Terlahir kembali sebagai putri dari Duke Donovan, dia sadar bahwa dirinya yang sekarang adalah seorang antagonis yang nantinya akan meninggal dengan mengenaskan. Beruntungnya dia adalah seorang wanita mandiri di kehidupan sebelumnya dan pernikahan bukanlah hal yang besar untuknya.
"Saya tidak peduli bagaimana kalian memandang saya. Ini hidup saya dan saya memiliki hak atas hidup saya sendiri."
Monster dan pedang. Sihir dan darah monster terkutuk. Keberanian dan kesetiaan. Tanpa sengaja menjerat para protagonis pria. Bagaimana kehidupannya kali ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 : Villa (02)
Tanpa meminta izin terlebih dahulu, Duke Roan menarik tangan Lenka, membawa gadis itu ke suatu tempat dengan penuh semangat. Disusul oleh Mort dan Teivel yang tidak akan pernah membiarkan Lenka pergi tanpa mereka berdua.
Genggaman tangan itu erat. Wajah Duke Roan yang bersemangat membuat pengurus-pengurus rumah yang ada tertegun. Karena sekarang, Duke Roan terlihat seperti anak kecil.
Lenka yang sedang malas pun hanya ikut ke mana pria yang sedang menariknya itu akan membawanya.
Tidak lama setelah itu, mereka kembali berada di luar ruangan dan disambut oleh tanaman hias yang cukup banyak di sana.
"Duke Roan, sebenarnya ke mana Anda akan membawa saya?" tanya Lenka sambil melepaskan tangan Duke Roan dari tangannya.
"Uhm, ikuti saja aku. Tenang, aku tidak akan melakukan hal yang aneh-aneh." Duke Roan tersenyum dan melanjutkan langkahnya.
Lenka mengikuti pria itu dengan sedikit keraguan, tetapi tidak membuatnya takut sedikit pun. Mau Duke Roan melakukan hal yang aneh-aneh atau tidak pun, Lenka selalu siap untuk membuat pria itu jera. Dan juga, ada Mort dan Teivel bersamanya sekarang.
Pria itu menuntunnya masuk ke dalam tempat yang memiliki banyak pohon. Mereka berdua melewati jalan setapak yang terlihat sangat sering dilewati oleh orang-orang.
"Ini hutan? Saya tidak tau kalau di bagian sini memiliki hutan kecil," ujar Lenka mengeluarkan apa yang terlintas di dalam otaknya.
"Lalu apa yang kamu tau di wilayah ini?"
"Semacam perkebunan(?)"
"Ya~ mari kamu lihat sendiri." Duke Roan kembali tersenyum dan menarik tangan Lenka untuk mengikuti dirinya.
Tak lama kemudian, sebuah pagar cantik terlihat dan Duke Roan tanpa ragu membukanya seolah tempat itu tak asing lagi baginya.
Jubah yang menutupi tubuh telah lepas, pria bangsawan yang terkenal angkuh di mata keluarga Donovan dengan ramah mengulurkan tangannya untuk menerima jubah yang sedang dipakai oleh Lenka. Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Lenka melepas jubahnya dan memberikannya kepada Duke Roan.
"Tempat apa ini, Duke?" tanya Lenka sembari melihat sekitarnya.
[Grek]
"Tuan?" seorang wanita yang kira-kira berusia 40 tahun muncul dengan ekspresi terkejut. "Jika Anda memberitahu akan berkunjung, saya pasti akan menyambut Anda. Maafkan ketidaksopanan saya yang tidak menyambut Anda."
Wanita itu membungkukan badannya dan kembali berdiri tegak setelah Duke Roan memberikan dirinya perintah. Setelah wanita itu berdiri tegak, dia melirik kepada gadis yang tengah berdiri di dekat tuannya.
Mata indahnya melebar ketika tahu siapa gadis itu. Gadis dari keluarga Donovan. Warna rambut dan mata yang mencolok adalah ciri khas dari setiap anggota keluarga tersebut.
Dengan hati-hati, wanita itu mendekat kepada Duke Roan dan membisikan sesuatu.
"Biarlah, aku akan mengurusnya," ujar Duke Roan kepada wanita tersebut. Kini dia mengarah kepada Lenka dan berkata, "Kamu bisa mengambilnya sepuasmu, aku akan menyusulmu nanti. Selamat bersenang-senang."
Seperti biasanya, Duke Roan langsung saja pergi meninggalkan Lenka tanpa keterangan yang jelas.
"Nona, Anda bisa mengikuti saya."
"Baik."
Sementara Lenka bersama dengan Mort dan Teivel mengikut wanita tadi, Duke Roan menemui seseorang yang ternyata juga ada di sana.
Wanita yang sebenarnya sudah berumur tua, tetapi keriput di wajahnya tidak sebanyak orang-orang pada umumnya, beberapa rambut yang telah berubah warna masih saja terlihat cantik.
Dia berdiri di dekat jendela yang lebar dengan pakaian yang sederhana bagi kaum bangsawan kaya. Umurnya yang sudah cukup banyak tidak mengurangi keanggunan ataupun kharismanya.
"Nenek."
Panggilan dari seseorang mengalihkan perhatian wanita itu. Dia menoleh dan mendapati seorang pria yang masih saja terlihat seperti anak kecil di matanya.
"Oh Rubah Kecilku, Nenek benar-benar terkejut dengan kedatanganmu yang begitu tiba-tiba," kata wanita itu, kemudian memeluk Duke Roan.
'Rubah Kecil' adalah panggilan kesayangan untuk Duke Roan dari neneknya. Meski awal-awal pria itu tidak menyukainya, lama-lama dia terbiasa.
Tetapi masalahnya sekarang, ada seseorang yang berkunjung atau lebih tepatnya Duke Roan sendiri yang mengundang seseorang, yaitu Lenka.
Harga dirinya akan turun bila gadis itu tau bagaimana neneknya memanggilnya. Kemudian, neneknya belum tau jika dirinya membawa salah satu anggota keluarga Donovan ke vila ini, dan bagaimana bila neneknya tau?
"Apa yang sedang kamu lamunkan?" tanya nenek Duke Roan karena melihat cucunya diam cukup lama. "Apa masalah gadis lagi?" tambahnya.
"Uhm, bukan Nenek. Bukan masalah itu, tapi yah …"
"Masih ada kaitannya dengan perempuan, bukan?" Duke Roan menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan sang nenek. "Katakan apa itu? Dia mencibirmu di belakang? Hanya suka dengan wajah dan harta yang kamu miliki? Atau dia adalah orang bayaran dari orang yang membenci dirimu? Katakan kepada Nenek."
Helaan napas terdengar dari Duke Roan, pria bangsawan itu menatap lantai dengan tatapan sedih dan menggenggam kedua tangan neneknya erat.
"Sudahlah Nenek, aku baik-baik saja sekarang. Beberapa hari lalu aku telah memutuskan untuk berpisah," kata Duke Roan dengan berat hati.
"Mungkin kamu sudah jatuh dalamnya, tapi Nenek tidak ingin melihat dirimu bodoh karena cinta. Hal itu memang butuh pengorbanan, tetapi pengorbanan itu tidak boleh dari satu pihak saja dan tidak boleh merugikan salah satu pihak."
Duke Roan menganggukkan kepalanya setelah mendengarkan penuturan sang nenek. Kemudian dia mencium kedua tangan wanita yang membesarkan dirinya itu dengan penuh cinta dan kasih sayang.
"Ngomong-ngomong Nenek, aku sudah … membawa seseorang kesini. Jadi aku tidak bisa membiarkannya sendirian." Jantung Duke Roan berdegup lebih cepat dari keadaan normal. Pria itu gugup akan bagaimana reaksi yang akan dia dapatkan.
"Kalau begitu pergilah, temani dia, jangan membuat seseorang merasa tidak nyaman."
Kemudian pergilah Duke Roan meninggalkan neneknya. Sebelum kembali kepada Lenka, pria bangsawan itu mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih sederhana.
Betapa terkejutnya dia ketika tiba di kebun. Beberapa keranjang besar sudah terisi oleh hasil panen. Ketika dua pekerja datang membawa keranjang yang lain, bertanyalah dia kepada pekerja tersebut.
"Bagaimana kalian bisa mendapatkan hasil panen sebanyak ini? Apa ada pekerja lain yang masuk?"
"Tidak Tuan," jawab salah satu pekerja.
"Seseorang membantu kami dan dia adalah seorang gadis muda," tambah pekerja yang lain.
Tanpa berpikir lagi, Duke Roan tahu itu adalah Lenka.
"Bawa diriku ke sana," katanya kepada kedua pekerja itu. Maka pergilah dia bersama-sama dengan keduanya. Ketika pria itu sampai di sana, terkejutlah dia.
Saking terkejutnya, dia bahkan sampai tidak memperhatikan sekitarnya. Dilihatnya seorang gadis sedang berada di atas tangga kayu dan gadis itu sedang memetik buah yang sudah masak dari pohonnya.
"Oh Duke Roan, Anda sudah kembali?"