Andai Hugo mencintainya, Ana akan memilih untuk tetap bertahan dan tinggal di rumah besar itu bersamanya. Tapi Hugo tak mencintainya, pria itu membencinya karena menganggap Ana telah menipunya hingga terpaksa harus menikahinya.
Ana memilih pergi setelah menandatangani surat gugatan cerai dari Hugo. Dengan sisa uang yang di milikinya, Ana memulai kehidupan barunya di kota lain seorang diri.
Tiga tahun berlalu, kabar mengejutkan datang dari salah satu kerabat Hugo yang tanpa sengaja bertemu dengannya. Ana dihadapkan pada satu pilihan sulit, hingga pada akhirnya Ana memutuskan datang menghadiri pemakaman mantan papa mertuanya.
Pertemuannya kembali dengan Hugo memberinya kesadaran baru, bahwa jarak dan waktu tak mampu mengikis rasa cintanya pada pria itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NonAden119, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32. Binar cinta di mata Hugo
Ana merasakan jantungnya berdegup kencang, ia tahu cepat atau lambat hal ini akan terjadi pada mereka berdua. Ia mencintai Hugo, teramat sangat cinta. Hingga ia merasa tak bisa berpaling pada hati dan cinta yang lain karena hati dan pikirannya selama ini selalu saja tertuju pada pria itu. Tapi, tetap saja Ana tidak bisa menghalau begitu saja kenangan buruk masa lalunya saat dirinya bersama Hugo dulu.
“Aku menginginkanmu, sayang.” Hugo berada di atasnya dengan kedua tangan berada di kedua sisi tubuhnya. Rasanya jantungnya seperti meledak, Ana diam tak bergerak ketika Hugo menurunkan tubuhnya dan dengan gerakan penuh perasaan lelaki itu mengecup keningnya dalam dan lama. Kedua matanya langsung menutup rapat.
"Sayang." Napas hangat Hugo menyapu keseluruhan wajah Ana, debur jantung Ana semakin tak beraturan. Ia mencoba rileks dan bersikap tenang meski tubuhnya gemetaran.
Ana bisa saja memalingkan wajahnya dan menolak ciuman Hugo saat bayangan kejadian buruk malam itu tiba-tiba saja melintas dalam benaknya tanpa ia mampu mencegahnya. Tapi Ana masih bisa berpikir jernih dan tak ingin membuat Hugo kecewa jika ia terang-terangan melakukannya. Setengah mati Ana mencoba berusaha melenyapkan bayangan buruk masa lalunya dengan membalas sama lembutnya perlakuan Hugo padanya barusan.
Namun tetap saja ia tak bisa mencegah reaksi tubuhnya yang seketika menegang dan detak jantungnya yang berdegup semakin kencang juga wajahnya yang mendadak berubah pias. Hugo tengah menatap wajahnya lekat setelah mengucapkan sesuatu yang membuat dinding hati Ana bergetar hebat. Dan laki-laki itu kini menundukkan wajah, bersiap ingin menciumnya lagi.
“A-ku haus,” ucap Ana setelah beberapa saat lamanya, dan kata-kata itu akhirnya keluar dari mulutnya sebelum bibir Hugo kembali menyentuh bibirnya.
“Haus?” Hugo menaikkan satu alisnya, sejenak menatap Ana yang kemudian menjawab dengan menganggukkan kepalanya. Hugo pun tersenyum, ia bisa merasakan ketegangan di wajah Ana. "Oke. Tunggu saja di sini, sayang. Aku akan mengambilkannya untukmu."
Hugo pun bergerak menjauhkan tubuhnya dan bergegas turun dari atas tempat tidur, dan kesempatan itu digunakan Ana untuk segera bangun lalu duduk di tepi ranjang sembari merapikan gaunnya yang sedikit acak-acakan.
Hugo berjalan menuju kulkas yang berada di sudut kamar mereka, dan kembali lagi dengan membawa air dingin dari botol plastik kemasan di tangannya. Ia berikan botol itu pada Ana yang menerimanya dengan tangan bergetar dan dengan gerakan terburu-buru langsung membuka tutup botolnya. Alhasil, sebagian isinya tumpah ke lantai dan juga mengenai gaun yang dipakainya.
“Maaf,” kata Ana dengan nada suara berbalut rasa penyesalan yang begitu kentara ketika menatap ke lantai yang basah, ia tak peduli dengan gaunnya yang juga basah begitu melihat Hugo yang bergerak cepat mengambil kotak tisu di atas meja dan mengelap lantai di bawah kakinya.
“Biar Aku saja yang melakukannya,” cegah Hugo sembari menahan tangan Ana yang berniat ingin membantunya agar tetap duduk di tempatnya. “Aku hanya perlu mengelap lantainya sedikit. Sebaiknya Kau segera mengganti gaunmu yang basah itu,” imbuhnya lagi dengan suara lembut.
Ana tertegun dan hanya bisa menatap Hugo yang berjongkok di dekatnya, ia baru tersadar ketika Hugo sudah berpindah tempat dan duduk di sebelahnya. “Kenapa bengong, sayang? Apa Kau ingin Aku yang membantumu mengganti pakaianmu yang basah ini? Dengan senang hati Aku akan melakukannya untukmu.”
“Hah?” Ana menoleh cepat dan perlahan menarik tangannya yang berada dalam genggaman tangan Hugo. “Aku bisa melakukannya sendiri,” sahut Ana cepat dan segera berjalan menuju lemari pakaian dan mengambil baju ganti lalu cepat-cepat masuk ke dalam kamar mandi.
Hugo geleng-geleng kepala lalu tersenyum melihat tingkah Ana, ia pun beranjak berdiri dan segera berganti pakaian dengan baju yang lebih santai.
“Sayang, Aku turun dulu. Kau tunggu saja di kamar kita, Aku akan segera kembali secepatnya.” Kata Hugo dari balik pintu kamar mandi yang tertutup rapat, ia bisa mendengar suara air dari kran yang dibuka. Ana hanya mengangguk tanpa suara, tentu saja Hugo tak bisa melihatnya.
“Apa Kau mendengar ucapanku, sayang?” tanya Hugo lagi dengan nada suara lebih kencang, rupanya ia masih betah menunggu jawaban Ana dan belum beranjak dari depan pintu.
“Iya,” sahut Ana cepat setelah mematikan kran kamar mandi. Ia menempelkan telinga di pintu dan menarik napas lega begitu mendengar suara pintu tertutup setelahnya.
Ana bergegas membersihkan sisa riasan di wajahnya lalu mandi dan berganti pakaian. Ia keluar dan tidak mendapati Hugo di kamar. Ana lalu berdiri di depan cermin dan menatap pantulan dirinya, wajahnya memanas begitu melihat ada tanda kemerahan di bagian lehernya. Lalu ia teringat pada Hugo, entah kapan lelaki itu melakukannya, Ana bahkan tak bisa mengingatnya.
Ana bergidik membayangkan malam ini ia akan tidur dengan Hugo. Mereka sudah menikah, ia tak mungkin menolak Hugo saat laki-laki itu meminta haknya. Memikirkan hal itu membuat jantungnya kembali berdegup kencang.
Tenang, Ana. Kau mencintainya dan Kau pun telah setuju menikah dengannya. Hugo suamimu kini, dan dia berhak atas dirimu. Kau miliknya.
Saat suara-suara tengah sibuk membuat gaduh di kepalanya, terdengar suara ketukan di pintu yang serta merta mengalihkan perhatian Ana. Hugo melangkah masuk dan tersenyum lebar melihat Ana langsung berdiri menyambutnya.
“Sayang,” serunya lalu merengkuh Ana masuk ke dalam pelukannya. “Hem, wanginya istriku ini.” Ucapnya lagi sembari membenamkan wajahnya di rambut Ana. Satu kebiasaan baru Hugo yang dicatat Ana baik-baik dalam hatinya dan ia senang Hugo menyukai aroma rambutnya.
“Dari mana?” tanya Ana setelah Hugo melepaskan pelukannya dan membimbing tangannya menuju sofa.
“Ada Sony datang dan ingin mengucapkan selamat atas pernikahan kita. Dia ingin bertemu denganmu, tapi Aku katakan Kau sedang beristirahat.” jawab Hugo sambil mengusap-usap pipi Ana dengan ujung jemarinya.
Diingatkan soal pengacara papa Fitra itu, membuat Ana teringat kembali pada syarat dari surat wasiat dan harta yang akan mereka terima.
“Apa ada yang lain yang ia katakan selain dari ucapan selamat atas pernikahan kita?” tanya Ana dengan wajah penasaran.
Hugo menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa di belakangnya, ia menarik pinggang Ana agar merapat padanya. Ana menyandarkan kepalanya di dada Hugo dan ia bisa mendengar degup jantung pria itu yang berdetak cepat.
“Aku katakan padanya, kalau pernikahan yang kita lakukan bukan sebuah kepura-puraan agar harta warisan itu tetap jadi milik kita. Aku bersungguh-sungguh mencintaimu dan berjanji atas nama mendiang papaku, Aku akan membahagiakan istriku dan tidak akan pernah membuat hatinya bersedih dan kecewa.” Ungkap Hugo sembari meraih tangan Ana dan mengecupnya sayang. “Aku tidak butuh waktu enam bulan untuk membuatmu terus bertahan hidup bersamaku. Aku akan membuatmu bahagia setiap saat, setiap waktu. Aku tak akan mengulang kesalahanku di masa lalu yang akan membuatku harus kehilangan dirimu lagi. Percaya padaku, sayang.”
Ana menatap dalam mata Hugo, hingga ia bisa melihat kejujuran dan ketulusan di mata pria itu. Mata yang dipenuhi cahaya dan binar-binar cinta yang hanya tertuju padanya, dan Ana meyakinkan hatinya kalau ia akan mampu mewujudkan impian mereka bersama dan bisa menepis bayangan buruk masa lalunya.
▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎
karya ini mengandung rasa cinta dan kasih 🌹