Dijodohkan dari sebelum lahir, dan bertemu tunangan ketika masih di bangku SMA. Aishwa Ulfiana putri, harus menikah dengan Halim Arya Pratama yang memiliki usia 10tahun lebih tua darinya.
Ais seorang gadis yang bersifat urakan, sering bertengkar dan bahkan begitu senang ikut tawuran bersama para lelaki sahabatnya.
Sedangkan Halim sendiri, seorang pria dingin yang selalu berpembawaan tenang. Ia mau tak mau menuruti permintaan Sang Papi.
Bagaimana jika mereka bersatu? Akankah kehangatan Ais dapat mencairkan sang pria salju?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Surliandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dan Aku menangis lagi.
Ais melahap Ice creamnya dengan begitu nikmat. Dimas begitu senang melihatnya. Tapi, lama kelamaan ada keanehan yang di rasakan oleh Ais.
Gadis itu menarik nafas panjang beberapa kali. Tampak begitu sesak, dan terdengar mengik.
"Hhhh, Kak.... Tolong, Kak. Ais sesak." ucap Ais, berusaha mengatur nafasnya.
"A-Ais kenapa? Apa yang salah?"
"Ngga bisa jelasin. Ais sesak, ngga bisa nafas."
Ais pun ambruk, tepat di pangkuan Dimas.
"Ais... Aishwa! Kamu kenapa? Bangunlah, jangan membuatku cemas." bujuk Dimas. Ia pun berdiri, menggendong Ais dan membawanya ke mobil.
"Mau kemana?" tanya Ais, dengan nafas tersengal.
"Ke Rumah sakit. Kamu harus segera di tangani." balas Dimas, dengan meraih Hp dan ingin menelpon Lim.
"Iya Dim, kenapa?"
"Ais... Dia sesak. Aku bawa dia ke Rumah Sakit."
"Aku segera menyusul." balas Lim, yang tampak begitu cemas padanya.
Dimas dan Ais telah tiba di IGD. Para perawat menyambutnya dengan membawa sebuah brankar. Mereka pun menurunkan Ais, dan membawanya segera masuk.
"Dimas, mana Ais?" panggil Lim, yang ternyata begitu cepat sampai.
"Dia, di IGD."
"Sesak, kau belikan dia Ice Cream apa?" tanya Lim pada tangan kanannya itu.
"Kau tak bilang, jadi ku simpulkan jika semua gadis itu suka strowbery. Dia memakannya dengan lahap, apalagi kau yang membelinya." terang Dimas.
"Astaga... Kenapa dia tak bilang. Dia itu alergi Strowbery, Dim."
"Kenapa dia makan, harusnya dia bilang kalau tak boleh." balas Dimas.
Suasana semakin tegang, apalagi dokter belum juga memberinya kabar. Lim dan Dimas, duduk berdampingan dengan perasaan yang berantakan. Apalagi Dimas, yang telah memberikan itu padanya.
" Tuan Lim?"panggil seorang dokter padanya.
" Ya, dok? Bagaimana dia? " tanya Lim yang bergegas berdiri.
" Cukup banyak dia memakan Ice cream itu. Sehingga, sesaknya begitu berat. Sepertinya, dia mengidap alergi yang cukup parah terhadap kandungan yang ada di dalamnya. Jadi, Dia perlu di rawat setidaknya malam ini."
Lim hanya menghela nafas pasrah. Mau tak mau, memang Ais harus di rawat karena riwayatnya memang seperti itu. Itu yang di katakan Mama Linda sebelum pergi.
Perawat membawa brankar Ais keluar. Dia tidur pulas dengan selang Oksigen di hidungnya. Lim pun mengikutinya dari belakang, sedangkan Dimas pergi untuk mengurus administrasinya.
"Gadis nakal. Kenapa tak menolaknya? Sebegitu gila kah terhadap Ice cream?" lirih Lim, yang menatap Ais dengan rasa kasihan yang mendalam.
"Kak Lim..." panggil Ais padanya..
"Ya, Kau sudah sadar?"
"He'emh...." lirih Ais, mencoba merubah posisinya.
"Jangan nekat. Tetaplah tidur sampai beberapa jam ini." ucap Lim dengan wajah datarnya.
Ais hanya diam, lalu menghentikan aktifitasnya.
"Kenapa tetap makan?"
"Enak..." jawab Ais dengan polosnya.
"Kau tahu, itu strowbery?" tanyanya lagi, dan Ais pun mengangguk lemah.
"Aku sibuk, tak dapat mengontrolmu Dua puluh Empat Jam, Kau tahu itu. Kenapa masih nekat memakannya jika kau alergi."
"Karena Kakak yang kasih." potong Ais.
"Hey, kau yang faham dirimu. Dan bukankah kau tahu, jika aku faham semua tentangmu meski diam?"
"Maaf..." ucap Ais, dengan air mata yang berlinang.
"Kenapa menangis? Kau bukan gadis manja 'kan?" sergah Lim.
Ais hanya menggeleng, dan mengusap air matanya yang kembali tumpah. Baru hampir Satu minggu menikah, Ia sudah beberapa kali menangis di depan Lim.
"Sebenarnya aku malu. Tapi, air mata nya ngga bisa di tahan. Sedih sekali..." batin Ais.
biar je...