(Sequel terpisah Bukan Salah Jodoh)
Belum direvisi ⚠️
⚔️⚔️
Bagaimana jadinya, jika seorang mantan agen rahasia FBI, Jubir juga lawyer menjadi seorang singel parent untuk seorang bayi tampan tanpa identitas?
Inilah yang dialami dua pria muda tampan, Galaksi Renand Pradipta dan Gemintang Reynando Padipta.
Ketika memilih lepas dari dunia hitam yang membesarkan namanya, Black Brother ini harus kembali terjerat tanpa terikat. Bocah tampan ditinggalkan tergeletak begitu saja
Didepan rumahnya. Bagaimana kiranya, duo Pradipta ini akan menghadapi pase baru dalam hidup mereka. Menjadi singel parents tanpa
pernah mengalami yang namanya menikah terlebih dahulu.
⚔️⚔️
Baca Cerita Author yang lain juga :
1. Bukan Salah Khitbah (End)
2. Bukan Salah Jodoh (End)
4. Bukan Cinta Terencana (on going)
3. Bukan Dijodohkan ( on going)
5. Mistress (End)
6. Target Rasa Sang Cassanova (On going)
Follow IG Author juga @Karisma022 atau username Author @kaka shan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka Shan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31.Sakit
31.Saķit
"Kenapa kali ini hati dan pikiran tidak bisa selaras?"-Galaksi Reynand Pradipta
****
"Bang,kira kira Arini menurut abang gimana?"
"Kenapa?" Bingung Gemintang,saat kakaknya menatap balik dirinya penuh pertanyaan.
"Gemi cuma manya kok!"
"Untuk apa kamu bertanya?"
"Riset!"
"Riset untuk apa?"
"Gemi pikir,Arini itu teman yang baik dan cocok untuk membantu Gemi."
"Membantu dalam hal apa?" Bingung Galaksi.
"Cinta"
Galaksi menoleh refleks. Menatap sang adik tajam,seakan akan sulit menelaah ucapan tersebut.
"Apa maksud kamu Gemi?"
"Hm,Gemi mau belajar mengerti seorang perempuan bang. Gemi mau belajar membuka hati dengan serius."
Galaksi terpancing untuk bertanya lebih dalam. "Maksudmu dengan Arini?" Tanyanya to the point.
"Arini itu simulasi bang." Jawab Gemintang enteng.
"Maksudnya?"
"Dengan Arini Gemi mau belajar untuk membuka hati. Dengan begitu,Gemi bisa belajar memperbaiki diri supaya bisa menjadi pasangan yang lebih baik nantinya."
"Kamu mau main main sama perasaan?" Tanya Galaksi to the point.
"Hm,itukan cuma simulasi bang. S-I-M-U-L-A-S-I."
"Gemi,wanita itu memiliki perasaan yang mudah terbawa suasana. Mereka itu memiliki kepekaan yang jauh lebih tinggi dari seorang pria. Salah salah kamu mempermainkan perasaan mereka,kamu yang akan terjebak sendiri."
"Kalau sudah nyaman,nanti kamu mau bagaimana? Kamu mau bilang jika selama ini kamu jadikan dia Simulasi,begitu? Apa kamu pernah membayangkan bagaimana perasaanya nanti?!" Cecar Galaksi to the point.
"Iya,maaf bang." Sesal Gemintang.
Galaksi mengangguk samar,lalu tatapanya beralih kearah langit yang semakin gelap. Setelah menyelasaikan ibadah isya tadi,keduanya kembali menghabiskan waktu ditempat yang sama. Menikmati pemandangan malam di Rye,east Sussex yang indah malam ini. Ditemani secangkir coffe americano-miliknya,dan secangkir teh Hijau milik Gemintang.
Keduanya nampak beralih sejenak dari urusan dunia. Mereka memang jarang berbicara urusan pribadi berdua. Jika mengobrol sekalipun,mereka lebih banyak membicarakan tentang dunia bisnis dan jobdesk mereka masing masing.
"Hm,gimana kalau begini saja bang. Gemi dan Arini pacaran saja,gimana?"
"Ngawur?!" Jawab Galaksi cepat.
"Apanya?"
"Ucapanmu itu!"
"Abang kenapa,kok jadi sewot gitu jawabnya?" Bingung Gemintang.
"Kan Gemi mau membuka hati bang. Kata salah satu pujangga,seseorang yang pernah patah hati hanya bisa merasakan cinta jika diobati oleh seseorang yang sama sama pernah merasakan patah hati." Papar Gemintang.
"Arini pernah patah hati karena cintanya bertepuk sebelah tangan,sedangkan Gemi. Abang tahu sendiri,tuh kan. Kita cocok bang!" Antusias Gemintang.
"Omong kosong" Respon Galaksi datar.
"Gemi serius loh bang. Dengan begitu,Arini juga bisa sama sama mengobati hatinya."
"Dengan mengorbankan perasaanya sendiri?"
"Yakan mencoba dulu bang!"
"Tapi dia belum tentu mau Gemi."
"Tapi bang,cinta itu bisa tumbuh seiring dengan berjalanya waktu. Karena kebersamaan dan biasa,rasa sayang itu juga akan senantiasa hadir."
"Ini bukan soal Cinta,tetapi soal perasaanya.
Apa kamu pernah menebak tentang betapa beratnya kehidupan yang Arini alami? Kamu mau menambah bebanya lagi?"
Gemintang terkekeh kecil,membuat Galaksi menatapnya bingung.
"Abang itu sebenarnya peduli banget sama Arini. Cuma,ngengsi menghalangi segalanya." Lirihnya sambil tersenyum tipis.
"Itu hanya sebuah kepedulian." Elak Galaksi.
"Gemi juga peduli sama Arini bang,dia teman Gemi. Tapi,sorot mata abang beda jika membicarakan soal Arini." Tutur Gemintang,sambil sesekali menyesap teh hijau miliknya.
Galaksi tiba tiba beranjak,bersiap untuk pergi dari tempat tersebut.
"Mau kemana bang?"
"Istirahat!"
"Woah,abang menghindari pertanyaan Gemi."
"Apanya?"
"Dari pertanyaan Gemi tadi?"
"Tidak," Dalih Galaksi.
"Ini sudah malam,waktunya beristirahat. Besok kita ada pekerjaan!" Tutur Galaksi mengimbuhi.
"Hm,bukan alasan buat menghindar yakan bang?"
"Tidak,"
"Tapi abang kayaknya mau nghindarin Gemi?"
"Terserah apa katamu." Ujar Galaksi datar sambil berlalu meninggalkan Gemintang sendiri.
Senyum tipis dibibir kissable milik Gemintang mengembang. Pasalnya,dirinya merasa telah berhasil mengulik perasaan kakaknya.
"Kena kau,hehe..." Lirihnya sambil terkekeh kecil.
****
"*Hatcuhh..."
"Hatcuhh*..."
Galaksi yang sedang mengendong sikecil tersebut menoleh. Pendengaranya agak terganggu ketika terus mendengar suara bersin bersin tersebut. Seseorang tidak lama kemudian muncul dari balik pintu,disusul dengan suara bersin yang kembali menyertainya.
"Kamu sakit nak?" Sapa bibi Jane-pengurus rumah ini.
"Mungkin flu bi," Komentar Galaksi.
Arini mengangguk samar. Semenjak pagi tadi,dia memang tidak henti hentinya bersin bersin. Hidungnya sudah merah dan terasa tersumbat. Kepalanya terasa pening,dengan rasa lemas yang juga mendera seluruh tubuhnya.
"Mammamam..." Celoteh si kecil sambil menggapai-gapai Arini.
Arini menggeleng,dia tidak mau mendekat. Bahkan sikecil sudah mulai merengek karena tidak kunjung dipeluk ibunya juga.
"Gendonglah dulu,Astronot sepertinya haus." Ujar Galaksi menengahi.
"Tidak tuan,saya sedang kurang enak badan. Nanti Astronot tertular." Tolak Arini halus.
Dia juga tidak tega melihat sikecil menangis. Tapi bagaimana lagi,dia takut sikecil juga ikut tertular olehnya.
"Susui dulu putramu nak,kasihan dia." Usul Bibi Jane.
"Ayo,Astronot menunggu." Imbuh Galaksi.
Arini bukan tidak mau,hanya saja ia takut jika Astronot akan sakit karena tertular. Tapi,disatu sisi dia juga sedih melihat putranya menangis.
"Ayo,beri dia minum." Titah Galaksi datar.
"Mm,tapi tuan-"
"Anakku haus Arini!" Sela Galaksi.
Arini mematung sejenak. Anakku? Arini merasa ada yang menganjal ketika Galaksi berkata demikian.
"Dia tidak mau minum susu formula sejak kemarin malam. Dia kehausan,kenapa kamu tega membuat Astronot menderita?" Desak Galaksi.
Arini mengalah,ia mengambil alih Astronot. Segera membawa sikecil bersamanya,meninggalkan Galaksi. Kepalanya terlalu pening untuk meladeni tuanya tersebut saat ini. Namun,diam diam Galaksi mengekori Arini. Dia juga merasa khawatir saat melihat keadaan wanita itu. Wajahnya pucat,hidungnya merah,bibirnya kering. Nampak jelas jika keadaan wanita itu sedang tidak baik baik saja.
"Arini?" Panggilnya,setelah sekian lama menunggu didepan pintu.
"Arini?" Panggilnya lagi,namun belum ada jawab sedikitpun dari dalam sana.
Krieeet
"Arini,kamu ada didalam?" Panggilnya,setelah memutuskan untuk masuk kedalam.
Galaksi menemukan Arini yang tengah terduduk diatas sofa dengan si kecil yang berada dipangkuanya. Arini duduk sambil memejamkan matanya,kedua tanganya memuluk si kecil yang juga terlihat terlelap.
"Arini,kamu tidur?" Panggil Galaksi bingung.
Wanita cantik itu menutup matanya. Namun saat dipanggil,dia sama sekali tidak bangun. Sedangkan si kecil terlihat terlelap namun sebagian wajahnya tertutupin kain yang juga menutupi sebagian tubuh bagian atas Arini. Galaksi bisa menebak,jika si kecil terlelap dengan keadaan masih menyusu.
"Arini,kamu baik baik saja?" Panggil Galaksi sambil berlutut dihadapanya.
Masih tidak ada respon dari siempunya nama yang membuat Galaksi mulai risau.
"Arini,kamu bisa mendengarku?"
Tangan kekar pria tampan tersebut terangkat untuk menyentuh pipi Arini. Betapa kagetnya dia,saat merasakan sengatan panas yang begitu nyata dari suhu tubuh Arini.
"Arini demam?" Monolognya kecil.
"Arini buka matamu,Arini?" Panggilnya sambil menepuk-nepuk pipi Arini pelan.
"Arini?!" Galaksi semakin risau,saat wanita cantik itu tak kunjung membuka mata.
"Dia pingsan?" Lirihnya kecil.
Galaksi berpikir sejenak. Dirumah ini hanya ada dirinya dan mereka berdua-Arini dan Astronot. Sedangkan bibi Jane dan suaminya sudah pamit pergi kekebun anggur beberapa saat yang lalu. Sedangkan sang adik-Gemintang,pria itu tengah workout disalah satu gym terdekat. Galaksi bingung harus berbuat apa saat ini. Keadaanya terlalu urgen,namun dia juga tidak mau lancang.
Dia harus menelphone dokter,tetapi sebelum itu ia harus memindah Arini dan Astronot terlebih dahulu. Namun masalahnya,dia tidak mau sembarangan bertindak tanpa sadar. Bagaimanapun juga Arini masih bukan mahromnya. Dalam ajaran agamanya,menyentuh wanita yang bukan mahromnya adalah dosa besar. Walaupun Galaksi pernah mencium Arini,akan tetapi itupun karena spontanitas. Jadi untuk saat ini,dia tidak mai gegabah lagi dalam bertindak.
****
TBC
GG Bersaudara update yo🖑🖐
Hayoo,cung yang masih setia nunggu GG update?? jangan lupa tinggalkan jejaknya dikolom komentar ya🖑🖐
Aku tunggu,biar semangat nulisnya ditengah tengah kesibukanku PTS sama sidang OSIS :')
Ok,jumpa lagi nanti yoo🖑🖐
#SehatSehatSelaluAllReadersSemua😍
Babay😙😙
Sukabumi 02 0kt 2020
#curhat dikit