Juara 2 Lomba Novel Horor 2023.
Season 1 Desa rawa belatung.
Season 2 Penelusuran gaib rania.
Season 3 Tumbal panti jompo.
Berawal dari ditemukannya buku catatan di sebuah kamar kost. Kamar yang dulunya di tempati oleh seorang gadis lugu. Ia merantau dari desa untuk bekerja di pabrik garment. Sejak ia ditemukan tewas di bangunan kosong yang tak jauh dari kostnya, banyak kejadian misterius yang terjadi di kost itu. Satu persatu teman-teman satu kost nya mendapatkan pesan misterius, yang berisi peringatan atau semacam ancaman. Pesan yang berupa selembar surat ataupun pesan singkat melalui ponsel, tiba-tiba dikirimkan untuk mereka.
Jika mereka tak melakukan apa yang dituliskan di pesan tersebut, maka mereka akan celaka dalam waktu yang sudah ditentukan di pesan tersebut. Sebuah pesan kematian yang akan mengantar mereka yang mendapatkannya bertemu dengan malaikat maut.
Tak ada yang tau siapa pengirim pesan kematian tersebut. Mungkinkah roh gadis itu gentayangan untuk membalas dendam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi putri ang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32 TRAGEDI TRAGIS!
Melati berjalan tergesa-gesa ke ruang tamu, ia menemui kedua petugas polisi. Keduanya menunjukkan sesuatu pada Melati. Terlihat raut wajahnya berubah sendu. Bulir-bulir bening membasahi wajahnya.
"Bagaimana mungkin itu bisa terjadi Pak? Tadi pagi dia masih baik-baik saja. Lantas bagaimana kejadiannya?" Tanya Melati tertunduk lesu.
Entah apa saja yang dikatakan kedua petugas itu, karena setelah melihat rekaman video dari ponsel petugas, Melati sudah tak kuat melihat rekaman cctv yang berasal dari Klinik Dokter Spesialis Mata.
Putri menopang tubuh Melati dan ikut menyaksikan rekaman video yang masih menyala. Terlihat segelinding bola mata di lantai klinik dengan darah yang berlumuran di sekitarnya.
"A-apa ini Pak?" Tanya Putri dengan tangan yang bergetar.
Salah satu petugas itu menghembuskan nafas panjang. "Saudari Kara Manohara sudah meninggal dunia. Saat ini mayatnya ada di Rumah Sakit Polri untuk menunggu persetujuan dari keluarga guna dilakukan visum. Tapi korban tidak membawa identitas diri, namun kami mendapatkan alamat kost nya disini. Karena itu kami ingin meminta konfirmasi pemilik kost, untuk meminta data diri korban. Kejadiannya tengah hari tadi, ada gangguan pada jaringan listrik. Dokter bersama perawat pergi ke bawah untuk mengecek instalasi. Dan setelah listrik berhasil menyala, Dokter dan Perawat kembali ke ruang praktek. Namun pintu susah dibuka karena terganjal kayu panjang yang ada di dalam. Posisinya saudari Kara sudah dalam penanganan. Di bawah alat penerangan lampu, sebelah matanya yang mengalami keluhan perih itu tiba-tiba saja tertarik oleh pengait yang menahan supaya mata itu tetap terbuka. Namun sayangnya, alat itu tiba-tiba rusak setelah listrik sempat padam beberapa saat tadi. Dan karena tekanan yang berlebihan, bola mata saudari Kara Manohara pasti terasa sangat sakit sehingga dia mencoba melepaskan alat kedokteran yang menempel di kelopak matanya. Setelah berhasil melepasnya, alat tersebut memang terlepas beserta bola mata yang masih melekat di alat kedokteran tersebut. Karena pendarahan yang banyak, korban mungkin panik dan berjalan sempoyongan. Akhirnya dia kehilangan keseimbangan, lalu terjun bebas setelah menabrak jendela kaca yang berada di lantai lima. Korban Kara Manohara langsung tewas di tempat. Begitu kira-kira kronologi kejadiannya." Penjelasan padat dan jelas itu membuat semua orang yang ada disana tercekat sehingga tak dapat berkata-kata. Bahkan sahabat lelaki Kara yang baru saja keluar dari kamarnya juga ikut mendengar kabar buruk itu.
"Biar saya saja Pak yang menghubungi orang tua nya. Saya sahabatnya Kara..." Ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Baiklah kalau begitu saya tunggu kedatangannya di Rumah Sakit Polri. Kami dari Polsek Jakarta Barat, jika pihak keluarga sudah datang silahkan konfirmasi terlebih dulu." Kedua petugas menjabat tangan Melati, lalu pergi dari sana.
Putri bersama Mbak Ijah membawa Melati ke rumahnya. Ia terlihat sangat shock sehingga sakit vertigo nya kambuh.
"Mbak Putri kembali ke kost saja, biar saya yang menemani ibu. Masih ada tamu yang menunggu Mbak Putri kan? Sampaikan maaf pada Mas Mawar, karena ibu tidak bisa menjamu nya dengan layak." Ucap Mbak Ijah dengan wajah datar.
Nampak Mawardi berdiri di teras, melihat Putri dengan mengaitkan kedua alis mata. "Kau pulang saja ja Put sama Mas Mawar. Disini bukan tempat yang baik untukmu." Kata Mawar dengan menghembuskan nafas panjang.
"Loh... Mas Mawar kok ngomong gitu, emangnya ada apa to?" Tanya Putri mengaitkan kedua alis mata.
"Kau lihat kan pemuda yang tadi berbicara dengan polisi. Dia minta aku bawa kau pulang ke Desa. Katanya disini bahaya, sudah tiga orang yang meninggal dengan gak wajar. Salah satunya ya Mbakmu itu si Ayu. Menurutnya ada yang mempunyai niat buruk, dan menumbalkan nyawa para gadis muda. Karena untuk ketiga kalinya, ada tiga wanita yang meninggal dengan cara tidak wajar. Aku takut kau akan jadi korban selanjutnya."
"Ngomong apa to Mas! Itu masih dugaan, dan belum terbukti kebenarannya! Lagian tujuanku disini belum tercapai. Apa kau menuduh pemilik kost ini yang melakukan penumbalan?"
"Huussd... Ngawur kalau ngomong! Aku kan gak ada nyebut mama siapapun. Cuma ya takutnya, orang-orang itu tersembunyi jati dirinya. Sama seperti mu yang menyembunyikan identitas dari orang-orang yang ada disini. Jadi orang-orang tersebut juga gak akan mudah diketahui siapa."
"Gak lah Mas. Ibu Melato dan suaminya Pak Harto itu dikenal sangat baik. Mereka juga pemilik Pabrik garment tempatku bekerja. Eh iya, jangan bilang juga ayah ibu, kalau aku kerja di Pabrik yang sama dengan Mbak Ayu! Janji lho Mas!" Kata Putri dengan berkacak pinggang.
"Iyo iyo aku janji! Tapi kau ga takut tinggal disini po Put? Dalam waktu singkat sudah ada dua orang yang meninggal karena kecelakaan tragis kayak gitu!"
"Wes tenangno pikirmu Mas, aku gak apa-apa. Jadi nongkrong di dekat sini gak? Tapi ini udah mau sore, takutnya kau kemalaman di jalan." Putri mengalihkan pembicaraan, karena melihat mobil Harto memasuki halaman rumah.
"Aku nanti gak langsung balik desa, mau bermalam di Rumah Sakit jagain ayah. Kasihan ibumu seharian disana sendirian."
Putri menepuk lengan Mawar agak kencang. Menurutnya, Mawar pilih kasih pada kedua orang tuanya. "Kalau sama ayah, ngomongnya gak pakai kata ayahmu! Giliran sama ibu aja manggilnya ibumu! Apa kau masih memiliki rasa kecewa pada ibuku to Mas?" Putri menatap Mawar tanpa berkedip.
"Kecewa apa to Put? Gak ada lah, mereka sama seperti orang tua lainnya. Wajar saja kalau dulu ibumu sangat marah padaku, karena aku pernah membuat Ayu jatuh dari pohon. Waktu itu kami masih kecil, jadi ya kesalahan kecil macam itu wajar saja terjadi."
Harto menghampiri Putri dan menanyakan kondisinya. Namun Putri justru mengatakan jika ada kabar buruk yang membuat Melati sakit. "Lebih baik Bapak tanya langsung ke Bu Melati, saya gak bisa jelasin apapun."
"Baiklah saya masuk ke dalam dulu." Kata Harto tak menyapa lelaki yang ada di samping Putri.
"Itu tadi..." Ucap Putri tak melanjutkan kata-katanya, karena Mawar langsung memotong pembicaraan.
"Iya tau! Itu suami Ibu kost mu to? Ya sudah, aku pamit ya Put. Jaga diri baik-baik disini. Jangan sampai kau kenapa-napa sebelum waktunya!" Mawar tersenyum datar dengan menganggukkan kepala.
"Sebelum waktunya apa Mas?"
"Ya sebelum waktunya kau mengungkap misteri kematian Mbak mu to! Lha apa lagi coba? Kau ini kadang-kadang gak pinter ya!" Imbuh Mawar seraya mengusap rambut Putri.
Mawar berpamitan, ia kembali menunggangi kuda besinya. Motor kuno yang dulu selalu dipakai ayahnya, kini menjadi tunggangan Mawar. Meski nampak kuni, namun motor itu masih bisa menempuh jarak ribuan meter.
Putri membalikkan badan, dan seorang pemuda sudah ada di belakangnya.
"Kenapa lu gak ikut balik sama pacarmu?"
"Sudah aku bilang, dia bukan pacarku! Dan lagipula untuk apa kau mengatakan hal semacam itu padanya? Dia udah kayak kakak ku sendiri. Kau hanya akan membuatnya cemas. Bukankah waktu itu kau dan Kara menuduh ku sebagai pembawa bencana?"
"Bukan gue yang bilang, tapi Kara yang ngomong kayak gitu! Udahlah gak ada gunanya, bahas itu lagi! Sekarang lebih baik lu bantuin gue beresin kamar Kara. Biar keluarganya gak kerepotan mengambil barang-barang Kara. Saat ini keluarga nya dalam perjalanan buat ngambil jenazah nya. Kalau lu mau, lu bisa ikut gue melihat jenazah Kara buat yang terakhir kalinya!" Ucap pemuda yang biasa disapa Wawan.
tapi tetep keren dan bagus kok ceritanya /Smile/ /Good/
ku tunggu novel baru.ny tentang wati..