NovelToon NovelToon
KINASIH

KINASIH

Status: tamat
Genre:Keluarga & Kasih Sayang / Romansa / Cinta Murni / Tamat
Popularitas:461.2k
Nilai: 5
Nama Author: skavivi selfish

Alih-alih melawan takdir dan hasrat untuk meninggalkan sang mantan, Rinjani menelan cinta dari dua lelaki keturunan bangsawan Jawa dengan cara “anglaras ilining banyu angeli, ananging ora keli” sampai di usia senja.

Sementara itu, sudah lama Kaysan membuat surat wasiat untuk Rinjani dan adiknya hingga kedamaian di rumah utama dan pelangi tidak lagi warna-warni seperti sedia kala.

Lantas bagaimana akhir dari prahara cinta segitiga trah Adiguna Pangarep yang tak pernah usai? Apakah wasiat dan warisan itu menjadikan hubungan Rinjani dan Nanang kian semrawut ataukah cinta sejati yang digadang-gadang sebagai cikal bakal wasiat itu terus terjalin hingga mati?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon skavivi selfish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KINASIH 32

Matahari pagi dengan setia membagi sinarnya ke bumi. Sinarnya yang lembut mulai mengusir sisa-sisa embun di dedaunan yang berkilauan bagai permata.

Semilir angin laut selatan membelai dedaunan dan ranting yang menimbulkan suara gemeresik di taman.

Aku mengangkat koper tanpa menimbulkan suara keluar kamar.

“Kalo ada yang cari bunda, katakan sedang perjalanan bisnis ke Australia.” ucapku pada Pandu yang menunggu sembari memasang wajah serius.

“Akan bunda usahakan pulang secepatnya.” imbuhku sambil menatapnya.

Pandu mengembuskan napas sambil mengambil alih koperku. “Ndu pengen nemenin Bunda. Takut Bunda kenapa-kenapa.”

“Sudah nggak usah ikut, di rumah temani Ayahanda saja!” ucapku seraya menggandeng lengannya yang berlapis kaus lengan panjang.

Kulihat Pandu sempat menggelengkan kepala dengan samar seolah tidak mengizinkanku untuk pergi sebentar. Hanya sebentar, minimal sampai bapak dan istrinya setuju pulang ke Jawa, menua di sini. Itu lho yang aku pikirkan dari semalam, merayu kakek dan nenek yang sudah pikun lakyo susah banget.

Kami sampai di ruang keluarga, aku yang sudah mengumumkan perihal pergi ke Australia ke anak-anak membuat mereka semuanya berkumpul.

“Kalian gantian jaga ayahanda. Jangan sampai lalai jadwal kontrolnya.” kataku mengingatkan dengan wajah serius.

“Yakin Bunda tidak ingin di temani?” tanya Suryawijaya dengan wajah khawatir.

“Tidak usah. Tanggung jawab kalian banyak di sini.”

Kepalaku menoleh saat Ningsih mengabarkan sarapan di taman akan di mulai dan menunggu kami untuk segera bergabung.

“Pergilah ke sana, Bunda ketemu ayahanda dulu.”

Anakku dan anak mantu berdiri, mereka kompak mengosongkan ruang keluarga dan rumah utama.

Aku mengembuskan napas. Mas Kaysan mungkin sudah tahu perihal hari ini, apa dia mengizinkan?

Rasanya sulit meninggalkan rumah, momen-momen makin tua ini meninggikan sikap raguku. Rasanya waktu juga lambat berlalu sekarang, memperpanjang durasi yang menggegerkan jantung hati ini.

“Kangmas, hai... Jani harus pergi, boleh?” ucapku kikuk sambil mendekatinya dengan sikap malu.

Mas Kaysan memandang tanpa arah. Rasa bosan terlihat dari ekspresinya. Keningnya yang jembar terlihat melorot tapi senyumnya terlihat di sudut-sudut bibirnya.

“Kau sudah mengambil keputusan yang tepat, Dik. Pergilah. Saya tidak apa-apa.” katanya lemah sembari menarik napas dalam-dalam kemudian.

Terlintas di pikiranku untuk lari ke pelukannya. Nyatanya aku tak akan bisa. Kakiku bergeming, pikiran terkontaminasi. Haus di peluk, tapi mas Kaysan tidak akan membiarkan pelukan mengusir pelik hidup kami.

“Jani temani berjemur dulu ya.” Aku menyiapkan kursi roda yang slalu berada di samping lemari.

Mas Kaysan terbatuk sambil menggeleng, meski begitu aku dan ia tidak membiarkan hari ini berlalu tanpa sesuatu.

Aku membantunya beranjak. “Masalah cinta kita nanti dulu ya, aku perlu mengabdikan diri kepada bapak dulu mas.”

“Iya, silakan.” Mas Kaysan mengangguk. “Kita ke taman saja, saya ingin melihat para saudara.”

Masih berada di taman yang berjarak dengan saudara-saudara kami yang sedang melangsungkan sarapan dengan mengusung tema kebun, di bawah pohon bungur yang memiliki bangku taman dan meja, kami berdua tersenyum sambil menyaksikan mereka yang melambaikan tangan ke arah kami.

“Seru ya punya banyak saudara.” kataku dengan nada setengah cemburu. Mungkin betul slogan dua anak cukup. Cukup membantu, cukup ringan dan cukup mudah untuk melakukan sesuatu yang berkaitan dengan menjaga orang tua saat tua.

Mas Kaysan menyentuh punggungku dengan lembut. Bertahun lamanya aku merindukan adik-adikku, tapi mereka lebih memilih menetap di luar negeri.

“Milikmu juga, Sadewa akan membantumu di sana.”

“Kamu mengetahuinya, tapi kamu menyembunyikan itu dariku mas.” keluhku.

“Membiarkanmu tetap berada di sisiku adalah masa terbaikku saat-saat ini. Cause you're my morning light. Sweet any sugar.”

Leherku otomatis menoleh ke arahnya, senyumku mengembang dan tanganku terulur untuk meremas punggung tangannya seraya mengisi kekosongan di jemarinya.

“Merayu lagi ya?” kataku dengan senang.

“Sudah lama kita tidak bersenggama.”

“MAS!” Pipiku merona, senyumku meringis. Mas Kaysan pun sama.

“Seandainya dulu saya lebih rajin berolahraga dan tidak banyak merokok. Saya akan setiap hari memanggilmu ke kamar.”

“Apa sih. Malu tahu.” Aku menyenggol lengannya dengan lenganku dengan senyum yang tidak luntur di bibir kami.

Mas Kaysan menaruh perhatiannya lagi ke saudara-saudaranya setelah menatapku lekat-lekat.

“Rasanya saya tidak ingin membiarkanmu pergi sendiri ke sana... Kita banyak meninggalkan kenangan di sana.”

“Artinya Jani akan mengunjungi beberapa tempat yang pernah kita lewati bersama dulu.”

Ningsih berjalan ke arah kami sambil membawa nampan.

“Ndoro makan dulu, Romo makan buah-buahan.” ucapnya sembari menurunkan dua piring dan dua gelas air putih ke meja dengan senyum manisnya.

Aku mengambil piring berisi buah-buahan seraya menyuapi mas Kaysan di saksikan Ningsih yang tidak beranjak dari dekat meja.

“Minggir sana, Ning. Jangan ganggu kami.” ucapku mengusirnya.

“Ning mau naik pesawat, Ndoro. Ikut ya.”

“Kamu bantu ngurus anak-anaknya duda saja. Tidak perlu ikut saya. Repot.”

Ningsih melengos pergi dengan muka kecewa. Mas Kaysan sampai menggelengkan kepala.

“Jangan sampai ada sengketa rasa antara pelayan pribadimu dengan anak-anak kita. Sudah cukup Suryawijaya dan Bimo! Pandu tidak boleh sama sekali.” ucap mas Kaysan seolah mengeluarkan unek-uneknya.

Aku mengangguk dan menyesali cinta datang pada pelayan pribadiku dan anak-anakku. Tania/Nawangsih dan Suryawijaya, Citra dan Bimo, Ningsih dan ... sepertinya dia harus aku relokasi.

“Jani akan usahakan menempatkan Ningsih ke bagian lain. Pandu pun sudah melihat yang cantik-cantik di kampus.” pungkasku.

Mas Kaysan mengangkat tangannya. “Sudah.”

Aku menaruh kembali buah melon ke piring lalu menyantap sendiri sarapan pagi sebelum bibir di sampingku mengucap, “Makan yang banyak jangan sampai kurus seperti biting.”

Mas Kaysan berkeringat selama menungguku menghabiskan sepiring orak-arik sayur dan telur gulung yang banyaknya minta ampun.

Aku mengantarnya ke kamar seraya melepas kaus lengan panjangnya dan mengelap badannya dengan sapu tangan.

“Jani usahakan pulang secepatnya, mas tunggu Jani ya. Janji jangan pergi.” ucapku selepas mengenakannya kemeja bergaris lengan pendek.

Mas Kaysan menyentuh kepalaku. “Sampai pada jantungku berhenti kamu tetap yang saya pikirkan.”

Aku mengangguk dan memberikan senyuman sebelum keluar kamar. Di ambang pintu aku berbalik, mas Kaysan melambaikan tangan.

“Hati-hati, sayang.”

Aku menyunggingkan senyum sembari menarik pintu kamarnya perlahan-lahan, enggan berpisah dengan ksatria yang menjaga siang dan malamku.

Aku berbalik, mempercepat langkah dan memeluknya yang baru saja pindah ke ranjang.

Mas Kaysan mengeluarkan tawa. “Sudah saya bilang jangan. Kenapa kamu slalu ngeyelan?”

“Sebentar.” Aku menyerap hangatnya tubuh pria yang dulu gantengnya minta ampun. Sekarang pun masih.

Mas Kaysan membelai rambutku dan punggungku. “Sudah.”

Aku menarik tubuhku lalu kembali memeluknya lagi, mendekapnya lebih erat. Entahlah, aku tidak ingin melepas raga ini.

...----------------...

1
Ena Ariani
isi cerita..berbeda dari kebanyakann
Rasty Inarra
nangeesss q jann kamu peluk2 mas Kai
Atiqa Fa
hah.... meski aku t'membaca kisah Kaysan & Rinjani tapi ikutan sedih seakan² merasakan kehilangan org tercinta
KAZUMA KAWAMURA
pokoknyaaa the bestt,bawangnyaaa sampai kemana² duh gustiiii
Anna Nurhasanah
sy suka gaya bahasanya,penuh makna tp lembut
Najwa Mulyazainuri
/Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good/
aprilia ika riyanti
karyamu selalu luar biasa.... aq dulu pembaca setia mulai rinjani kaysan nanang di novel pertamamu lanjut ke daniah dan kisah cintanya terakhir mas uyaaa,,,,,ini balik lagi kesini dg kisah yg berakhir mengharu biru...kata2mu luar biasa kakak,,,ada ilmu yg tersirat,,,,hingga wong jowo ojo ngasi ilang jowone,,,melu nguri2 boso jowo./Drool//Drool/
nadya
speechless 😭😭
nadya
ikutan nyesek.. memang melelahkan menjalani pengobatan terus menerus, seperti ibu dan bude ku, mereka memilih menyerah seperti mas kay.
tapi.... kita sebagai orang terdekat yang mengharap kesembuhan tentu kecewa dan sedih dengan kepasrahan itu
nadya
karena anak2 bisa merasakan ketulusan cinta mas duda padamu jani.
mas kay, sini tak puk puk, aku juga pengen peluk kamu lho mas
nadya
yaa gimana ya jani, cinta pertama memang susah dilupakan, akan selalu tersemat disudut hati yang terdalam, suka atau tidak seperti itu adanya. mau disangkal seperti apapun tetap begitu kenyataannya. hatimu,cintamu memang untuk mas kaysan, tapi kamu pun sadar to, sanubarimu tetap tersemat nama mas duda beranak lima. makanya mas kay bisa bilang ada cinta sejati yang tak kasar mata di antara kalian
nadya
ho'o ancen ra wangon blass, nanang ki tapi aku seneng piye jal.
nadya
Luar biasa
nadya
Lumayan
nadya
memang seperti itu ketika dalam raga ada sang penjaga,ketika sakit masih bisa kuat tapi ketika penjaga meninggalkan raga maka raga tersebut akan melemah.
aah part ini makin bikin mewek, mas kaysan aku paham rasa hatimu.
nadya
paham banget gimana hati rinjani, di ragukan suami sendiri setelah belasan tahun di lalui berasam pasti kecewa. tapi, mas kaysan sebelum mufakat seperti itu pasti bisa melihat dan merasa apa yang tak dilihat dan dirasa jani.
terkadang betapapun tulus dan rasa sayang kepada pasangan, tapi entah disadari atau tidak, jauh disanubari ada rasa lain yang tersimpan rapi untuk seseorang di masa lalu dan mas kaysan mungkin menyadari itu
nadya
lama ga buka apk,tiba2 kangen dalilah.. ternyata banyak kisah lain yg blm terbaca. dan sampailah pada cerita yg terasa pilu di awal. meskipun aku pendukung garis keras jani nanang tapi sakitnya mas kaysan mampu membuat derai airmata, ada rasa tak rela
💕Rose🌷Tine_N@💋
mampirrrr.....
Nelly Mulyanti
ya Ampyunn.. miss u soo much kk author, baru sempat buka apl oren lagi dan ketemu ini❤❤❤❤
Vtree Bona
Luar biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!