WARNING ! JANGAN DI BOOM LIKE! KASIH JEDA WAKTU minimal 3 menitan.
Selamat membaca!
Julia, gadis baik hati yang mempunyai seorang sahabat bernama Dela, namun setiap Julia tertarik pada seorang lelaki, sahabatnya ini selalu menginginkan pria itu.
"Apakah aku harus merelakan Kevin untuk Dela? ataukah aku haru memperjuangkan cintaku?"
Saat Julia ingin memperjuangkankan cintanya, takdir berkata lain, karena Julia terkena penyakit. Bagaimana kisah selanjutnya? Akankah Julia bisa sembuh dan berdampingan dengan Kevin, pria yang ia cintai? Atau kan Kevin akan bersanding dengan Dela, sahabat Julia? Skuylah simak kisah Cinta Julia dan Kevin.
jangan lupa like, komen and vote
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Digital, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyesal
***
Disisi lain
Di rumah Dela,
Semenjak ia pulang dari makam Julia, Dela tak henti-hentinya menangis di kamarnya. Orang tuanya berfikir itu wajar karena Julia adalah sahabat Dela.
Ucapan Kevin selalu terngiang di telinganya.. bahkan saat makan malam pun Dela hanya mengaduk-ngaduk makanan di piringnya.
Dela duduk bersender di ranjangnya dengan lutut yang di tekuk. Penolakan yang di katakan oleh Kevin pada Dela bahkan Dela belum mengutarakan perasaannya, miris.
"Hiks ... Rasanya sakit sekali.. Aku belum mengatakan cinta padanya, tapi sudah tertolak mentah-mentah... Hiks.." ujar Dela di sela tangisnya
Tiba-tiba ia teringat surat yang di berikan oleh Julia.. Dela menyeka air matanya lalu berdiri mengambil surat di tasnya.
"Julia, surat-surat darimu akan selalu ku simpan.. terlebih surat ini.. Ini adalah surat terakhirmu. " bathin Dela.
Dela membuka lipatan kertas itu dan mulai membacanya
Dari : Julia
Untuk: Dela
Dela sahabatku, ku ucapkan banyak terima kasih atas kebahagiaan yang telah kau ciptakan bersamaku selama ini. Dela, maafkan aku.. sebenarnya aku telah menyembunyika sesuatu darimu. Aku sakit Del, sakit yang parah. Tolong maafkan aku ya.. Kau tau Del? aku menyayangimu seperti saudariku sendiri. Dela, maaf.. Tapi aku harus mengatakan ini, aku mencintai Kevin... Hanya saja, ku rasa tuhan tidak menakdirkan Kevin untukku... Yap, dengan cara aku sakit, dan dengan cara kau mencintai Kevin juga. Hhhh... Seketika harapanku sirna Del, (hati Dela sakit seeprtinya Julia menyalahkanya) . eeiittss tapi bukan berarti aku menyalahkanmu ya Del.. Ku tau ini sudah kehendak Tuhan, hehe. Tidak bisa ku bayangkan jika kita berdua terputus tali saudaranya hanya karna Kevin, oleh karena itu aku mendukung perasaanmu untuk Kevin walau sebenarnya hatiku hancur.. Aku mencintainya setelah aku berhasil Move On dari Indra.. hehehe. Tapi ya sudahlah.. Aku titip Kevin ya Del.. Aku sadar, gadi penyakitan sepertiku tidak layak untuk lelaki manapun, jadi aku lebih baik pergi.. hehe, byee
Dela menghembuskan nafas berat.. Ternyata apa yang di katakan Kevin adalah kebenaran.
"Apa aku telah melukai Julia?" batin Dela miris
Dela membalikkan kertas itu, ada catatan lagi.
" Dela, jika menurutkmu kertas yang berisikan tentang perasaanmu pada Kevin itu penting, ambillah di kamarku. Aku meletakkannya di meja belajar.. Dela, walau aku sangat mencintai Kevin, tapi aku Rela Kehilangan orang yang ku cintai untuk yang kedua kalinya, demi dirimu.. "
Dela tercengang..
"Ker-kertas? Tidak.. Ini salahku.. hikss.. Maafkan aku Juliaaaa.. Maaaff.." Dela makin menjadi-jadi .. Ia menjambak rambutnya sendiri..
Apakah ia pantas disebut pembunuh secara tidak langsung? atau pelakor? atau PHO? entahlah, intinya Julia telah kehilangan orang yang di cintainya 2 kali berturut-turut dalam masa hidupnya dan itupun hanya karna 1 orang, yaitu Dela.
***
Pagi hari..
Hari ini Dela libur tidak masuk sekolah, tetapi para guru telah memakluminya.
Ia pergi berkunjung ke kediaman Julia. Sesampainya di tempat, para pelayan menyambut kedatangan Dela, bahkan orang tua Julia pun turut menyambut hangat Dela.
"benar-benar keluarga yang tabah. Ku kira hari ini rumah ini akan sepi sekali" bathin Dela
Dela pun menyampaikan maksud kedatangannya untuk mengambil barang miliknya di kamar Julia.
Dikamar Julia..
krriieettt... Dela membuka perlahan kamar Julia.. Air matanya tak kuasa terbendung, teringat kenangan bersama Julia di kamar ini.. Dela berjalan mengelilingi kamar Julia dan membuka tirai supaya ada cahaya dan angin yang masuk.. Angin sejuk di pagi hari pun menyeruak dalam tubuh Dela.
"Kau tau Julia, kejadian ini seperti mimpi saja.. Hah... Sekarang, tidak ada lagi obrolan di antara kita, tidak ada gurauan, tidak ada tegur sapa, hahaha tidak ada pertengkaran kecil lagi di antara kita.. Heheh" Dela tertawa dengan suara yang gemetar.
Ia berjalan menuju meja belajar Julia, dan meraih bingkai foto yang berisikan foto Julia dan dirinya..
Dela meneteskan air mata di atas bingkai dan mengusapnya lembut.. Ia menatap nanar foto di tangannya itu.
"Maaf.. Aku tidak bisa memberikan kebahagiaan untukmu disaat-saat terakhirmu, malah aku memberi luka padamu." gumam Dela, ia memeluk foto itu.
Beberapa menit kemudian Dela meletakkan kembali bingkai foto itu dan mencari lipatan kertas kecil miliknya.
"Mana ya, kok tidak ada " gumam Dela sambil memindahkan barang-barang di meja belajar Julia.
"Apa ada di buku diary ya?" Dela langsung membuka buku diary Julia .
Ia memilih duduk di lantai mengenang masa lalu mereka berdua yang suka duduk di lantai saat main laptop ataupun belajar bersama.
Dela membuka satu per satu lembaran buku diary Julia, sesekali Dela terkikik membaca curhatan Julia yang lucu.
Dela membuka 1 lembar lagi,
sedih bgttt, keren banget ceritanya
knapa mesri mati sich
knapa mesri mati sich
Thor, mau Baksonya yang pedas pakai lontong.
Eh, Julia kamu sakit apa