Setiap tindakan kekerasan yang dilakukan, baik disengaja atau tidak, akan berakibat pada gangguan atau kerusakan psikis dan atau fisik seseorang.
Karya ini mengisahkan tentang seorang wanita yang dikaruniai wajah cantik, bertubuh indah dan molek. Namun berada pada tempat dan lingkungan yang salah, hingga mengalami pelecehan dan tindak kekerasan demi kekerasan. Semua itu meninggalkan jejak yang melukai dari waktu ke waktu.
'JEJAK LUKA' ini dikisahkan, agar kita bisa berhati-hati dan waspada pada orang yang ada di sekitar kita. Baik saudara atau yang kau anggap teman baik.
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan selalu bahagia. ❤️ U.
🙏🏻Selamat membaca 💟
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Jejak Luka 25.
...~•Happy Reading•~...
Enni melihat Prita dengan serius, lalu berbisik. "Aku ngga punya kertas dan pulpen buat catat, Mba. Mba Prita bisa bantu atau ada punya?" Enni baru terpikirkan saat mendengar ucapan Prita.
Selama ini dia tidak pernah berpikir untuk mencatat. Dia hanya merapikan dan menghitung sekilas saja. Tapi dia sendiri tidak berusaha menghapal, agar pikirannya tidak terpengaruh oleh banyaknya uang yang ada padanya.
Mendengar ucapan Enni, Prita turun dari tempat tidur lalu membuka laci meja yang ada di dekat tempat tidur. Dia mengeluarkan pensil dan beberapa lembar kertas kecil yang bisa digunakan untuk mencatat.
"Ini bisa kau pakai buat catat uang yang kau berikan padaku. Kau cacat tanpa tulis rupiah dan simpan di tempat yang aman." Prita berkata sambil menyerahkan pensil dan lembaran kertas yang ada di tangannya.
"Makasih, Mba." Enni mengangguk mengerti lalu mengambil yang diberikan Prita dengan hati lega.
Prita kembali duduk di depan Enni dengan lebih tenang. Dia minta Enni lakukan itu, sebab namanya manusia, bisa terjadi sesuatu yang tidak diinginkan jika sudah berurusan dengan uang.
Uang bisa merusak hubungan baik dan bisa mengecewakan di saat-saat tertentu. Sebab pada level tertentu, kadang uang bisa menjadi penggoda jahat, sehingga seseorang bisa berkhianat.
"Kalau begitu, aku titip sekarang saja, ya, Mba." Enni berkata cepat, sebelum dia dan Prita berubah pikiran. Atau ada orang yang datang ke kamar Prita, sehingga dia batal menitipkan uangnya.
Prita mengangguk mengiyakan dengan wajah heran. Dia tidak menyangka, Enni sudah sekalian bawa uangnya. 'Pantesan dia membawa tas, walau cuma ke kamarku.' Prita berkata dalam hati.
Enni membuka tas yang dipangkunya sejak duduk di atas tempat tidur, lalu mengeluarkan sebuah t-shirt berwarna hitam. Dia meletakan t-shirt yang bentuk lipatannya tidak umum di depan Prita.
"Ini aku sudah hitung. Maaf Mba, aku ngga punya amplop untuk mengisi ini. Mba bawa saja begini, kalau ngga punya amplop." Enni memperlihatkan uang tips yang diperoleh di tempat itu kepada Prita. Lalu mencatat seperti yang dikatakan Prita pada kertas yang diberikan.
"Astaga... Windaaa. Segini banyak uang yang kau punya?" Prita tercengang melihat uang yang tersusun rapi berwarna merah dan biru dalam t-shirt hitam milik Enni. Dia yakin Enni punya banyak uang, tapi tidak sebanyak yang ada dalam t-shirt hitam di depannya.
"Iyaa, Mba. Itu semua tips yang aku terima selama di sini. Abis Mba bilang ngga boleh nolak. Jadi aku terima semua tips yang diberikan untukku." Enni berkata pelan, tapi membuat Prita terkejut.
"Ini semua uang tips? Lalu gajimu dikemanain?" Prita bertanya serius, sambil memegang pundak Enni. Terlintas dipikirannya, jangan sampai Enni tidak terima gaji atau sudah berikan pada orang lain.
"Aku belum terima gaji, Mba. Gaji itu diminta, atau tunggu diberikan siapa?" Enni bertanya dengan wajah polos, membuat Prita hampir mencubit pipinya yang halus dan mulus, menggemaskan.
"Astaga, aku lupa ingatin. Dimana kau simpan semua kartu yang diberikan pelanggan saat kau layani?" Tanya Prita serius.
"Kartu yang ada gambar mawar itu, Mba?" Tanya Enni pelan sambil melihat Prita dengan serius.
"Iya, itu. Apa pun bunganya. Mungkin merak pakai bunga mawar." Prita berkata sambil mengangguk kuat.
"Aku taru di laci meja, Mba. Ada apa dengan itu?" Tanya Enni tidak mengerti.
"Jangan sampai itu tercecer atau hilang. Kau bawa itu ke Mami Sinna untuk ambil gajimu. Belum pernah kau lakukan itu?" Tanya Prita serius dan heran.
"Belum pernah, Mba." Jawab Enni sambil menggeleng kepala. Prita melihat Enni dengan mata membulat, sebab dia yakin sudah banyak pria yang dilayani Enni.
Prita jadi berpikir, mengapa Mami Sinna tidak pernah singgung atau bertanya tentang kartu-kartu yang tidak dikembalikan Enni. 'Apa Mami Sinna sengaja membiarkan itu?' Tanya Prita dalam hati dan jadi curiga.
"Apa kartu itu ada banyak padamu?" Prita jadi berpikir, mungkin Enni tidak melayani banyak orang, tapi dia diberikan tips dalam jumlah besar.
"Banyak, Mba. Aku susun dalam laci. Aku sempat berpikir untuk membuang ke tempat sampah, karna sudah banyak." Enni menceritakan apa yang terpikirkan dan rencananya dengan kartu-kartu itu.
"Begini, dengar baik-baik. Setelah dari sini, beberapa hari ke depan kau bawa beberapa kartu itu ke tempat Mami Sinna. Bilang mau ambil gajimu. Kau tes dengan beberapa lembar kartu dulu." Prita mengajarkan Enni mengambil gaji secara cicil, agar Mami Sinna tidak curiga padanya.
"Kau jawab apa saja yang masuk akal dan bisa diterima. Mengapa sekarang mau minta gajimu. Setelah itu, kau terus membawa kartu itu sampai abis." Ucap Prita sambil berpikir, cara yang baik dan tidak menimbulkan tanya.
"Iya, Mba. Aku mengerti. Nanti setelah ambil gaji, aku ke sini lagi untuk titip sama Mba Prita." Enni mulai berpikir tentang ucapan Prita untuk menyimpan uang yang didapat untuk masa depannya.
Dia mengakui dalam hati, tidak mungkin selamanya akan bekerja seperti itu. Mungkin suatu waktu bisa keluar, dia ada punya modal untuk dirinya.
"Kalau begitu, sekarang aku balik ke kamar. Supaya Mami Sin ngga curiga sama kita, saat aku bawa kartu-kartu itu." Bisik Enni, lalu turun dari tempat tidur.
Enni jadi semangat setelah berbicara dengan Prita. Dia ingin menyelesaikan apa yang sudah jadi haknya. Dia mulai memikirkan masa depannya dan berharap jika bertemu dengan Lusina atau Bargani, dia dalam kondisi yang kuat secara finansial.
"Iyaa. Segera balik dan usahakan setiap minggu kau ke sini. Bilang sama Mami Sin, kau mau belajar sama aku untuk melayani tamu. Sebab kadang tamu suka minta lakukan posisi yang kau belum tau." Prita mengajari Enni untuk memberikan alasan saat minta izin untuk bertemu dengannya.
"Iya, Mba. Makasih." Ucap Enni sambil memeluk Prita, lalu pamit.
Dia ingin segera kembali ke kamar untuk mengerjakan apa yang selama ini tidak dipikirkan, selain bagaimana membalas Bargani dan Lusina yang membuat dia berada di tempat itu.
Apa lagi dia sudah mendengar dari Prita, tentang berapa % yang dia dapatkan dari setiap kartu yang diberikan pelanggan padanya. Dia ingin memastikan semuanya, sebelum terjadi sesuatu dengannya.
'Ngga pa'pa jika Mami Sinna mau memotong semua yang digunakan untukku selama ini. Asal semua jelas, walau masa depanku belum jelas.' Enni berkata dalam hati sambil berjalan balik ke kamarnya.
...~▪︎▪︎▪︎~...
Beberapa hari kemudian, Enni menemui Mami Sinna sambil membawa sebagian kartu yang dimilikinya dengan harap, harap, cemas.
"Saya pikir, kau tidak membutuhkan ini, karna sudah menerima banyak tips." Ucap Mami Sinna sambil menghitung jumlah kartu yang diberikan Enni padanya.
"Bukan ngga butuh, Mami Sin, tapi belum. Maaf, baru kasih sekarang." Ucap Enni pelan dan sopan, agar Mami Sinna tidak berpikir yang macam-macam atau curiga padanya dan Prita.
"Ini sudah semuanya?" Tanya Mami Sinna, setelah menghitung jumlah kartu yang diberikan Enni.
"Belum, Mami Sin. Nanti saya bawa sisanya lagi." Ucap Enni lagi, tenang.
"Sisanya jangan sekarang. Nanti beberapa hari lagi. Saya harus keluar ambil uang tunai." Mami Sinna berkata cepat, sebelum Enni berdiri.
...~▪︎▪︎▪︎~...
...~●○¤○●~...
derita anak pertama kalau orang tua tinggal 1 dan tidak perhatian lagi jadi banyak pikiran.
tinggalkan saja kekasihmu nes sekarang sudah selingkuh kedepan pasti selingkuh lagi.
selingkuh seperti penyakit tak ada obat
nyesek banget ada korban rudapaksa..