IG : KayKha_kay
FB : Kartika Putri
Rate 22 ++
Jika cinta itu penyakit,
maka pernikahan adalah penawarnya.
Lantas,
bagaimana jika pernikahan yang disebut-sebut sebagai penawar,
ternyata lebih menyakitkan?
Zahra Ammera, rumah tangganya berubah setelah sahabat baiknya menunjukkan foto mesra sang suami dengan seorang wanita. Rumah tangga yang di jalani selama dua tahun ini, bagaimana dia mempertahankan?
Apakah dia akan bertahan jika suaminya benar-benar selingkuh?
Sebelum membaca, mohon perhatikan.
Harap bijak dalam memberikan komentar, jika tidak suka bisa langsung tinggalkan. Jika suka, jangan lupa like dan masukkan ke dalam daftar Favorit.
Terimakasih, selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KAY_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
...****Air Mata Zahra****...
Jika cinta itu penyakit. Maka pernikahan adalah obat paling mujarab. Bagi Dean, tidak begitu, dia punya pemikirannya sendiri. Lelaki itu hanya butuh mencintai tanpa penawar, meski dia sadar, suatu saat mungkin akan mati karenanya. Setidaknya, dia akan memastikan, wanita yang di cintainya bahagia dan aman.
Sama seperti sekarang, saat Zahra pura-pura acuh dan memilih bersama suaminya. Seorang lelaki yang telah menyakiti hati, mental dan fisik.
Namun, dia tidak perduli tentang perlakuan Zahra dan tetap menunggu di bawah. Memastikan agar Zahra akan baik-baik saja.
“Kamu bisa bicara, Mas.” Zahra terlihat santai, duduk di sofa sambil membuka sepatu.
“Mas khilaf, Bee. Mas tadi cuma ....”
“Cukup!” Zahra menghentikan perkataan Abram dengan mengangkat tangannya.
“Aku gak mau dengar itu. Kalau kamu datang cuma minta maaf masalah tanda tanganmu, Mas bisa pergi, menemani istri pertama yang sedang hamil. Silakan!”
“Bu-bukan itu.” Abram terlihat gusar.
“Terus, apa perlumu, Mas? Kamu ninggalin istrimu yang lagi hamil malem-malem demi ketemu istri muda. Gak takut dzolim kamu, Mas?”
Perkataan Zahra seakan mencekat di kerongkongan Abram. Membuat lelaki itu menelan salivanya kuat-kuat. Terasa seperti di kutuk oleh istri sendiri.
“Bee, ayolah, Mas minta kamu ngerti. Waktu itu papanya kritis, dan ... dan kita gak ada pilihan lain. Aku sayang sama kamu, Bee.” Abram duduk di sebelah Zahra, mencoba merayu sang istri dengan menatap wajahnya.
“Hahaha, jangan konyol, Mas. Analoginya gimana? Kamu udah punya istri, terlepas itu di paksa atau kamu gak cinta, itu istri kamu.” Zahra mencoba menekan emosinya. Menahan segara amarah juga rasa kecewa saat mendengar pernyataan sang suami.
“Dan, kamu datang dengan status lajang. Melamar aku, menikahi aku. Saat rumah tangga kita berjalan di tengah, lalu istri pertama yang kamu bilang gak cinta, dan menikah karna terpaksa, itu hamil. Wow! Amazing!” Zahra berdiri, bertepuk tangan dengan meriah sambil mondar-mandi di depan sang suami.
“Gimana pun aku harus adil dong, Bee. Aku juga perlu memberinya nafkah lahir batin.”
Emosi yang sudah membumbung, kini meluap dan tumpah. Selama dua tahun dia menikah, menjadi seorang istri yang penurut, baru kali ini dia berani menunjuk-nunjuk wajah Abram. Suami yang selama ini dia layani dan patuhi.
“Hei! Hei! Stop bilang adil. Itu cuma alasan untuk kepuasan seexx di atas ranjangmu saja, Mas.” Urat-urat leher Zahra meregang, kala nada bicaranya semakin meninggi. Tak puas dengan perkataan kasar itu, Zahra melanjutkan ucapannya,
“Dapat sevis dari dua wanita, gimana rasanya?”
Wajah Abaram memerah, seperti baru saja di tuang air mendidih oleh istrinya sendiri. Ia bangkit berdiri, meneriakkan nama Zahra dengan lantang sembari mengambil ancang-ancang.
Zahra diam bergeming, matanya menunjukkan amarah yang berhasil menekan rasa takutnya. Ia bahkan menyodorkan pipi kirinya agar mendapat tanda tangan lagi dari sang suami.
“Lanjutkan! Tampar, Mas!”
Namun, Abram mengepalkan tangannya dan melayangkan tinjunya ke tembok. Tak puas dengan itu, ia menyeret tangan Zahra ke dalam kamar. Dania yang sejak tadi hanya bisa melihat dari jauh, langsung berlari mengejar.
Abram mengunci pintu rapat-rapat. Langsung melempar sang istri ke ranjang. Seperti binatang buas yang baru saja mendapatkan mangsa dan tidak sabar untuk menyantap. Ia menyobek seluruh baju yang melekat di tubuh Zahra dengan kasar. Satu persatu di tanggalkan dan di lempar.
Zaha meronta dengan kuat, tapi tenaganya tak sekuat Abram. Lelaki itu mencengkram kuat ke dua tangan Zahra ke atas, lalu menanggalkan celananya.
“Zahra ... Zahra! Abram ... buka pintunya!
Gedoran pintu dari luar tak di hiraukan Abram, bahkan teriakan Zahra. Dia terus menyesap dan mengigit buah ranum milik Zahra. Menikmati inci demi inci lekuk tubuh istri mudanya.
“Hentikan! Cukup! Ampun, Mas.”
Setiap lolongan Zahra, Abram tak perduli. Dia terus menikmati permainan, meski lawannya tak berminat sama sekali. Sampai saat dia mengeluarkan senjata dan menodongkannya. Setiap gerakan bagai todongan untuk Zahra. Menyakitkan, ngilu ....
“Bukannya kamu tanya barusan, Bee? Sekarang aku lagi merakannyanya ... dengan baik.”
“Sakit, Mas ... ampun!”
Peluh yang keluar dari pori-pori, bukan lagi peluh kenikmatan yang dulu pernah Zahra rasakan. Peluh itu hanya menjadi rasa sakit yang menyayat. Mencabik-cabik harga dirinya satu persatu. Perasaan ini, jelas akan di ingat baik-baik oleh Zahra.
...Indah bagai kupu-kupu...
...*Bersa*yap tipis nan rapuh...
...Mengepak bebas di ladang penuh api...
...Menari dengan indah tanpa kenal takut...
...Dia bagai kupu-kupu...
...............
...Namun bukan pembawa pesan musim semi...
Vote Vote Vote!!!!
Othor lanjut semedi lagi.
Mau balas dendam sama Abram.