Entah siapa yang menjebak Bima dengan obat sampai harus memanfaatkan gadis yang tidak berdaya bernama Olivia, di malam pertunangan gadis itu
“Saya khawatir kalau nanti Olivia ….” Bima menjeda ucapannya lalu menghela nafas,“Hamil.”
“Kamu pikir aku mau mengandung anak kamu! Kalaupun aku hamil, pasti akan aku gugurkan,” pekik Olivia
Benarkah Bima dan Olivia dijebak? Mungkinkah Bima dan Olivia akhirnya menjadi pasangan dan melupakan masa lalunya?
====
Spin Off : Jerat Cinta Dibalik Dendam
IG : dtyas_dtyas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 32 ~ Cemburu
Bima sudah siap berangkat, menenteng helm lalu menaiki motor matic yang biasa digunakan untuk mengojek. Kembali menatap Oliv yang berdiri menunggu keberangkatannya.
“Ish, udah sana berangkat. Nanti terlambat.”
“Hubungi aku, kalau ada apa-apa.”
“Hm.”
Meskipun agak berat, Bima merasa Olivia akan lebih aman tinggal bersama keluarganya. hanya saja kekhawatirannya kalau Helen masih mengganggu dengan pesan dan telepon yang tidak guna.
Sampai di hotel, masih ada setengah jam sebelum jadwal shiftnya dimulai. Bima menghubungi Bella untuk mencari informasi lain.
“Jadi lo nggak kerjasama dengan Erik?”
“Nggak, aku hanya gambling siapapun yang akan terjebak. Mengatur kamar yang akan didatangi housekeeper dan kunci aku serahkan ke salah satu panitia dari pihak keluarga.”
“Siapa keluarga itu?”
“Aku lupa, dia ambil beberapa kunci. Kalau tidak salah adik dari pasangan yang malam itu bertunangan,” jawab Bella di ujung telepon.
“Denger ya, kalau sampai pelaku itu menghubungi lo. Jangan sampai dia tahu gue selidiki ini. Kalau keluarga Olivia kembali membawa masalah ini ke pengadilan, gue yakin lo bakal terseret juga.”
“Bima tolong jangan, bantu aku jangan sampai terjerat.”
“Gue nggak bisa bantu kalau mereka memang mau memperpanjang masalah ini, tapi lo bisa bantu dengan kooperatif.”
“Aku siap kasih informasi apapun. Tidak ada yang aku tutupi, tapi kalau tanya siapa perempuan itu sumpah aku nggak tahu.”
Panggilan berakhir, Bima memikirkan lagi informasi baru yang dia dapat. Kunci dari Bella diambil oleh adik perwakilan keluarga.
“Kalau yang dimaksud Alan, adiknya adalah Olivia. Kalau yang dimaksud Haris, adiknya ya Helen. Kayaknya gue harus tanya Oliv, tapi nggak boleh dia tahu kalau gue lagi selidiki ini,” gumam Bima.
“Bima, dipanggil Pak Malik.”
“Otw,” sahut Bima.
Sedangkan di tempat berbeda, tepatnya di kediaman Bima. Hari sudah sore, Olivia baru selesai membersihkan diri. Sempat terpukau dengan kamar mandi di kediaman mertuanya yang hanya ada dua ruang dengan sekian orang yang tinggal. Berbeda dengan tempat tinggalnya, yang hampir tiap kamar ada toilet di dalam.
Bahkan melihat tidak ada shower apalagi bathtub, sempat membuat Oliv termangu dan memikirkan bagaimana cara dia mandi. Wanita itu merasa semakin seru tinggal di kampung Dukuh, apalagi kedua keponakan Bima mengajaknya ke minimarket melewati pemukiman padat penduduk.
“Wah, ramai ya,” gumam Olivia dengan tangan menggandeng Abil.
“Memang di rumah Tante cantik sepi?”
“Bukan sepi, tapi pada sibuk. Tetangga juga jarang kumpul kayak gini. Rumahnya berjauhan dan jarang bertemu. Malah tante nggak kenal deh siapa aja yang jadi tetangga.”
“Idih, nggak asyik. Kita bisa main pindah-pindah loh.”
Keseruan dan kesenangan Olivia terusik, setelah makan malam ada panggilan telepon lagi-lagi dari Helen. Pesan yang dikirim Helen sebelumnya sudah dihapus oleh Bima, sebelum dibaca oleh pemilik ponsel tersebut. Olivia menjawab panggilan dari Helen di kamar Bima.
“Halo.”
“Ya ampun susah ya hubungi lo. Ke mana sih, gue tadi mampir katanya lo nggak ada.”
“Kamu ke rumah? Nggak hubungi aku dulu.”
“Yaelah, macam orang penting aja pake janji dulu. Lo di mana? jangan jauh-jauh nanti si Bima nyariin lagi kayak kemarin atau lagi sama siapa sih,” tutur Helen lalu terbahak.
“Bima cari aku, kok kamu tahu?”
“Taulah, dia ‘kan nelpon gue. Eh kalau dilihat-lihat, Bima ganteng juga ya. Malah gantengan Bima dari pada Fahri.”
“Maksudnya?”
“Nggak ada maksud, tapi baiknya lo hati-hati. Mana tahu Bima bosan sama lo terus milih gue, udah cape gue ngarep sama Fahri.”
“Helen, aku dan Bima sudah menikah. Bisa-bisanya kamu bicara seperti itu.”
“Menikah juga karena lo hamil ‘kan? Mana tahu setelah lahir, dia ogah sama lo. Yang Bima tahu ‘kan lo murahan.”
“Helen,” pekik Olivia.
“Eh, kok lo nyolot gitu sih.”
Olivia mengakhiri panggilan dari Helen, kemudian memblokir kontak wanita itu. Ponsel yang dipegang pun tidak luput dari kekesalan karena berakhir mendarat di lantai.
“Helen kenapa jadi menyebalkan gitu sih.”
Enggan larut dalam kekesalan, Olivia lebih tertarik pada meja belajar yang terlihat sudah agak usang. Tangannya meraih pigura berisi foto Bima berseragam putih abu bersama teman-temannya.
“Kamu memang tinggi sejak dulu ya.” Perlahan ia menduduki kursi kayu dan membuka laci atas dan memperhatikan isinya. Tidak ada yang aneh, hanya beberapa alat tulis, kaca mata hitam, emoney dan beberapa keping uang logam.
Isi laci bawah lebih menarik perhatian Olivia, ada beberapa buku yang ia tahu itu buku perkuliahan. Lalu map berisi berkas lamaran dan album foto yang isinya foto Bima dengan seorang perempuan.
“Ini siapa? Jangan-jangan mantan atau kekasihnya.”
“Ih nyebelin. Pasti masih cinta, orang fotonya juga masih disimpan rapi.”
Hatinya mendadak panas melihat foto-foto kebersamaan Bima dengan seorang perempuan. Padahal kalaupun ada hubungan, bisa jadi itu masa lalu. lalu apa alasan ia harus bersikap seperti itu.
“Masa aku cemburu, berarti aku udah cinta sama Bima.”
Olivia beranjak dari kursi dan menuju ranjang, lalu berbaring menatap langit-langit kamar. Terdengar getaran ponsel, khawatir kalau lagi-lagi dari Helen meskipun kontak wanita itu sudah diblokir Olivia tidak tertarik untuk mencari ponsel yang tadi sempat ia lempar.
walaupun gak sepenuhnya salah tp keadaan yg bikin Bima bersalah..
lawannya keluarga kalangan atas pula...
kuat² yaaa Bima🤭
wkwkckk..good job,teruslah berkarya, bravo anak2 bangsa yg hebat , aku bangga padamu 🥰💪🙏