"Kalau hati sudah memilih, otakku ini bisa apa?!"
Devian Almero, sosok pria tampan yang sama sekali tak mengerti perihal cinta sebelum bertemu dengan Diandra.
Ya, Diandra. Gadis manis itu mampu menggetarkan hati Devian saat awal perjumpaan.
Hingga akhirnya Devian nekad mengejar Diandra dan langsung mengklaim gadis itu sebagai milik. Berjalannya waktu, hujan rasa kasih sayang yang diberikan Devian, akhirnya mampu menaklukan hatinya.
Namun, sebuah fakta mencengangkan muncul di saat keduanya memadu kasih. Diandra baru mengetahui bahwa pasangannya itu ialah 1 diantara 7 anggota psikopat dari Keluarga Breadsley.
Sanggupkah Diandra menjalani hidup bersama Devian, sang psikopat tampan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizky Rachma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pahlawan untuk Zea
Pria yang tengah dirundung amarah itu berjalan menaiki anak tangga dengan langkah cepat, membawa pisau lipat di genggaman tangan kanannya.
Sejenak ia terdiam sesampainya di depan pintu sebuah kamar. Menaikan pandangannya, menatap pintu berwarna putih di depan. Aura killer jelas kentara terpatri di wajahnya.
Brakk ....
Sudah tidak bisa memakai cara halus, pintu tersebut terbuka lebar setelah pria itu melayangkan satu tendangan kuat.
Alhasil sang empunya pemilik kamar yang kebetulan sedang di dalam, dibuat kontan terlonjak kaget.
Pria itu berjalan, semakin menambah langkah mendekati sosok gadis di depannya. Takut kian menjalar, merangsang tubuh gadis itu bergetar dengan hebat.
"Kak Devian, mau a-apa? " tanya seorang gadis bernama Zea dengan suara terbata, melangkahkan kakinya mundur secara perlahan.
"Puas sudah bikin Diandra benci sama gue?" Devian memutar, memainkan pisaunya seraya menambah langkah.
Hingga akhirnya langkahnya membawa Zea terpojok di sudut ruangan.
Zea menelan saliva susah payah. Jantung miliknya serasa ingin copot dari tempatnya. Pria yang ia kejar itu sukses membuatnya takut. Bahkan, disuguhi tatapan tajam dari pria itu saja mampu membuatnya terbunuh secara perlahan.
"Gue nggak tahu maksud Kakak ngomong begitu?" kilah Zea berbohong, memasang raut wajah memelas, mencari simpati. Sudah menjadi kebiasaanya bermuka dia seperti itu.
Devian justru tertawa remeh. Mengapit wajah Zea dengan kedua jarinya. Apakah gadis itu lupa jika pria yang berada di hadapannya ini adalah iblis bertopeng manusia. Hatinya melemah hanya untuk satu wanita yaitu Diandra. Semakin Zea menunjukkan raut wajah seperti itu, semakin membuat Devian jijik dan segera ingin melayangkan pisau kesayangannya untuk mengkuliti wajah gadis itu.
"Siapa yang ngirim lo datang ke keluarga Breadsley?" Tatapnya menghakimi. Devian tidak lagi bermain sandiwara.Cukup sudah dirinya berpura-pura manis. Tikus got menjijikan seperti Zea harus diperingatkan agar tak terlalu lama bermain di dalam kandang singa buas.
Bibir Zea terkatup rapat. Enggan membuka suara, memberitahukan identitas sosok bosnya itu. Perlu kalian ketahui, sosok dalam kegelapan yang menjadi big bos dari Zea itu tingkat kekejamannya melebihi keluarga Breadsley.
"Zea nggak tahu maksud ucapan kakak. Tolong, lepasin. Sakit, Kak." Zea merintih saat kuku panjang pria itu menusuk kulit wajahnya bersamaan dengan cengkramannya yang semakin menguat.
Muak, Devian menyergap leher Zea dengan pisau. Jika saja Zea tidak memberitahu Diandra tentang kejadian semalam, mungkin saja pria itu masih bisa tenang, mengawasi Zea cukup dari kejauhan sambil menunggu umpan termakan oleh objek buruan.
"Denger ya, gue nggak pernah keberatan membunuh cewek apalagi cewek munafik kaya lo!" Raut cemas kentara pada wajah Zea. Ingat! Psikopat susah untuk mengendalikan diri. Detik kemudian bisa saja pisau itu menggorok kulit leher gadis tersebut.
Zea menekan kinerja otaknya berpikir keras. Bisa lepas dari cengkraman pria kesetanan di hadapannya ini sangatlah mustahil. Hanya satu cara yang mungkin berhasil, meminta pertolongan. 'Aland' satu nama itu muncul di pikirannya. Mengingat secara garis besar hanya pria itulah yang sangat baik terhadapnya.
Zea pun berteriak sekuat mungkin. Menyebut nama Aland berulang kali. Semoga saja pria itu bisa mendengar teriakannya. Menilai jarak antara kamarnya dengan Aland yang cukup lumayan jauh.
Terdengar derap langkah berlari di luar ruangan. Ya, itu Aland. Kebetulan ia sedang ingin ke dapur mencari makanan. Tiba-tiba dikejutkan oleh teriakan sebuah suara yang tak asing lagi baginnya. Nama Zea spontan melintas di otaknya saat indera pendengarannya menerima suara tersebut.
"Zea, lo kenapa?" tanya Aland yang kini sudah berada di dalam ruangan.
"To-longin Zea, Kak!" jawab Zea terdengar lemah.
Aland ikut tersulut amarah melihat gadis yang ia sayangi diperlakukan seperti itu oleh Devian. Ya, Zea berhasil mencuri hati Aland. Namun sayang, cintanya tidak terbalas karena hati gadis itu telah duluan terisi oleh satu nama pria lain yang juga menjadi sahabatnya sendiri. Mencintai dalam diam menjadi pilihan satu-satunya untuk Aland.
"Lepasin dia, Dev!" bentak Aland mengeratkan tangannya.
"Enak aja main lepas! Nih, cewek, bakal gue bunuh, ngerti lo!" Devian tidak akan main-main dengan ucapannya. Siapapun tak bisa menghalangi keinginannya, termasuk Aland.
"Ba*gsa*! Gue nggak bakal biarin lo nyakitin Zea, ngerti lo!" Aland menarik rambut Devian ke belakang. Cengkeraman pisau miliknya pun ikut terlepas dan itu membuat Zea spontan bernafas lega.
"Oh, lo lebih pilih si j*l*ng daripada gue, sahabat lo sendiri?!"
Aland diam saja. Menundukkan kepala seraya menghela nafas panjang. Devian dan Zea, semuanya penting untuknya.
"Kayaknya gue harus singkirin lo dulu, baru bisa nglenyapin tuh, j*l*ng!" Devian menyunggingkan senyum tipis.
"Nggak semudah itu, Devian Almero. Ngalahin gue butuh berguru dulu lo sana ke Jiraiya- gurunya naruto." Jiraiya? Naruto? Jiwa penyuka animenya lama telah mendarah daging.
Aland menyerang Devian terlebih dahulu. Menyasar ulu hati melayangkan pukulan keras. Kontan Devian membungkukkan tubuh sembari menekan perutnya.
"Itu baru awal pukulan, Devian. Belum kalau leher lo gue jerat pakai senar gitar kesayangan gue," Sindir Aland tersenyum remeh. Aland memang paling suka menghabisi nyawa korban mainannya menggunakan senar.
Satu per satu anggota Breadsley yang lain bermunculan. Mendengar keributan memecah malam yang sunyi.
Melihat pertarungan antar keduanya, Felix dan Arley memilih menyandarkan tubuh pada kepala ranjang milik Zea. Sesekali bersorak dan saling bertaruh memastikan jagoan masing-masing.
Chester datang dengan wajah yang berseri. Membawa wadah yang berisikan pop corn di kedua tangannya. Ia ikut duduk, bergabung bersama Felix dan Arley di atas ranjang.
"Noh, buat lo berdua," Ucapnya memberikan satu wadah pop corn.
"Makasih Chester yang cantik," canda Felix sembari mencolek pipi Chester.
"Ih, tu tangan pasti banyak kumannya. Jauh-jauhin tuh tangan daripada gue cacah jari lo kaya wortel!" ancam Chester, meruncingkan bibir. Felix terkekeh mendengar respon ucapan dari Chester.
Aland meraih pisau pengupas buah yang kebetulan berada di atas nakas. Sekarang mereka imbang. Sama-sama memiliki senjata tajam di tangan.
Keduanya maju menyerang bersamaan. Spontan, ketiga anggota Breadsley di atas ranjang antusias bertepuk tangan menyoraki.
Hingga akhirnya, pisau milik Aland berhasil menancap pada dada bidang Devian. Sedangkan pisau Devian, menancap tepat di perut Aland.
Zea berpura-pura panik. Menggoyang bahu Chester dan memohon untuk menolong keduanya.
"Selamatin mereka, Kak! Mereka bisa mati kalau begini caranya!"
"Jangan remehin kekuatan keluarga Breadsley!" bentak Chester sembari melepas kasar sentuhan tangan Zea pada bahunya.
Ucapan Chester benar terjadi. Walau keduanya sudah bermandikan darah dengan luka yang nampak parah, tetap mereka masih sanggup berdiri bahkan saling melempar senyum senang satu sama lain.
"Nggak usah pura-pura peduli gitu deh, ulat bulu!" sindir Chester, memutar bola mata malas. Lanjut memakan pop corn di tangannya.
¤¤¤¤¤
Maaf ya aku baru update. Maaf jika part kali ini kurang bagus dan memuaskan. Authornya lagi nggak enak badan. Tinggalin like, vote, komen, rate, seikhlas kalian.
"Jgn mudah percaya ucapan org lain, walaupun dg bukti yg nyata, krn org licik bisa melakukan apapun itu. Jgn sprti Devian yg mudah percaya kalo Zea adl Melody masa lalunya tnp menyelidikinya terlebih dahulu, sampai mengabaikan & menyakiti Diandra. Tegaslah dlm berprinsip, jgn ingin keduanya tp mengabaikan org yg tulus dg nya. & ternyata Diandra adl Melody masa lalunya."
"Jk kita mencintai seseorg, kita hrs bisa mnjaga kepercayaannya, mnjaga hati, pikiran & tubuh kita hny utk nya. Jgn sprti Devian yg menyentuh Kimberly hny krn obat perangsang, walaupun Diandra tdk tau saat itu, taunya saat ucapan Kimberly sblm kematian."
...dilanjutin yaaaa..semangat