NovelToon NovelToon
Setelah Cerai, Hartaku 300 Triliun!

Setelah Cerai, Hartaku 300 Triliun!

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Wanita perkasa / Identitas Tersembunyi / Kaya Raya / Penyesalan Suami / Menyembunyikan Identitas / Chicklit / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:12.1k
Nilai: 5
Nama Author: Elara Chandrakanta

Tiga tahun menjadi istri Rayhan Sutanto, Keira tidak pernah diperlakukan selayaknya. Dicaci mertua, dihina ipar, dan diabaikan suami yang hatinya sudah milik perempuan lain.
Malam itu, di atas ranjang pernikahan mereka, Rayhan memanggilnya dengan nama wanita lain. Cukup sudah.
"Rayhan, kita cerai."
Tapi ketika pintu Pengadilan Negeri tertutup di belakangnya, sebuah Rolls-Royce Phantom berhenti di hadapannya. Seorang pria tua membungkuk hormat dan menyerahkan kartu hitam bertuliskan 300 triliun rupiah.
Keira bukan yatim piatu dari panti asuhan. Dia adalah putri bungsu keluarga Liem — konglomerat nomor satu di negeri ini. Tiga kakak laki-lakinya menguasai dunia militer, medis, dan hiburan. Dan sekarang, dia kembali.
Sementara mantan suaminya berlutut memohon maaf, Keira duduk di kursi CEO perusahaannya. Sementara mantan mertua yang dulu menyuruhnya berlutut di hujan kini menjadi pembantunya. Dan sementara wanita yang dulu memanggilnya "pengganti" kini membusuk di balik jeruji.
Tapi di balik semua pembalasan dan kejayaan, ada satu rahasia yang belum terungkap — identitas asli Rayhan Sutanto, dan pengorbanan yang dia sembunyikan selama bertahun-tahun.
Cinta yang terlambat, apakah masih layak diperjuangkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35

Bab 35: Nama yang Dicuri

"Ini aku."

Dua kata itu jatuh ke lantai beton seperti benda tajam.

Keira menatap lelaki yang berlutut di depannya.

Wajahnya Revano Hartono. Suaranya Rayhan. Matanya sesuatu di antara keduanya, terlalu hidup untuk orang mati, terlalu asing untuk orang yang pernah ia tiduri dalam satu rumah selama tiga tahun.

Keira mengangkat tangan.

Tamparan itu menghantam wajah Revano sampai kepalanya berpaling.

"Jangan."

Revano tetap berlutut.

"Jangan pakai kalimat itu seolah aku bodoh."

"Aku tidak pernah menganggapmu bodoh."

Tamparan kedua datang lebih keras.

"Kau membiarkanku memeluk abu palsu."

Revano menutup mata.

"Kau membiarkanku berdiri di depan wartawan, membaca suratmu, menangis di Villa Teluk, memanggil namamu di depan kotak kosong."

"Kotak itu tidak kosong."

Keira tertawa. Suaranya pecah. "Kau mau membela kotak itu?"

"Di dalamnya ada jamku, pakaianku, dan..."

"Bukan kau."

Revano tidak punya jawaban.

Keira mundur satu langkah, lalu satu lagi. Napasnya mulai tidak teratur. Ia memegang tepi meja panjang agar tidak mengambil benda terdekat dan memecahkan kepala lelaki itu.

"Siapa Rayhan Sutanto?"

Revano mengangkat wajah.

Pertanyaan itu akhirnya datang. Pertanyaan yang sejak awal paling ia takutkan, karena jawabannya bukan hanya membongkar kebohongan, tetapi juga kuburan seorang anak yang tidak pernah Keira kenal.

"Rayhan Sutanto yang asli meninggal saat berusia lima belas tahun," katanya pelan.

Keira tidak bergerak.

"Ia menyelamatkanku."

Ruangan terasa mengecil.

"Aku lahir sebagai Revano Hartono. Cucu sulung keluarga Hartono. Saat kecil, keluargaku diserang dalam perebutan internal. Aku dibawa keluar dengan identitas rahasia. Di tengah pengejaran itu, seorang remaja bernama Rayhan Sutanto menolongku. Dia terluka parah. Dia meninggal sebelum bantuan datang."

Keira menatapnya seperti menatap orang asing yang sedang membaca naskah terlalu kejam.

"Keluarga Hartono butuh aku menghilang. Keluarga Sutanto kehilangan cucu yang tidak boleh diketahui penyebab matinya. Almarhum Kong Kong Sutanto dan pihak keluarga Hartono membuat kesepakatan. Aku tumbuh dengan nama Rayhan Sutanto."

"Jadi selama ini..."

"Aku memakai namanya."

"Selama menikah denganku?"

"Ya."

Keira memejamkan mata.

Satu kebohongan menjadi lantai. Kebohongan lain menjadi dinding. Semua kenangan tiga tahun itu mendadak tidak punya tempat berdiri.

"Kau ingat siapa dirimu?"

"Sebagian. Tidak semuanya sejak awal. Identitas Rayhan ditanam terlalu lama. Ada tahun-tahun ketika aku lebih percaya pada nama Rayhan daripada nama lahirku sendiri. Tapi aku tahu cukup banyak untuk tetap bersalah."

"Bersalah?" Keira membuka mata. "Kau menyebut ini bersalah?"

Revano menunduk. "Aku tidak punya hak minta pembelaan."

"Bagus. Karena aku tidak memberikannya."

Keira berjalan ke lemari kaca gelap di sisi ruangan. Ia membuka salah satu pintunya. Di dalamnya ada beberapa tongkat latihan, borgol taktis, dan cambuk tipis yang tampak seperti alat disiplin, bukan pajangan.

Revano melihat apa yang ia ambil.

Sinar, yang berdiri di luar pintu, langsung mengetuk. "Tuan?"

"Jangan masuk," kata Revano.

Keira menggenggam gagang cambuk. "Biarkan dia masuk. Biar dia lihat tuannya tidak selalu bisa menulis skenario."

Pintu tetap tertutup.

Revano menatapnya. "Kalau ini yang kau butuhkan, lakukan."

Keira tertawa dingin. "Jangan bersikap seolah kau sedang memberiku izin."

Cambuk pertama mendarat di bahunya.

Suara tipis itu memecah udara.

Revano tidak menghindar.

Keira membeku sesaat, bukan karena menyesal, tetapi karena tubuhnya masih mengenali reaksi lelaki itu. Cara ia menahan sakit. Cara ia menutup mulut agar tidak membuatnya khawatir. Cara paling menyebalkan di dunia untuk membuat korban merasa bersalah.

Cambuk kedua jatuh.

"Kau datang ke pemakamannya."

Ketiga.

"Kau melihat aku duduk di depan abu itu."

Keempat.

"Kau mendengar aku memanggil Rayhan."

Kelima.

"Dan kau tetap diam."

Revano mulai bernapas lebih berat. Garis merah muncul di kemeja putihnya. Ia tetap berlutut, kedua tangan di sisi tubuh, tidak sekali pun mengangkat lengan untuk melindungi diri.

"Jawab!"

"Ya," katanya serak. "Aku diam."

Cambuk keenam berhenti di udara.

Keira menggenggam gagang itu sampai tangannya sakit. "Kenapa?"

"Karena musuh yang memakai S404 belum selesai. Karena nama Rayhan sudah terlalu rusak untuk melindungimu. Karena keluargaku memberontak. Karena kalau aku kembali sebagai Rayhan, mereka akan menyerangmu lagi di tempat yang sama."

"Jangan bungkus kebohonganmu dengan kata melindungi."

"Aku tahu."

"Kau tidak tahu apa-apa!"

Cambuk keenam jatuh.

Revano akhirnya menunduk lebih dalam. Bukan karena sakit, tetapi karena suara Keira retak.

"Surat itu," katanya. "Semua yang tertulis di sana benar. Tentang Anya. Tentang gadis kecil yang menyelamatkanku. Tentang aku mencintaimu terlalu lama dan terlalu buruk. Yang palsu hanya kematianku."

"Hanya?"

Satu kata itu membuat Revano terdiam.

Keira melempar cambuk ke lantai.

"Kau mencuri duka dariku."

Revano mengangkat wajah. Matanya merah.

"Aku tahu."

"Tidak. Kau bahkan mencuri hakku untuk marah pada orang yang benar." Keira menunjuk dadanya. "Aku marah pada Rayhan yang mati. Aku merindukan Rayhan yang mati. Aku membaca suratnya seperti orang bodoh, sementara orang yang menulisnya berdiri di tempat lain dengan wajah baru."

"Aku seharusnya memberitahumu lebih cepat."

"Seharusnya kau tidak mati di depanku."

Kalimat itu keluar lebih pelan daripada tamparan, tetapi menghancurkan lebih banyak.

Revano menunduk lagi. "Aku tidak tahu cara kembali tanpa menyeretmu ke perangku."

"Aku bukan barang rapuh yang harus kau pindahkan dari satu ruang aman ke ruang aman lain."

"Aku tahu."

"Berhenti bilang kau tahu!"

Keira mengambil topeng perak dari meja dan melemparkannya ke lantai. Logam itu berputar, menghantam kaki meja, lalu berhenti dengan sisi wajah hantu menghadap atas.

"Lalu negara H?" tanyanya. "Wajah ini?"

Revano menyentuh rahangnya sendiri, sangat pelan. "Setelah gudang, aku dibawa keluar lewat jalur Hartono. Luka bakar, S404, dan identitas Rayhan harus dikubur bersama. Dokter di negara H melakukan rekonstruksi. Mereka tidak bisa mengembalikan wajah Rayhan. Aku juga tidak ingin wajah curian itu dipakai selamanya."

"Jadi kau memilih wajah baru dan hidup baru."

"Aku memilih cara untuk kembali ke dekatmu."

Keira menggeleng. "Tidak. Kau memilih cara agar aku tidak bisa mengenalimu."

Revano tidak membantah.

Di balik pintu, Sinar berkata dengan suara tertahan, "Nona Keira, luka Tuan..."

Keira menoleh tajam. "Kalau kau membuka pintu, Sinar, aku pecat kau dari semua kenangan baik yang masih kumiliki."

Di luar, Sinar terdiam.

Revano hampir tersenyum, sedih dan singkat. Keira melihatnya.

"Jangan berani tersenyum."

Senyum itu hilang.

Keira mengambil map hitam dari meja. Di dalamnya ada foto lama, laporan operasi, dokumen perubahan identitas, dan satu foto anak laki-laki berusia sekitar lima belas tahun. Di bagian belakang foto tertulis Rayhan Sutanto.

Bukan wajah lelaki yang ia nikahi.

Anak itu tersenyum canggung ke kamera, kurus, dengan mata yang jauh lebih polos.

Keira menatap foto itu lama.

"Dia mati untukmu," katanya.

"Ya."

"Lalu kau memakai namanya."

"Ya."

"Apakah keluarganya tahu?"

"Almarhum Kong Kong Sutanto tahu. Beberapa orang tua tahu. Bu Fenny tidak tahu detailnya. Sherly tidak tahu."

Keira tertawa pahit. "Jadi Bu Fenny memuja anak yang bukan anaknya dan menghina menantu yang menyelamatkan pria yang bukan suaminya."

Tidak ada jawaban yang pantas untuk itu.

Keira menatap foto lagi. "Almarhum Kong Kong Sutanto mengadopsiku. Dia juga yang memaksamu menikah denganku."

"Ya."

"Dia tahu?"

Revano menarik napas perlahan. "Dia tahu lebih banyak daripada yang pernah ia katakan. Saat kau ditemukan di panti asuhan, kau membawa bekas luka lama dan satu potongan kancing logam dari kecelakaan masa kecil. Kong Kong mengenali kancing itu dari mobil yang terbakar bertahun-tahun lalu. Ia tidak punya bukti lengkap bahwa kau gadis yang menyelamatkanku, tapi ia curiga."

Keira merasa lantai kembali bergerak.

"Jadi dia menjadikanku alat penebusan?"

"Dia menyelamatkanmu dari panti asuhan, membesarkanmu sebaik yang bisa dilakukan lelaki tua keras kepala, lalu memaksaku menikahimu karena ia percaya hidupku berutang padamu."

"Dan kau?"

Revano memejamkan mata. "Aku bodoh. Saat itu aku melihatmu sebagai beban yang dijatuhkan ke hidupku. Aku tidak mengerti kenapa ia begitu keras memaksaku. Aku tidak tahu kau adalah gadis itu sampai semuanya hampir terlambat."

"Bab 19," kata Keira pelan, mengingat laporan Sinar, tatapan Rayhan yang berubah, permintaan maaf yang terlambat.

Revano mengangguk. "Saat Sinar menemukan jejak anak perempuan Liem yang dinyatakan meninggal. Saat itu aku baru menyusun ulang semua potongan."

Keira tersenyum tanpa rasa. "Jadi seluruh pernikahanku adalah teka-teki yang semua orang simpan kecuali aku."

Revano tidak membela diri.

Keira memasukkan foto itu kembali ke map. Tangannya tidak lagi gemetar. Itu lebih menakutkan daripada saat ia memegang cambuk.

"Aku perlu tahu satu hal."

"Tanya."

"Saat kau menulis 'kalau suatu hari kau merindukanku, panggil namaku', nama mana yang kau maksud?"

Revano seperti ditikam.

Keira menunggu.

Lama.

Akhirnya ia menjawab, "Nama yang keluar dari hatimu."

Keira menutup mata sebentar.

Air mata jatuh satu, lalu berhenti.

"Kalau begitu hari ini tidak ada nama yang bisa kupanggil."

Revano menegang.

Keira berjalan menuju pintu.

Ia berhenti sebelum keluar, tanpa menoleh.

"Rayhan yang kucintai sudah mati di Marunda."

Setiap kata terdengar jelas di ruang baja.

"Revano Hartono, kau orang asing yang mencuri wajah dukaku."

Pintu terbuka.

Sinar berdiri di luar, wajahnya pucat. Ia melihat garis merah di kemeja Revano, lalu melihat Keira. Tidak berani berkata apa pun.

Keira melewatinya.

Di dalam ruangan, Revano tetap berlutut.

Topeng perak tergeletak di lantai.

Untuk pertama kalinya sejak kembali dari kematian, ia tidak punya rencana berikutnya.

1
Diah Susanti
ini salah satu keahlian orang Indonesia, bisa mengetahui kehadiran seseorang yang dikenal dari suara kendaraannya. bahkan dari langkah kaki juga batuk/dehemannya😄😄😄
Tri Septi
pembalasan ya.....maaf aku kurang sreg😔🙏
Tri Septi
ayo nyalakan apinya 🔥🔥🔥🔥🔥 semangat 💪💪💪
Tri Septi
satu per satu kesalahan harus dipertanggung jawabkan 😇
Tri Septi
semoga keira selamat😯
Tri Septi
sudah terlambat ray🔥🔥🔥
Tri Septi
wah, keira 👍 lanjutkan Thor, makasih 🙏🙏
Tri Septi
taktik Rayhan setelah tahu keira siapa .... telat bro! 🔥
Tri Septi
ini baru permulaan 😆😆😆
Tri Septi
ternyata jago beladiri😍😍😍
Tri Septi
hemmmm....orang kaya mah bebas ya, lanjut thor👍
Tri Septi
en in en......gimana kelanjutannya, tunggu episode berikut....😁🤣🤣🤣
Tri Septi
ayo mulai babak baru 👍😍
Tri Septi
lanjut Thor 👍 suka' 😍😍😍
Tri Septi
hemmmm....teh hijau sudah muncul🤔
Tri Septi
selamat datang kembali menuju kehidupan baru keira 😍😍😍
Tri Septi
aku mampir thor😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!