Puella Beradette Giorgio ingin memenuhi permintaan terakhir mommynya yaitu melihatnya menikah dan bahagia bersama orang yang dicintai. Dia meminta sang kekasih, Orsino Giatrakos untuk mulai merencanakan pernikahan karena mereka saling cinta.
Namun, sama-sama suka saja tidak cukup membuat hidup keduanya bahagia. Orang tua Orsino tidak menyukai Puella karena memiliki keterbatasan yang tidak sempurna, dan hal itu menjadi alasan untuk membencinya hingga berusaha memisahkan dua manusia yang saling cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NuKha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 32
Melihat tak ada satu pun wajah menyesal dan merasa bersalah, membuat Grandpa Davis semakin murka, muak, bahkan rasanya ingin membumi hanguskan mereka bertiga. Dia beri isyarat pada pengawal agar segera menawan Orsino dan Suzan juga. “Tali dua orang itu ke kursi!”
“Siap, laksanakan.”
Pengawal langsung menjalankan perintah. Tidak ada yang bisa berkutik melawan kemarahan Grandpa Davis.
“Puella pasti tak senang jika kakeknya melakukan kekerasan pada orang lain, terlebih keluarga mantan suaminya,” ucap Orsino.
“Aku tahu. Setidaknya aku puas sudah memberi pelajaran pada kalian yang tidak tahu diri.” Grandpa Davis masih kuat berdiri, dia tidak akan duduk karena nanti kegarangan bisa berkurang kalau tak tegas.
“Puella sudah memaafkan aku, dan orang tuaku. Kenapa kau tidak membiarkan kami bebas dan hidup tenang?” Orsino berusaha bernegosiasi karena kilatan kebencian di mata Grandpa Davis sangat mengerikan.
Si tetua keluarga Dominique tertawa renyah penuh ejekan. “Cucuku yang satu itu terlalu baik seperti malaikat. Dia tidak mendapatkan darah bengisku sedikit pun.”
“Aku salah apa sampai kau ikat juga? Bahkan aku tak pernah menyentuh si cacat itu sedikit pun!” teriak Suzan.
Salah besar memanggil Puella dengan kata cacat. Mata Grandpa Davis melotot ke arah jalangg itu. “Apa katamu? Sebutkan sekali lagi!” titahnya dengan suara rendah penuh penekanan.
“Cacat.” Suzan tak tahu sedang menghadapi siapa.
Grandpa Davis menarik tongkatnya ke atas, memposisikan ujung runcing yang tajam ke wajah Suzan. “Mulutmu perlu ku beri pelajaran.” Tanpa belas kasih, dia gores bibir wanita itu.
“Argh …!” Suzan berteriak kesakitan, seiring darah menetes.
Hal itu membuat Mommy Melly dan Orsino melongo tak percaya dengan apa yang mereka lihat.
“Kalian berdua mau merasakan seperti dia juga?” tawar Grandpa Davis. Ia lap pisau tajam di ujung tongkatnya agar tak ada darah tersisa.
Mommy Melly menggeleng. “Tidak, jangan sakiti aku.”
“Kalau begitu, minta maaflah dengan tulus pada cucuku, dan jangan ulangi perbuatanmu yang suka menghina dia.” Syarat yang sangat mudah. Grandpa Davis memang ingin itu, dia mau Puella tidak direndahkan oleh siapa-siapa.
“Tidak sudi,” tolak Mommy Melly. Sudah bergetar ketakutan, masih saja keras kepala. “Aku tak salah apa-apa, kenapa harus minta maaf dan menyesal?”
Tarik napas, buang lagi. Grandpa Davis bosan membuat wanita setengah baya itu sadar. Daripada menghabiskan waktu, maka ia keluarkan seperempat kesadisannya.
“Pegang kakinya!” titah Grandpa Davis pada pengawal.
Melly memberontak minta dilepaskan, tapi sayang ujung pisau di tongkat Grandpa Davis telah lebih dahulu menancap di betisnya. “Kesabaranku habis, kau yang membuatku terpaksa melakukan ini.” Seperti kesetanan, ia tarik pisau yang telah menancap itu hingga melukai betis lebih lebar.
“Argh …!” teriak Mommy Melly. Pasti sakit sekali. Darah yang keluar bukan lagi menetes, tapi mengucur. “Iblis kau! Setan! Tak punya hati! Pria macam apa yang melukai wanita?!” Dia menangis sejadi-jadinya.
“Memang, baru tahu kalau aku iblis?” Grandpa Davis menyeringai puas melihat mahakarya di kaki Melly. “Sekali lagi ku katakan padamu, minta maaflah pada Puella!”
“Grandpa!” Orang yang dibicarakan tiba-tiba datang. Puella berjalan tergesa-gesa sebelum terlambat. Tapi, saat melihat ada darah di lantai, dia langsung lemas karena gagal menahan sang kakek agar tak berbuat kejam. “Sudah, jangan sakiti mereka,” pintanya.
“Kau terlalu baik, Pu. Aku bosan dengan sifatmu yang seperti malaikat itu. Jiwa iblisku meronta-ronta,” balas Grandpa Davis.