NovelToon NovelToon
Suamiku Mantan Narapidana

Suamiku Mantan Narapidana

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Emmy Liana

Setelah lima tahun berlalu, takdir cinta mempertemukan mereka kembali. Sayang, wanita yang disebut gadis purple olehnya saat menjalani kasih dahulu dan sangat dicintai Azka memilih mengganti identitasnya. Cinta yang begitu kuat dalam diri Azka, tak akan bisa dibohongi. Kenapa dan apa alasannya, wanita yang dulu dicintai kini begitu tak ingin bersamanya kembali. Rahasia apa yang dia sembunyikan, hingga Azka harus berjuang mencari tahu kebenarannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emmy Liana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam yang panjang

​Malam semakin larut menyelimuti rumah sederhana itu. Suara jangkrik bersahutan di halaman, menciptakan melodi alam yang tenang, kontras dengan badai emosi yang baru saja mereda di ruang tamu. Kehangatan teh yang disajikan Ibu Gwen terasa menenangkan, tetapi tidak mampu sepenuhnya meredakan ketegangan yang masih memayungi Azka.

​Setelah Ayah Gwen, yang kini menunjukkan sedikit kelembutan yang ia sembunyikan di balik kemarahan, pergi ke kamar, Ibu Gwen mengajak Naka.

​"Ayo, Sayang," bisik Ibu Gwen, mengelus rambut Naka. "Nenek akan menidurkanmu di kamar yang nyaman."

​Naka, setelah kegembiraan eksplorasi singkatnya, mulai mengantuk. Ia menguap lebar dan membiarkan dirinya digendong oleh wanita asing yang memancarkan aura keibuan. Bagi Ayah dan Ibu Gwen, kehadiran Naka adalah pelipur lara, sebuah keajaiban kecil yang datang setelah lima tahun penantian yang menyakitkan. Mereka menidurkan Naka di kamar mereka, merasakan kebahagiaan sederhana menjadi kakek dan nenek, bergantian menciumi pipi gembul sang cucu.

​Di ruang tamu, Gwen menatap punggung Azka yang duduk tegap di sebelahnya. Meskipun ia baru saja menunjukkan tekad yang membaja di hadapan Ayah Gwen, ada sesuatu yang terasa janggal.

​"Azka, apa kau baik-baik saja?" tanya Gwen pelan.

​Azka menggeleng samar, bahunya mulai bergetar. Ia menarik napas dalam, mencoba menahan rasa sakit yang menusuk.

​"Tulang pundakku... yang dulu patah," bisiknya, suaranya tercekat. "Dan luka saat di Islandia, mereka seolah... meradang lagi."

​Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Wajahnya yang tegang kini pucat, dan demam tinggi menyerangnya tiba-tiba. Trauma fisik dan tekanan mental selama berhari-hari—melarikan diri, pertempuran di pasar saham, dan pengakuan yang menguras emosi—akhirnya menuntut bayarannya.

​Gwen panik. Insting dokternya langsung mengambil alih. Ia menyentuh dahi Azka. Panasnya membakar.

​"Astaga, Azka! Kau demam tinggi!"

​Gwen segera berlari ke tasnya. Sebagai seorang dokter yang selalu siap, ia membawa kotak obat darurat. Ia mengambil termometer, mengukur suhu Azka (yang menunjukkan 39.5° dan dengan cepat menyiapkan pertolongan pertama.

​"Kau harus berbaring. Sekarang," perintah Gwen dengan nada yang tak terbantahkan.

​Azka terlalu lemah untuk melawan. Dengan bantuan Gwen, ia berbaring di sofa panjang. Gwen menyingkirkan bantal dan menyandarkan kepala Azka dengan hati-hati. Ia memberinya parasetamol dosis tinggi dan menyeka tubuhnya dengan air hangat untuk membantu menurunkan suhu.

​"Maafkan aku, sayang. Aku tidak seharusnya membiarkanmu menahannya," bisik Gwen, air matanya menetes di pipi Azka.

​Azka memejamkan mata, membiarkan sentuhan Gwen menenangkan tubuhnya yang sakit. "Aku harus kuat, Gwen. Aku harus... menjatuhkan Farida..."

​"Ssst. Sekarang yang perlu kau jatuhkan adalah demam ini," potong Gwen tegas.

​Ia duduk di lantai, di samping sofa, dan meletakkan tangan Azka yang dingin di pipi kirinya. Ia terus menggenggam tangan itu erat-erat, menjaga dan mengawasi suaminya sepanjang malam. Tidak ada lagi percakapan tentang Farida, pasar saham, atau masa lalu. Malam itu hanya ada Gwen, sebagai istri dan dokter, yang berjuang melawan demam suaminya.

🌷🌷🌷

​Keesokan Harinya...

​Fajar menyingsing, membawa cahaya keemasan yang menembus tirai jendela ruang tamu. Azka terbangun. Rasa sakit di bahunya masih ada, tetapi demamnya sudah jauh mereda. Ia merasa lebih ringan.

​Hal pertama yang dilihatnya adalah kepala Gwen yang bersandar di kakinya, rambutnya yang hitam tergerai di lantai kayu. Gadis itu tertidur pulas, kelelahan setelah menjaga Azka semalaman. Senyum tipis terukir di bibir Azka. Kelemahan yang ia tunjukkan semalam adalah bukti bahwa ia tidak harus menanggung semuanya sendirian.

​Ia perlahan menggerakkan kakinya agar tidak membangunkan Gwen. Ia tahu waktu sangat berharga. Ia punya dua minggu, dan Farida sudah mulai melacaknya.

​Ia mengambil ponselnya yang ada di saku jaket dan mengirim pesan singkat.

​Azka: Bima, aku butuh penerbangan pertama ke Jakarta. Rencananya dimulai hari ini. Kita tidak bisa menunggu.

​Gwen tersentak bangun saat merasakan gerakan. Matanya langsung fokus, memeriksa wajah Azka.

​"Kau... sudah baikan?" tanyanya, suaranya serak.

​"Jauh lebih baik," jawab Azka, tatapannya penuh tekad. Ia sudah mengenakan jaketnya. "Aku harus pergi, Gwen."

​Gwen langsung berdiri, matanya memancarkan ketidaksetujuan. "Azka, jangan konyol! Demammu semalam 39.5° Kau baru pulih. Pundakmu masih sakit. Kau perlu istirahat setidaknya dua hari lagi."

​Azka memegang kedua bahu Gwen, menatap lurus ke mata istrinya. "Waktu kita tidak banyak, Sayang. Farida sudah tahu aku di Jakarta. Dia sudah mulai bergerak di pasar saham. Bima sudah menunggu dengan rencana kita."

​Ia menarik napas dalam, mengucapkan kalimat yang mengiris hati Gwen.

​"Ibuku dan Daniel... mereka masih disekap oleh Farida. Aku harus segera menyelesaikan ini secepatnya."

​Mendengar nama Ibu Azka dan Daniel, tekad Gwen goyah. Ia tahu betapa Azka mencintai ibunya dan betapa Farida menggunakan mereka sebagai alat untuk mengendalikan Azka.

​"Tapi..." Gwen memohon. "Setidaknya tunggu Ayah dan Ibu bangun. Mereka ingin bicara lagi denganmu. Naka..."

​"Aku akan kembali," potong Azka, meyakinkan. "Aku berjanji, aku akan kembali, menjemputmu dan Naka, dan meresmikan pernikahan kita di hadapan mereka. Aku harus pergi sekarang, sebelum Farida tahu aku di mana. Begitu aku tiba di Jakarta, aku akan mengirimkan sinyal ke Bima untuk mulai menghancurkan PT. Nusa Buana Jaya."

​Azka mencium kening Gwen dalam-dalam, sebuah janji di fajar yang dingin. Ia membalikkan badan, langkahnya tegap, tetapi Gwen tahu itu adalah pura-pura. Ia masih sakit.

​Saat Azka berjalan menuju pintu depan, Ibu Gwen muncul dari kamar. Ia melihat punggung Azka, lalu menoleh ke putrinya yang berdiri dengan air mata tertahan.

​"Gwen, apa yang terjadi?" tanya Ibu Gwen.

​"Azka... dia pergi, Bu," bisik Gwen, hatinya remuk. "Dia harus menyelesaikan Farida."

​Tiba-tiba, ponsel Azka berdering nyaring di sakunya, memecah kesunyian. Azka mengeluarkannya. Itu adalah nomor yang tidak dikenal. Ia ragu-ragu, lalu mengangkatnya.

​"Halo?"

​Suara di seberang telepon itu lembut, tetapi sedingin es.

​"Mr. Arkasana. Pagi yang indah, bukan?"

​Azka terdiam. Itu adalah suara Farida.

​"Kau pikir kau bisa lari? Kau pikir kau bisa bersembunyi di desa kecil itu, sambil bermain suami dan ayah bahagia? Aku tahu di mana kau berada. Dan tebak apa? Aku tahu apa yang kau sayangi."

​Jantung Azka berdebar kencang. Ia mengepalkan tangan, amarahnya meluap.

​"Apa maumu, Farida?"

​"Aku hanya ingin kau menghentikan permainan saham bodohmu itu, dan kembali ke tempat yang seharusnya. Dan untuk meyakinkanmu, aku akan memberimu hadiah. Buka emailmu. Itu akan meyakinkanmu bahwa 'Mr. Surya' yang kau ciptakan, tidak sekuat yang kau bayangkan."

​Farida memutuskan panggilan. Tangan Azka bergetar. Ia menoleh ke belakang, melihat Gwen, Ayah Gwen, dan Ibu Gwen yang kini berdiri di ambang pintu, kebingungan.

​Dengan tangan gemetar, Azka membuka emailnya. Di sana, ada satu pesan baru tanpa subjek, berisi sebuah gambar. Azka membuka gambar itu, dan dadanya langsung sesak.

​Gambar itu menunjukkan Ibu Azka dan Daniel. Mereka duduk di kursi dengan mata tertutup. Tetapi bukan itu yang membuat Azka membeku.

​Di samping mereka, ada sesosok pria tinggi besar berbalut pakaian serba hitam, memegang pisau. Dan di meja di depan mereka, tergeletak... foto Naka yang diambil semalam saat ia tertidur.

​Air mata Gwen tumpah. Azka menjatuhkan ponselnya, wajahnya putih pasi. Ketakutan yang baru, yang jauh lebih besar, merayapinya. Farida sudah melanggar batas. Dia tidak hanya mengancamnya. Dia mengancam putranya.

​"Gwen... Naka dalam bahaya," Azka berbisik, memandang ngeri ke arah kamar tempat putranya tertidur.

​Siapa "Si Hitam" yang Farida sebutkan, dan bagaimana ia bisa mengambil foto Naka di rumah itu? Akankah Azka tetap pergi ke Jakarta, atau haruskah ia tinggal untuk melindungi keluarganya dari ancaman yang kini berada di ambang pintu?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!