NovelToon NovelToon
Rumah Untuk Hatiku

Rumah Untuk Hatiku

Status: tamat
Genre:Selingkuh / Pengganti / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Angst / Romansa / Teman lama bertemu kembali / Tamat
Popularitas:176.1k
Nilai: 4.8
Nama Author: aveeiiii

Bagai mimpi buruk yang berkepanjangan, Maura harus menyaksikan kekasihnya menyematkan cicin tunangan pada jari manis wanita lain di depan mata kepalanya sendiri.

Sanggupkah Maura memaafkan kekasihnya dan mempercayai semua perkataannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aveeiiii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mencari yang dirindukan

Pengadilan berlangsung lambat karena kondisi Harvey yang tidak stabil. Hari ke hari saudara tiri Kendra itu, semakin menunjukan penurunan mental serta psikisnya dan diikuti dengan tubuhnya yang semakin kurus. Harvey tak sanggup menghadiri persidangan walau orang tua Reva sanggup membayar berapapun agar calon menantunya itu dapat dihukum seberat-beratnya.

"Harvey, lihat Mama. Apapun yang terjadi, Mama akan selalu berada di pihak kamu." Mama Harvey berusaha meraih wajah putranya yang berada di balik jeruji besi.

"Aku mau mati saja, Ma. Aku pembunuh ... aku sudah membunuh Reva padahal ada anakku di perutnya. Aku ga bermaksud Maaa ...." Harvey menggeleng-gelengkan kepalanya dengan air mata bercucuran.

"Semua sudah berlalu, kamu bukan pembunuh. Kamu tidak salah, Harvey. Mereka yang salah sudah memaksamu melakukan apa yang tidak kamu inginkan." Mama Harvey ikut menangis melihat kondisi putra satu-satunya yang tampak menyedihkan.

"Benar, harusnya aku tidak ada di sini. Aku harusnya sedang memakai toga dan mempersiapkan pernikahanku dengan Maura," ucap Harvey dengan mata menerawang jauh, "Maura ... kamu di mana Mauraaa, kemari istriku ...." Harvey kembali berhalusinasi memandang langit-langit dengan mata berbinar.

"Harveeeyyy." Kalau sudah seperti itu Harvey sudah sulit diajak berkomunikasi. Ia tampak larut dalam dunianya yang diciptakannya sendiri. Mama Harvey hanya bisa menangis melihat putra kesayangannya demikian.

"Ma, ayo kita pulang." Pak Bramantyo, Papa Harvey menepuk pundak istrinya pelan.

Mama Harvey berdiri tegak lalu membalikkan badan dan menatap bengis pada suami sekaligus ayah dari anaknya itu. Kebenciannya semakin memuncak di kala ia tahu suaminya itu sering ke luar negeri menemui anak serta mantan kekasihnya, sementara putranya berada dalam kondisi sulit akibat perbuatan Papanya sendiri.

"Tak perlu kamu tampakkan wajahmu di depan Harvey. Ia akan semakin sakit hati melihatmu di sini," ucap Mama Harvey tajam.

"Tak perlu kamu perlihatkan juga permasalahan keluarga kita pada media. Cukup masalah Harvey yang mereka angkat, jangan menambah masalah yang tak penting!" bisik Papa Harvey tajam.

Mereka berdua masih dapat bersandiwara di depan umum, sebagai pasangan harmonis yang saling mendukung demi kebebasan putra tunggalnya. Berita tentang putra tunggal seorang pengusaha besar yang menghabisi nyawa kekasihnya, merupakan makanan segar awak media kriminalitas.

Semua yang terkait tentang Harvey dan keluarganya, menjadi incaran media yang berusaha mengulik tentang latar belakang permasalahan asmara sang pewaris tunggal perusahaan besar itu. Termasuk juga Maura yang bisa saja terseret dalam pusaran kasus Harvey.

Beruntung bagi Kendra, jauh sebelum ini Pak Bramantyo telah mengirimkan dirinya jauh ke negeri seberang, hingga media tak dapat mencium keberadaannya.

'Kamu diam di rumah, jangan keluar kalau tidak ada keperluan mendesak.'

Maura mendesah kesal lalu melempar ponselnya ke atas ranjang. Pesan tegas yang dikirimkan oleh kakaknya bagai tali yang mengikat kakinya.

Ada rasa ingin bertemu dan menghibur Harvey, tapi hatinya masih sakit mengingat perbuatan pria itu. Namun video serta pemberitaan yang beredar menampakan wajah Harvey di televisi serta media sosial, membuatnya iba pada pria yang pernah mengisi hari-harinya.

"Naya, mau jalan ga?" Maura berbisik dari celah pintu kamar adiknya yang terbuka.

"Kak Mola mau kemana?" Kanaya melirik curiga. Ia sudah diberikan pesan untuk mengawasi kakak perempuannya itu oleh William, kakak sulungnya. Sebenarnya ia malas harus mengawasi kakak yang seharusnya menjaga dia sebagai adik.

"Bosen di rumah, cari makan aja yuk." Maura memandang penuh harap.

"Pesan online aja, aku takut dimarahin Kak Wili." Kanaya menggeleng enggan.

"Bosen Aya. Kalau kamu ga bilang Kak Wili juga ga bakalan tahu. Dia juga lagi di pedalaman, pasti di sana susah signal." Maura masih berusaha merayu.

"Beli makan aja ya," ucap Kanaya setelah berpikir sejenak.

Maura tersenyum lebar, ia mendahului adiknya turun ke garasi bawah. Dengan cekatan ia mengenakan helm lalu mengambil kunci motor sebelum adiknya mendahului.

"Aku yang setir ya," ujar Maura seraya menunjukan kunci motor di tangannya. Kanaya hanya mendengus pasrah.

"Mau kemana sih?" sungut Kanaya dari balik punggung Maura, saat kakaknya itu semakin jauh membawa dirinya.

"Beli mie pangsit," seru Maura keras mengalahkan deru angin.

"Di depan komplek 'kan juga ada mie pangsit," balas Kanaya tak kalah keras.

"Bedaaa," sahut Maura tak acuh.

"Kak, ini 'kan arah ke apartemen ..." Kanaya menggantung kalimatnya saat Maura membelokan stang setir motor ke jalanan yang tak asing.

"Apartemenku dan Harvey? emang iya," sahut Maura tak acuh.

"Jangan bilang kamu mau masuk ke sana. Kak Willi 'kan sudah bilang ga boleh mendekat dengan apapun yang berhubungan dengan Harvey. Di sana itu masih banyak polisi yang mengawasi."

"Yang bilang mau masuk ke dalam apartemen siapa? aku mau makan mie pangsit kok." Maura memberhentikan motornya di depan warung mie ayam langganannya.

"Makan di sini?" Kanaya menelisik keadaan dalam warung yang hanya tertutup tenda bongkar pasang, "Di depan komplek sepertinya jauh lebih enak dan bersih deh," ucap Kanaya tak setuju.

"Beda, di sini jauh lebih enak." Maura tak menghiraukan tarikan Kanaya pada jaketnya. Ia terus melangkah masuk ke dalam warung dan duduk di bangku yang biasa ia tempati dengan Kendra.

Kanaya semakin heran saat kakaknya menyapa sang penjual mie ayam seperti kawan akrab.

"Lama ga keliatan, Neng?"

"Ya, Mang sekarang balik tinggal di rumah lagi."

"Ow, bukan karena kasus pembunuhan kemarin 'kan?" Maura menggeleng pelan menanggapi pertanyaan penjual, "Syukurlah Neng sudah pindah duluan. Sepi sekarang, Neng banyak yang pindah. Jadi seram apartemennya." Penjual itu bergidik ngeri.

"Mang bisa aja. Ehm, mas yang tinggi suka pakai jaket jeans, motor ninja hijau itu sudah ga pernah mampir kemari ya, Mang?" Maura mengalihkan pembicaraan. Baginya keberadaan Kendra jauh lebih penting dari apapun.

"Ow, langganan saya tuh Neng. Ga tahu sekarang kok ga pernah muncul. Sudah lama sekali tuh, Sampek kangen saya."

'Sama. Saya juga kangen, Mang,' timpal Maura dalam hati.

"Ngobrol apaan sih?" selidik Kanaya saat kakaknya sudah duduk disampingnya.

"Ga ngobrol apa-apa. Pesan mie pangsit aja," sahut Maura tak acuh. Pandangannya lurus ke arah apartemen yang terletak di hadapannya.

Apartemen yang dulunya tampak megah dan mewah, sekarang tampak kehilangan pamornya. Halaman luas yang biasanya penuh dengan kendaraan mahal, sekarang tampak sepi. Bahkan lampu yang biasanya menerangi jalan serta menyinari gedung tinggi itu, tampak sebagian dipadamkan.

"Kasihan Harvey, keadaanya sekarang bagaimana ya?" Maura melamun dengan tangan menopang dagunya.

Adiknya itu menanggapi dengan dengusan kasar. Ia mengira kakaknya masih bergelut dengan cinta bodohnya.

"Andaikan aku masih ada di sana saat kejadian itu, apa yang terjadi ya? apa mungkin aku bisa menghentikan perbuatan Harvey?" Tak mempedulikan tanggapan adiknya, Maura masih melanjutkan angannya.

"Kalau masih tinggal di sana, mungkin bukan perempuan itu yang dibunuh, tapi Kak Maura!" sembur Kanaya kesal.

"Ssttt!" Maura menutup mulut adiknya kesal. Matanya menyapu seisi warung, khawatir jika ada aparat yang ikut mendengar dan mengakibatkan dirinya tersangkut dalam kasus Harvey.

Baru saja Maura serta Kanaya selesai makan dan keluar dari warung, sebuah mobil hitam mewah keluar dari halaman apartemen dan berhenti tepat di sebelahnya.

"Maura? kamu Maura 'kan?"

...❤️🤍...

1
Hafizah Aressha R
mrengkel nya mola betingkah ngapain dia di apart sendiri

emng dasar
Hafizah Aressha R
jgn bikin kndre sm mola bersatu k..
kasian kendra.
lebih baik dpt jodoh yg lain
Hafizah Aressha R
knp tokoh perempuan nya di cerita kk selalu tolol sih
Hafizah Aressha R
nyesak bnget ceritanya k
adelina rossa
hadir kak..ini cerita ke 3 yg saya baca karya kaka...
Cerita Aveeii: makasih ya sayang🙏🥰
total 1 replies
UmmuShafira
mba, kasih Bonchap dong😍
Lilis Yuanita
gk prnh up
Cerita Aveeii: kan udah tamat sayang
total 1 replies
snowAngel_Ra2
akhirnya mereka menikah 😭😭 jgn tamat dulu kak, kasi part tambahan, masih pengen baca keluarga Raymon dan yg lain
Edelweiss🍀
banyakin lg ekstra partnya ya kak🥰🥰🥰
Shelvie Pandoju
Akhirnya Kendra menikah juga dengan Maura
UmmuShafira
ikut mewek nah😢😢
moerni🍉🍉
huaaaaaa.... aku mewekkkkk... lama gak up...
up part yg d nantikan.... tapi ttp berkesan...
ya ampun.... si nyamuk Hanum muncullll.... msih aja curcol masa lalu .. xixixx
Nur Nuy
ini tamat apa gimana? aduh sekian purnama baru up lagi 🥲🥲🥲
Nur Nuy: lanjutkan
total 2 replies
UmmuShafira
katanya awal bulan mba, mana nih🤭
moerni🍉🍉
haiii kak....
lama banget ga up...
UmmuShafira
up dong
Cerita Aveeii: lanjut awal bulan ya 🙏
total 1 replies
Lilis Yuanita
lanjut dunk tar gk nikah nikah
Cerita Aveeii: sabar ya kak, Kendra sama Maura msh pingin pacaran dulu 🤭
total 1 replies
Lilis Yuanita
lanjut kak
snowAngel_Ra2
hilal menuju tamat 😭 aku gk rela kak mola sama Ken tamat 😭 semoga kakak masih mau bikin cerita di apk ini lagi ya ka, soalnya aku masih pertahankan apk ini karena pengen baca karya Kaka aja 😚🥰
Cerita Aveeii: iya kak msh tggu cerita yg cocok di apk NT ini
total 1 replies
moerni🍉🍉
up.lagi donk kakkk...xixiid
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!