NovelToon NovelToon
Cinta Sang CEO

Cinta Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:419.9k
Nilai: 4.9
Nama Author: Cakrawala Senja

Edi Gunawan Sari
Pengusaha yang sukses diusia yang masih muda, ia mampu membawa perusahannya merambah ke berbagai negara.

Namun kesuksesannya sebagai pengusaha tidak membuatnya sukses untuk mendapatkan pendamping hidup.

Berbagai cara orangtuanya pun turun tangan dengan cara menjodohkannya dengan anak kolega-koleganya namun dengan berbagai cara pula Guna menolaknya.

Suatu ketika Anita sang mama yang bosan dengan hiruk pikuk metropolitan pergi jalan-jalan ke kampungnya sekaligus temu kangen dengan sahabatnya yang sudah lama ia nggak temui.

Di sanalah Anita menemukan gadis yang tidak lain anak sang sahabat, menurutnya sangat cocok dengan sang anak.

Berbagai rencana pun telah ia susun agar perjodohan tidak akan batal seperti sebelum-sebelumnya.

Giana Anastasya
Putri tunggal dari sahabat Anita, angun dan cantik ternyata ia baru saja menyelesaikan Magisternya di sebuah universitas ternama di kota J dengan nilai terbaik.

Giana masih ingin menganggur, walaupun beberapa perusahaan bonafit sudah menawarkan untuk bergabung dengan posisi yang sangat menggiurkan karena mengingat kecerdasan yang ia miliki perusahaan-perusahaan tersebut tidak takut untuk menawarkan posisi yang tinggi.

Edi Gunawan Sari dan Giana Anastsya
Akankah menerima dengan lapang dada dan bahagia dalam perjodohan tersebut demi membahagiakan orangtua mereka?

Yuukkk simak ceritanya ...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cakrawala Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 Kejutan untuk Giana

Tiba-tiba getaran handphone yang ada di kantong Guna bergetar sehingga membuyarkan lamunan Guna yang terpana akan keanggunan Giana dengan gamis yang gadis itu pakai.

'Siapa, sih. Ganggu suasana saja?' batin Guna yang sangat terganggu karena fokusnya terpecah.

Setelah melihat nama si penelpon Guna langsung mengangkatnya, kalau nggak diangkat akan ada perang dunia ke tiga lagi. Siapa lagi kalau bukan sang mama yang terpampang dilayar benda pipih milik Guna yang Guna paling takut kalau lagi ngamuk.

"Iya assalamualaikum, Ma!"

.....

"Iya, ini baru mau keluar kamar!"

......

"Iya-iya, Ma!"

......

"Walaikumsalam, by, Mam!"

Tuuttt ..

Sambungan telepon pun terputus.

Guna membuang napas kasar, 'Huffff! Anak sendiri nggak ditanya gimana kabarnya, sebenarnya aku ini anak mereka atau bukan, sih?' rutuk Guna dalam hati.

Beberapa saat kemudian, Giana mendekat karena gadis itu sudah selesai semuanya, Giana melangkah sambil menyunggingkan senyumnya walaupun senyum itu terpaksa.

Giana moodnya memang rada bete' karena hanya Guna yang akan pulang dengannya.

'Mama papa kemana, sih. Kok nggak jemput aku? Mesti satu mobil lagi dengan manusia es, ini.' batin Giana kesal.

"Semuanya sudah?" tanya Guna membuyarkan lamunan Giana.

"Iya, sudah!" jawab Giana agak ketus.

Sejenak Guna melirik ke arah gadis yang berdiri anggun di sebelahnya tersebut, "Jangan marah-marah, nanti diculik genderuwo!"

"Iya! Genderuwonya, Tuan!" jawab Giana asal.

"Sudah, ayo keluar! Kita pulang, dari tadi Mama sudah trang tring teleponin saya terus!"

"Nggak ada yang lain yang jemput, ya?"

"Nggak ada! Katanya, mereka langsung nunggu di rumah saja."

"Tuan, jangan ngebut-ngebut!" ucap Giana ketika menginggat beberapa hari yang lalu saat Guna melajukan mobilnya kencang.

"Iya!"

"Janji, Tuan. Jangan ngebut,ngebut!" melas Giana lagi.

"Iya!"

"Kalau, Tuan ngebut lagi saya akan lompat!" ancam Giana.

"Saya nggak janji, kalau kamu terus ngoceh!" ucap Guna lalu bergegas keluar kamar dengan menarik koper kecil ditangannya.

'Uggh! Dasar manusia kulkas, pengen sekali aku tarik itu mulutnya Tuhan,' sungut Giana dalam hati.

"Masih mau di sini atau mau pulang? Kalau nggak mau, ya sudah saya pulang sendiri!" ucap Guna ketika melihat Giana masih berdiri tanpa beranjak dari tempatnya.

Tanpa menjawab ucapan Guna, Giana pun mengikuti dari belakang sambil mengumpat dalam hati tentang siapa lagi kalau bukan tentang Guna.

'Ya Tuhan, sekarang saja ngeselinnya nggak ketolongan, gimana nanti setelah menikah!' batin Giana dan bergidik ngeri.

Mereka menyusuri lorong rumah sakit dengan kebisuan, Giana yang sudah terlanjur kesal sama sekali tidak mau membuka suara.

Ketika mereka hendak masuk ke dalam mobil, tiba-tiba dari belakang terdengar suara anak kecil yang memanggil. Keduanya pun menoleh bersamaan.

"Om Tante!"

"Nisa!" seru mereka bersamaan tanpa sadar.

Ternyata gadis kecil yang memanggil mereka itu Nisa, anak kecil yang bertemu dengan mereka saat di taman kemarin.

"Om Tante, mau kemana?" tanya Nisa.

Giana tersenyum lalu berjongkok, "Om Tante, mau pulang sayang."

"Telus, kalau Om Tante pulang, di sini Nisa sama siapa?" tanya Nisa sendu.

Setelah itu Guna pun mendekat lalu ikut berjongkok di deket Giana dan Nisa, "Nisa sayang, nanti kalau ada waktu Om Tante main ke sini buat jengukin Nisa. Nisa yang samangat ya, harus cepat sembuh."

Gadis kecil itu memang tengah sakit karena kecelakaan dengan orangtuanya beberapa minggu yang lalu, tangan dan kakinya harus mendapat perawatan intensif agar tidak terjadi yang tidak diinginkan. Nisa selalu diajak keluar sama Oma Opanya untuk jalan-jalan karena takut Nisa bosan di dalam kamar terus.

"Iya sayang, 'kan Oma Opa sudah ada nomor Om Tante, kalau Nisa kangen, Nisa boleh telepon kapan saja!" bujuk Giana lembut sambil memeluk gadis kecil tersebut.

'Ternyata si cempreng ini, sayang juga sama anak kecil,' batin Guna.

Nurma dan Rehmad yang dari tadi hanya diam, akhirnya bersuara, "Sudah sayang, nanti kalau sudah sembuh. Kita main ke rumah Om Tante, ya."

Gadis kecil itu pun mengangguk, terlihat kembali ceria dan itu membuat Giana lega.

'Kenapa aku bisa sesayang gini ya sama anak kecil?' batinnya.

"Kalau gitu, kita masuk yuk sayang," ajak Nurma kepada cucu kesayangannya.

"Guna Giana, terima kasih ya, sudah membuat cucu saya tenang dan kembali ceria, next nggak apa-apa 'kan kalau kami berkunjung?" ucap Rahmad yang sangat bersyukur kepada Guna dan Giana.

"Dengan senang hati, Opa!" ucap Guna.

Setelah drama peluk cium Nisa yang tak henti buat mereka, akhirnya gadis kecil itu mau diajak masuk oleh oma opanya walaupun agak susa.

Giana membuka pintu belakang lalu masuk. Ketika Guna melihat itu merasa tersinggung.

"Saya bukan supir, Kamu!" ucap Guna tanpa menoleh.

Giana bergeming

"Mau pulang apa nggak?"

"Iya-iya, Tuan Edi Gunawan Sari. Saya pindah ke depan, PUAS?" geram Giana lalu pindah duduk ke depan.

Setelah Giana duduk di depan, Guna masih belum menjalankan mobilnya.

"Kok belum jalan, saya 'kan sudah duduk di depan, Tuan!" tanya Giana yang heran, ia nggak menyadari kalau ia belum memasang seatbellnya.

"Pasang seatbellnya, saya mau ngebut!"

"Oh iya, Tuan. Maaf!" ucap Giana yang baru menyadari kesalahannya.

"Ta-tapi, jangan ngebut ya, Tuan. Saya takut!" ucap Giana pelan.

Tanpa menjawab Guna menjalankan mobilnya.

Dalam perjalanan mereka kembali dilanda aura kebisuan yang mencekam, tidak ada yang saling menyapa.

'Hufff! Serasa lagi jalan-jalan di tengah kutub utara,' gumam Giana tanpa menyadari bahwa gumamannya masih didengar oleh indera pendengar milik Guna.

"Maksdumu?" tanya Guna singkat.

Giana menoleh, "Emang apa, Tuan?"

"Sudah ngomongin orang, pake pura-pura tanya lagi!" geram Guna.

'Itu telinga tajam amat, ya. Setajam mulut NETIZEN," batin Giana.

Setelah itu tidak ada lagi suara, hanya deru mesin mobil yang terdengar, mereka melanjutkan perjalanan dengan kebisuan akut dengan menyibukkan pikiran mereka masing-masing.

Setelah menempuh perjalanan satu jam sepuluh menit, mereka pun sampai di rumah dengan selamat walaupun dalam perjalanan tidak ada yang bersuara sama sekali kecuali bernapas sih.

Giana turun lalu berinisiatif mengambil kopernya di bagasi belakang, bersmaan dengan itu muncul Anita dari dalam rumah dengan teriakan khasnya.

"Guna! Apa yang kamu lakukan?"

Guna yang tengah berdiri baru keluar dari mobilnya sangat terkejut, begitu juga dengan Giana.

'Salah apa lagi aku nih?' batin Guna.

Anita mendekat lalu tanpa basa basi menarik kupingnya Guna.

"Ma! Kalau kupingnya Guna copot, gimana?" tanya Guna sambil meringis kesakitan.

"Biarin copot, itu hukuman buat telinga kamu yang tidak mau mendengar omongan mama!"

"Omongan yang mana, sih, Ma?"

"Bukannya tadi mama nyuruh kamu jagain Giana jangan sampai lecet?"

Guna menoleh ke arah Giana, "Lah, itu. Guna sudah jagain, nggak ada lecet sedikit pun!"

"Haduh! Dasar, makanya dari dulu mama sudah bilang, cari pendamping hidup biar terbiasa jaga menjaga!"

"Mama apa-apaan, sih. Makin ngawur aja kalau ngomong!"

Guna belum paham apa yang dimaksud Anita merasa tidak bersalah sedikit pun, menurutnya ia sudah menjalankan tugasnya dengan baik yaitu menjaga Giana agar tidak sampai lecet. Dan terbukti tidak ada lecet sedikit pun.

"Itu Giana kamu suruh angkat-angkat koper, apa tidak lecet nantinya kalau itu koper jatuh menimpanya atau apa, Hah?"

Guna menepuk jidadnya, ia baru menyadari titik kesalahannya, 'Hadehh! Itu cempreng kenapa sih pake angkat-angkat koper segala!'

"Guna tidak menyuruh dia untuk ngangkat kopernya, Ma!"

Giana yang mendengar namanya di sebut, mendekat.

"Tante, ini kemauan Giana sendiri, kok. Bukan disuruh, Tuan." ucap Giana.

"Sudah-sudah, kamu jangan belain dia. Dia memang sudah sewajarnya dipersalahkan!" jawab Anita.

"Maksudnya, Ma?" tanya Guna yang mendengar ucapan sang mama.

Tanpa menjawab Anita menarik tangan Giana lalu masuk, mereka meninggalkan Guna yang masih termangu di tempatnya.

'Aku semakin ragu, aku ini anak kandung mereka atau bukan, sih? Kok gini amat, ya? Semenjak si cempreng itu datang, serasa aku ini anak tiri yang tidak diharapkan oleh mereka," batin Guna.

Giana sama sekali tidak tahu menahu, bahwa di dalam sana sudah ada kejutan yang menantinya. Ryo, Widhya dan orangtuanya menanti dirinya masuk sudah siap-siap dengan tugas masing-masing.

Anita berjalan sambil merangkul lembut lengan Giana untuk menuju di mana kejutan itu berada. Dan tidak jauh di belakang mereka nampak Guna yang memasang wajah kesal karena selalu dipersalahkan dengan koper ditangannya.

1
Ziia Virghiia
maaf kk jgn ada kata eeaaakk nya sih kan ini bukan abg lg...maaf yaa kk
Banynoer Loebis
Luar biasa
Rini Maryani
mn lanjutan nya thoor lg seru
Rini Maryani
bgs ceritanya lanjut thor
Murti Ningsih
Giana cantik bingit
Fathaniyah
lanjut
Fathaniyah
Dr hi
Fathaniyah
lanjut
💜Lin
lanjutttt dong kk. penasaran nihhh
💜Lin
Hai kak.... semangat ya buat ceritanya.
Elisa Lisa
lama bget Thor updatenya
Febri Ana
mantap visualnya thor lanjuutt
Febri Ana
lanjjuutt
Elisa Lisa
lanjut dong thoor lama bget lanjutannya
nelynovianti
makin seru nihhh lanjuttt thorrr
Yuli Budi
up
Ayu Damayanti
lanjutttt
Ayu Damayanti
lanjuttttt
nelynovianti
😄😄😄😄😄😄😄
andien kirana
😆😆😆😆😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!