio datang dengan wajahnya yang lebih babak belur. Celana jins bagian lututnya sobek dan lututnya terlihat berdarah, salah satunya bengkak karena lebam, luka yang masih segar terlihat jelas pada pelipis dan bibirnya.
"Aku bukan orang yang gemar menolong! Pergi!" Usir Elkan tanpa rasa belas kasihan.
"Tapi Aya akan menolongku jika kau tidak mau."
"Sekali lagi kau memanggilnya dengan nama itu, akan kutambahkan luka pada wajahmu!"
"Silahkan, tapi setelah itu kau harus menolongku!" Dio berlutut memegangi betis Elkan dengan tangannya yang gemetar. "Kumohon, tolong aku!"
Elkan menatapnya dengan tatapan dingin yang tajam menusuk hingga ke jantung pria malang itu. Napasnya dibuang kasar, tapi cengkraman tangan gemetar Dio semakin kuat pada kaki Elkan.
"Ay-maksudku, Kelaya pernah bilang, kau memang dingin, tapi kau mempunyai hati yang hangat. Kumohon, buktikan lah kalau Kelaya tidak salah menilai suaminya."
.
.
.
Bersambung~~>>
Dio ganggu aja😁
pemilihan kata"nya jg indah...
knp baru nemu cerita sbagus ini😁👍🏻👍🏻