NovelToon NovelToon
SATRIO PAMUNGKAS

SATRIO PAMUNGKAS

Status: tamat
Genre:Romantis / Fantasi / Petualangan / Supernatural / Fantasi Timur / Tamat
Popularitas:1.8M
Nilai: 4.8
Nama Author: Al Orchida

Pandji dilahirkan pada hari yang orang Jawa kuno sebut sebagai hari kejayaan setan, yaitu pada tengah malam saat cuaca sangat tidak bersahabat dan badai angin melanda wilayahnya. Dengan demikian dia memiliki sifat 'lakuning geni' atau berperilaku layaknya api.

Pandji dikaruniai bakat bawaan dari kedua orang tuanya berupa kekuatan supranatural. Bakat istimewa yang dianugerahkan oleh Sang Pencipta untuk menjalani takdirnya sebagai ksatria.

Pandji yang konon adalah 'anak dalam ramalan' hanyalah pemuda biasa. Pemuda berambut hitam bermata tajam dan berkulit putih halus layaknya wanita. Tampan adalah ciri utama yang melekat pada dirinya.

Bagaimana Pandji menjadi seorang pelindung keluarga dan perjalanannya sebagai Ksatria Terakhir yang penuh darah dan cinta?

Bisa dibaca kisahnya dalam SATRIO PAMUNGKAS.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al Orchida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CH 32

Pertandingan empat besar dilewati Pandji dengan cepat, Pakde Noto bahkan sempat menguap karena pertarungan Pandji yang terlalu sebentar.

Lawan tandingnya belum sempat mengangkat senjata ketika terhempas keluar arena pada serangan pertama Pandji.

Pandji melongo, dia hanya mengeluarkan setengah tenaga dan menunggu pemuda pendek di depannya menyerang. Dirasa terlalu lama, Pandji menebas kepalanya cepat.

Saat lawannya sibuk menghindar, tendangan Pandji telak mengenai dada dan membuat pemuda di depannya terlempar begitu saja.

Ups … aku sungguh tidak sengaja, kawan!

Pandji menyeringai polos karena pertandingan dihentikan wasit.

"Mas pandji, turnamen tahunan adalah pertandingan persahabatan … tidak diperkenankan melukai lawan apalagi membahayakan nyawanya!" seru Pakde Noto panik karena pemuda yang jatuh di luar arena itu tidak bergerak.

Pandji mengangguk mengerti, "Mohon maaf, Pakde! Saya tidak akan mengulanginya."

Tim medis menyatakan kemungkinan ada patah tulang rusuk.

Pandji sedikit shock dan merasa agak bersalah. Dia sungguh tidak menyangka kalau lawannya tidak sekuat yang ada dipikirannya.

Sementara Biantara maju ke babak utama setelah mengalahkan pemuda asal Solo dalam waktu yang cukup lama. Pertarungan menegangkan dan lumayan sengit.

Pemuda bersenjata tombak panjang itu sangat lincah saat melawan Bian, serangan cepat dan gerakan berlikunya membuat Biantara berang

Dua pedang pendek Bian kesulitan menangkis beberapa serangan tusukan dari lawannya, meskipun akhirnya bisa menjatuhkan lawan, tapi Biantara juga harus menguras tenaganya.

Dibandingkan dengan Pandji yang sarat dengan keberuntungan, Biantara masuk babak utama dengan kerja keras.

Bian hanya bisa mengumpat dalam hati, karena setelah pertandingan yang melelahkan dia harus menghadapi Pandji yang masih segar bugar.

Cecunguk itu benar-benar diberkati, dia hampir tidak keluar tenaga untuk sampai babak utama. Aku yakin panitia telah mengatur pertandingan sehingga Pandji sialan itu mendapatkan lawan yang mudah dikalahkan!

Pandji tersenyum miring melihat Biantara mengakhiri pertarungannya dengan baju basah karena mandi keringat, dia pura-pura mencium keteknya saat Bian melihatnya dengan geram.

"Apa aku masih harum?" tanya Pandji pada Mika.

Tanpa mengendus, Mika menjawab datar, "Suruh saja Biantara datang kemari dan memastikannya!"

Pandji tergelak, “Ok, sekarang bisakah aku mendapatkan sedikit makanan ringan? Mulutku terasa asam."

Mika melotot, ingin sekali dia memukul wajah Pandji yang seperti bayi sedang merengek permen pada ibunya, "Sebentar lagi nomormu dipanggil dan kamu malah memikirkan makan?

Bukankah sebaiknya kamu memikirkan strategi apa yang harus kamu pakai untuk menghadapi monster dalam tubuh Biantara?

Dari awal, dia bertanding tanpa menggunakan kekuatan sihir hitam, sepertinya dia akan menunjukannya di pertandingan terakhir untuk menghadapimu!

Aku sudah merasakan aura gelap menyelimuti tempat ini, aku khawatir padamu!"

"Aku pasti baik-baik saja … dan ehm, jangan terlalu panjang kalau bicara. Aku takut kamu kena asma!" ujar Pandji datar. Dia menerima keripik ubi ungu, mengunyahnya tanpa beban pikiran dan berkata pelan, "Aku harus bersantai dan tenang sebelum bertanding, Mika."

Pandji menyandarkan duduk dan memejamkan mata sambil memasukkan keripik ke dalam mulutnya, telinganya tak berhenti mendengar bisik-bisik penonton yang dengan kurang ajar memasang taruhan untuknya.

"Mika … bisakah kau memasang taruhan untukku?" tanya Pandji seraya mengulurkan dompetnya pada Mika. "Hanya untuk motivasi, kamu tau kan aku tidak suka kehilangan uang dengan sia-sia?"

Dengan geram Mika menerima dompet Pandji dan juga tasnya karena nomor Pandji sudah dipanggil untuk segera menuju arena, "Anak ini …!"

Berjalan santai tanpa ekspresi, Pandji naik ke arena bersamaan dengan Biantara yang juga naik dari sudut berbeda.

Lapisan kubah pelindung dirasakan Pandji lebih tebal dari sebelumnya,

Ayahanda pasti bekerja keras agar efek buruk pertandingan tidak sampai melukai penonton nantinya.

Dua pemuda tampan berdiri berhadapan dengan wajah beku, Biantara yang lebih tua beberapa tahun dari Pandji mengangguk singkat memperkenalkan diri. "Bian, kesatrian Hargo Baratan."

"Pandji … Putra Ganendra."

Bian menarik dua pedang pendeknya dan langsung mengalirinya dengan mana sihir. Mengambil jarak aman dari Pandji yang juga sudah bersiap dengan kedua pedang kembarnya.

TRANG!!!

Kedua pedang beradu dan bergesekan singkat menimbulkan suara nyaring menyakitkan telinga. Bian menatap ganas, benturan yang baru saja terjadi cukup membuat tangannya bergetar.

Dia sudah mengalirkan setengah lebih dari tenaga dalamnya untuk mengukur kekuatan Pandji, tapi sepertinya pemuda lawan tandingnya sama sekali tidak terpengaruh. Wajahnya tetap dingin dan matanya menatap Bian tanpa ekspresi.

Bocah kecil ini … benar-benar jenis yang paling menyebalkan!

***

1
Ririt Rustya Ningsih
satriyo pamungkas...selkur lanjaran....santet 40 hari nyimak terus👍👍👍
ᴇʟꜱʜᴀᴅᴀʏ-②①L: terimakasih🙏
total 1 replies
Yuu Puttichai Kasetsin
hadinata yg dl mau dijodohin SM bund selia y Thor?
ᴇʟꜱʜᴀᴅᴀʏ-②①L: iya kak
total 1 replies
Yuu Puttichai Kasetsin
maung ny gia keren banget. kata alpha: gini susah ny perang sambil momong bocil🤣🤣
Yuu Puttichai Kasetsin
calistung nya kan beda level mas pandji
Kustri
☝solo hadir
Kustri
hla lak tenan to, al meneh
Kustri
ujung"e al meneh ngko
Kustri
buah tibo ora adoh ko uwite😄
Kustri
kisah berulang turun temurun soko bapa'e trus anak'e😄
Sahbana Sahbana
overall ceritanya seru, walaupun banyak fans service nya 🗿
Kusumawardani
silahkan tanya saja lur,,,krna diriku jg tak tahu,,,,semua itu.....🙏🙏
Zzz: mampir kak, judulnya Iblis penyerap darah, kali aja suka🙏
total 1 replies
Suris
Good. Karya ini cukup memikat untuk dibaca sampai akhir. Dengan background lokal (jawa) dan dikombinasika dgn turnamen bela diri ala wuxi (cina). membuat penasaran. Apalagi deskripsi tokoh2nya cukup simple dan mudah dicerna (baca : dibayangkan).
Kekurangannya adalah tidak ada unsur2 islami dlm tokoh2mya
ᴇʟꜱʜᴀᴅᴀʏ-②①L: Terima kasih🙏
total 1 replies
𝖓𝕯o🕷
thorrr, hiks.. gantung gini... kecewahh aq..
𝖓𝕯o🕷
plakk😉😉
Mamake Nayla
Luar biasa
ᴇʟꜱʜᴀᴅᴀʏ-②①L: terima kasih 🙏
total 1 replies
𝖓𝕯o🕷
tiaraaaaaa
Diana Dwiari
baru tau kalo nyleneh ya...wkwkkw
Diana Dwiari
woah....pandji suka sama mika ya....
Rafly Rafly
bagus ceritanya THOR... ilmu leluhur yg perlu di lestarikan
ᴇʟꜱʜᴀᴅᴀʏ-②①L: thanks 🙏
total 1 replies
Sibungas
ouekehhh mas ta kirim yo kupi nya
ᴇʟꜱʜᴀᴅᴀʏ-②①L: wkwkwk makasih 😂
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!