DALAM TAHAP REVISI
"kenapa kamu ngikutin saya terus? Kamu gak punya malu hah!! " bentak Devan .
"Aku cuma lindungi bapak dari buaya-buaya betina" ujar Dinda sambil mengedipkan matanya genit pada Devan.
"Kamu itu cuma sekretaris saya, jadi tidak usah ikut campur dengan urusan pribadi saya" ketus Devan dan pergi meninggalkan Dinda yang menatap sendu pada pria tersebut.
Dinda Rosalin gadis berumur 23 tahun , berusaha untuk mengejar cinta bosnya yang merupakan CEO di perusahaan Alvian's grub. Devan Ardiansyah pria dingin , cuek dan galak itu tidak memperdulikan Dinda yang berjuang untuk mendapatkan cintanya.
Devan tidak bisa membuka hatinya, karna mencintai seorang wanita yang bernama Asyilla istri dari sepupunya membuat dia susah untuk menerima wanita lain dalam hatinya.
Hingga suatu hari Devan terpaksa menikah dengan Dinda , karna suatu peristiwa.Dan peristiwa itu membuat rasa cinta dihati Dinda berubah menjadi rasa benci yang mendalam pada Devan.
Peristiwa apa yang membuat Dinda membenci Devan?. Dan juga membuat mereka terikat dengan pernikahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon windanor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehancuran Dinda
Tubuh Dinda terguling ketanah dengan seorang pria yang memeluknya erat. Kepala wanita itu terluka dan jangan lupa pria yang menyelamatkannya juga luka di bagian siku dan juga tangannya. Truk yang hampir merenggut nyawa Dinda menabrak pembatas jalan, sopir membanting setir .
"Hey, bangun " pria berkulit kuning langsat itu menepuk pipi Dinda yang sudah tak sadarkan diri dan membuat pria itu kaget darah keluar dari bawah kaki Dinda.
"Dia hamil " gumamnya.
Pria itu mengangkat tubuh Dinda , dia harus cepat membawa wanita ini , bila tidak bayi dalam kandungan wanita ini tidak terselamatkan. Pria bertubuh tinggi itu membawa Dinda masuk kedalam mobilnya yang tak jauh terparkir di tempat kejadian.
Devan mendorong Lea hingga gadis itu tersungkur ke lantai.Dan berlari keluar mencari Dinda. Orang -orang berkumpul ditempat kecelakaan truk tadi. Devan mendekat ke sana dan melalui orang-orang yang Mengerubungi seorang wanita yang badan yang sudah tak berbentuk lagi dan kepala yang pecah membuat isi otak-otaknya berceceran.Wanita itu juga hendak menyebrang tapi truk menabraknya dan Dinda di tarik oleh pria asing yang menyelamatkannya.
"Dinda!! " teriak Devan , kakinya melemas hingga dia jatuh ke aspal.
"Dinda jangan tinggalkan aku!! " teriak Devan.
"Dindaaaaa! " Devan hancur, istrinya sudah meninggal.
Orang-orang menarik Devan yang duduk diaspal tempat wanita tersebut tergeletak. Baju wanita itu juga penuh dengan darah. Lea mendekat ke tempat tersebut.
"Bang Devan! " panggil Lea. Devan yang dipanggil menatap nyalang kearah gadis tersebut.
"Gara-gara kau istriku tertabrak, kau memang tidak pantas menjadi adik ku ! " teriak Devan.
"Kenapa abang menyalahkan aku? Dia mati memang sudah takdirnys" ujar Lea tanpa merasa bersalah.
"Kau .... " geram Devan.
Devan menjambak rambut Lea dan menampar gadis itu tanpa ampun. Orang-orang disana menarik Devan agar berhenti memukul Lea.
"Ampun bang, sakit hiks... " tangis Lea.
Devan masih belum puas untuk memukul Lea tapi orang-orang memegangi tubuhnya.
"Aku akan membalas dendam ku padamu,nyawa di balas nyawa " ancam Devan. Tubuh Lea gemetar ketakutan, dia tau setiap ucapan Devan tidak bisa dianggap main-main.
"Aaaakh, kenapa harus begini " Lea frustasi, ini tidak sesuai dengan rencananya. Devan malah membencinya seharusnya pria itu membenci Dinda
Pria asing yang menyelamatkannya Dinda, keluar dari mobil dan membawa Dinda kedalam rumah sakit.
"Suster siapkan ruang operasi "
"Baik dokter Adrian" ujar Suster.
Adrian tidak ada pilihan lain bayi yang dikandung Dinda harus diangkat karna tidak ada harapan bayi ini akan selamat . Ruang operasi sudah disiapkan, Adrian sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian medis operasi.
Operasi mulai dilakukan, setelah Adrian menyuntikkan obat bius kepada Dinda.
Devan bernapas lega ketika wanita yang tertabrak itu terindikasi bukan Dinda . Tapi yang membuat dia tak tenang dimana Dinda sekarang.Devan berada ditempat rumah sakit yang juga tempat Dinda di operasi.Suster mengeluarkan Dinda diruang operasi setelah operasi pengangkatan bayi dalam kandungan Dinda berhasil.Suster memindahkan Dinda ke ruang rawat . Devan berpapasan dengan suster yang membawa Dinda ketempat ruang rawat. Namun pria ini belum menyadarinya.
Dinda sudah di bawa masuk kedalam ruang rawat. Dia belum sadarkan diri karna pengaruh obat bius. Entah bagaimana hancurnya dia ketika tau bayi yang dia kandung sudah tidak bisa diselamatkan lagi.
Devan mengacak rambutnya frustasi dia sudah mencari Dinda kemana-mana tapi belum menemukannya. Dia pikir Lea itu baik tapi gadis itu musuh dalam selimut , dia menyesal baik dan menyayangiku gadis yang lebih jahat dari Elsa.
"Aaaarrgg! Dimana kamu Dinda, jangan siksa aku dengan cara meninggalkan ku, maaf kan aku .. aku lebih percaya pada gadis itu dari pada kamu " lirih Devan. Sekarang dia hanya bisa menyesalinya, separuh jiwanya sudah meninggalkannya. Dan tergantung takdir yang akan mempertemukan mereka berdua atau perpisahan ini yang terbaik.
Memulai kehidupan baru, dan saling meikhlaskan satu sama lain, entahlah hanya sang pencipta yang tau mereka masih berjodoh atau takdir hanya mempertemukan tapi tidak menyatukan mereka yang mungkin akan memulai hidup baru dengan pasangan yang baru.
Dinda membuka matanya perlahan, mengerjapkan matanya. Wanita itu memegangi perutnya yang rata.
"Bayiku mana, kenapa perutku rata, bayiku mana hiks..... bayiku " teriak Dinda dengan tangisan pilu.Adrian masuk kedalam ruang rawat dia mendapati wanita tersebut berteriak histeris.
"Bayiku hiks..... mana bayiku hiks..... "
"Dokter bayiku mana ? Dia selamatkan? " tanya Dinda pada Adrian yang baru masuk. Pria yang memakai jas dokter tersebut menunduk dan kembali menatap Dinda.
"Maaf, bayi anda tidak bisa diselamatkan" ujar Adrian. Dinda menatap nanar, dia menggelengkan kepalanya.
"Dokter bohongkan! Bayiku selamat dia gak mati.... hikss.. " teriak Dinda frustasi.
"Aku memang ibu yang gak guna, aku tidak bisa menjaga bayi dalam kandungan ku sendiri " Dinda memukul perutnya. Adrian menahan tangan Dinda.
"Tidak ada gunanya kamu menyalahkan diri sendiri, kamu hanya harus meikhlaskan kepergiannya dan terima semua keadaan ini" Adrian memeluk Dinda sekedar memberi kekuatan agar kuat menerima kenyataan yang begitu menyakitkan bagi setiap seorang ibu yang kehilangan bayinya.
Dinda menangis dipelukan Adrian,pria itu mengusap bahu Dinda lembut.
"Maafin mama, mama gak becus jaga kamu" ujar Dinda menyalahkan dirinya sendiri.
"Sudah jangan terus menyalahkan diri sendiri, ini memang sudah bagian dari takdir" nasehat Adrian, pria yang terkenal karna ketampanan nya dirumah sakit yang dia pimpin, dia seorang CEO dirumah sakit yang di bangun ayahnya sendiri.
"Aku benci kamu Devan, gara-gara kamu, aku harus kehilangan anak aku hiks..... hiks.... "lirih Dinda dalam tangisannya. Adrian hanya diam dia tidak ingin ikut campur dengan masalah wanita ini.
Menurut Adrian, Dinda hanya butuh penyemangat dan orang yang bisa menghiburnya, agar bisa keluar dari kesedihan ini.
Bersambung....