Berawal dari kesalahfahaman, ketika Iel tertangkap basah menyembunyikan seorang pria dalam kontrakannya. Padahal, Iel hanya menolong Jack yang sedang terluka tembak yang cukup parah. Jack yang bersikeras tak mau dibawa ke Rumah sakit, akhirnya dibawa oleh Iel kekontrakan kecilnya, dan dirawat sendiri dengan alat seadanya.
"Menikah, atau kami bawa ke kantor polisi dengan tuduhan perzinahan?"
Akhirnya, dengan sangat terpaksa, Iel dan Jack menuruti permintaan mereka, dengan menikah secara rahasia dan tersembunyi dari publik. Itu semua dilakukan demi keamanan dan kenyamanan masing-masing.
Tapi siapa sangka, Pria yang Ia nikahi itu adalah seorang konglomerat yang memiliki sebuah hotel mewah dan kekayaan berlimpah. Sehingga, meski hanya istri rahasia tapi Iel masih diperlakukan bak ratu diistana milik. Jack itu.
Tak hanya memiliki banyak harta. Jack juga memilika begitu banyak musuh yang sangat jahat. Diantaranya Dawn, yang tak lain adalah mantan sahabat Jack, yang juga Kakak dari kekasih Jack yang telah meninggal dunia.
Dawn begitu marah dan dendam pada Jack, karena telah memakai jantung Sang adik untuk dirinya tetap hidup. Begitu egois, baginya kala itu.
Karena hubungan yang harus tetap dijaga kerahasiaannya, pada suatu ketika Iel bertemu Dawn. Mereka cocok, dan menjadi sahabat, bahkan Dawn menganggap Iel sebagai pengganti Deandra, dan mengangkatnya sebagai adik.
Perjalanan hubungan mereka begitu mulus dan tak diketahui satu sama lain. Hingga Naya, sahabat mereka. Ia diam-diam memberi tahu Dawn, tentang hubungan Iel dan Jack.
Bagaimana respon Dawn mengetahui itu semua?
Bagaimana hubungan mereka, ketika tahu bahwa mereka saat ini harus melindungi wanita yang sama. Iel sebagai istri Jack, dan juga sebagai adik angkat Dawn.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Surliandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
"Kak Amy... Katanya mau suapin, mana?" panggil Iel yang terbangung dari tidurnya. "Aduuuh, mana laper banget lagi. Tapi lemes..."
Iel meringkuk, memegangi perutnya yang keroncongan. Ingin meraih bubur yang ada dimeja, namun Ia takut lemas dan terjatuh pingsan.
Pintu terbuka, dan sebuah langkah kaki terdengar masuk, mengambil mangkuk bubur dari mejanya. Iel mencium aroma parfum itu, yang Ia sudah hafal siapa pemiliknya.
"Makanlah, Aku akan menyuapimu."
Jack, duduk dipinggir tempat tidur Iel dan mulai mengaduk bubur yang sudah mulai dingin itu. Ia kemudian mulai menyuapkan-nya perlahan pada Iel, dengan penuh perhatian.
"Tuan... Kenapa lama? Aku sudah kelaparan."
"Tak usah banyak bertanya, pekerjaanku masih banyak jika hanya sekedar menyuapimu makan."jawab Jack, dengan aura dingin-nya.
"Jika tak ikhlas, tak usah... Biarkan aku makan sendiri."
Jack menggenggam lengan Iel yang akan mengambil mangkuk itu dari tangan-nya, dan kembali menatap Iel dengan tatapan dingin-nya.
"Tak usah mempermainkan waktuku, Iel. Kau tahu aku bagaimana." ucapnya, lalu meletakkan tangan Iel dengan lembut ditempatnya semula.
Iel kemudian diam, lalu menuruti perintah Jack untuk menghabiskan makanan-nya. Lalu meminum obat yang telah disediakan Amy dinakas. Malam ini Jack memperlakukan Iel begitu lembut, karena sadar jika Ia telah bersalah pada gadis itu.
Iel seharusnya dihibur, dan diberi pengertian atas kemalangan nasib cintanya. Iel juga wanita yang butuh perhatian, meski Ia selalu terlihat kuat diluar. Jack yang risih melihat rambut Iel yang terurai, lalu mengambil ikat rambut dilaci.
"Berpindahlah membelakagiku. Akan ku ikatkan rambutmu." titahnya pada Iel.
Zielova segera menurutinya, Ia bergerak perlahan memindah posisinya, dan Jack pun dengan begitu lembut menyisir dan mengikat rambut Iel dengan rapi.
"Tubuhmu berkeringat, gantilah dengan pakaian tidurmu, agar lebih nyaman."
"Tapi.... Bergerak saja begitu lemah." lirih Iel.
Jack berjalan menuju lemari, dan mengambil baju tidur untuk Iel, kemudian membawanya ke gadis itu.
"Masih tak bisa pakai? Apa harus aku yang menggantikan-nya?"
Iel menggeleng, Ia menggenggam baju itu dan mengisyaratkan dengan jarinya agar Jack berbalik kebelakang. Jack lalu menurutinya, dan membelakangi Iel.
Iel kesulitan membuka dress dengan pinggang ramping tersebut dengan posisi duduk. Namun untuk berdiri, kepalanya masih berkunang-kunang dan lemas.
"Aish... Kenapa begitu sulit. Siapa yang memasangkan baju ini untukku tadi?" gerutunya.
Terlalu lama hanya untuk mengganti sebuah pakaian, membuat Jack tak sabar dan membalik tubuhnya dan menghampiri Iel. Jack langsung membantunya membuka pakaian, meski sesekali memalingkan pandangan-nya dari tubuh Iel yang nyaris polos itu.
" Tuan, pelan-pelan, sakit...." sergah Iel.
"Aku tak melihatnya, bagaimana bisa pelan. Yang penting lepas, dan kau bisa lega."
"Tapi ini menyakitkan. Aku sedang sakit, bisakah lebih lembut."
"Aku sudah terlalu lembut, kau saja yang sensitif." tukas Jack, menarik dress yang menyangkut dikepala Iel.
"Auuuuwh... Aaaah... Sakit!"
"Nah, masukanlah sendiri, kali ini longgar, tak seperti yang tadi."
Amy yang berdiri didepan pintu hanya bisa tertegun dengan apa yang Ia dengar. Ia menelan salivanya dengan kuat, dan diam ditempat.
"Kau kenapa?" tanya Pak Bob, yang datang menghampirinya.
"Kenapa mereka begitu bergairah? Padahal, Nyonya sedang sakit."
"Ah, wajar saja. Mereka itu pengantin baru. Besok, kalau kau menikah, kau juga akan seperti mereka." tutur Pak Bob, dan kemudian mereka melangkahkan kaki kembali keruangan masing-masing.
♦️♦️♦️
"Dawn... Dimana kau sekarang?"
"Aku? Aku sedang diluar, kenapa?"
"Berhentilah bermain-main, kau sudah cukup mengulur waktu untuk menghancurkan-nya."
"Hey, sabarlah sedikit. Sejak kejadian penyerangan itu, penjagaan untuknya semakin diperketat. Kita tak bisa sembarangan bertindak. Tunggu saja, Aku sudah membuat rencanaku sendiri."
Dawn kemudian menutup telepon-nya, dan kembali merebahkan diri dikursi taman, tidur dengan menatap langit yang penuh bintang itu.
"Dee... Apa kau bahagia disana?"
majikan dan pekerjanya" . aku pikir di Indonesia sangat split menemukan keluarga seperti ini. beda dg di eropa, majikan aja di panggil namanya tanpa embel2 🤣