Arumi Ningrum
Gadis desa, yang sangat cantik. Namun tidak secantik dengan cara berpikirnya. Memiliki pikiran yang pas-pasan, karena tidak pernah bersekolah.
Arumi hidup dikeluarga yang semua tidak mampu. Bahkan untuk makan sehari-hari saja, masih dalam kesusahan.
Hingga tiba suatu hari, datanglah seorang Dokter tampan, yang diperintah oleh pihak Rumah Sakit untuk mencek kesehatan para warga desa itu.
Saat pandangan pertama, Arumi langsung jatuh cinta kepada Dokter tampan itu. Walaupun Arumi mengetahui kenyataan pahit, bahwa Dokter tampan itu memiliki kekasih yang mau dia nikahi.
"Dokter aku menyukaimu, aku ingin menjadi kekasih mu," seperti itulah ucapan Arumi kepada Dokter tampan.
"Maaf Arumi, kamu wanita cantik dan baik. Kamu pasti bisa menemukan sosok laki-laki baik daripda diriku."
"Jika aku tidak bisa memilikimu, maka izinkan aku untuk memiliki keturunanmu," pinta Arumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghina Gita Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pingsan
"Aku merindukanmu Mas Teguh, entah kenapa semakin hari, aku merasakan ingin sekali memelukmu. Aku bahkan ingin sekali bertemu denganmu," ucap Arumi, yang menangis memeluk erat selimut pemberian dari Teguh.
Hal itu tidak diketahui oleh Arumi. Sebab kamar mandi tersebut kedengaran sampai kosan samping.
"Malang sekali nasibmu Nak, di usia mudamu sudah mengorbankan hidupmu demi laki-laki yang tidak bertanggung jawab," kesal Bimo kepada anaknya sendiri..
Sepulang dari berbelanja, Flora dan Bimo, memberikan banyak makanan dan tidak lupa susu Ibu hamil buat kedua wanita di samping kosannya itu, siapa lagi jika bukan untuk Arumi dan Amel.
"Ya ampun Bu, seharusnya tidak perlu repot-repot seperti ini," ucap Amel, yang menerima pemberian dari Flora.
"Sama-sama Nak, Ibu suka membantu. Nanti berikan juga kepada Arumi ya, mungkin dia juga membutuhkan susu ini," jelas Flora.
"Iya Bu, sebentar aku panggil Arumi. Arumi, coba kesini dulu!" ucap Amel.
"Iya kak Amel ada apa?" tanya Arumi.
"Rumi, ini ada 3 kotak susu Ibu hamil. Kamu 2 kotak ya. Kan kamu beberapa hari ini tidak nafsu makan," ucap Amel, yang membuat Flora dan Bimo tercengang.
"Kenapa tidak makan Nak? Kamu sedang hamil dan membutuhkan banyak tenaga. Apalagi yang Ibu ketahui kamu sedang sibuk berjualan kue."
Arumi hanya terdiam, tidak mampu untuk menjelaskan apa yang saat ini dia rasakan.
"Biasalah Bu, kehamilan Arumi sangat berbeda dengan saya. Kalau saya malah doyan makan. Namun semakin hari, Arumi jarang sekali makan, sepertinya Arumi sangat merindukan sosok Ayah bayi itu," ucap Amel.
"Kak Amel, apaan sih," jawab Arumi, dengan ekspresi sendu.
"Nak Rumi, jika ada masalah ceritakan saja kepada Ibu. Anggap saja kami ini juga kedua orang tua kalian," ucap Flora, yang mengatakan itu semua kepada Arumi dan juga Amel.
"Iya Bu, aku tidak apa-apa. Mungkin bayi ku sangat merindukan Ayah nya, hingga aku sering tidak bernafsu makan dan susah tidur," jawab Arumi.
Yang membuat Flora semakin sangat bersedih. "Teguh, apakah kamu merasakan hal ini semua? Apakah kamu tidak ada niatan untuk mencari mereka," batin Flora dalam hati.
***
Hoeggg…
Hoegggg…
Hoegggg…
Hoegggg…
"Aku kenapa? Kenapa kepalaku sangat pusing sekali, perutku terasa sangat mual" ucap Teguh.
Sendari bangun tidur, Teguh merasakan tubuhnya sangat lemas sekali. Hingga membuat dirinya terpaksa menghubungi Dinda. "Halo Din, tolong kesini!"
"Kamu kenapa Teguh, apa yang terjadi?" suara Dinda terdengar sangat khuatir.
"Datangkah Din, cepat!" ucap Teguh, yang sudah merasakan tidak kuat lagi.
Dengan cepat Dinda berlari menelusuri koridor rumah sakit, dengan keadaan rasa teramat khuatir.
Dokter Hilman yang melihat itu merasa penasaran, hingga membuat dirinya memutuskan untuk mengejar Dokter Dinda. "Dokter Dinda apa apa?"
"Dokter Hilman, tolong bantu aku. Kita harus segera berangkat ke rumah Dokter Teguh, dia sempat menghubungiku dan meminta tolong," jawab Dokter Dinda.
"Ayo aku bantu," jawab Dokter Hilman.
Setelah kepergian Ibu nya, kini Dokter Dinda terlihat sudah mulai ikhlas. Banyak teman-teman yang selalu memberikan semangat kepadanya. Tak jarang Dokter Teguh juga sering menemani dan berbagi kesedihan.
Namun sekarang Dinda lebih ikhlas, dan menerima kenyataan bahwa memang dirinya tidak bisa mendapatkan Teguh. Walaupun Teguh seringkali bercerita dan mengeluh tentang Clara, kepadanya.
Sesampainya di rumah Teguh, tampak tidak terlihat ada kehidupan. Suasana sangat sepi, membuat Hilman dan Dinda menjadi semakin bingung.
"Kita masuk saja," ucap Dinda.
Ketika Dinda dan Hilman masuk, mereka langsung menuju kamar atas. Dimana disana adalah kamar Teguh dan Clara.
"Ya ampun, apa yang terjadi?" ucap Dinda, yang sangat syok melihat Teguh sudah terkapar di lantai.
"Lebih baik kita bawa saja ke rumah sakit," ucap Dokter Hilman.
"Itu lebih baik, tolong bantu aku," jawab Dokter Dinda.
Mereka berdua memapah Teguh untuk turun kebawah dan secepatnya membawa kerumah sakit.
"Tuan muda masuk Ke Rumah Sakit," ucap salah satu anak buah dari Bimo.