Angkasa yang bersahabat dengan Bintang.Hingga Angkasa di putus oleh sahabatnya Bintang hanya masalah kedekatan mereka yang seperti perangko.
Angkasa yang sudah dekat dengan Bintang. Yang tak ingin jauh hingga perasaan cinta muncul. Berbagai masalah yang datang, membuat Angkasa selalu menjaga Bintang. Teror, kehilangan sahabat, serta pilihan besar membuat Angkasa dilema.
Apakah Angkasa akan memperjuangkan cintanya kepada Bintang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Durratul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 32
Kejadian kemarin pun membuat Pandu tertawa geli, namun ia juga merasa bersalah karena sudah membuat perut Virgo yang diaduk-aduk, pedasnya keripik balado tersebut membuat Virgo bolak-balik ke toilet. Bahkan Mala sudah menyodorkan obat penghenti diare, wajah Virgo kemarin benar-benar pucat.
"Sableng lo, bukannya diucapin semoga cepet sembuh ya go, malah ketawa gak jelas." dumel Virgo saat masih mengunyah nasi gorengnya.
"Kalau mau bicara itu selesaikan dulu makanannya, jadi ngomongnya kurang jelas kayak lebah mau memangsa sasarannya." ucap Pandu menambah kesan ramai walaupun kelas masih sepi karena ia dan Virgo berangkatnya terlalu pagi, kursi Angkasa pun masih kosong, ah ia jadi memikirkan cowok itu lagi.
"Tante Mala itu baik banget yah sampai beliin kita oleh-oleh yang harganya mahal itu." Virgo kagum sekaligus bersyukur, rejeki datang itu diterima secara lapang dada.
Pandu mencium bau ke-modusan. "Halah, palingan lo juga ngarep gitu kan semenjak tante Mala tau ke Bali liburan? Yang terlintas di otak lo cuman oleh-oleh terus."
Langkah sepatu membentur lantai dengan suaranya yang khas memasuki kelas yang sepi dan agak ramai dengan dua orang yang asyik mengobrol. Angkasa duduk terdiam, Pandu dan Virgo yang menyadarinya pun tetap bercerita.
'Mereka dapat oleh-oleh? Ah, lagipula itu kan cuman bagi-bagi rezeki saja. Mereka terlalu antusias dan tak memikirkan darimana uang sebanyak itu untuk membeli barang-barang yang mewah bukan?' batin Angkasa, sungguh ia juga ingin ikut menimbrung dengan obrolan itu. Tapi ia sudah terlalu banyak menyakiti mereka, terutama Virgo. Cowok itu masih membencinya.
🌸🌸🌸
"Serius banget sih baca bukunya." Bela tiba-tiba duduk disampingnya membuat Bintang terkejut, datang bukannya salam justru membuat jantung hampir keluar dari organnya.
Bintang menatap Bela kesal, jika sudah serius membaca jangan diganggu belum tentu materi yang dibacanya itu sudah faham. "Bela, jangan buat gue kaget dong, kalau jantung gue copot?"
"Mana mungkinlah, hati-hati dengan ucapan adalah do'a." peringat Bela, Bintang bersitighfar.
"Lanjutin aja bacanya, sebentar lagi kan kita di suguhi ujian. Belum lagi tes ke jalur SNMPTN, SBMPTN." Bela memegangi pelipisnya, ia juga pusing memikirkan itu, tapi bagi orang yang benar-benar serius dengan belajarnya membuat hatinya bertanya-tanya apakah mereka tidak bosan atau matanya mendadak panas karena terlalu lama membaca?
"Eh, lo sudah merencanakan ke universitas apa gitu?"
Bintang menutup bukunya. "Ada, dan gue mau ke Harvard buat memulai hidup baru dan gak perlu mengingat-ingat suatu hal yang membuat hati sakit."
"Wah, sallut gue. Semoga keterima, apalagi dapat beasiswa kan lumayan tuh bisa nabung buat nikah." Bela merembet kemana-mana, Bintang melotot, perjalanan masa remaja itu cukup panjang dan tak akan bisa di ulang lagi. Mengapa terburu-buru menikah kalau saja masih ada keinginan mencapai cita-cita? Utamakan prestasi, nanti dia akan datang sendiri.
"Gak, nikah itu seumur hidup, dan masa lo gak tau sih kalau nikah itu kan harus diatas 17 tahun. Jangan bahas yang dewasa begini, persiapkan diri lo buat ujian yang akan menyerang kita. Fokus sapai juling, dapat pusing iya." ucap Bintang sambil menguap matanya yang terasa panas karena terlalu banyak membaca, fokus di satu titik melebihi jam biasanya, pandangan Bintang pun seperti ada dua.
🌸🌸🌸
Semilir angin malam membelai pipi Bintang, jelaganya pun membuat hatinya tenang, lampu jalanan yang tak terlalu terang menjadikan fokus belajar semakin faham. Ia duduk sendiri, taman ini pun tak jauh dari rumahnya lagipula ibunya sudah mengizinkannya asalkan harus pulang tepat jam 7 malam karena taman ini akan semakin sepi, belum lagi orang yang lewat berlalu-lalang dapat dihitung satu-dua, sangat bahaya memang tapi Bintang tak peduli ia fokus pada buku persiapan SNMPTN dan SBMPTN yang sudah ia pinjam di perpustakaan tadi siang. Semakin hanyut dengan pembahasan soal dan jawabannya hingga Bintang tak menyadari bahwa disampingnya kini sudah ada seorang cowok menyalakan rokoknya, asapnya pun menganggu pernafasan Bintang.
"Mohon maaf anda bisa merokok ditempat lain jangan disini, saya merasa terganggu." ucap Bintang tegas tanpa menoleh dengan cowok itu yang kini menatapnya sendu, rindu dan ingin mengatakan bahwa ia juga tak ingin jauh-jauh dari Bintang, sang pelengkap semesta.
"Seharusnya kamu yang menjauh dan pulang, bukannya duduk sendirian dan sambil baca buku malam-malam begini, ditempat sepi pula. Nanti kalau ada bahaya yang menghampirimu siapa yang akan menolongnya?" suara yang sarat akan khawatir itu membuat Bintang menoleh dan wajah Angkasa yang tenang dengan tangan kanan memegang rokok yang masih menyala,tinggal setengah. Sejak kapan dia merokok?
"Baiklah, kalau anda merasa tak nyaman saya akan pergi." ucap Bintang jengah sendiri, walaupun ia tak merokok tapi yang pasif juga akan terpengaruh akan bahayanya. Angkasa mencekal tangan Bintang, cewek itu membuang muka, sebegitukah sahabatnya sudah mulai membencinya? Angkasa akan memulai dari awal ia tak peduli dengan ancaman Farhan.
🌸🌸🌸
mampir yuk, ke karya aku. judulnya rangkaian tinta takdir, jangan lupa like, komen, and votenya ya kak😁
trimakasih