Hidup tanpa orangtua memang sulit. Adea adalah gadis yatim piatum yang di tinggal mati oleh kedua orang tuanya. Hingga membuat Dea menjadi hidup bebas.
Suatu hari, paman dan bibinya datang ke kota untuk menjemput Dea. Mereka mengajak Dea tinggal bersama.
Dea terpaksa tinggal bersama paman dan bibinya. Yang ada di lingkungan pesantren. Gaya hidup Dea sangatlah bertentangan dengan masyarakat sekitar.
Walau demikian, Dea di lamar oleh seorang ustadz. Yang mencintai Dea.
Bagaimana perilaku Dea setelah menikah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RA_TMYHU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merokok tidak baik untuk kesehatan
بسم الله الرحمن الرحيم
▪︎▪︎▪︎
Malam hari, Dea mengobati luka ustadz Azmi. Sedangkan Yuli dan Umma Sila membuatkan makan malam. Setelah makan malam sudah matang mereka makan bersama.
Sebenarnya luka ustadz Azmi tidak begitu parah. Namun, entah mengapa istrinya begitu khawatir. Bahkan Dea bersikeras memandikannya setelah makan malam.
Ustadz Azmi yang di perlakukan seperti itu, hanya bisa pasrah. Lagian tak ada yang melihat juga, jadi ia sangat menikmati sentuhan istrinya.
"Mas?" panggil Dea seraya melepaskan piyama tidur ikut masuk ke dalam bak mandi.
Ustadz Azmi kaget, sebab tadi Dea sudah mandi. "Dek, ini sudah malam sayang, jangan mandi malam kegini." Cegahnya kemudian.
"Aku bantuin mas mandi," balas Dea sembari memperlihatkan tubuh polosnya pada sang suami.
"Jangan mulai lagi Dek, mas ini pria normal." Ustadz Azmi menarik lembut tubuh Dea dan mendudukkan di atas pangkuannya.
"Aku tau mas ingin kan?" Dea meraba ke bagian sensitif suaminya.
"Iya mas pingin, tapi kita tidak bisa melakukannya. Adek di anjurkan untuk tidak berhubungan sebelum kondisi kesehatan Adek benar-benar pulih." Tutur ustadz Azmi.
"Gak kok, aku udah kuat. Mas tenang saja, aku juga menginginkannya!" seru Dea dengan satu tangan meraba di area sensitif sang suami. Dan tangan yang satunya mengelus lembut dada ustadz Azmi, yang terlihat sedikit lecet.
"Dek," ustadz Azmi menarik tangan Dea yang begitu nakal bermain di bagian terlarangnya. Bagian terlarang khusus buat istrinya. Yaitu Dea, tapi ia tak bisa membiarkan Dea melakukan hal itu. Ia pria normal, sudah pasti nafsunya akan terpancing.
"Mas ayo kita melakukannya," ajak Dea.
Ustadz Azmi yang semula bersikeras menolak, akhirnya terbuai dengan rayuan istrinya. Ia menggendong tubuh Dea menuju ranjang, karena tak mungkin ia melakukan hal itu di dalam kamar mandi. Bisa-bisa Dea jatuh sakit, dan juga sangat berbahaya bagi anak mereka yang masih di dalam kandungan Dea.
"Dek, apa ada yang sakit?" tanya ustadz Azmi selepas berhubungan.
"Badan aku terasa sakit mas, abisnya mas melakukannya lama bangat." Keluh Dea.
"Maaf ya, apa kita perlu ke klinik?" tanya ustadz Azmi panik.
Dea menggeleng. "Pijat aja mas," pintanya.
"Tapi Dek, anak kita!" seru ustadz Azmi seraya mengelus perut Dea.
"Gak apa-apa mas, udah pijat kaki aku saja sama tangan juga." Dea mengangkat kakinya, lalu menaruhnya di paha ustadz Azmi yang duduk bersilang di sampingnya.
"Pake baju dulu Dek, ntar masuk angin." Ustadz Azmi turun dari ranjang menuju lemari, lalu ia kembali menghampiri Dea dengan piama di tangannya.
"Mas pakein ya," ucap ustadz Azmi yang dianggukan Dea.
"Mas apaan sih? Menyuruh ku pake baju, mas sendiri masih telanjang." Tutur Dea kesal, ia berpikir suaminya sudah memakai baju. Tapi nyatanya belum memakai apa-pun di tubuh polos suaminya.
"Jangan ngambek dong sayang, mas mau mandi dulu terus pakei baju." Ustadz Azmi mengecup kedua pipi Dea.
"Cepatan mandinya mas, aku mau tidur." Dea mendorong wajah ustadz Azmi yang hendak mengecup bibirnya.
▪︎▪︎▪︎
Selepas sholat subuh, ustadz Azmi membuatkan sarapan. Ia tak rela Dea membuat sarapan, apalagi sekarang Dea sedang hamil muda.
"Udah gak sakit lagi badannya?" tanya ustadz Azmi sembari menaruh napan yang berisi susu dan roti bakar ke atas nakas.
"Udah gak, tapi aku malas bangat bergerak." Jawab Dea masih memakai mukena, ia belum melepaskan mukena selepas sholat subuh tadi.
"Iya, gak usah bergerak Dek. Biar mas suap ya," ustadz Azmi duduk di dekat Dea yang sedang bersandar di bantal. "Lepas dulu mukenanya Dek." Ustadz Azmi meraih mukena, lalu melepaskan dan menaruhnya ke tempat biasa Dea menyimpan mukenanya dan juga baju koko.
Ustadz Azmi dengan teladan menyuapi Dea. Ia juga membantu Dea mandi, untung saja hari ini, hari libur. Tapi walau bukan hari libur, sudah pasti ustadz Azmi tidak datang mengajar. Karena ia tak pernah meninggalkan Dea dalam keadaan sakit. Terutama sekarang Dea sedang hamil.
"Mas, apa boleh aku meminta sesuatu?" tanya Dea.
"Boleh Dek, apa saja yang Adek ingin mas akan memenuhinya." Jawab ustadz Azmi.
"Okey, kalau begitu sekarang aku mengambil sesuatu dulu." Dea beranjak dari duduknya mendekati nakas.
Ia mengambil sebatang rokok dari dalam sana, lalu berjalan mendekati ustadz Azmi yang kaget bukan kepalang.
"Mas hisap rokok dulu, aku udah lama belum melihat orang merokok." Keluh Dea, entah mengapa ia sangat merindukan asap rokok dan bau alkohol saat hamil.
"Mas tidak pernah merokok Dek, yang lain aja ya. Adek mau makan apa? biar mas buatkan. Tapi jangan menyuruh mas merokok ya." Bujuk ustadz Azmi menghentikan tangan Dea, yang hendak memasang rokok.
Dea menggeleng, tiba-tiba air matanya jatuh. "Aku rindu bau asap rokok dan juga bau alkohol mas. Tapi mas gak mau turutin kemauan aku," ucapnya terisak.
Ustadz Azmi segera menghapus air mata Dea, ia tak bisa melihat istrinya menangis. Tapi kemauan istrinya tak bisa di penuhi, untuk saat ini.
"Merokok tidak baik untuk kesehatan!!" seru ustadz Azmi, "Dan juga mas tidak biasa merokok, apa bisa di ganti dengan ciuman saja?" tawarnya kemudian.
Dea hanya mengangguk, namun, sebelum ustadz Azmi memulai ciumannya ia meraih rokok yang ada di tangan Dea dan membuangnya ke tempat sampah.
"Adek beli rokok di mana?" tanya ustadz Azmi sembari mendekatkan wajahnya ke wajah Dea.
"Aku mengambilnya dari Paman kemaren." Jawab Dea.
▪︎▪︎▪︎
Ustadz Azmi melepaskan ciumannya, dan bersamaan dengan itu, air mata Dea kembali jatuh. Ustadz Azmi merasa heran dengan tingkah Dea, tak biasanya Dea menangis hanya hal sepele seperti ini. Tapi ia paham, mungkin bawaannya Dea hamil.
"Dek jangan nangis dong sayang, mas gak tahan lihat Adek menangis." Ustadz Azmi menghapus air mata yang bercucuran di kedua pipi Dea.
"Aku mau mas minum alkohol." Ucap Dea terisak semakin kencang.
"Astagfirullah Dek, merokok saja mas tidak pernah apalagi minum alkohol." Tutur ustadz Azmi kaget.
"Sedikit saja," rengek Dea manja.
Ustadz Azmi tersenyum simpul. Ia sangat menyukai sikap manja istrinya. Namun, ia merasa takut jika sang istri nekat memintanya untuk minum alkohol dan juga merokok.
"Dek jangan kegitu dong, mas gak mau!!" seru ustadz Azmi.
"Ya udah, kalau begitu ayo kita jalan-jalan." balas Dea.
"Sungguh? Adek gak marah kan?" ustadz Azmi tersenyum senang.
Dea hanya mengangguk.
▪︎▪︎▪︎
Sekali lagi 'ana ingatkan!!
Like, vote, beri rate bintang 5 di menu sampul ya.
Sambil baca novel ini, jangan lupa menanamkan perilaku mulia yang terkandung di dalam bacaan, dalam kehidupan sehari-hari.
Man jadda wajada. ...