Wajah dan mata itu mirip sekali dengannya. Aku rindu sekali dengan kehadirannya, Tak bisakah Tuhan mempertemukan kita walau hanya sejenak.
Apakah dia sudah melupakanku bahkan sudah memiliki penggantiku.?
Aku menunggumu Sagara
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mhaya Yanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 32 : Perhatian Bryan dan Sofia
Setiba di dalam Apertemen Alesha langsung merebahkan tubuhnya di kasur yang pernah di tempati dirinya dan Jihan. Ya untuk sementara Alesha lebih memilih tinggal disini . Netranya menatap lurus kedepan sembari memikirkan langkah apa yang harus diambil nantinya.
Ia tak mau salah mengambil langkah apalagi harus menyusahkan orang lain . Alesha ingin membuktikan bahwa dirinya mampu hidup tanpa dibawah naungan Wilson.
Meskipun sedih tapi ia harus tetap tegar dan kuat menghadapi lika- liku kehidupan yang lumayan mencekam ini. Iya tau keluarganya mengkhawatirkannya tapi ketika mendengar cemooh yang dilontarkan Adrian. Alesha lebih memilih hidup sendiri dengan hasil kerja kerasnya sendiri.
Kedua laki- laki yang tadi mengantarnya mungkin sudah kembali kerumahnya. Alesha berkali-kali berterima kasih pada kedua sosok itu karena sudah mengantarkan dirinya sampai depan pintu Apertemen.
Hanya mereka yang tau tempat tinggal Alesha dan juga Jihan tentunya.
"Haahhhh..... "
Alesha bernafas kasar kala mengingat beberapa hari ini masalah terus saja menghampirinya. Awal mula dari Arsen yang memarahinya lalu cekcok antara Saga dan Abraham malahan kini dengan papa kandungnya sendiri yakni Adrian.
Entah apa lagi esok masalah yang menimpa Alesha . Ia sudah menyiapkan mental menyambut hari esok yang akan dilaluinya tanpa naungan keluarga Wilson.
Drrtt.... Drrtt.. Drtt..
Benda pipih yang sudah aktifkan tadi tiba- tiba saja berdering bersamaan dengan itu suara melengking suara gadis terdengar dari ujung sana.
Ya Jihan yang menghubungi Alesha karena Adrian kerumahnya dalam keadaan marah. Pria itu mencari Alesha di kediamannya semalam dan Jihan yang tak tau apa- apa menjawab dengan sejujurnya bahwa dirinya tak pergi dengan Alesha malam itu.
Tuuuttttt ......
📱"Jihan : Al, kau darimana saja hah. Kau membuatku sekeluarga khawatir. Om Adrian kesini kemarin bahkan dia marah- marah karena kamu tak ada disini. Padahal aku sudah bilang aku gak tau kamu dimana."
📱" Alesha: Aku ada di apertemen sekarang Jihan."
📱 "Jihan: Kenapa kamu gak memberitahuku Al, Setidaknya ngabarin biar semua orang gak panik."
📱" Alesha : Panjang ceritanya Han, Aku capek yang mau menceritakannya."
📱"Jihan: Wait, Tunggu aku disana Al. Jangan kemana- kemana lagi. Papa mamaku juga cemas semalam, Aku akan memberitahu mereka kalau kamu baik- baik saja."
📱" Alesha: Baiklah terserah kau saja, Salam sama papa mama ya . Maaf udah bikin cemas."
📱"Jihan: Oke .. Oke Al, aku sampaikan salammu padanya."
Tut....
Hahhh....
Alesha mernafas kasar mendengar cerita Jihan, Bahkan gadis itu seakan beruntung telah mengenal keluarga Laurent sebelumnya.
"Kenapa keluargaku tak memberikan celah untuk aku menjelaskan semuanya. Sedangkan keluarga Jihanlah yang sepertinya sangat menantikan penjelasanku." Ucap Alesha dengan mata yang sudah berembun. Sedikit kecewa dengan sikap keluarganya yang tak sekalipun memberikan dirinya kesempatan menjelaskan.
Beberapa jam setelahnya terdengar sayup- sayup kehaduhan di luar kamar. Alesha yang sedari tadi melamun di dalam kamar hingga tanpa sadar tertidur saking lelahnya.
Mata Alesha terbuka pelan ketika mendengar sayup -sayup suara tersebut. Niat hati ingin berdiri namun ia urungkan kala Jihan lebih dulu masuk kedalam kamarnya disusul dengan Bryan dan Sofia.
"Alesha, Kau tak apa kan?" Tanya Jihan langsung duduk di samping Alesha dengan sisa kesadaran yang hampir terkumpul sepenuhnya.
"Kau lihat, aku tak apa- apa Han" Ucap Alesha tanpa sadar jika pipinya nampak memar di wajah mulus itu.
Sofia dan Brian yang melihat itu sontak saling pandang. Siapa yang telah berani memukul Alesha fikirnya.
"Nak, Pipimu.?" Tanya Sofia mencoba menyentuh pipi memar itu dengan sebelah tangannya. Mata Jihan juga mengarah kesana, pipi mulus itu nampak membiru di matanya.
"Al, Siapa yang tega menganiayamu seperti ini." Tanya Jihan sembari melihat nyilu pipi itu, Pastinya sangat sakit jika dirinya yang mempunyai tanda itu.
Alesha tak menjawab malahan gadis itu menundukkan kepalanya bersedih. Ketiganya yang melihat Alesha seperti itu saling pandang, kenapa? Ada masalah apa? Pikirnya.
"Nak, ceritakanlah sama kami. Jika kamu ada masalah jangan sungkan, mamakan udah pernah bilang jangan pernah merasa sendiri. Ada mama papa Brian dan Jihan bersamamu." Papar Sofia mengusap pelan rambut Alesha, Gadis itu tak bisa lagi membendung kesedihannya di depan Sofia.
Menangis dalam dekapan Sofia membuatnya seakan lega dengan derita hidupnya. Ia tau jika Sofia bukanlah siapa- siapa, Hanya orang asing yang menganggapnya seorang anak karena akrab dengan anak kandungnya.
"Aku pergi dari rumah ma." Singkat Alesha membuat Sofia,Jihan , dan Bryan terkejut. Sofia melepaskan pelukannya sembari menatap lamat gadis yang menangis itu.
" Jangan bercanda nak? Kenapa kamu pergi dari rumah.?" Tanya Sofia yang masih dilanda kebingungan dengan cerita yang diucapkan Alesha.
"Aku semalam berbohong sama papa kalau aku mau pergi sama Jihan. Tapi malangnya aku kehujanan ma, Aku gak tau selanjutnya gimana. Tapi kata orang yang menemukanku aku pingsan ditaman kota." Papar Alesha bercerita yang sesungguhnya awal mula ia pergi dari rumah.
"Terus mereka merawatku sampai aku sembuh malamnya aku memutuskan untuk pulang kerumah. Aku takut keluargku khawatir apalagi handphoneku mati."
"Tapi setelah sampai rumah papa malah menamparku, aku ingin menjelaskan tapi papa seakan tak mengizinkan aku berbicara . Lalu papa menyuruhku pergi " Timpal Alesha lagi dengan derai air mata yang tak bisa dibendung lagi. Ia berusaha kuat namun nyatanya hatinya terlalu lemah apalagi mengingat kejadian tadi.
"Ya Tuhan, Bagaimana Adrian begitu tega. Jika memang mereka khawatir denganmu seharusnya tak ada kekerasan disini." Sahut Bryan yang sedari tadi diam mendengar penuturan Alesha. Alesha sudah dianggap putirnya bahkan ia tak terima jika Alesha harus menerima kekerasan fisik oleh Adrian selaku ayah kandung Alesha .
"Pa, jangan memperkeruh suasana." Sentak Sofia yang melihat Bryan sudah menahan amarah. Matanya menyorot tajam dengan tangan terkepal kuat.
"Ma, Bukannya itu salah. Perusahaan Adrian memang lagi terpuruk tapi setidaknya jangan melampiaskan ke Alesha juga dong." Timpal Bryan lagi dengan suara yang seperti biasa.
"Paa.... " Sentak Sofia sembari memelototkan matanya ke arah sang suami. Bisa- bisanya Bryan memperkeruh suasana ketika Alesha dalam keadaan seperti ini.
"Udah jangan dengarkan omongan papa Bryan, Dia lagi sensi sekarang." Sahut Sofia mengusap bahu Alesha untuk menenangkan gadis itu.
Sofia dan Bryan meninggalkan Alesha dan Jihan dikamar tersebut. Ia tau jika Alesha butuh sahabatnya untuk mencurahkan semua keluh kesahnya. Meskipun tadi sudah bercerita padanya namun Sofia rasa masih ada sesuatu yang ditutupi Alesha padanya .
Sofia berfikir jika dengan Jihan, Alesha akan mencurahkan semuanya tanpa ada yang ditutupi. Begitulah gunanya sahabat, selalu ada dalam keadaan apapun dan dimanapun.
Bersambung.....
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya Tyang😘😘😘
Like
Komen
Rate
Hadiahh ada dibawahh👇👇👇