Lidah itu sangat kecil dan ringan. Tapi bisa mengangkatmu ke derajat yang paling tinggi, tapi bisa menjatuhkanmu ke derajat paling rendah.
"Karena ketika sudah kecewa, apapun yang baik akan tetap terlihat buruk."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
...~Happy Reading~...
Hari yang di tunggu tunggu telah tiba. Bukan hanya keluarga besar Hilal saja yang hadir dalam acara pembukaan pabrik baru milik Hilal dan juga Arman, tapi juga keluarga Pranata juga turut serta hadir memeriahkan acara tersebut. Hingga hampir seluruh santri pun turut hadir bersama dengan beberapa tetangga terdekat dari Pondok pesantren Al- Baitul Jannah.
Setelah pembicaraan nya dengan Hasna semalam, kini hati Kirana semakin terasa baik. Di antara kedua kakak ipar nya memang ada yang seorang psikolog, akan tetapi justru ia bisa merasa lebih tenang saat bersama Hasna di bandingkan Milla.
Mungkin karena memang Hasna adalah kakak kandung dari suami nya sedangkan Milla hanya kakak ipar. Entah mengapa, nyatanya kini dirinya merasa sedikit lebih tenang dan bisa menguasai diri setiap kali merasakan takut di rumah mertua nya.
“Terimakasih karena sudah menemani Mas hari ini, cup!” Hilal mengecup punggung tangan istri nya dengan begitu lembut, membuat Kirana menganggukkan kepala nya sambil tersenyum tipis di balik kain cadar yang menghiasi wajah nya.
Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam. Kini akhirnya mobil yang di tumpangi Kirana dan Hilal sudah tiba di tempat acara. Keduanya langsung turun dan ternyata sudah begitu banyak tamu yang sudah hadir. Hilal langsung menggenggam tangan istrinya sedikit erat saat melihat wanita itu terus menundukkan kepala nya.
“Tenang lah, ada Mas disini,” bisik Hilal pelan sambil terus menggandeng tangan Kirana untuk memasuki gedung.
Hilal mengajak Kirana untuk berkeliling menghampiri beberapa orang penting di sana. Yang mana nanti nya akan menjadi partner nya dalam menjalani bisnis tersebut.
“Assalamualaikum Gus Hilal dan Ning Kirana,” sapa seorang wanita yang sejak tadi tak pernah lepas dari genggaman tangan laki laki nya.
Hilal dan Kirana segera menoleh saat nama nya di panggil, “Walaikumsalam,” jawab Hilal pelan.
“Selamat ya Gus, semoga usaha nya lancar dan sukses!” ucap wanita itu dengan begitu ceria, seperti biasa.
“Masyaallah, Maira. Terimakasih karena sudah turut hadir kemari,” ujar Hilal menganggukkan kepala nya pelan, lalu tangan nya mengulur untuk berjabatan dengan laki laki di sebelah Maira yang sejak tadi sedikit kurang suka saat bertemu dengan nya.
Sedikit paham, Hilal mengerti jika laki laki itu kurang menyukai nya. Mengingat bahwa mungkin karena dulu dirinya pernah menyukai wanita yang kini menjadi istrinya. Tapi, bukankah itu hanya masa lalu, pikir Hilal. Lagipula kini dirinya sudah menikah dan memiliki istri bahkan sebentar lagi ia akan memiliki seorang anak.
“Arga!” tegur Maira sedikit menatap tajam pada suami nya, membuat laki laki itu segera tersadar dan langsung menghela napas nya berat sambil menerima jabatan tangan dari Hilal.
“Maaf ya Gus, suami saya sedang—“
“Sayang, kita harus menemui Abi bukan? Ayo kita cari ke sana,” ucap Arga dengan cepat memotong perkataan istrinya, “Dan untuk Gus Hilal, doa saya sama seperti istri saya. Semoga usaha nya lancar dan sukses.”
“Terimakasih,” jawab Hilal berusaha menahan senyuman nya.
“Ihh, aku pengen ngobrol sebentar!” rengek Maira seolah enggan untuk di ajak pergi.
“Mau ngapain? Mau nostalgia?” cetus Arga sedikit berdecak.
“Dih apaan sih kamu Ga! Kamu cemburu gitu? Sumpah gak jelas banget! Aku itu Cuma pengen ngobrol sama Ning Kirana, bukan sama Gus nya. Ih kamu itu!”
Dengan kesal, Maira langsung memukul bahu suami nya, hingga membuat laki laki itu semakin di landa kekesalan lantaran cemburu buta. Menolak alasan sang istri yang ingin mengobrol dengan nih Kirana, padahal dalam hati ingin mengobrol dengan Hilal laki laki masa lalu nya. Oh jangan harap itu terjadi, pikir Arga yang sedang dalam mode cemburu on posesif.
...~To be continue .....