Ziel Alexander, pewaris satu-satunya Keluarga Alexander, terpaksa menikah dengan seorang wanita akibat perjodohan yang disiapkan oleh sang kakek, Romano Alexander.
Athena Beatrice Greene, wanita cantik yang dijodohkan dengan Ziel. Ia menerima perjodohan itu untuk membahagiakan kedua orang tuanya.
Pertemuan pertama antara Ziel dan Athena, membuat Athena tak ragu menerima perjodohan itu juga. Namun, ia tak menyangka sikap dan sifat Ziel langsung berubah setelah pernikahan mereka.
Penderitaan bertubi-tubi mulai dirasakan oleh Athena. Namun rasa yang telah timbul membuat ia menerima semuanya. Hingga suatu ketika ia menemukan dan mengetahui sesuatu yang membuatnya jatuh dan sakit tak terkira.
Ia pun bertekad untuk membuat Ziel menyesal dan merasakan sakit seperti yang ia rasakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pansy Miracle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#32
Ntah mengapa perasaan Ziel begitu tidak tenang. Ia selalu saja memikirkan Athena.
“Di mana Athena sekarang, Van?” tanya Ziel.
“Kota Visby di Swedia.”
“Pesankan aku tiket ke sana,” kata Ziel.
“Kamu tak ingin menggunakan pesawat pribadimu?” tanya Evan.
“Tidak. Aku tak ingin Grandpa tahu bahwa aku pergi meninggalkan perusahaan,” jawab Ziel.
“Baiklah,” Evan mengutak-atik ponselnya kemudian berkata, “sudah. Kamu berangkat malam ini juga.”
“Thank you, Van.”
Ziel langsung menyelesaikan dengan cepat semua pekerjaannya. Ia tak ingin kepergiannya jadi membebani Evan dan Grandpa Roman menganggapnya tak becus bekerja karena ingin dekat dengan Athena.
**
Sesampainya Ziel di Kota Visby, ia langsung menuju ke hotel. Ia tak ingin mengganggu istirahat Athena. Ia melihat jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul 11 malam. Ia pun segera membersihkan diri dan pergi tidur. Besok pagi-pagi ia akan langsung mencari Athena di butik.
Keesokan paginya, Ziel langsung berangkat dengan mobil yang sudah disiapkan oleh Evan melalui pihak hotel. Ia akan segera pergi menuju ‘Beatrice Boutique’. Namun sebelum itu, ia mampir ke sebuah coffee shop untuk sarapan dan minum kopi.
Sesampainya Ziel di depan ‘Beatrice Boutique’, dari dalam mobil ia melihat seseorang baru saja melewati pintu masuk butik tersebut. Ia menunggu sesaat dan memperhatikan ke dalam. Ia tak melihat ada pergerakan apapun hingga ia pun turun.
Saat ia masuk ke dalam, terlihat Elaine yang baru saja keluar dari gudang.
“Permisi, saya ingin bertemu dengan Nona At … Beatrice,” kata Ziel.
“Sebentar saya hubungi dulu,” kata Elaine.
“Apa Nona Beatrice sedang ada tamu?” tanya Ziel.
“Tidak. Nona Beatrice tak ada tamu pagi ini,” jawab Elaine.
“Tapi tadi saya melihat seseorang masuk ke sini.”
“Tidak ada, hanya saya dan Nona Beatrice saja pagi ini.”
Perasaan Ziel pun semakin tidak enak. Ia langsung menuju tangga dan naik. Di depan pintu yang tertutup, ia mendengar suara seorang pria yang terus saja memberikan ancaman pada Athena.
Terlihat dari sela pintu kaca yang tertutup oleh lapisan seperti es, seseorang sedang menodongkan senjata ke arah Athena. Ziel mengepalkan tangannya dan bersiap untuk masuk.
Ziel membuka pintu kaca ruang kerja Athena. Untung saja pintu itu tidak berderit ketika dibuka, sehingga memudahkan Ziel untuk masuk tanpa diketahui.
“Pergi! Keluar dari sini!” teriak Athena yang kini mengeluarkan gunting yang ia pegang.
Pria itu tertawa semakin kencang saat melihat Athena memegang gunting, “Jangan membuatku tertawa. Apa kamu yakin bisa mengalahkan pistolku dengan sebuah gunting?”
Mata Athena menangkap sosok Ziel yang mengendap di belakang pria itu. Ia mulai takut jika terjadi sesuatu pada Ziel, apalagi pria itu memegang senjata.
Pria itu pun bersiap menembak Athena dan dengan cepat Ziel langsung menangkap kedua lengan pria itu dari belakang dan mengarahkannya ke atas.
Dorrr …
Pria itu langsung memutar tubuhnya, namun Ziel yang sudah siap dengan gerakan itu pun langsung memukulnya dengan tepat di wajah hingga hidung pria itu mengeluarkan darah. Ziel juga menendang lengannya hingga senjata itu terjatuh dan Ziel menendangnya jauh ke sudut ruangan.
“Kemarilah! Hadapi aku. Jangan jadi pria pengecut yang hanya berani menodongkan senjata pada seorang wanita,” kata Ziel.
Pria bertopeng itu tersenyum di balik topeng saat melihat keberadaan Ziel di sana. Ia memutar tubuhnya dan kini berhadapan dengan Ziel. Keduanya memasang kuda-kuda dan siap untung bertarung. Sementara itu Athena yang melihat itu, mencari senjata yang tadi ditendang oleh Ziel.
Bughhh
Bughh
Bugh
Terjadi baku hantam antara keduanya. Mereka saling memukul dan menendang, hingga keduanya mulai terluka dan mengalami memar.
“Hentikan!” teriak Athena. Ia telah menemukan senjata itu dan mulai mengarahkannya pada pria bertopeng.
Pria itu tahu ia tak akan menang jika melawan senjata, tapi ia juga tahu kalau Athena tidak ahli menggunakannya. Dengan perlahan ia mengeluarkan sebuah pisau kecil dari samping celananya, tanpa terlihat oleh siapapun.
Jlebbbb … srettt …
Ia mungkin gagal membunuh Athena, tapi ia memanfaatkan kesempatan itu untuk melukai pria yang mengganggu rencananya. Ia tak peduli jika ria itu adalah Ziel Alexander, setidaknya ia telah membalaskan luka di tubuhnya.
“Ahhh …,” Ziel terjatuh sambil memegang perutnya yang terkena tusukan pisau. Kelengahan Athena saat melihat Ziel yang terluka, dimanfaatkan oleh pria itu untuk segera keluar dari ruangan dan pergi.
“Ziel!” teriak Athena dan langsung mendekat.
Ia mengambil kain apapun di dalam ruangannya dan menahan pendarahan itu.
“El! El!” teriak Athena memanggil asisten pribadinya. Elaine juga langsung naik ke atas saat melihat seorang pria dengan topeng turun dari atas.
“Nona!”
“Cepat panggil ambulans! Tidak, tidak! Bantu aku mengangkatnya. Kita harus segera ke rumah sakit,” kata Athena.
Dengan bantuan Elaine, Athena memapah Ziel menuju mobil miliknya. Ia membaringkan Ziel di kursi belakang dan ia akan mengemudikan mobil.
“El, panggil polisi ke sini untuk memeriksa semuanya dan segera simpan rekaman CCTV di ruanganku,” pesan Athena.
“Baik, Nona.”
Dengan cepat Athena melajukan kendaraannya. Sesekali ia melihat ke arah spion tengah untuk memeriksa keadaan Ziel.
“Bertahanlah, kita akan segera sampai,” kata Athena.
🌹🌹🌹
👍👍👍👍❤️❤️❤️❤️😍😍😍😍