NovelToon NovelToon
Lepaskan, Jika Tak Lagi Sayang

Lepaskan, Jika Tak Lagi Sayang

Status: tamat
Genre:Ibu Mertua Kejam / Keluarga & Kasih Sayang / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Tamat
Popularitas:301.2k
Nilai: 5
Nama Author: De Shandivara

Hanya sebatas cerita perjalanan hidup yang mungkin pernah dialami oleh sebagian orang.

Aku yang merasa hidupku dipermainkan oleh takdir dan hanya menjadi boneka kehidupan dari skenario Tuhan, terasa setelah pernikahan.

Belum sempurna rasa cinta ini tumbuh untuknya, kini kuketahui jika ada wanita lain di kehidupannya. Jika kami—aku dan wanita itu—disandingkan, kuakui jika aku kalah segala-galanya. Seharusnya mudah baginya untuk memilih siapa wanita yang pantas di sisinya.

Perceraian yang sejak awal aku minta, tidak pernah dikabulkan olehnya entah karena alasan apa. Yang ada hanya kesakitan lahir dan batin yang kurasakan.

Lalu, apakah alasan dibalik penolakannya itu? Sedangkan yang kutahu dia tidak pernah mencintaiku karena dia tidak pernah mengatakan cinta padaku.

Ikuti kisahnya sampai akhir....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon De Shandivara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ayo Bercerai

Kuharap Kak Andra tidak sedang memata-mataiku.

"Darimana Kak Andra tahu?" Tanyaku pada Kak Andra. Sedetail itu kah dia memperhatikanku? Seingin tahu tentangku, rumah tanggaku? Kuakui memang dia hebat, jika benar bisa tahu aku sedalam itu atau mungkin akulah yang bodoh dan ceroboh di sini.

"Semua juga karena ini," Kak Andra menunjukkan sebuah buku berbentuk persegi panjang berwarna hijau yang ukurannya tidak seberapa.

Lantas, tanpa diduga. Bisa-bisanya buku itu keluar dari dalam jasnya. Seperti sulap, buku yang semula ada di dalam tasku, sekarang berada di tangannya. Aku baru sadar jika buku itu memang sudah tidak ada di tasku.

"Kak, kembalikan padaku. Itu isinya rahasia semua!" Pintaku seraya melompat-lompat ingin menggapai buku itu yang diangkat ke atas udara olehnya.

"Kembalikan, Kak Andra!" Ujarku dengan memohon. Lelah melompat-lompat, akhirnya aku diam dan duduk di kursi seraya berpangku tangan.

Aku memberengut, "terserah."

"Sebentar, biar kubuka dulu apa isinya. Sangat menarik, tetapi di sini tulisanmu burik," ucapnya dengan tatapan menyipit memandangi tulisan tanganku. Setelah kuizinkan membaca, kenapa beraninya dia menghina tulisanku begitu?

"Wah, nomor teleponku di simpan pada halaman depan. Oh, untuk itulah kemarin kau menelponku, ya?" Godanya, sudah kuduga dia pasti akan mengolok-olokku.

Aku menyesal membawa buku itu. Memangnya, tadi kusimpan buku kecil itu dimana? Bukannya di dalam tas, sedangkan sampai sekarang tas itu masih menggantung di pundakku? Lantas, sejak kapan buku itu berpindah tangan?

Kak Andra semakin jauh membaca buku itu, semakin dalam, dan semakin membuatku malu.

"Dear Diary, Ditembak Kak Andra nih, tolak gak, ya?" Kak Andra membaca judul tulisanku kali pertama aku ditembak olehnya saat kelas 1 SMP dan saat itu dia sudah SMA.

"Kelas 7 lho, ini. Ya ampun, tingkah anak kecil yang satu ini memang berbeda," kata Kak Andra menggeleng-gelengkan kepala saat membaca larik demi larik tulisannku yang masih seperti tulisan dokter masa itu.

"Itu kan karena Kak Andra aja yang pedophile," sautku tidak mau kalah menyalahkan dia di masa lalu.

"Kak Andra, my first love and he is my one and only. Alay banget, nih, hahaha!" Sumpah demi apa? Kak Andra tidak tahu malu sama sekali. Walau pun tempat ini sedang sepi, tapi bagaimana dengan suaranya yang sengaja dikencangkan itu. Semua makhluk di bumi dan langit pun seakan mendengar suaranya dan ikut menertawakanku.

"Kak, please, itu zaman cinta monyet dulu. Jangan dibaca, please, jangan dibaca!" Aku bangkit dan kutarik paksa buku itu darinya, tetapi tetap saja tidak bisa.

"Kamu gak pernah bilang aku kalau buat puisi gini buat aku, Sya?"

"Buat apa kalau sekarang aku—" ucapku terpotong.

"Sudah bersuami!" Saut Mas Rezky yang datang secara tiba-tiba.

Mas Rezky yang berdiri tidak jauh dari tempatku–dengan tatapan tajamnya menatapku dengan penuh amarah–mendekat. Dia menarik tanganku dan membawaku mundur beberapa langkah sampai berada di sampingnya, hal itu supaya aku menjauh dari Kak Andra.

Sekilas dia terus menatapku dengan dada yang kembang kempis dengan beberapa kali embusan napas kasarnya menerpa wajahku, lalu dia berbalik badan merebut buku hijau itu dari Kak Andra.

"Kamu sudah bersuami, buat apa menyimpan kenangan masa lalu seperti itu?" Kata Mas Rezky yang merebut buku itu di tangan Kak Andra yang melemparkannya ke tengah kolam renang.

"Mas, tapi..." ujarku yang menyayangkan kondisi buku itu yang kini mengapung dan nyaris tenggelam ke dasar kolam.

"Kita pulang!" Ucap Mas Rezky menarik paksa tanganku untuk pergi dari tempat itu secepat mungkin.

"Bukunya?" Sedihku masih mematap ke belakang meninggalkan buku itu sendiri kedinginan.

"Biarkan saja, itu tidak berguna."

...🍁🍁🍁...

Di dalam kamar, bukan Mas Rezky namanya jika dia tidak marah-marah setelah kejadian tadi. Di depanku dia mengembuskan napas kasar, "jadi, dia itu mantan kamu?"

"Iya, tapi itu kan masa lalu," jawabku.

"Kalau kamu mengerti perasaanku, harusnya kamu tidak melakukan hal kekanakan seperti itu. Bersikaplah yang bijak dan dewasa, Sya," ucap Mas Rezky yang kurasa ada benarnya juga. Aku merasa jika tadi sikapku memang kekanakan. Jadi, untuk kali ini aku tidak berhak menyanggahnya.

"Jadi, acara reuni ini buat ajang ketemuan sama mantan. Untuk apa?" Lanjutnya. Percayalah, Mas Rezky bukanlah tipe orang yang banyak bicara. Jarang sekali sekali kami terlibat perbincangan yang panjang seperti bergurau, mengobrol ringan lainnya. Namun, jika sudah mengomel, jangan ditanya kapan dia akan berhenti.

Untuk itulah, perbincangan panjang akan terjadi saat terjadi pertengkaran dan obrolan berat yang memusingkan kepala seperti saat ini karena dia tidak akan berhenti bertanya dan mencerocos semaunya.

"Kamu pikir, menjadi istri itu hanya sebuah status? Bukan! Ada kewajiban yang harus dilakukan, termasuk kewajiban menjaga perasaan suamimu, tapi kamu gak pernah memikirkan itu," ucapnya.

"Di depanku saja kamu berani mengobrol berduaan dengan pria lain, entah apa-apa yang menjadi topik obrolan kalian itu?"

"Bukankah perselingkuhan bermula dari saling tatap dan bicara, lalu nyaman dan berpindah perasaan. Kamu tahu itu, Sya?" Tanya dia yang kini mendekat berdiri di hadapanku yang sedang duduk di tepian ranjang.

"Aku tidak mempunyai niat untuk selingkuh," sanggahku. Seperti biasa aku akan menjawab jika ucapannya mulai melantur dan melebih-lebihnya.

"Kalau bukan untuk selingkuh, untuk apa lagi? Jelas, aku dapat melihat jika kau menyukainya!" Tuduhnya padaku dengan suara yang meninggi.

"Hai, Rezky, ada apa ribut-ribut di atas?" Suara teriakan mama mertua terdengar dari luar. Itu berarti suara Mas Rezky sudah di luar ambang batas obrolan damai.

"Mas pelankan nada bicaramu, jangan memeperbesar masalah seperti itu," tuturku dengan suara berbisik.

"Buat apa? Kamu malu jika ketahuan selingkuh? Malu kamu, ya?!" Sentaknya dengan nada bicara yang tidak diturunkan sama sekali.

Aku terperanjat atas tuduhan itu.

"Dia terlihat lebih kaya dariku, untuk itulah kau ingin bersamanya dan hidup lebih bahagia dengan materi yang lebih dan lebih, iya?!"

Aku yang tersulut emosi, lantas bangkit dari ranjang, "Apa yang kamu katakan, Mas? Jangan memfitnah!" Tegasku.

"Fitnah, bagaimana? Kau tertawa dan bermesraan dengannya di depanku, apa aku tidak berhak marah, Sya? Pikirlah!" Ujar Mas Rezky berapi-api, menuding-nuding pelipisnya sendiri di depan wajahku yang kini sedang menatapnya tidak percaya, kenapa dia bisa berpikir sejauh itu.

"Apa jadinya kalau aku tidak ikut denganmu, hah? Kau mungkin sudah mencebur ke kolam renang itu bersamanya," ujarnya yang melebih-lebihkan.

"Sekali lagi kau minta izin padaku untuk keluar rumah, maka jawabanku tidak, Daisya!"

"Over posesif," lirihku yang sebentar lagi akan habis kesabaran. Kini kumemalingkan wajah, malas melihat wajah suami yang selalu marah-marah.

"Tidak kusangka kau akan berbuat dan berpikir sepicik itu, hebat rencanamu. Setelah puas denganku, kau akan pergi dengan pria lain yang lebih kaya. Benar, seperti itu?!" Tuduhnya dengan suara yang meledak-ledak tidak ada habisnya.

Aku membalikkan badan, menatapnya lekat-lekat. Mungkin sudah saatnya aku juga bisa meledak, "lalu, denganmu yang berselingkuh dengan Savana itu bagaimana? Apakah menurutmu itu benar, Mas?" Kini aku bisa membalikkan sebuah fakta.

"Tidak usah membuat masalah," ucapnya yang kali ini suaranya  merendah dan memelan. Dia memang tidak pernah mau disalahkan.

"Savana. Aku mengenal dia. Dia wanita yang kaya, cantik, dan pintar. Kau bahkan telah menduakanku sebelum aku mendua," tudingku langsung.

"Kamu bahkan sudah berbuat lebih jauh, Mas. Mengkhianati pernikahan kita yang katamu baru awal dan masih berusia sebulan lebih ini. Kamu egois!" Cebikku seraya manatapnya sinis.

"Kau memang tidak tahu malu, di sinilah aku yang menjadi korban perselingkuhan. Mengapa malah aku yang dituduh? Playing victim!"

Plak! Satu tamparan keras mendarat di pipiku. Seakan menampar wajahku adalah hal yang mudah baginya.

"Kurang ajar, kau hanya bisa menuduh tanpa bukti. Jadi, apa artinya aku yang bekerja siang malam, jika kau malah menuduhku yang bukan-bukan?!" Ucapnya, lalu berbalik membanting pintu dan meninggalkan kamar ini.

"Aku tidak percaya padamu lagi, Mas. Sekarang, ayo kita bercerai, bagaimana?!" Tantangku padanya meski kutahu, tidak boleh seorang istri meminta cerai dari suaminya semudah itu. Namun perkataanku tidak dapat ditarik, pada akhirnya aku yang selalu harus mengalah.

Membiarkan tubuh ini dibuat babak belur dan ambruk di atas ranjang itu dengan kuasanya dan membuatku tidak berdaya setelahnya. Memang tidak ada harganya diriku ini di matanya.

1
Lienda nasution
tetap aja gak baik kalau ada kdrt di dalam kelg
Wisteria
ruet seng noles ruet
Lienda nasution
bosan bacanya masalahnya itu itu saja kok ya ada wanita jaman sekarang kok kdrt bisa berulang ulang
Lienda nasution
bodoh kalau sdh kdrt tinggalkan saja kalau masih ttap bertahan sama dgn menyerahkan diri utk dibunuh pelan pelan
ilyas Baihaqi
Luar biasa
Marcel Alan Junio
cuma 1 kata untukmu daisya, bego, bego, bego
Evy
Daiysa egois banget ya... tidak apa2 jika sesekali anaknya nginap dirumah nenek dan kakek kandung nya.apalagi anaknya itu keturunan satu2nya...
Susi Yanti
bagaimana dgn Andra dong ?
Haeriyah
cerita nya seperti puisi
Astrid Gita
klo b*gonya terus²an jd males nerusin ini sih
Astrid Gita
lah wanita kok bodoh. padahal miskin bukan alasan menjadikan wanita jd bodoh.
Elma Hilma
👍
Iyah Comel
🥰🥰🥰🥰🥰
Iyah Comel
Bagus banget ceritanya😍🥰
hello shandi: Terima kasih, kak. Berhasil bikin nangis nggak? Berapa kali?
total 1 replies
Iyah Comel
sifat suka berprasangka buruknya di berubah dari masih SM almarhum suaminya sampai menikah lgi
Iyah Comel
habis nangis terbitlah ngakak pas baca "Bunda bertelur".
Iyah Comel
ada rasa kurang puas dengan ending ceritanya😭🥺
Noni Noni
makin heran ku..
Sulis Styaningsih
klo Menurut ku danisa wajar sj bersikap begitu terhadap clianta toh selama ini clianta TDK terlantar,danisa pnh tanggung jawab mengurus dgn baik..mantan mertuanya TDK berhak memaksakan kehendak..
Nur Siti
inilah ibu mertua bijak..tidak mau menambah masalah .dan ...tidak.mau menyalahkan..salah sstunya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!