Menceritakan seorang remaja muslim yang baru saja lulus dari sekolah pesantrennya. Dia bernama Muhammad Al-Fatih. Sebagai remaja yang baru lulus dari pesantren, ia mencoba menjalani kehidupan sehari-harinya di lingkungan yang baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ryn_Frankenstein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32 : Tipu Daya.
Fatih menjelaskan manfaat sholat kepada Nita, yang dimana sholat dapat mencegah perbuatan dosa kepada umat Muslim. Ia juga menjelaskan, sholatnya semua kaum Muslim yang dihisab terlebih dahulu, dan juga sholat untuk mengingat Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
"Itulah menurut pemikiranku. Aku menjelaskan semuanya bukan berarti aku lebih mulia dari mereka dan juga bukan bermaksud menyudutkan mereka. Aku hanyalah manusia biasa tak luput dari kesalahan juga. Dan mereka yang berbuat salah, jangan pernah berfikir untuk membenci mereka, tapi perbuatan mereka." katanya lagi.
"Sebagai kaum Muslim, aku hanya bisa mendoakan mereka agar selalu diberi kesehatan olehNya, dan sadar perbuatan atas mereka yang salah. Bila pemikiranku atau kata-kataku ada yang salah, aku minta maaf." lanjutnya dan menyudahi penjelasannya. Nita terdiam setelah pertanyaannya dijawab oleh Fatih, ia merasa penjelasan remaja itu cukup masuk akal.
Merasa Nita yang diam, Fatih merogoh ponselnya, ia melihat jam di layar ponselnya yang ternyata sudah pukul 11.45 wib. Ia terbelalak melihatnya, karena waktu sholat Dhuhur telah lewat. "Waduh...!!" ucapnya sambil menepuk jidatnya.
Nita mengerut dahinya. "Kenapa ?" tanyanya.
"Waktu sholat dhuhur sudah lewat." jawab Fatih, lalu ia bangkit dari duduknya.
Lalu Fatih berdiri dua meter di hadapan Nita, ia memandang Nita dengan tatapan biasa. "Maaf mba Nita, sepertinya aku harus pergi, lagi pula aku juga tidak bisa lama-lama."
"Bolehkah aku bertanya sekali lagi ?" tanya Nita.
Fatih menatap heran. "Kenapa ?"
"Kenapa kamu tidak mengucapkan salam kepadaku, bukankah seorang Muslim kalau mau pergi atau datang mengucapkan salam ?" itulah pertanyaannya.
Karena sejak awal Fatih datang dan mengajaknya berbicara, tidak mengucapkan salam, tapi hanya menyapanya. Dan terkejutnya ketika ia mendengar Fatih menyebut nama Allah setelah Nita menganggapnya seorang laki-laki yang ingin mendapat perhatian darinya.
Dari situlah mengapa Nita beranggapan kalau remaja itu bukan menganut agama islam. Disamping itu, Nita merasa ada yang aneh. Fatih memang tampan, tapi menurut dari pandangannya, dari rupa wajah remaja itu, seperti bukan seorang Muslim. Akan tetapi ia teringat sebuah pepatah yang mengatakan 'jangan hanya melihat covernya'.
Fatih tersenyum, lalu menjawab. "Karena sebagai kaum muslim, kami tidak diperbolehkan untuk mengucapkan salam kepada seseorang yang berbeda keyakinan. Akan tetapi bukan berarti kami tidak boleh untuk menyapa."
Dan Fatih melanjutkan. "Jika ada seorang Non-Muslim memberi salam pada kami, maka kami menjawab 'wa’alaikum’."
Nita hanya menganggukkan kepalanya. "Lalu, kenapa kamu bisa tau kalau aku bukanlah beragama islam ?"
Katanya bertanya sekali lagi, kenapa ini malah bertanya lagi ? Fatih menjawab. "Karena dari wajah cantikmu, aku sudah bisa menebaknya." jawabnya sambil tersenyum.
Nita melongo mendengarnya, pelahan kedua pipinya memerah. Melihat itu, Fatih tersadar atas kata-katanya barusan, ia langsung menghilangkan senyumannya. "Sampai jumpa, semoga mba Nita selalu sehat." ucapnya langsung berpamitan tanpa mendengar jawaban dari perempuan itu. Dalam hatinya ia berucap istighfar, karena telah telah memandang dan memuji lawan jenisnya. Kalau boleh jujur, menurut pandangan Fatih, Nita memang sangat cantik.
Sebagai manusia biasa, Fatih sendiri tak bisa luput dari kesalahan. Ia masih sulit menghindari ikhtilat, yang dimana arti ikhtilat adalah bertemunya laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya di suatu tempat secara campur baur dan terjadi interaksi di antara laki-laki dan wanita, misalnya saling berbicara, bersentuhan, dan berdesak-desakan.
Salah satu contohnya seperti kejadian, yang dimana Fatih berbicara kepada lawan jenisnya, meski yang ia bicarakan adalah hal kebaikan dan juga berjaga jarak, tetapi ia berduaan bersama Nita di lingkungan yang terbuka. Terlebih lagi pesona Nita sangat mempengaruhi pikirannya. Ya, inilah salah satu bisikan setan.
Bila Fatih tak bisa memakai akal untuk mengendalikan diri, jatuh sudah imannya. Di zaman sekarang ini, memandang lawan jenis sudah dianggap normal dan wajar. Fatih saja merasa sedikit sulit untuk menghindari hal seperti itu.
Sementara untuk Nita, kini ia melihat Fatih pergi menggunakan sepeda motornya. Ia masih diam duduk di depan ruangan ATM. Ia berencana akan pergi pulang ke rumah keluarga kecil ayahnya. Tapi, bukannya berangkat, ia malah masih diam duduk di tempat itu. Ia merenungi penjelasan Fatih yang membuatnya cukup puas.
Ternyata bila mempelajari sesuatu jangan hanya memandang dari satu sisi saja. Ibaratkan sedang memandang sebuah benda, jangan melihat dari sisi depan saja, tapi lihatlah dari berbagai sisi, dari kanan, kiri, belakang, atas, dan bawah. Dengan begitu, kita bisa melihat sebuah kebenaran yang sebenarnya.
Mungkin sudah sepuluh menit setelah kepergian remaja Muslim tadi, Nita masih saja duduk diam. Tiba-tiba ia mengerut dahinya melihat remaja itu datang lagi. Ya, Fatih datang kembali, ia turun dari motornya, lalu berjalan ke arahnya, sambil membawakan sebuah kantong plastik putih.
Saat Fatih akan menyapanya, Nita lebih dulu bersuara. "Kenapa balik lagi ? Ada yang ketinggalan ?"
Fatih tersenyum, lalu ia menaruh kantong plastiknya di samping Nita. "Maaf, aku tidak bisa membantu menyelesaikan masalahnya mba Nita. Aku cuma bisa memberi makanan dan minuman untuk mba Nita. Mungkin saja mba Nita sekarang lapar karena terlalu serius mendengarkan aku tadi berbicara."
Ternyata Fatih membelikan sebungkus nasi padang serta es teh untuknya. Nita tersenyum manis, ia memandang wajah Fatih yang juga memandangnya. "Owhhh..., ternyata kamu bisa seperhatian ini."
"Wah, kamu melihatku, mulai runtuh karenaku ya ?" lanjutnya dengan suara lembut yang dibuat-buat.
Fatih langsung memalingkan pandangan, dan berucap istighfar dalam hatinya. Sungguh hebat sekali godaan perempuan ini menurutnya.
"Ya, sudah mba. Aku pergi." pamitnya dan langsung menaiki motornya.
Nita tetap tersenyum kepadanya, Fatih merasa tidak akan beres bila bersama dengan perempuan itu lebih lama lagi. Bahkan dirinya juga sampai menundakan jam sholat dhuhurnya. Ia segera melajukan motornya dan pergi pulang ke acara pernikahan kakak perempuannya.
Sungguh, dalam pikirannya Fatih, senyuman perempuan tadi cukup berbahaya. Ia jadi teringat Surat Yusuf Ayat 28, yang dimana Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman :
فَلَمَّا رَاٰ قَمِيْصَهٗ قُدَّ مِنْ دُبُرٍ قَا لَ اِنَّهٗ مِنْ كَيْدِكُنَّ ۗ اِنَّ كَيْدَكُنَّ عَظِيْمٌ
Artinya : "Maka ketika dia (suami perempuan itu) melihat baju gamisnya (Yusuf) koyak di bagian belakang, dia berkata, “Sesungguhnya ini adalah tipu dayamu. Tipu dayamu benar-benar hebat.“"
Kesimpulan dari arti dari ayat tersebut mengatakan kalau tipu daya wanita lebih hebat dari tipu daya setan.
Akan tetapi, Fatih menilai ummi Nana dan kakak perempuan bukanlah dari golongan seperti itu. Menurutnya, Liana dan ummi Nana adalah wanita terbaik yang selama ini selalu bersamanya.
Seburuk-buruknya manusia, entah itu pria maupun wanita, bila mereka bisa mengendalikan akal sehatnya, dan berniat berubah menjadi lebih baik, mereka pasti akan berusaha dan terus belajar, terutama belajar dari kesalahan masa lalunya.
Terutama untuk kaum muslim, kalau mereka paham akan agamanya, dan menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman hidup, serta menjalaninya dengan ikhlas karena Allah, Insha Allah, Allah akan mempermudahkan mereka agar tidak akan melakukan kesalahan.
Memang benar, Allah Maha Bisa Membalikan Sesuatu, salah satunya hati para hambaNya, pastinya ada alasan tertentu. Akan tetapi Allah juga memberikan manusia akal, agar mereka bisa mengendalikan perasaan mereka sendiri, entah itu perasaan amarah, iri, sombong, dendam, nafsu, serakah, sedih, dan cinta.
____________________
Visual Anita Gladys.
setahu saya pengabdian itu semacam bekerja di sana tanpa dibayar, atau dengan bayaran seadanya tanpa dipatok.
salut untuk penulis, semoga ALLAH SWT selalu
memayungi penulis dengan banyak keberkahan serta kesehatan terus.
luar biasa Author satu ini, ada selipan syiar di dalam karya novel ini...😊
saluuutt saluuuutt...terus syiar dalam tulisan ya Thor...👍👍👍
semangaaattt 💪💪💪
sehat terus & terus sehat Thor 💪