Zan Munarga, dikenal sebagai si genius ulung dalam dunia perbisnisan dan elektronik, perusahaan anak cabang di mana ia memiliki saham tengah diambang pintu kebangkrutan, lalu pemilik perusahaan mencoba bernegosiasi padanya, dengan cara menukarkan keponakannya sendiri.
Dibalik kegeniusan Zan Munarga, ia memiliki kelainan otak dan didiagnosis tidak akan bertahan hidup lebih lama, maka dari itu dia membutuhkan seorang wanita untuk memberinya keturunan, sehingga tawaran itu pun ia terima.
Zan Munarga tak pernah menyangka bahwa anak yang dilahirkan oleh Sania Chen, istri kontraknya itu, merupakan bayi kembar, di mana saat itu dia hanya membawa satu anak, dan satu anak lagi dibawa oleh Sania.
Lalu bagaimana pada akhirnya Zan Munarga bisa mengetahui fakta sebenarnya? Dan mampukah ia sembuh dari kelainan otak yang dialami?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marnii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa yang Lebih Pintar?
"Nona Sania, saya titip Tuan muda di sini, perusahaan masih membutuhkan saya sekarang, jadi tidak bisa menemani beliau," ujar Sekertaris Wen sembari menghampiri Sania yang masih tak ingin bicara.
"Pergi sana, aku malas melihatmu di sini," cetus Sania kesal.
"Baiklah, jaga Tuan muda baik-baik, ya. Saya pergi dulu." Sekertaris Wen tersenyum penuh maksud dan meninggalkan Sania di sana.
"Mengapa aku merasa aneh dengan senyumannya? Seketika membuatku curiga, apa lagi yang dia rencanakan?" gumamnya dengan mata yang menyipit curiga.
Sania akhirnya bangkit dan memasuki ruang rawat Zan, kini pria itu sedang bersandar santai menonton televisi.
"Aduduh, enak sekali ya duduk santai sambil nonton begitu, lupa kalau sekarang kamu sudah menjadi pelayan saya dan harus menuruti semua permintaan yang saya inginkan, masih ingat, kan?" tegur Sania dengan tangan yang disimpan di belakang.
Zan menoleh. "Saya ingat, memang benar saya akan melakukan apa pun yang kamu perintahkan, tapi sekarang kamu tidak ada perintah apa pun, kan? Makanya saya duduk santai di sini, memangnya salah?" tanya Zan dengan alis yang terangkat.
"Tidak-tidak, tidak salah, kok. Lanjut saja bersantainya, mumpung sekarang sedang tidak ada perintah, kan. Lanjut saja, tidak apa-apa." Masih dengan setengah tersenyum menatap Zan, terus berpikir apa lagi siasat yang harus ia pikirkan untuk membalas dendam terhadap pria itu.
"Permisi, boleh saya masuk?" dokter melongokkan kepala di balik pintu.
"Dokter? Tentu saja boleh, kenapa Anda mesti bertanya dulu?" jawab Sania yang tiba-tiba berdiri dengan cepat.
"Tidak apa-apa, saya hanya takut mengganggu," jawab dokter sambil tersenyum ceria.
"Saya ingin memberitahu bahwa Tuan Zan sudah bisa pulang hari ini, kondisinya sudah mulai membaik, tapi meski ia sudah bisa pulang, bukan berarti bisa bebas melakukan pekerjaan apa pun itu, baik ringan maupun berat, tetap tidak boleh melakukannya, bahkan mengangkat segelas air putih pun tidak boleh, jadi sebisa mungkin Anda sebagai istrinya, harus membantu dan melayani beliau sampai sembuh, dia tidak boleh kelelahan, karena jika tidak, itu akan berakibat fatal untuk kesehatannya, bisa jadi beliau akan mati mendadak." Dokter menjelaskan tanpa menghilangkan senyum di wajahnya.
"Apa? Mati Mendadak? Serius bisa sampai seperti itu?" tanya Sania terkejut dengan penuturan sang dokter.
"Saya serius, Nona. Jadi rawatlah suami Anda dengan baik agar dia cepat sehat." Dokter mengangguk antusias.
"Tapi dia bukan suami saya, kenapa saya yang merawatnya?" protes Sania tak terima.
"Sudah, Nona. Tidak usah malu-malu, saya juga sudah menikah, kok. Jadi sangat mengerti dengan sikap Anda ini, sama dengan istri saya dulu ketika kami masih pengantin baru."
"Idih, ini orang benar-benar dokter apa bukan sih? Kenapa harus menceritakan privasinya sendiri?" Sambil menatap dokter itu dengan tatapan aneh.
Sementara Zan, ia dari tadi hanya diam menahan tawa di dalam hati. "Mari kita buktikan siapa yang lebih pintar di sini, saya atau kamu? Tidak semudah itu bisa mengalahkan seorang Zan Munarga," batin Zan merasa puas.
"Kalau begitu saya permisi dulu, Tuan dan Nona." Dokter pun keluar meninggalkan mereka. Sementara Sania masih mematung di tempatnya, linglung apa yang harus ia lakukan.
"Kenapa masih diam di sana? Saya akan segera pulang, bisa tolong bantu saya ganti pakaian sebentar?" tegur Zan.
"Kamu gila? Ganti pakaian kenapa harus minta tolong sama aku? Lakukan saja sendiri," tolak Sania marah-marah.
"Kamu tidak dengar apa yang dikatakan oleh dokter tadi? Saya tidak boleh melakukan apa pun sendiri, harus ada yang membantu, jika tidak, saya bisa saja mati mendadak."
"Sialan pria ini, bisa-bisanya dia memanfaatkan kesehatannya terhadapku." Sania memutar bola mata pasrah. Mau bagaimana lagi, jauh di lubuk hatinya, ia sebenarnya juga takut jika Zan tiba-tiba mati tanpa sebab.
demi bonus sania ck ck ck