Setelah berhasil membantu kerabat Selo mengalahkan Arya Penangsang, Ki Wirojoyo seorang jagoan dari kerabat Selo hendak pulang untuk memboyong keluarganya pindah ke Alas Mentaok bersama kerabat Selo lainnya. Namun ketika sedang bersiap untuk pindah, rumahnya didatangi oleh kelompok Kelelawar Hitam yang hendak membantai Ki Wirojoyo beserta keluarganya. Ki Wirojoyo berusaha mempertahankan dirinya namun ia kalah kemudian terbunuh oleh pemimpin Kelelawar Hitam yang bernama adalah Ki Rono Tikusilo.
Putra Ki Wirojoyo yang bernama Surodipo berhasil diselamatkan oleh Ki Suryo Alam, seorang pertapa sakti dan aneh dari Gunung Sindoro dan diangkat murid olehnya. Setelah menurunkan seluruh ilmunya Ki Suryo Ngalam pun memerintahkan agar Surodipo untuk mengabdi di Mataram sebagai pemenuhan janjinya pada Ki Pemanahan karena ia sahabat Ki Pemanahan dan pernah berjanji untuk menggembleng seorang murid untuk menjadi abdi Mataram, dan menumpas Ki Rono Tikusilo yang ternyata adalah mantan muridnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fariz Pradipta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32 – Surodipo (2)
Begitu menguasai dirinya kembali, tiga anak buah Suroblabak langsung menjerit ngeri, mereka hendak kabur namun si pemuda langsung berkelebat lagi secepat kilat, dan entah bagaimana ceritanya, kembali terdengar suara bak-bik-buk, dua orang dari mereka terpelanting ke atas pohon sambil muntah darah!
Satu orang sisa anak buah Suroblabak langsung melompat keatas kudanya dan memacunya bagaikan kesetanan, tapi tiba-tiba ia roboh dengan kepala bagian belakang berlobang kecil sebesar jari kelingking. Sudah pasti ia tewas
dengan kepala belakang ditembus Mutiara Setan si pemuda aneh ini.
Surablabak sebenarnya jerih juga pada si pemuda, tapi merasa percuma untuk melarikan diri, ia pun menjadi nekat. “Kurang Ajar! Berani pada Surablabak berarti maut!” Surablabak mendengus ia lalu melompat dari atas kudanya, menerjang si pemuda dengan goloknya!
Si Pemuda ayunkan tangannya, sekonyong-konyong terdengar suara seperti sesuatu yang pecah! Ternyata golok besar di tangan Suroblabak entah bagaimana patah menjadi beberapa bagian, si pemimpin perampok ini pun menggigil kedinginan karena golok yang patah di tangan kanannya tiba-tiba menjadi sedingin es!
Belum habis keterkejutan perampok keji ini, tiba-tiba tangan kokoh si pemuda mencengkram batok kepalanya! Suroblabak tak mampu bergerak, ia hanya merasakan hawa dingin yang teramat sangat menjalar dari tangan si pemuda ke ubun-ubun kepalanya lalu ke sekujur tubuhnya.
Kepala perampok ini menjerit-jerit minta ampun tapi si pemuda tidak melepaskannya, hingga beberapa kejap kemudian darah mulai mengalir dari mulut, hidung, telinga dan mata Suroblabak sampai akhirnya tubuhnya jatuh lemas ke tanah dan tidak berkutik lagi dengan seluuruh tubuh membiiru! Itulah kehebatan Aji “Rajah Penyangga Langit” milik si pemuda yang tak lain adalah Surodipo!
Pemuda ini kemudian menoleh ke tempat dimana Cempluk berada tadi. Ternyata gadis ini jatuh pingsan dengan keadaan tangan masih terikat diatas jenasah Juragan Mertojoyo. Surodipo kemudian menghampiri gadis itu, barulah ia menghembuskan nafas panjang yang penuh penyesalan melihat keadaan gadis malang yang nampaknya amat terpukul oleh kematian ayahnya tersebut.
“Gadis ini mengingatkanku pada Adikku Sekar… Nasibnya sama denganku. Kebahagiannya direnggut begitu saja oleh Setan-setan tak bertanggung jawab ini…” desah Surodipo dalam hatinya.
“Selama orang-orang seperti Rono Tikusilo dan Suroblabak ada di dunia ini, jagad ini akan selalu basah oleh darah yang mereka tumpahkan dan air mata dari mereka yang kehilangan… ” geramnya dalam hati.
Surodipo kemudian memasukan jenasah Juragan Mertojoyo dan seluruh anak buahnya kedalam kereta, ia kemudian membaringkan Cempluk yang masih tergeletak pingsan di kursi depan sebelah kusir. Ia lalu memeriksa barang bawaan Juragan Mertojoyo dan mendapati surat jalan dari pemerintah Pajang dan Mataram. “Jadi tujuan mereka ke Kademangan Wonggo? Baiklah, aku bawa mereka kesana saja…” Surodipo kemudian duduk di kursi kusir dan mengendalikan kereta kuda itu menuju ke arah timur laut.
Dalam perjalanan pemuda ini mendadak teringat pada gurunya, ia membaca istigfar dan menghela nafas berat penuh penyesalan karena terlanjur bertindak kesusu untuk langsung menghabisi para begal tersebut, "Ah mengapa aku tidak bersabar dan memberikan mereka kesempatan untuk bertaubat? Guru... Apakah dendam dan kebencian itu masih menyala di pusara jiwaku? Ya Gusti Allah, tolong maafkanlah hambamu ini yang khilaf..." bathinnya.
***
Cempluk membuka matanya, ia langsung tersentak terbangun dengan sekujur tubuh penuh keringat dan nafas tersenggal-senggal. Kemudian ia mendengar suara kicauan burung yang bernyanyi dengan riang di pagi hari ketika berusaha mengatur nafasnya yang tersenggal-senggal. Setelah kesadarannya pulih, ia pun mendapati bahwa dirinya sekarang berada didalam kamarnya di rumahnya sendiri yang terdapat di Kademangan Wonggo.
Cempluk pun mengusap butiran keringat yang membasahi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Saat itulah ia mendnegar suara orang-orang yang sedang membacakan surat Yasin di pendopo rumahnya. Ia pun teringat kalau ia baru saja mengalami kejadian yang sangat mengerikan sampai Ayah dan semua pengawalnya tewas.
Kembali tangis gadis ini pecah. Ia langsung berlari ke pendopo rumahnya dan melihat banyak orang yang sedang mendoakan jenasah ayahnya. Ia pun langsung jatuh terduduk dan menangis tersedu-sedu yang kemudian dipeluk oleh Ibu kandungnya. “Sabar Nduk, Istigfar… semua ini adalah ujian dari Gusti Allah untuk kita…” ucap Ibunya yang juga terus meneteskan air matanya.
Mereka pun berangkat ke pemakaman untuk mengekebumikan jenasah Sang Juragan. Setelah selesai, barulah Cempluk menyadari mengapa ia bisa sampai di rumahnya, padahal pada saat ia pingsan, ia masih berada di Lembah Karang Hantu bukit Menoreh. “Oya Mbok, bagaimana aku bisa sampai ke rumah? Padahal pada saat sebelum pingsan aku masih berada di Lembah Karang Hantu?”
Ibunya tertegun sejenak, barulah ia menjawab. “Kemarin pagi, seorang pemuda berparas tampan dan gagah namun wajahnya sangat dingin dan angker, mengantarkan kamu dan jenasah ayahmu serta seluruh pengawal kita menggunakan kereta kuda milik kita.”
Cempluk memegangi kepalanya, ia berusaha mengingat-ngingat kejadian naas dua hari yang lalu. Teringatlah ia pada seorang pemuda berwajah tampan bertampang gagah yang memainkan seruling bambunya sebelum ia menolong dirinya. Dia lah yang menolong dirinya menskipun Cempluk merasa ngeri juga karena pemuda itu sangat
kejam dan tak segan menghabisi seluruh perampok itu. Yang paling ia ingat adalah suara serulingnya yang menyayat hati namun membuat dirinya merinding ketakutan juga.
“Kamu ingat sesuatu Ndhuk?” tanya ibunya.
“Iya… Pemuda itu memang tampangnya gagah dan wajahnya tampan… Dan sangat kejam tanpa ampun membantai para perampok itu sampai aku pingsan karena ketakutan dibuatnya…” jawab Cempluk sambil bergidik ngeri.
“Sebenarnya kemarin pun kami hampir saja bentrok.” ucap Ki Demang ikut menimpali pembicaraan mereka. “Kami mengira ia adala perampok atau Rajapati yang membantai rombongan Juragan dan sengaja hendak mengacau di Kademangan ini. Kami pun hendak meringkusnya, tapi seluruh prajurit Kademangan dan para pemuda desa dibuat
roboh dengan sangat mudah oleh pemuda itu.”
“Benar… Ia memang sangat sakti, para perampok yang membantai kami pun bisa ia bantai dengan amat mudah! Lalu bagaimana?” sahut Cempluk.
“Dia menyuruh kami untuk memeriksa seluruh harta bawaan Juragan untuk menyelesaikan kesalah pahaman ini, dan memang tidak sepeserpun harta Juragan yang hilang!” jelas Ki Demang.
“Ketika kami hendak memberikan imbalan untuk jasanya, ia malah memainkan serulingnya dan berlalu begitu saja.” sambung Ibunya.
“Begitu… Jadi ia bermaksud baik untuk menolong kami…” Ucap Cempluk, kemudian ia mengingat-ngingat wajah si pemuda, pemuda itu memang selalu menebar aura maut nan kejam bagi siapapun yang menatapnya atau mendengar suara serulingnya, tetapi menurut Cempluk wajah pemuda itu sangat tampan meskipun tatapan matanya amat dingin. “Oya siapa nama pemuda itu?”
“Itulah… Ketika kami menanyakan namanya, ia malah meniupkan serulingnya dan memainkan lagu yang menyayat hati tapi juga mengerikan bagi siapapun yang mendengarnya, kemudian dengan acuh tak acuh ia pergi meninggalkan kami.” jawab Ki Demang.
Cempluk mengangguk-ngangguk, kembali ia teringat pada paaras pemuda tampan namun kejam dan sering bermain seruling bambu tersebut. Ia pun bergidik ngeri ketika teringat pada tatapan si pemuda yang amat dingin dan menyiratkan kekejaman tersebut, apalagi kalau teringat pada suara serulingnya.
jin gak ngaruh Thor
bagi umat islam
matur nuwun 🙏🌷
penggabungan sejarah dan drama nya mantap sekali