"Gue mau terima perjodohan konyol ini tapi dengan satu syarat," ungkap Arsen.
"Apa?" Aliza penasaran dengan persyaratan yang akan diajukan oleh Arsen.
Sebenarnya diawal Arsen sudah memberikan saran untuk "Menikah kontrak." tapi Aliza tidak setuju.
"Hubungan gue dan Risa akan terus berlanjut setelah kita menikah."
Penjelasan Arsen mampu membuat Aliza membeku seketika. Persyaratan macam apa ini?
Namun, setelah beberapa menit terdiam seraya berpikir keras akhirnya Aliza menyetujuinya.
"Oke. Gue setuju."
Apakah Aliza akan bahagia dengan pernikahannya dengan Arsen walaupun suaminya itu masih terus menjalin hubungan dengan pacarnya?
Mari ikuti kisah selanjutnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chocolateee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 Grand Opening
"Lo besok bisa dateng ke acara grand opening toko roti gue nggak, Kak? Bisa minta izin dulu sama ayah nggak? Sehari doang." tanya Aliza setelah Arsen datang.
Suara jam semakin terdengar jelas yang menunjukkan pukul 12 malam. Aliza memang sengaja tidak tidur lebih dulu.
Dia sengaja menunggu suaminya pulang.
"Besok gue ada rapat sama klien penting. Jadi, nggak bisa," jawab Arsen lalu mengambil handuknya masuk ke kamar mandi.
Bukan kalimat itu yang Aliza ingin dengar. Kenapa Arsen tidak bisa meluangkan waktu hanya sehari saja?
Dia ingin ketika nanti dirinya memotong pita sebagai pembuka. Arsen ada disampingnya.
Namun, keinginannya itu harus dirinya pendam dalam-dalam.
"Al?" teriak Arsen dari dalam kamar mandi. Tak lama kepalanya menyembul keluar sedikit.
"Kenapa?" tanya Aliza mulai bangun dari tempat tidurnya. Meninggalkan laptopnya menyala diatas kasur empuknya.
"Tolong ambilin gua sampo di lemari," jelas Arsen seraya mengeluarkan sedikit jarinya untuk menunjuk lemari pakaianya.
Aliza menuruti permintaan Arsen. "Nih!" Dia menyodorkan sebotol sampo milik Arsen.
Tangan mereka bersentuhan, ide jail itu muncul di benak Arsen.
"Lo udah mandi belum?" tanya Arsen memulai rencana jailnya. Tangannya masih terus memegang tangan Aliza yang menggenggam botol sampo.
"Udah lah." Aliza mulai menggoyangkan tangannya agar Arsen mau melepaskan tangannya. "Lepasin, Kak!"
"Besok gue dateng ke acara grand opening toko roti lo. Tapi dengan satu syarat." Seringaian kecil milik Arsen itu membuat Aliza berpikir yang tidak-tidak.
"Apa?" tanya Aliza seraya terus berusaha melepaskan genggaman Arsen.
"Mandi bareng gue sekarang," ucap Arsen mengedipkan sebelah matanya genit.
"Nggak!" Akhirnya Aliza berhasil melepaskan genggaman Arsen.
Dia segera berlari keluar kamar. Jantungnya berdetak sangat cepat.
Arsen memang sering jail padanya, jika sifat jailnya itu datang. Namun, kali ini sifat jailnya berbeda.
Dia takut jika Arsen melakukan hal yang macam-macam padanya. Padahal memang sudah sah. Tapi mereka juga sudah memiliki kesepakatan. Tidak ada hubungan suami istri ketika tidak dilandaskan dengan cinta.
Maka dari itu kejadian itu tidak akan terjadi karena disini hanya Aliza yang menyukai Arsen.
"Untung bisa lepas," lirih Aliza setelah bisa menetralisir detak jantungnya.
***
Suara tepukan bergemuruh itu mulai terdengar ketika Aliza berhasil memotong pita yang sudah dipasang tepat didepan toko rotinya.
Dengan hiasan yang begitu cantik dan balon yang terpasang didua sisi pintu masuk. Pagi ini Aliza terlihat sangat cantik dengan dress berwarna maroon panjang, dengan belahan dibagian samping sampai ke lutut.
Aliza menoleh menatap Melia. "Mel!"
"Lo hebat banget." Pujian yang terlontar dari mulut Melia itu mampu membuat Aliza tersenyum.
"Makasih ya. Ini juga berkat bantuan lo." Mereka akhirnya berpelukan begitu erat.
Kalau bukan karena bantuan Melia, mungkin dia tidak akan bisa membuka cabang toko rotinya. Kerena bapak pemilik tanah terlalu kekeh dengan harga yang sudah dia tetepakan.
Aliza bersyukur mempunyai sahabat seperti Melia. Berhubungan sahabatnya itu masih tetanggaan dengan bapak pemilik tanah. Setelah bernegosiasi, akhirnya dapat juga harga yang sesuai budgetnya.
"Oh ya. Mana Arsen?" tanya Melia setelah melepaskan pelukannya.
Aliza tersenyum. "Dia nggak bisa dateng."
"Loh? Kenapa?" Melia mengernyit bingung.
"Katanya ada rapat sama klien penting."
"Sepenting apa sih?"
"Ya udah biarin aja. Gue nggak bisa maksa dia buat dateng." Terselip nada kesedihan dalam kalimat Aliza.
Melia mengusap lembut punggung Aliza. "Sabar ya."
Aliza mengangguk. "Ya udah ayo masuk. Hari ini semua roti yang ada disini gratis buat lo."
"Wah. Seriusan?"
Aliza mengangguk kembali. "Ambil sepuas lo."
Aliza sengaja membiarkan Melia mengambil sesuka hatinya roti yang dirinya mau. Sebagai tanda terima kasih pada sahabatnya itu yang sudah membantunya.
Melia kemudian masuk bersamaan dengan beberapa orang yang ingin masuk hingga mereka harus bersabar, karena terlalu banyaknya pengunjung.
Aliza tersenyum melihat Melia yang terjepit diantara banyaknya kerumanan orang.
"Al!" Panggilan itu membuat Aliza menoleh dan mendapati Niko sudah berdiri tepat didepannya.
"Kapan lo datang?" tanya Aliza penasaran. Karena setaunya tadi sebelum acara gunting pita, dia tidak melihat Niko.
"Barusan."
"Ini kan hari pertama toko roti lo buka. Jadi, lo harus traktir gue," ucap Niko seenak jidatnya.
"Beli lah!"
"Jahat bener lo sama gue, Al."
Aliza memutar bola mata jengah. "Ya udah ambil sepuas lo."
Wajah Niko langsung berubah drastis.
Yang tadinya wajahnya ditekuk tapi sekarang menjadi sumringah.
"Makasih ya, Al." Niko tanpa sadar terlalu keras memegang lengan Aliza sangking senangnya, dan itu membuat Aliza mengaduh kesakitan.
"Sorry-sorry," ucap Niko dengan cengiran khasnya. Aliza yang tak mau meladeni Niko akhirnya berjalan masuk meninggalkan adik iparnya itu sendirian.
***
"Aduh kepala gue!" Sekarang perempuan dengan dress berwarna maroon itu memegangi kepalanya dan tak lama langsung terjatuh diatas lantai.
Membuat atensi semua orang terpusat pada perempuan itu. Aliza juga ikut melihat sebenarnya ada apa?
Alangkah terkejutnya Aliza ketika melihat siapa yang jatuh pingsan. Dia adalah Risa.
Dia berusaha membangunkan Risa tapi usahanya nihil.
"Pak! Tolong telpon ambulans!" teriak Aliza pada kedua satpamnya yang juga ada ditempat kejadian.
Setelah beberapa menit perjalanan Aliza berusaha untuk membuat perempuan di depannya ini sadar. Walau nyatanya sampai di rumah sakit pun Risa belum sadarkan diri.
Baru saja turun dari mobil, Aliza sudah menemukan Arsen yang menunggu di depan pintu rumah sakit.
Risa mulai didorong masuk mengunakan bed. Diikuti oleh Aliza di belakangnya.
Jujur Aliza ingin pulang saja. Dia tidak ingin melihat kesakitan yang kesekian kalinya.
Namun, hatinya menolak. Risa jatuh pingsan di tokonya. Dia takut jika nanti terjadi apa-apa dengan perempuan itu.
"Risa! Bangun sayang!" Suara Arsen mulai memelan, tapi Aliza masih tetap bisa mendengar.
Sakit sekali ketika mendengar kalimat Arsen. Aliza mengepalkan tangannya kuat.
Menahan rasa sesak dalam dadanya.
Melihat Arsen yang begitu menyedihkan sekarang membuat Aliza juga ikut sedih.
Entahlah, rasany tidak tega melihatnya seperti itu.
"Silakan tunggu diluar, Pak!" ucap seorang perawat dengan menutup pintu.
Mau tak mau Arsen harus menuruti perkataan perawat itu. "Kamu kenapa lagi sih, Sayang?" lirih Arsen seraya memukul dinding didepannya.
Aliza memberanikan diri untuk mendekat. "Duduk dulu yuk, Kak!"
Arsen menoleh menatap Aliza tajam. "Lo apain Risa sampai kaya gini? Hah?"
Suara tajam milik Arsen itu berhasil membuat Aliza memejamkan matanya takut.
Arsen menarik tangan Aliza dan membawanya kearah dinding rumah sakit lalu mengunci pergerakan istrinya.
"Mau lo apa sih, Al? Apa karena gue nggak bisa dateng ke acara lo itu?" tanya Arsen mengebu-gebu menahan amarahnya.
Aliza diam dengan mata terpejam. Jarak mereka kini tingga 5 cm saja. Dia sadar jika Arsen begitu marah padanya.
"Jawab!" Bentakkan Arsen mampu membuat Aliza membuka matanya cepat.
"Ng-nggak, Kak."
"Kenapa Risa bisa sampai pingsan di toko lo, Al?"
"G-gue nggak tau, Kak," jawab Aliza menahan rasa takut mati-matian.
Arsen mengacak rambutnya frustasi.
"Awas kalo sampai ada apa-apa sama Risa. Lo harus tanggung jawab!" Dia segera meninggalkan Aliza tanpa menunggu jawaban istrinya itu.
Kesel banget sama Arsen.
penasaran nggak nih sama kelanjutannya?
Pantengin trus ya.
paling jg ga mau liat itu flashdisk
jangan lupa mampir di novel aku juga ya Thor buat beri dukungan nya 🙏