Setelah terpeleset kulit pisang, Nadia pindah memasuki dunia sebuah novel. Ia menempati tubuh kakak tiri dari pemeran utama wanita.
Kakak tiri ini tokoh jahat yang tergila-gila pada Pemeran utama pria. Memaksa pemeran utama pria menjadi tunangannya, Mengatur kegiatan, membuntuti, mempermalukan, dan melabrak semua teman wanita yang mendekati tunangannya. Perilakunya membuat semua orang termasuk keluarganya membencinya.
Pemeran utama pria muak padanya dan diam-diam jatuh hati pada pemeran utama wanita yang lembut. Mengetahui hubungan mereka, Kakak jahat merencanakan kecelakaan untuk membunuh pemeran utama wanita.
Tapi rencananya terbongkar. Tak hanya diusir dari keluarga, wanita jahat itu dijebloskan ke penjara selama 10 tahun, lalu mati dan mayatnya dimakan anjing.
Nadia bertekad untuk merubah nasibnya. Memutuskan pertunangan lebih awal dan ingin membalas dendam pada mereka yang menyakitinya.
Tapi paman pemeran utama pria mulai mengganggunya.
"Gadis, ayo kita menikah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ismasama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KALUNG
Liam sepertinya mendengar pintu terbuka. Ia berbalik kemudian pandangan mereka bertemu.
Awalnya Nadia ingin kembali dan menutup pintu. Namun karena laki-laki itu sudah melihatnya iapun mendatangi Liam dengan canggung.
Liam melirik kantong kresek di tangannya.
"Kemana malam-malam begini?" tanyanya.
"Aku hanya ingin membuang sampah." jawab Nadia. Berdiri di dekatnya menunggu lift.
Liam mendekatinya dan hendak mengambil kantong kresek itu. "Berikan padaku. Aku akan melakukannya. Kamu kembali dan tidurlah."
Tapi Nadia segera menjauhkan tangannya. "Tuan tolong. Anda adalah presiden perusahaan. Itu tidak pantas. Kita juga hanya bertemu beberapa kali jadi berhentilah bersikap akrab. Kita tidak berteman. Lagipula itu canggung."
Pintu lift terbuka. Nadia masuk diikuti Liam.
"Aku minta maaf."
Nadia terdiam.
"Aku minta maaf. Maafkan aku. Kontrak itu kau tak menyukainya? Mari kita ubah itu. Maaf aku bermain-main. Aku tak akan membuatmu kesal lagi." ucap Liam sungguh-sungguh.
Nadia meliriknya. "Tidak. Saya yang perlu minta maaf. Maafkan saya bersikap tak sopan saat itu. Saya tak masalah memasak untuk anda dua kali sehari. Hanya saya tak mengerti mengapa anda melarang bahkan memberikan sanksi apabila saya memasak untuk orang lain. Itu tak masuk akal."
Liam kian muram. Pemilihan kata gadis itu yang begitu formal membuatnya merasakan jarak yang kian jauh. Ia juga mengerti mengapa gadis itu membencinya. Bila ia ada di posisi Nadia, ia juga akan membenci dirinya karena membuat aturan yang tidak jelas. Tapi...
"Aku cemburu."
....
Nadia mendongak. "Apa?"
"Aku cemburu."
* * * * * *
Hari minggu.
Nadia dalam perjalanan menuju ke rumah keluarganya. Rencananya hari ini adalah mengambil mobil, Dokumen sahamnya, dan pembagian dividen sahamnya yang ayahnya katakan disimpan dalam rekening khusus. Nadia merasa tak tenang meninggalkan mereka di rumah itu.
Sampai di rumah ia mendengar suara tawa dari ruang tamu. Di sana seluruh keluarganya sedang berbincang dengan hangat.
Ketika Nadia muncul Clara segera memanggilnya.
"Nadia Kemarilah. Aku baru pulang photo shoot di luar kota dan membawakan kalian banyak oleh-oleh." Clara tersenyum tulus.
Nadia masuk dan melihat banyak tas menumpuk di meja. Ia ingin duduk di kursi terjauh tapi Clara menariknya untuk duduk disampingnya.
"Kakak... Lihatlah. Apa ada barang yang kamu sukai? Kakak bisa mengambilnya."
Clara mengatakannya. Tapi tumpukan tas dimeja sudah dibagi-bagi dan disimpan didepan masing-masing keluarganya. Nadia iseng menunjuk perhiasan di tumpukan di depan ibu tirinya.
"Aku ingin cincin itu." ucap Nadia tanpa ragu. Bermaksud mengambilnya.
Wajah Rini berubah suram. Clara segera mencegahnya.
"Ah kakak... Maafkan aku. Itu untuk Ibu. Aku sudah membelikan sesuatu yang cocok untuk kakak. Ini dia." Clara menggali sesuatu di tumpukannya. Lalu mengeluarkan tas kertas dan menyerahkannya pada Nadia.
"Bukalah. Apa itu?" Nenek tampak antusias.
Nadia mengeluarkannya. Itu adalah sebuah kalung dengan manik-manik merah besar dengan rantai besi di sekelilingnya. Sangat norak dan ketinggalan jaman. Sekilas Nadia bisa melihatnya bahwa ini hanya barang murah yang Clara comot di pasar.
"Kakak, apakah kamu menyukainya?" Clara memandangnya dengan antusias.
"Cobalah." ucap Nenek.
Nadia tak bergeming dan malah memasukannya kembali ke dalam kantong kertas.
"Terima kasih. Aku akan memakainya nanti." ucap Nadia.
"Kakak apa kau tidak menyukainya?" mata Clara berkaca-kaca. Suasana yang awalnya gembira berubah suram.
"Nadia, apa yang kau lakukan? Adikmu sudah memberikanmu hadiah tapi kau bahkan tak menghargainya. Apa susahnya memakainya? Kami hanya ingin melihatnya." Rini tampak tak senang. Putrinya sudah bekerja dan susah payah membelikannya hadiah tapi gadis sombong itu tak menghargainya.
Melihat Clara menangis Darmawan juga mengerutkan alisnya.
"Nadia. Cobalah. Adikmu hanya ingin melihatnya sebentar. Apa salahnya menyenangkan adik yang sudah memberimu hadiah?" tanya Neneknya.
Nadia tak mempedulikan mereka. Ia berdiri.
"Aku lelah. Aku ingin istirahat di kamarku." ia berjalan menuju tangga.
"Tunggu!" suara di ruang tamu terdengar.
Ini dia. Nadia berbalik dan bertanya: "Ada apa?"
Clara tampak malu-malu. Ibu tirinya salah tingkah.
Darmawan berdehem. "Nadia. Karena akhir-akhir ini kamu tak tinggal di rumah ini, jadi Clara bertukar kamar denganmu. Barang-barangmu sudah dipindahkan ke kamarnya"
Nadia mencibir dalam hati. Kedua ular itu pasti dengan sengaja melakukannya untuk membuatnya emosi. Tapi Nadia tak akan terpancing.
"Apakah itu betul?" Nadia menatap Clara.
"Kakak... Maafkan aku. Karena barang-barangku banyak jadi aku membutuhkan kamar yang lebih besar. Apakah kakak marah? Kalau kakak keberatan aku akan bertukar lagi...."Clara tampak tak berdaya.
"Nadia... Berhenti menyulitkan adikmu. Adikmu itu artis dan sudah mandiri. Lagipula kamu akan jarang tinggal di rumah jadi tak masalah kalian berganti kamar." wajah Rini tampak cemberut.
Nadia tertawa. "Ibu... Jangan terlalu banyak berfikir. Aku tak keberatan kalian memindahkan kamarku. Tapi kenapa tak ada satupun yang mengabariku? Kenapa tak ada yang meminta ijin padaku? Betapa tidak sopannya?" matanya menyipit.
Semua orang di ruang tamu tampak malu.
Darmawan melambaikan tangannya. "Itu kami melakukannya secara buru-buru jadi tidak ada yang mengabarimu. Tata letak kamarmu masih seperti sebelumnya jadi kamu tidak akan merasakan perbedaan apapun kecuali ruanganannya yang lebih kecil.
Nadia: "Meskipun tata letaknya sama tapi karena kalian memindahkannya aku tak yakin apakah barang-barangku masih utuh."
"Nadia! Apakah kamu menuduh kami mencuri batangmu?" Rini tampak masam.
"Ibu. Aku akan memeriksanya dan melihat apakah ada barangku yang hilang. Kalau sampai ada yang hilang, maka tersangkanya adalah orang di rumah ini." Nadia berbalik dan segera pergi ke kamarnya.
"Betapa kasarnya!" Nenek merasa tak nyaman. Pada akhirnya mereka bertiga menyusul Nadia ke kamarnya. Gadis itu sedang membuka-buka lemari pakaian, tas, perhiasannya.
"Tiga kalungku dan satu antingku hilang!" ucap Nadia sinis. Menunjukan kotak perhiasannya.
"Bagaimana mungkin?" Ke empatnya membeku di tempat.
"Ayah. Kau tau kalung giok biru pemberian ibuku? Kau tau aku selalu menyimpannya di kotak ini." Nadia menunjukan kotak kosong. Darmawan mengingatnya dan mengangguk.
"Sekarang kalung itu tak ada. Lalu kalung berbentuk kelinci dengan hiasan permata di sampingnya, kalung berlian merah berbentuk mawar dengan tali emas putih, dan anting mutiara berbentuk bulat. Aku kehilangannya."
"Omong kosong!" wajah Clara memucat.
"Kenapa? Kalian memindahkan barangku dan sekarang aku kehilangan barangku kalian akan menyangkalnya? Ayah... Apakah menurutmu aku berbohong?" Nadia menatap Darmawan dengan amarah.
Darmawan tau betapa pentingnya kalung pemberian mantan istrinya bagi Nadia. Saat istrinya meninggal, kalung itu satu-satunya hal yang dia wariskan pada Nadia.
"Ayah. Karena kalian yang memindahkan barangku, maka aku terpaksa memeriksanya di kamar Clara."
"Kamu berani!" suara Rini.
"Kenapa bu, apa ibu gugup? kalau ibu tak bersalah kenapa ibu gugup?"
Clara memegang tangan ibunya dan menggelang. "Tidak apa-apa kakak. Periksalah. Mungkin kalungmu tertinggal di kamarku."
Nadia mencibir dan segera berjalan menuju bekas kamarnya. Ia memeriksa lemari perhiasan Clara. Mengamatinya dengan seksama.
Clara melihatnya dengan tenang. Ia menyimpan perhiasan berharganya dalam laci rahasia yang tak diketahui siapapun. Laci itu memiliki pola rumit dan tombolnya tersembunyi dengan baik di bawah meja. Tak ada siapapun yang akan menemukannya.
Nadia tampak dengan santai meraba-raba di bawah meja. Lalu,
KLIK,
Laci rahasia itu terbuka.
Wajah Clara memucat.
Nadia melihat perhiasannya dan segera berseru. "Ayah lihat! Ini adalah perhiasan ibuku!" Nadia menunjukan kalung giok biru. Lalu tangannya mengambil perhiasan lain. "Dan ini kalung sebelumnya yang aku sebutkan. Semuanya ada di sini!"
Darmawan dan yang lainnya melihat kalung itu. Semuanya persis seperti yang disebutkan Nadia sebelumnya. Kalung kelinci, kalung mawar, anting berlian, dan yang mereka kenali yaitu kalung peninggalan ibu Nadia.
Darmawan melihat Clara dengan ragu.
Clara mengepalkan tangannya. Jelas-jelas dia hanya menyembunyikan satu kalung milik Nadia. Tapi gadis tak tahu malu itu mengakui miliknya.
"Kakak... Itu semua kalungku. Kembalikan!" Clara menggeram.
Nadia memamerkan kalung di tangannya. "Kalungmu? Ayah lihatlah... Bukankah kalung ini adalah peninggalan ibuku? Lalu kalung lain yang aku sebutkan sebelumnya juga kalungku... Aku membelinya sendiri dan belum pernah menunjukannya kepada kalian. Sekarang semua kalungnya ada dalam laci perhiasanmu. Apa maksudnya ini? Apakah kamu akan mengakui barang milikku menjadi milikmu?" Nadia menggoyangkan perhiasan di tangannya di udara.
Clara terdiam penuh amarah. Bila ia bersikeras kalung-kalung itu miliknya, dia sudah terlanjur mengambil kalung milik Nadia jadi ayah dan neneknya tidak akan mempercayainya.
"Sudahlah... Mungkin adikmu salah menyimpannya di lacinya. Jangan bertengkar." Suara Rini terdengar.
Darmawan dan neneknya mengangguk.
Nadia memasukan semua perhiasan itu ke dalam tasnya dengan puas. "Ya. Pasti adikku lupa. Sekarang karena ini miliku aku akan mengambilnya kembali." Nadia menggoyangkan tasnya di depan Clara. Memprovokasi
Lanjut dong kk🙏🙏
dalangnxa...🙄🙄
lumyn buat nmbh model usaha..😁😁